Sabtu, 08 Januari 2011

SI.ALAN--------------TIBA_TIBA AKU INGIN CERITA TTG IDUP GUA =="

Liburan..ini sudah liburan…
Aku pikir begitu..tapi tetap saja aku  harus menjadi guru yang baik untuk anak-anak tuna wicara di rumah kedinasan sosial selama dua pekan mulai hari senin besok.
Selama aku masih bernafas, aku akan membantu orang yang ingin berbahasa Indonesia dengan lancar. Tujuan  kuliahku di jurusan sastra ternyata semakin menunjukkan titik terang. Untuk membantu anak-anak yang tak seberuntung aku.
Kadang aku berfikir, aku punya mulut yang kalau dibuka menghasilkan suara, yang kalau ingin bacot apa saja bisa. Sedangkan mereka? Tidak!
Bagaimana perasaan anak-anak itu? Aku tidak tahu. Sedih, mungkin ada.
Aku batalkan rencana liburanku tahun ini untuk mencoba bekerja sebagai pelayan di rumah makan, resepsionis, atau apa saja yang membuat aku bisa mengganti ponselku yang buntut, aku butuh I-phone..haha..XD yang ter-Gress.
Oh, kakakku mau menikah. Ternyata kabar itu benar, aku pikir hanya berlaku di karanganku saja.
Duduk-duduk sama Ibu,
“Hoh, waktu itu aku hanya mengarang cerita saja bun! Nikah sama siapa?”
“Sama laki-laki lah?”
“Iya..maksudnya namanya?”
“Yang jelas kamu belum kenal. Eh, ingat ya, bunda bakal bahagia dan merestui kalau kamu nanti dapat pacar dan suami keturunan!”
“Yeehh..kok gitu seh!”
“Ingat!”
Aku pikir nasibku sama dengan Tania Budiono, haiii..temanku yang paling baik!!! Mami” kenapa berfikir seperti ini ya? Bagaimana kabar kamu di sana? Aku belum dapet koko baru nih!!! HAhahaha…*tawa menyesaL
"kamu...mimpiin siapa lagi? tumben nggak cerita?!"
"Aku mimpi dikejar-kejar teman-teman*nggak kenal..masuk kelas internasional..ketemu guru yang cantik..aku tersungkur karena nggak kuat lari lagi...salah satu temanku yang mengejarku ikut tersungkur...aku tarik kaos kaki panjangnya..aku pikir dia laki-laki, tapi kenapa pakai rok? lalu si guru cantik yang mengajar di depan berjalan ke arah kami..aku pikir akan dimarahi karena mengganggu kelas..tapi justru menanda tangani kaos kaki temanku itu..aneh bukan main!"
"Haaa..kamu jadi dukun saja, anakku!"
"Bunda!" aku menggerutu. DUKUN?
Wess…gitu lah!
Setelah terbang dan mendarat di rumah kakek…
Aku itu kadang sebel kalau kakek duduk di sampingku, karena kakekku itu pendiam tapi suka tebak-tebakan. Lagi enak-enaknya baca majalah, leha-leha, makan keripik sambil nonton tivi..ehh..dikasih soal? Mana lagi tiap soal kalau nggak segera dijawab pasti ujungnya “Masa sih kamu nggak bisa?” idih, maksa banget deh.
Tiap soal yang dilontarkan padaku, pasti aku nggak bisa jawab. Diam salah, ngomong begitu pula hasilnya, SALAH! Akhirnya kakek pula lah yang menjawab pertanyaannya sendiri. Kasihan banget deh si kakek!! XD
“Kamu itu anak yang cerdas. Tapi kamu itu tipe manusia yang mentang-mentang sudah bisa, trus menyepelekan! Jadi bagaimana mau dapat nilai memuaskan?” aku merengut. Itu perbincangan nusuk banget di hati,”Jadi harus hati-hati! Serius lah sedikit, jangan seperti itu!”
“Oh, kakek!”
“Kamu itu, kapan nilaimu diumumkan?”
“Bentar lagi kek,”
“Kakek ingin printoutnya!”
O.o”  ==” SIAL!
à kesialan pun menginjak-ijakku mulai dari tahun baru berkibar. Entah, kesalahan apa yang aku perbuat hingga nasibku bisa menjadi kacau seperti ini.
