Prolog
Mimpi itu telah nyata…
Benar-benar telah menyerup kehidupanku…
Malam…
Hingga terang menyergap mataku…
Dia datang…
Dia telah datang…
Dia benar-benar datang…
Di sini…
Di hadapanku…
Kutatap wajah tirus berhidung bengkok yang berdiri mematung di hadapanku. Senyumnya bergelayut lembut di bibir tipisnya. Sedang angin sore semakin merayapi kudukku. Aku hanya termangu.
“Gisya…” pelukannya yang begitu tiba-tiba membuat hatiku semakin getir. Entah gejolak apa yang aku rasakan? Tak pasti. Air mataku kembali mengalir. Namun, segera kuhapus. Lantaran aku tak mau laki-laki yang memelukku ini melihatku menangis. Aku tak mengenalnya. Sebelumnya pun aku belum pernah melihatnya. Dan baru kali ini aku membiarkan seorang laki-laki menyentuhku, apalagi memelukku.
Dengan perlahan dia melepaskan pelukannya. Terlihat dengan jelas binar matanya menandakan akan kerinduan. Dan seakan mata itu menyiratkan bahwa dia mengenalku sejak lama.
Berhidung bengkok, berporstur tinggi, berwajah tampan, berkulit putih bersih, dan tak sengaja kutangkap warna kornea matanya. Hitam legam.
Tak salah lagi. Pasti dia yang dimaksud bunda sebelum pergi untuk menghadiri resepsi.
“Sayang, ada tamu spesial yang akan datang hari ini. Jangan lupa, suruh dia masuk dan antarkan ke kamar yang sudah bunda siapkan. Ingat jaga sikap dan tebarkan senyummu! Bunda tak ingin kamu terlihat murung di hadapannya.” Tamu spesial? Batinku bertanya-tanya.
“Siapa tamu itu bunda?”
“Kakak…” bunda menatapku dalam. Diam sejenak.
“Kakak sepupumu, sayang!” lanjut bunda. Hmm..kupikir kak Maura akan kembali ke rumah. Ternyata?
“Kakak sepupu yang mana bunda?” tanyaku lagi dengan penuh penasaran.
“Kamu akan melihatnya nanti, sayang! Jaga rumah baik-baik dan ingat pesan bunda, tebarkan senyummu padanya!” ujar bunda sebelum memasuki mobil.
“Tapi bunda…”
“Dia spesial untukmu!” ujar bunda sekali lagi sebelum mobil yang ditumpanginya benar-benar lenyap dari pandanganku.
“Dia spesial untukmu!” kata-kata bunda itu berhasil mengusik hatiku.
Spesial untukku?
Kutatap kembali mata legam itu. Diakah tamu spesial untukku? Apa yang spesial darinya? Kenapa harus dia? Bunda aneh sekali. Kakak sepupu yang belum pernah kukenal dan kutemui ini dianggapnya tamu spesial untukku. Seperti pesan bunda, kupasangkan senyumku padanya. Meski hatiku getir merasakannya.
1
Kelas Sastra, 26 Desember 2008…
Rintik hujan di luar
“Gis, giliranmu!” ujar
“Hah! Apa? Oh,..” gagapku. Ternyata sudah separah ini aku berhalusinasi. Bukan, aku hanya membayangkan saja. Kutatap wajah Bu Annisa di depan kelas yang menungguku dengan sabar untuk mendeklamasikan puisi yang akan kubawakan. Aku merasa sangat bersalah pada guru sastraku ini karena hari ini aku tak berkonsentrasi penuh pada mata pelajarannya.
“Selalu Kata
Selalu kata yang sampai padamu
Mengangkat buah mimpimu
Yang ranum
Ke dalam sajak. Telah kuniatkan
Menjinakkan kata-kata dalam jambangan
Namun semua tumpah, semua warna
Lari ke taman pohon dan bunga
Buah karya Laode Pesu Aftarudin, 1980”
Tepuk tangan memenuhi seisi kelas. Kulihat wajah Ibu Annisa tersenyum simpul. Tak menyangka muridnya yang satu ini akan membawakan puisi milik Laode Pesu dengan penuh energik. Akh…akh…aku terlalu berlebihan menilai diriku sendiri. Aku kembali ke tempat dudukku, namun baru selangkah aku beranjak, mataku tak sengaja menangkap sesuatu di samping kursiku.