1.       Aku nginjek TAHI KUCING di samping kamar mandi kos.
Kos-ku memang terbuka, areaku pun lumayan luas dibanding kamar-kamar lainnya. Kamar mandi luar dengan area kosong di samping yang aku manfaatkan untuk garasi, tempat jemur, dan aku biarkan kucing yang mau ke dimensi lain. Tapi, si kucing! Yang namanya hewan..tetap saja hewan! Nggak tahu yang namanya balas budi (*Budi..nama pak koS..XD) masak mbOker di tempat kediamanku. Waktu aku dengar si kucing mengeong di samping tempat sampah, aku langsung masuk kamar mandi, ambil gayung, lari keluar dan “Byurr..” kucing pun langsung lari terbirit-birit.
Itu baru babak pertama—setelah aku sadar—mataku yang tadi ternyata belum lihat bau yang menyengat ini. TAHI KUCING itu masih ada temannya, pahadal aku sudah membuangnya tadi, yang pertama sih menempel di keset kaki jadi aku bisa melempar langsung tuh TAHI. Tapi, kali ini beda. Kali ini tahi itu melungker di dekat rak sepatu yang aku taruh di depan kamar mandi. Aku mengambil tissue sebanyak-banyaknya, kutaruh tissue di atas lalu kuambil dengan tangan. Aku buang ke sampah “Pyuhh…pluk” dan entah kenapa hal ini bisa terjadi..tahi itu menempel di salah satu jariku..ihhh…Njritt!!! padahal sudah hati-hati. Aku langsung ke kamar mandi, cuci sampi bersih, berulang kali seperti saat aku mencuci kakiku yang nginjek tadi, tidak peduli lagi bagaimana rasanya panas kena diterjen baju, aku gosokin saja. Masuk ke kamar dan menggosok tanganku dengan cairan anti septik.
2.       Besoknya aku berangkat ke kampus dengan sepeda polygon kesayanganku. karena aku suka bersepeda dan bisa mikir-mikir di perjalanan maka aku lebih suka memakai sepeda dari pada jalan kaki. Hehe..alasan kedua sepertinya tidak nyambung. Yehe..yehe..aku hampir mati ketabrak sepeda motor.
Aku bersepeda seperti biasa. Aku santai. Aku tidak melamun saat bersepeda. Aku selalu hati-hati. Tapi tetap saja motor itu menyerempetku dari arah belakang saat aku mau berbelok ke kanan. Dua orang perempuan berjilbab yang tidak tanggung jawab, mereka pergi begitu saja. Untung aku masih hidup, kalau aku mati gimana? Gila! Mentang-mentang aku naik sepeda ontel!!! Mau cari mati kalian? Ah, ya sudah lah. Yang penting aku tidak apa-apa dan bukan mobil atau truk yang aku hadapi. Itu hanya motor, Ar!!! YA! Haha..motor, kalau kena langsung ya paling yang mati yang nyetir motornya. Bukan aku lah! Hehe…soriii..! orang yang nabrak mungkin lebih pantas daripada aku. XP
3.       Majalah yang aku beli seharga 35rb, isinya mengecewakan! Aku tahu pasti tim redaksi sudah buntu dengan ide-ide cermelangnya. Aku buang-buang uang lagi.
4.       Aku beli jam dan ternyata kebesaran. Bodohnya belum tahu cara pemakaiannya! Bodoh sekali! Semua petunjuk pemakaian menggunakan huruf kanji.
5.       Air di kos mati. Hidupku pun jadi mahal selama satu hari. Mandi pakai aqua, pipis pakai aqua, boker pun pakai aqua. Besoknya juga begitu dan akhirnya aku nggak betah di kos lama-lama. Aku telepon ke rumah dan segera minta untuk dijemput.
6.       Terakhir, aku harap aku tidak berurusan lagi dengan orang-orang yang tidak aku kenal yang suka mengajak “chat” di FB hanya untuk menanyakan..kamu asal mana? Sekolah atau kuliah? -à aku sudah menulis dataku di profil. Heh!

Aku akhiri sekian. Semoga 2011 bukan hari sial. Aku harap kesialan berlangsung 1 minggu saja, tapi kenyataan yang beredar ini sudah menginjak akhir pekan dan aku menjumpai kesialan lagi. Ya, aku tunggu hari senin. Aku pun berjanji pada Tuhan, bahwa aku nggak akan berucap “TAHI” lagi!

Minggu, 19 Desember 2010

Cek--mencaiR


Akhir tahun Kepala mau pecah~ tidakk---tidak akan pecah!!!!
Nilaiku pas-pasan di sastra (hanya sejarah sastra sih..haha...dapet Vit.C)
---------------------------------
Setelah mendapat kabar omset baru dari Ah..aku mencak-mencak alahay gireng mengkureng..
“Ar..your picture is very good…amazing!! Mr.  Wang invite you  at the seminar engineering!”
“Hoa? Are you sure..Wen?”
“Yeah……let’s Go in Bandung!!!!!!!!!!!!”
“Yea..yea…ITB..I’m Coming!!!!”
“Woaahahaha…AlaY paY….Omset here…”
“hahah…indonesian player!!!”
“BoM…Hahaha…player?? Jerk! Jerk! HAHHAHA..”
“Your mount---oahh…mazingg!!!!!!! Haha…”
Semua berjalan begitu cepat. Apa pu  yang indah memang selalu cepat perginya. Penerimaan cek pertama dari Pak Wang, liburan akhir pekan di Bandung bersama keluarga Wang, dan kembali ke Solo dengan dua teman baru bernama Jason Wiharja dan Nadia Soraya.
Ironis saat satu kamar dengan anak perempuan Pak Wang. Dia si anak SMP bercerita panjang lebar, dari mulai bangun pagi sampai mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran kecuali pelajaran olahraga, semua diceritakan ke aku.
Yang kita lakukan di dalam kamar hotel nomor 214 :
-          Telephon pelayan buat nganter makanan
-          Setelah dianter si pelayan pergi
-          Kami makan dan menyimpan persediaan makanan di bawah kasur sebagai kenang-kenangan dari kami untuk pengghuni berikutnya
-          Setelah itu ngikik bersama
-          Lalu bilang arigatO!
-          Dan memikirkan bagaimana cara terjun dari lantai atas ke lantai dasar dengan menggunakan sepatu roda?
-          Sekali lagi ngikik bersama
-          Lalu bilang arigatO!
Pintu kamar diketuk…
Kami keluar dengan mengikik. Ibu Wang geleng-geleng kepala dengan guratan bingung.
Seterusnya dan seterusnya..bermain, makan dengan teman-teman yang lain, dan menggila bersama.
Pulang bersama hari ini----ToT
Keluarga Wang kembali ke Jakarta
Teman-teman ITB tetap di Bandung
Aku, Jason, dan Nadia kembali ke Solo
------------------------------------------->  Memang Indah!!! ^0^