Pulang sekolah hari ini cukup membuat kudukku meremang. Meski hujan sudah berhenti, namun angin masih saja meremas-remas kulitku. Kuseberangi jalan dengan keadaan diam. Tanpa candaan. Sebelumnya aku selalu pulang bersama sahabatku. Tapi tidak untuk kali ini, dan entah sampai kapan. Awalnya yang menyebabkan kita tidak bisa pulang bersama karena kesibukan masing-masing. Perlahan-lahan aku mulai sadar kalau dia ternyata mulai menjauhiku. Mungkin aku mempunyai kesalahan padanya hingga membuatnya menjauh dariku. Atau ini hanya perasaanku saja. Entalah.
Setelah aku berhasil menyeberang, segera saja aku menaiki bus yang sengaja berhenti untuk ditumpangi anak-anak yang hendak pulang. Dan hanya butuh waktu
Hanya terlihat dua siswa yang sebaya denganku dan seorang ibu setengah baya yang memegang erat tas pinggangnya. Anak perempuan yang berada di depanku hanya diam dan menunduk. Sedangkan anak perempuan yang satunya duduk di pojok. Bercengkerama dengan ponselnya, entah dia bicara dengan siapa. Yang jelas dia tertawa-tawa dan bersumpah-serapah sendiri di depan ponselnya itu. Aku jengah dengan suasana ini. Dan kupastikan aku akan menunggu lama di dalam angkot yang terbilang pengap ini.
Kuberalih pandang. Mencoba menyatukan imajinasi.
“Seandainya kakak laki-laki itu ada, mungkin aku tidak akan berada disini. Aku pasti sudah berada di rumah, atau bermain-main dengannya. Tak perlu risau menunggu berjam-jam di dalam angkot pengap seperti sekarang ini. Ah, aku mengandai-andai terlalu tinggi. Mana mingkin aku mempunyai kakak laki-laki? Mana mungkin bunda akan melahirkan anak yang lebih tua dariku? Yahh...mengingat aku sudah sebesar ini. Lagi pula aku mempunyai kakak. Apa yang kurang dari sosok Kak Maura? Kebaikannya tak dapat kupungkiri. Aku bersyukur telah memilikinya. Namun, tetap saja bayangan seorang kakak laki-laki yang tangguh sangatlah kuidamkan.” Aku menunduk lesu. Hujan kembali turun.
Bunda menyelimutiku. Malam ini aku menggigil kedinginan. Sangat. Tadi setelah turun dari angkot, aku nekat menembus air hujan untuk sampai ke rumah. Tak jauh memang, namun harus menikmati guyuran hujan selama kurang lebih 15 menit.
Kulihat mata teduh milik bunda. Aku sungguh beruntung memilikinya.
“Jangan di ulang kembali! Bukankah kamu bisa menelfon ke rumah untuk meminta dijemput?”
“Bukankah bunda tadi mengantarkan kakak mengurusi berkas-berkas untuk keberangkatannya?” tanyaku memastikan, “Dan tak mungkin sekali aku meminta kakak menjemputku.” Bunda tersenyum lembut.
“Sayang, Bunda
“Maafkan bunda sayang, kamu jadi kedinginan seperti ini!” tatap bunda penuh penyesalan.
“Tak ada yang salah bunda.” Senyuman lembut itu muncul kembali. Hatiku nyaman merasakannya.
“Kalau begitu istirahatlah sayang! Dan kalau ada apa-apa bilang bunda, selamat malam, mimpi yang indah!” kata bunda sembari mencium keningku. Kulihat tubuh wanita paruh baya itu berjalan dan lenyap di balik pintu kamarku.
Kesibukkan itu memang tak dapat diduga kedatangannya. Ayah, belum sempat aku mengobrol dengannya. Ayah sudah pergi lagi. Pasien-pasien di rumah sakit itu telah menyita pertemuanku dengan ayah betahun-tahun lamanya. Ayah datang dan pegi tak dapat diduga. Apalagi akhir-akhir ini aku semakin jarang melihat laki-laki paruh baya bermata sipit itu. Meski demikian aku tak lepas dari kasih sayang ayah. Aku yakin akhir pekan ayah akan menyempatkan waktu untuk bersamaku.
“Kakak…huhu….” Gadis kecil berkucir dua itu mencoba meronta di dalam gendongan seorang laki-laki.
“Lepaskan aku…aku mo ikut kakak…” rengek gadis itu.
“Kita akan pergi sayang!” ujar laki-laki yang menggendongnya.