Senin, 13 Desember 2010

Kisi-kisi UKD leveL 3 & 4


1.       Apa yang dimaksud dengan sejarah sastra dan apakah ada hubungannya dengan sejarah umum. Terangkan dan uraikan!
-          Sastra adalah sesuatu yang konkret. Sesuatu yang konkret dapat dilacak sejarahnya. Sejarah sastra berarti sejarah suatu sastra. Dalam hal ini menyangkut sejarah sastra secara spesifik seperti sejarah sastra Indonesia, sastra Inggris, sastra jawa, dan sebagainya. Sejarah sastra terdiri dari rangkaian atau jajaran periode sastra suatu masyarakat. Sastra memiliki periode-periode yang diikat oleh norma-norma, standar, dan konvensi-konvensi yang berlaku pada suatu periode yang bermunculan penyebaran, dan lenyapnya dapat dirunut serta tergambar pada karya sastra yang muncul pada periode tersebut.
2.       Bagaimana menyusun sejarah sastra?
-          Menurut saya, penyusunan sejarah sastra seharusnya tumpang tindih sekaligus melingkar karena setiap karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan cara memperiodisasikan setiap angkatan. Karya sastra tidak berdiri sendiri melainkan saling terkait antara satu dengan yang lain. Melingkar di sini maksudnya, bahwa karya sastra tidak pernah terputus. Karya sastra tidak berdasarkan periodik tertentu, tetapi sastra itu akan selalu muncul tanpa batas waktu.
3.       Bagaimana kondisi kesastraan era 1950-1965?!
-          Munculnya suatu rombongan penulis baru yang belum muncul selama hidupnya di angkatan 1945. Cenderung menamakan nama penerbitan yang mengumpulkan nama-nama mereka dalam menyiarkan karya-karyanya. Rombongan penulis baru menunjukkan cirri-ciri yang hampir sama dalam karya-karya mereka.
4.       Bagaimana peran lekra, lesbumi, dan organisasi” kebudayaan pada masa 1960-an
-          Lekra (PKI)à mengeluarkan karya sastra yang berpaham barat materialis, sosialis-komunis, Kristen Katholik sesuai dengan nilai-nilai. Menentang keras imperialism dan memberdayakan kebudayaan dari dan untuk rakyat.
-          Lesbumi (NU)à mengeluarkan karya sastra yang berpaham Islam, Timur, dan tradisi.
-          Organisasi lain (netral) à Manikebu yang dikeluarkan oleh PNI, mengeluarkan karya sastra berpaham liberal dan kapitalis.
5.       Bagaimana implikasi politis di era tahun 1960-an dalam dunia kesusastraan
-          Sastra bercampur aliran politik. PKI bekerja sama dengan surat kabar dan seniman kelas bawah yang menyangkut peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Orba.
6.       Terangkan riwayat singkat lahirnya manifesto kebudayaan dan untuk apa manifesto kebudayaan itu dikeluarkan!
-          Serangkaian terror dalam kebudayaan yang dilakukan oleh kelompok lekra sejak tahun 1959, memberikan tekanan terhadap kaum seniman dan sastrawan di keluarganya. Kebebasan menciptakan dan kreatifitas sastra terganggu. Kehidupan penciptaan seolah-olah di dekte oleh lekra agar setia pada PKI.
-          Manifesto kebudayaan dikeluarkan untuk memberikan kebebasan kepada para sastrawan dalam menciptakan karya sastra.
7.       Tema-tema seperti apakah yang dalam angkatan era 1960-an!
-          Tema perlawanan dalam memperjuangkan dan mempertahankan martabat serta kemerdekaan pribadi manusia.
8.       Berikan contoh beberapa pengarang angkatan 1969-an dan bagaimana posisinya dalam kesusastraan Indonesia!
-          Pramoedya Ananta TOer _sastrawan realism sosialis
-          Nh. Dhini_sastrawan feminis
-          Sitor Situmorang_
-          Mochtar Lubis_seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).
Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.
-          Ramadhan K.H_
-          Subagio Sastrowardoyo_
-          A. A. Navis_
-          W.S. Rendra_
9.       Bagaimana ciri-ciri formal dari angkatan 1960-an!
-          Mempunyai pandangan kesenian dan titik tolak penciptaan yang berbeda pada angkatan sastra sebelumnya.
10.   Novel-novel Iwan Simatupang dianggap sebagai seatu kelainan dalam dunia sastra Indonesia. Bagaimana posisi dan karakteristik karya iwan simatupang beserta posisinya!
-          Posisi_sebagai penulis garda depan Indonesia. Di mana novel Iwan Simatupang terdapat hal-hal yang khas.
-          Karakteristik_novel-novelnya amat padat dan intens bagai karya puisi sehingga amat menantang kreatifitas dari pembaca. Selain itu karyanya juga menarik, tedapat kelainan(melampaui zamannya). Bahasanya lincah dan segar. Karya-karyanya sarat dengan gagasan eksistensialime imajinasi luar biasa. Tokoh-tokoh tidak bernama dan bergerak dalam dunia surealis dan absurd.
11.   Sekembalinya Rendra dari Amerika, terdapat perubahan terhadap karya-karya dramanya. Jelaskan dan terangkan posisi Rendra pada tahun 70-80an!
-          Warna lokal menjadi bungkus utama pergelarannya, karya-karyanya menjadi lebih prestisius (berharga) dan milik masyarakat luas. Drama dalam teaternya dan puisinya ditilik oleh para politikus yang menyatakan bahwa karya-karyanya menimbulkan pemikiran baru.
12.   Bagaimana posisi Putu Wijaya, Danarto, Kunta wijaya, Nh. Dhini, Romo Mangun Wijaya, Umar Khayam, A. A. Navis, Supadi Djoko Damono, dan Taufik Ismail dalam dunia sastra Indonesia!
-          Putu Wijaya(penulis cerpen, essai, artikel lepas, kritik drama, scenario flim & sinetron, seorang dramawan, pemimpin teater Mandiri sejak 1971, penerima puluhan penghargaan atas karya-karyanya), Danarto(seorang sastrawan, pelukis, budayawan, dan penyair), Kunto Wijaya (seorang penulis buku tentang sejarah, budaya, filsafat, dan sastra—penulis cerita pendek dan esaai), Nh. Dhini (sastrawan beraliran feminis, peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari pemerintah Thailand), Romo Mangun Wijaya (sastrawan yang meraih penghargaan sastra se-Asia tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996 dari novelnya burung-burung mayar, peraih buku non fiksi terbaik dari bukunya sastra dan religionalitas pada tahun 1982), Umar Kayam (Guru Besar Sastra Universitas Gajah Mada [1978-1997], direktur jendral radio, televise, film departemen penerangan [1966-1969], serta menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta [1969-1972]), A.A Navis (sastrawan-penulis antologi), Sapardi Djoko Darmono (Sastrawan-populer karena musikalisasi puisinya), Taufik Ismail (Penyair dan penulis antologi puisi)
13.   Bagaimana posisi karya-karya yang dianggap pop pada era 1980-an!
-          Ditandai dengan roman percintaan, menonjolkan rasa romantisme-idealisme, lahirnya sejumlah novel popular, dan cenderung ke barat.
-          Posisinya- sangat dinikmati pembaca.
14.   Terangkan dan jelaskan secara singkat latar sosiologis kemunculan karya-karya pengarang perempuan beserta tema-temanya!
-          Novel di Indonesia ditandai dengan munculnya banyak pengarang perempuan dalam 5 tahun terakhir, 3 pemenang utama sayembara menulis novel 2003 yang diselenggarakan DKJ adalah perempuan. Dalam hal inovasi sematik novel para pemenang memperlihatkan adanya keberanian untuk mengangkat tema-tema yang boleh dikatakan baru atau paling tidak tema itu belum digarap oleh para novelis sebelumnya.
15.   Era 1980-1990 muncul gejala tradisi lokal dalam dunia kesusastraan. Apakah yang dimaksud dengan tradisi lokal tersebut. Uraikan dan jelaskan!
-          Dilihat dari kecenderungan karya semangat zaman yang menjadi landasan dan wawasan estetika yaitu semacam kerinduan untuk menggali nilai-nilai tradisi dan budaya leluhur. Corak pendekatan dan sikap terhadap tradisi itu dapat dibagi menjadi dua kelompok kecenderungan:
1.       Mengambil unsur-unsur tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan, melihat bahwa dalam tradisi terdapat unsur-unsur dan aspek-aspek yang relevan bagi pandangan hidup manusia mutahir, khususnya irasionalisme mendapat perhatian kaum eksistensialis dan menganut aliran sastra. Sastra absurd kecenderungan menyikapi tradisi dengan begitu kreatif untuk keperluan inovasi yang dapat di lihat dalam karya-karyanya. Ex: Ronggeng Dukuh Paruk-Ahmad Tohari. *Gunawan Muhammad, W.S Rendra, Putu Wijaya. Mereka tidak berprestasi dalam karya kedaerahan, akan tetapi sadar bahwa dalam karya mereka mengambil tradisi daerah (lokal)
2.       Mengklaim, menumbuhkan perhatian hanya terdapat satu budaya daerah saja seperti jawa, minangkabau, sunda, dll. Para penulis berkarya dengan maksud member corak khas kedaerahan terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Kecenderungan ini dapat dilihat dari karya N.H Dhini, Umar Kayam. Kebanyakan mereka melihat tradisi sebagai produk sejarah yang bentuk-bentuknya sukar diubah dan merupakan ciri khas budaya masyarakat tertentu yang mungkin tidak dimiliki suku bangsa lain.
16.   Era tahun 1992-an muncul adanya perdebatan sastra pedalaman. Terangkan dan jelaskan konteks sosial politis dari fenomena tersebut!
17.   Bagaimana peran dan posisi majalah horizon dan panji pustaka dalam dunia kesusastraan!
-          Sebagai lembaga kesusastraan dan kritikus
-          Horizon menggunakan kanonisasi
-          Horizon perpanjangan dari pemerintah
-          Pengaruh paling banyak study filologi sebab menyelidiki materi teks.
18.   Bagimana posisi H.B.Jassin sebagai kritikus sastra dalam dunia kesusastraan Indonesia!
Beliau sebagai paus sastra dengan menggunakan system kanonisasi.
19.   Bagaimana peran award/penghargaan kesusastraan dalam era 1980-1990an di dalam kesusastraan. Jelaskan!
20.   Masa era 1970-1990 ada kecenderungan dalam bidang politik sastra yang dilakukan oleh para kritikus sastra, baik dalam bidang akademik dan non akademik. Bagaimana peran dan standar estetika dari para kritikus tersebut!
21.   Uraikan secara khusus posisi Pramoedya Ananta Toer dalam dunia kesusastraan Indonesia!
-          Sastrawan yang dikatagorikan sebagai sastrawan yang mampu membangkitkan polemik. Polemik dunia sastra yang paling terkenal di Indonesia pada saat itu  adalah “Seni untuk seni” apa “seni untuk rakyat”. Pram melihat bahwa kesenian harus tidak lepas dari kondisi rakyat, kesenian musti dijadikan alat perjuangan rakyat, maka dari itu sastra sebagai bagian dari dunia seni harus memegang erat-erat kesetiaan pada rakyat. Dari pemikiran ini Pram lebih dikenal sebagai “Realisme Sosial”
-          Sastrawan golongan kiri
22.   Bagaimana hubungan kekuasaan ORBA dan dunia kesusastraan (ambil satu kasus)!
-          Pemerintah Orde Baru yang menudingnya sebagai komunis, Pram sendiri mengaku bahwa ia tak pernah memihak ideologi apapun. Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan. Pramisme, demikian katanya jika ditanya tentang ideologi yang dianutnya. Walau demikian, dalam berbagai kesempatan, ia sering mengatakan bahwa salah seorang tokoh yang paling ia kagumi adalah Bung Karno. Meski begitu, Bung Karno sendiri tidak begitu menyukai Pram. Bermula ketika Pram menghadap Bung Karno untuk membicarakan mengenai hidup para seniman, Pram mengatakan bahwa akan baik jika diadakan konferensi pengarang Asia Afrika. Usul itu disambut oleh Presiden dan ia pun lantas menunjuk Pram sebagai ketua panitianya. Pram menolak dan mengatakan kalau saat ini ia masih terlalu sibuk. Penolakan ini membuat Bung Karno marah. Sejak itu Bung Karno pun tak pernah menyukainya, ia menganggap Pram sebagai sosok yang angkuh.
23.   Di era tahun 1998-an muncul karya Ayu Utami (Saman) bagaimana posisi dan politik kesusastraan yang digunakan!
24.   Bagaimana keberadaan sastra wangi (sastra kelamin) dalam dunia kesusastraan era 2000-an!
-          Sastrawangi sebagai genre, bisa dibilang jenis sastra yang membeberkan diskursus seksualitas perempuan secara ”vulgar” dalam bingkai budaya patriarki.