“Aku tidak mau..kakak…aku mau ikut kakak…” rengeknya semakin menjadi dan terus meronta ingin turun. Namun, laki-laki itu tak akan membiarkannya. Tak lama setelah itu seorang perempuan mengikuti mereka dari arah belakang. Masuk ke dalam mobil. Lalu berjalan melewati jalan yang di sisi-sisinya dipenuhi pohon-pohon yang meranggas. Tak peduli ada bocah laki-laki kecil yang meneriakinya. Menginginkan mobil itu berhenti dan tak membawa gadis kecil itu. Bocah itu berlari mengejar mobil yang sudah melaju jauh. Dia terus berlari dan berlari. Hingga ia tertunduk pasrah. Mobil yang di tumpangi gadis kecil itu lenyap.
“Hiks…Hiks…” Isaknya. Sebuah benda kecil tergeletak manis di dalam genggamanya. Tiba-tiba ada kilatan dari benda itu. Tak jelas bentuknya.
“Hiks…Hiks…”
“Gisya…”
“Hiks…Hiks…”
“Gisya bangunlah!”
“Hiks…”
“Gisya…ini kakak! Bangunlah!” kubuka mataku perlahan. Kulihat kak Maura melihatku cemas.
“Minumlah!” disodorkannya segelas air putih padaku. Aku mulai meneguknya.
Mimpi buruk itu muncul kembali. Kata kakak aku menangis dalam keadaan tidur. Yah…itu memang benar. Kurasakan air mata itu nyata tumpah ruah di sekitar pipiku. Kalau seandainya kakak tak membangunkanku, mungkin aku tak akan bangun. Dan masih menangis terisak-isak di alam bawah sadar. Sudah kesekian kalinya aku mimpi buruk seperti ini. Akibatnya aku takut tidur lagi. Tak jauh berbeda dengan mimpi-mimpi sebelumnya. Mimpi yang hanya dipenuhi bayangan hitam dan kepiluan. Tak nampak jelas namun seperti kenyataan. Apa maksud mimpi ini? Apa yang salah dengan diriku hingga mengalami mimpi buruk seperti ini? Kenapa selalu datang di dalam tidurku? Kenapa aku selalu dibuat menangis? Kenapa? Meski aku tak mengingat masa-masa itu tapi belum tentu ini adalah masa laluku. Bukan berarti ini adalah ingatan yang hilang itu. Bukan!
“Kakak akan pergi sekarang?” tanyaku yang agak lebih tenang. Tak dapat dipungkiri bau sedap Yves Saint Laurent Baby Doll telah menyebar di ruangan ini. Sepagi ini kakak sudah bersiap-siap?
“Iya, sayang. Kakak akan berangkat pagi ini. Jadwal keberangkatan dipercepat.” Jelasnya.
“Kenapa?” tanyaku terdengar kecewa. Kakak menatapku dalam. Lalu beranjak duduk di sampingku lagi.
“Itu sudah diprosedurkan sayang! Kamu tak perlu sedih seperti itu!” aku menunduk. Menyembunyikan buih-buih air mata yang akan turun. Kakak memegang kedua belah pipiku. Menghapus tetesan-tetesan yang telah berhasil keluar dari kedua bola mataku.
“Jangan menangis seperti ini! Kakak tak suka melihatmu cengeng seperti anak kecil! Kakak tak akan pergi lama!”
“Tiga tahun itu lama kakak!” bau sedap Yves Saint Laurent Baby Doll semakin menusuk hidungku.
“Tidak sayang!”
“Siapa lagi yang akan menemani Gisya, siapa lagi yang akan membantu Gisya menyelesaikan pekerjaan rumah? Siapa yang akan mengajak Gisya jalan-jalan bersama lagi…”
“Sttt…masih ada ayah dan bunda!”
“Aku ingin kakak…” perkataanku memang terdengar egois. Tapi apa daya, aku tak mau kehilangan kak Maura sedetikpun.
“Seorang kakak akan datang!” aku tertegun di dalam pelukannya.
“Yah…tiga tahun lagi!” timpalku.
“Tidak sayang. Dia akan segera datang!!” aku tidak mengerti ucapan kakak barusan. Dia? Siapa yang kakak maksud? Aku memilih untuk diam. Aku tak mau tahu tentang orang yang dimaksud kakak. Di benakku hanya tertuju pada kakakku yang akan pergi keluar negeri. Menikmati kehidupan pendidikan yang jauh dari sini. Dan aku akan kesepian tanpanya. Yah…kesepian.
To be Continend....
panjang, izin baca dulu..........
BalasHapuswah....i hope this become a real story in someone life....
BalasHapusmy heart cried read this......
ukh....nice..........^^