25.   Bagaimana peran dan posisi komunitas-komunitas sastra (FLP, Utan Kayu, Boemi Putra, dan berbagai komunitas yang lain!)
26.   Gejala sosial apakah dari kemunculan-kemunculan komunitas-komunitas sastra tersebut!
27.   Terdapat gejala munculnya sastra Islami. Apakah yang dimaksud dengan sastra Islami dan secara sosiologis, politis, cultural. Terangkan posisi dan keberadaanya!
28.   Bagaimana posisi sastra Koran pada tahun 2000-an. Jelaskan dan uraikan!
-          Sosialisasi karya-karya kreatif lewat media cetak yang sudah mentradisi. Pada dekade ’50-an, tradisi itu muncul melalui berbagai majalah. Malah, (almarhum) HB Jassin, Pamusuk Eneste, atau (almarhum) Satyagraha Hoerip –sebagai editor penerbitan buku—karya-karya para sastrawan yang tersebar di berbagai media cetak pun terbit menjadi sebuah buku. tradisi itu berlanjut pada tahun 2000 hingga sekarang, harus dimaknai sebagai upaya pengarang untuk tetap memiliki publik (massa) yang telah “bersetubuh” dengan media cetak.
29.   Fenomena cerita remaja dan anak-anak (membanjiri) dunia pasar perbukuan. Terangkan gejala tersebut!
30.   Gejala adaptasi (novel/flim:Ikranisasi) muncul dalam sastra Indonesia. Uraikan dan terangkan!
31.   Bagaimana tema-tema dunia kesusastraan Indonesia di era 2000-an!
-          Sciene Fiction pada novel supernova, eksperimentasi Mangunwijaya betema luka dan derita, filsafat juga banyak—tema yang bercerita tentang libido ynag menyimpang.
32.   Apakah yang dimaksud dengan sejarah terjemahan dan terjemahan itu sendiri. Uraikan dan jelaskan!
Terjemahan adalah interpretasi makna suatu teks dalam suatu bahasa ("teks sumber") dan penghasilan teks yang merupakan padanan dalam bahasa lain ("teks sasaran" atau "terjemahan") yang mengkomunikasikan pesan serupa. Terjemahan harus mempertimbangkan beberapa batasan, termasuk konteks, aturan tata bahasa, konvensi penulisan, idiom, serta hal lain antar kedua bahasa.
33.   Terjemahan dalam sejarahnya menunjukan gejala yang unik. Terangkan secara ringkas implikasi politis dan cultural dari terjemahan barat, tionghoa, arab!
34.   Bagaimana posisi cyber sastra dan dunia internet terhadap kondisi kesusastraan Indonesia!
-          Era Internet memasuki komunitas sastra Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasikan berupa buku, namuan termaktub di dunia maya/internet baik yang dikelola resmi oleh pemerintah organisasi non profit maupun situs pribadi. Banyak situs sastra Indonesia di dunia maya, salah satunya dunia sastra.com
35.   Semangat zaman seperti apakah yang melatari kesusastraan Indonesia era 2000-an dan 1980-an!
-          Semangat yang melatari dunia sastra era 2000-an dan 1980-an adalah semangat bereksperimentasi dalam membuat karya novel-novel mereka.
36.   Tema-tema kritik sosial juga muncul dalam sepanjang dunia kesusastraan Indonesia era 1970-1998. Ambil satu kasus dan berikan contohnya dalam manifesti karya sastranya!
37.   Mengapa ketika Pramoedya Ananta Toer menerima penghargaan Ramon Magsaysay terjadi kontroversi. Terangkan!
38.   Mengapa Pramoedya Ananta Toer gagal menerima penghargaan!
-          Karena dia dianggap sebagai komunis padahal ia tidak menganut ideologi apapun. Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan.
39.   Bagaimana posisi A Teeuw dalam sejarah sastra Indonesia!
40.   Era 2002-an banyak muncul karya-karya yang ditulis oleh diaspora (migrant lintas Negara) Indonesia. Seperti TKI di Hongkong dan Fira Basuki. Terangkan munculnya fenomena tersebut!
41.   Bagaimana munculnya sastra majalah generasi 1965!
42.   Era tahun 2000-an (2002) muncul jurnal cerpen Indonasia. Bagaimana sejarah kemunculannya!
43.   Uraikan secara ringkas posisi nama-nama berikut dalam kesusastraan Indonesia: (Nova Riyanti Yusuf, Abidal El Khaliegy, Habbiburahman El Sirazy, Oka Rukmini, Taufik Ikram Jamil, Eka Kurniawan, Anggi Widodo, Helvy Tiana Rosa, & Suseno Gumirah Adi Darma!)
44.   Apakah yang dimaksudkan dengan sastra kota. Uraikan dan jelaskan posisinya di dalam dunia kesusastraan Indonesia!
*Revisi

Senin, 06 Desember 2010

Hari ini bukan ulang tahunku


Hari di mana rumahku ramai…
Seorang anak tetangga menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Kulihat tumpukan kado di meja besar. Sangat banyak dengan kertas kado yang sama, biru. Warna kertas indah itu hampir berwarna biru. Tidak ada warna lain. Kenapa warna biru? Aku kan tidak terlalu suka dengan warna itu.
“Berhenti!” gertakku kesal.
“Selamat ulang tahun..” dia tidak menghiraukanku. Dia terus saja menyanyikan lagu itu.
“Aku tidak ulang tahun, kamu mengerti tidak?”
“Selamat ulang tahun aku ucapkan…” dia masih melanjutkan lagu itu. Kulihat kembali tumpukan kado di atas bangku. Hatiku miris. Hari ini bukan hari ulang tahunku. Lalu hari ini ulang tahun siapa? Aku pun tidak tahu. Tapi kenapa mereka mengucapkan hari ini adalah hari ulang tahunku?
-----------aku tersadar itu hanya isi mimpiku.
Ibu mengajakku ke suatu tempat yang indah. Ibu memilihkan anting yang indah untukku. Lalu memakaikannya di lubang telingaku. Aku tersenyum.
“Kamu suka, sayang?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Selamat ulang tahun ya!” ucap ibu sembari memelukku. Aku pun tertegun dalam diam.
Ulang tahunku?
------------aku tersadar itu hanya isi mimpiku.
“Kamu kan hari ini ulang tahun!” ucap seorang teman usai kuliah.
“Bukan!”
“Ayo makan-makan!” ajaknya antusias.
“Hari ini kan bukan hari ulang tahunku!” dia merengut. Aku tidak mengerti kenapa bisa berurutan seperti ini. aku pun ingat tentang mimpiku sebelum aku bertemu dengan temanku usai kuliah. Mimpiku semalam.
Kami pun berjalan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang dia pikirkan, tapi yang jelas aku sedang memikirkan, apa maksud dari semua ini?

Mimpiku adalah bagian dari hidupku. Aku berpikir ini adalah berkat Tuhan yang diberikan padaku.

Minggu, 05 Desember 2010

Aku Tidak Mau Kehilangan Desember

Tulisan untuk hari ini..
Kata Tuhan yang selalu membisiki hatiku, “Teruslah menulis untuk kehidupanmu yang berharga!”
Aku mengingat kalimat itu, karena kalimat indah itu sudah tidak bisa aku lupakan. Akhir-akhir ini aku memang jarang menulis. Ada sesuatu hal, hal yang sudah kusinggung di tulisanku sebelum ini. Seakan kalimat itu hilang di dalam ingatanku. Aku pun mulai sadar, aku harus memulainya kembali. Entah tulisan ini ada yang membaca atau tidak, aku tetap akan menulis.
Desember..
Semua orang mengetahui, bahwa bulan desember adalah bulan terakhir dari kalender internasional. Mungkin ada beberapa orang tidak menganggap bulan ini begitu spesial seperti aku. Aku sangat menanti-nantikan bulan ini. Entah kenapa ada sesuatu yang mengantarkanku kepada perasaan yang hilang. Aku tidak tahu perasaan apa itu.
Aku merasa  tidak mau kehilangan bulan ini.
Aku ingin menangis malam ini. Rasanya memang begitu setiap aku menginjak bulan desember. Menangis..ToT
Kalau memang Tuhan telah memberikan kehidupan padaku sebelum ini, mungkin saja kehidupanku yang dulu sangat indah. Sehingga di kehidupanku yang sekarang ini masih mampu merasakannya. Bagaimana tidak, haruskah aku mengatakan pada Tuhan dengan suara lantang tentang perasaanku yang hinggap dan lenyap? Tidak perlu. Karena Tuhan pastilah mengerti tanpa aku meninggikan suaraku yang tidak merdu ini.
Ada sesuatu yang tidak mampu aku ingat di bulan desember. Desember yang tidak akan pernah aku temui di desember kehidupanku yang sekarang.
Aku hanya bisa berharap, perasaanku terobati oleh sesuatu yang disebut berkat Tuhan.
Desemberku, aku tidak ingin kehilanganmu.

Sabtu, 04 Desember 2010

Kembali Kepada Tulisan


Setelah memasuki dunia sastra, aku melihat ada sesuatu yang menohok otakku terlalu dalam. Aku merasa begitu miskin akan kata-kata. Aku merasa diriku tidak berarti apa-apa menyangkut sastra. Aku tidak mengerti kenapa Tuhan menempatku di sini.
Seketika aku berjalan, mencoba memberi warna baru pada tulisanku. Aku justru terdiam dengan pulpen mengetuk-ngetuk bangku. Hatiku mulai gusar. Aku merasa gelisah luar biasa. Tidak ada satu pun kata yang mampu aku tulis di kertas bergaris yang selalu aku bawa ke mana pun aku pergi.
Aku hanya melihat kover buku di depanku yang berwana merah benderang. Aku termangu-mangu. Apa yang aku tunggu? Tulisan? Atau ide? Kata salah satu dosenku, bahwa ide itu tidak untuk ditunggu, tetapi jemputlah! Dan hantarkan ke tulisan indahmu.
Aku harus mengakui pula, semenjak aku masuk ke dunia kampus. Aku tidak sempat menyentuh barang sedetik pun buku favoritku yang selama ini selalu aku baca. Buku-buku referensi pun aku baca sekilas, namun adakalanya aku memang harus membacanya sampai tuntas dengan perasaan terpaksa. Tugas setumpuk dalam minggu yang sama.
Jadwal akhir pekan aku gunakan untuk refresing dengan teman-temanku. Aku mempunyai hobi baru, jalan-jalan, bersepeda, makan bersama, nge-game dan apa pun yang mampu membuat otakku jernih kembali. Aku butuh sesuatu yang mampu mengembalikan sesuasana hatiku yang mulai penuh tekanan.
Aku begitu menikmati hobi baruku. Karena dengan apa yang aku lakukan aku mampu menuntaskan kepenatan di dalam otakku. Tetapi ada yang aku lupakan, aku melupakan sesuatu yang begitu penting. Aku tidak lagi membaca buku-buku yang aku beli beberapa bulan lalu, aku juga menghentikan berlangganan majalah, aku hampir tidak pernah lagi menyentuh pulpen warna dan kertas gambar yang sengaja pula aku beli untuk mengisi kekosongan waktu.
Hari ini aku ingat, aku ingat akan kata-kata seseorang di ujung langit. Bukankah hidupku ini hanya sementara. Seperti setetes air yang membasahi kertas, yang hanya butuh beberapa jam kertas itu akan kembali mengering. Tidak berbekas dan tidak mempunyai arti apa-apa. Bila terus-menerus aku seperti air itu, alahkah percuma aku hidup di dunia ini. Hanya membasahi dunia barang sedetik tanpa meninggalkan apa-apa untuk kebaikkan di dalamnya.
Kubuka kembali buku-buku yang tertumpuk di almari, begitu senang buku itu kupegang setelah sekian lama menungguku dengan tangis. Buku itu mengira aku sudah melupakannya. Begitu kalau Tuhan juga menganugerahkan benda mati itu sebuah perasaan seperti layaknya manusia. Kembali pula aku torehkan pulpen warnaku ke dalam kertas putih polos dengan melekukan garis merah yang indah di atasnya.
Hidupku akan berwana, bila aku melakukan semuanya dengan pengaturan waktu yang tertata sempurna. Kujadikan sedemikian rapi hingga nanti aku mampu menambah pengalamanku melalui apa yang ada di depanku.
Tuhan pun akan tersenyum di sana, kamu yang ada di situ, dan aku yang ada di sini.
Tersenyum :)

Aku Mengerti


“Apakah memang harus seperti ini atau bagaimana? “ aku bertanya pada seorang gadis tuna rungu yang jelas tidak mungkin mendengarku. Dia menatapku. Lama.
Masih dalam keadaan seperti orang yang sedang kebingungan. Ditatapnya wajahku dengan membelai rambutku perlahan. Kemudian memegang tanganku. Dia berusaha menautkan kedua tanganku. Dia juga mempraktikan sendiri supaya aku mengikutinya.  Dengan lantang dia mengucapkan syukur .
“Puji syukur  yang tiada hentinya kami sampaikan kepadamu, ya Ratu yang mulia, untuk segala kesejahteraan yang kami terima setiap hari dari tanganmu yang selalu menolong. Semoga kami boleh selalu berada dalam perlindunganmu yang penuh kuasa, dan untuk semakin mempererat kesatuan kita, kami sampaikan salam kepadamu dengan doa…” dia membuat tanda salib. Tentu aku tidak mengikutinya. Namun, dia tahu kalau aku tidak mengikutinya. Dia menatapku luruh, saat itu pun aku mengikutinya lagi seperti apa yang dilakukannya.
Dia menarikku ke sebuah tempat. Tempat dimana dia mengumpulkan koran-koran bekas yang berserakan di samping ruko. Seperti itulah pemandangan saat aku bersamanya. Terkesan menjijikan bila harus memunguti koran-koran itu. Kotor dan penuh debu.
“Kenapa harus seperti ini?” tanyaku. Lagi-lagi dia hanya memandangku. Sama halnya dengan tadi, dia menunjukku supaya melakukan seperti apa yang dia lakukan. Memungut koran. Beberapa botol aqua bekas pula. Aku menelan ludah dan menggeleng ke arahnya. Dia justru menghampiriku dengan tangannya yang kotor. Menggandengku, memegang lengan kiriku,dan tangannya menempel persis di atas jam tangan mahalku. Ini gila!
Dia tidak tahu atau memang tidak mengerti aku? Atau sebaliknya? Aku yang tidak tahu dan tidak mengerti dia? Kami jelas berbeda.
Kupungut lembar koran.
aku pun mengerti, ini sebuah kehidupan.