Tak seorangpun tahu alir-mualir diriku, terkecuali keluarga yang telah membesarkanku. Aku terlahir dari buritan nafas-nafas yang tak pantas ditiru, karena agama apapun melarang hal itu. 2 bait keyakinan yang berbeda mencengkeram erat dalam diri orang tuaku, mengakibatkan diriku terbelenggu dalam kesuraman yang kian dalam kegelapannya. Aku tak pantas terlahir di dunia ini.
Keluarga yang menjadi idaman setiap orang itu telah menempatkan diriku dalam kasih sayang yang cukup untuk kumiliki. Seolah aku terlahir dari buritan nafas yang sempurna. Yaahh, sebuah kesempurnaan dalam sehelai benang yang benar-benar senada.
Derap langkahku kupercepat untuk menyongsong kelasku. Dan kupastikan kalung yang menggantung di leherku bergelayut riuh di balik kemeja seragamku. Sebuah benda hijau zamrud mirip samurai tajam bergelayut mengiringi si perak yang melingkar manis di leherku. Aku seperti putri kesultanan Usmani yang sedang terombang-ambing. Tak menentu, beginilah diriku.
“Megisa!!” seruan itu berhasil memperlamban langkahku. Sosok cowok berparas tampan dan berkulit kuning langsat itu, kini sudah menyamai langkahku. Tak kuhiraukan ucapannya karena aku sendiri terbelenggu oleh hati yang berkecamuk. Entah kenapa?! Yang jelas perasaan ini muncul akhir-akhir minggu ini. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. 13 jam lagi kakakku akan mengucap sumpah setianya.
Gaun berwarna putih selutut telah membalut tubuhku. Menjepit sebagian rambut panjangku dengan hiasan berbentuk bintang laut keperakan. Aku sengaja berdandan seperti ini untuk menghadiri pernikahan kakak perempuanku. Dan kalung salib berwarna hijau zamrud ini tetaplah menggantung di leherku.
Kini jajaran kursi-kursi panjang gereja St. Immanuel telah terpenuhi undangan. Mereka bisa juga dibilang sebagai saksi atas pernikahan kakakku dengan pemuda yang kini berprofesi sebagai dokter spesialis di rumah sakit milik ayah. Kupastikan dokter muda itu pasti sangat bahagia. Kaca mata minusnya menutupi mata sipitnya yang membuatnya kelihatan profesional.
Aku berdiri di barisan pertama dengan seikat bunga Lily putih di dalam genggamanku. Bunga ini kesukaan kakak, dia pasti akan senang bila bunga ini sebagai hadiah pernikahan untuknya. Di samping kiriku, pria paruh baya berhidung bengkok berdiri mematung melihat kakakku berjalan menuju altar didampingi oleh paman. Paman adalah ayah baptis kakak. Sosok pria paruh baya berhidung bengkok ini tak lain adalah ayahku. Dialah sosok yang menuntunku ke jalannya. Haruskah ayah yang mendampingi kakak menuju altar? Itu tidak berlaku untuk keluargaku.
Selang beberapa saat setelah seorang pendeta mengucap sabda perjanjian. Laki-laki itupun menyahutnya dengan sebuah janji setianya, setelah itu hening. Kenapa dengan kakakku? Bersediakah dia menikah? Kenapa hanya diam? Semua menunggu kakakku mengucap janji cinta itu. Menunggu, menunggu. Kulihat wajah ibu beraut cemas, sedangkan ayah tetap diam tanpa ekspresi. Pendeta itu mulai bertanya kembali pada perempuan yang tiba-tiba menjadi bisu di saat hari pernikahannya.
“Saudari Brinanda, apakah kau bersedia menikah dengan saudara Yonathan?” tanya pendeta memastikan. Kuhitung sudah 5 kali ini pertanyaan itu dilontarkan ke perempuan yang sengaja menjadi bisu. Kuruntuki kelakuan kakakku, apa dia gugup saking bahagianya sehingga satu kalimat pun sulit dia lontarkan? Anggukkan kepala pun tak bisa mewakili karena dia hanya diam membisu. Ingin rasanya aku mendekatinya lalu menjambak rambutnya supaya dia berteriak. Setidaknya mengucapkan satu kalimat saja. Menjawab kata “Iya” apa susahnya coba?
“Saudari Brinanda....” pendeta mencoba mengulang kembali pertanyaannya. Namun pertanyaan itu terpotong oleh suara yang sudah lekat kukenal, dan suara yang membuatku tak yakin akan pendengaranku.
“Aku ingin menjadi seorang biarawati....” itulah! Itulah suara yang ditunggu-tunggu. Namun, kalimat itu jauh melenceng. Kau kakak, iblis mana yang telah merasukimu? Kau akan menikah dengan laki-laki yang katanya kau cintai, dan kini kau berkata…argg! Sontak bunga yang sengaja kubeli khusus untuknya terjatuh tanpa kupedulikan lagi. Ayah hanya diam, namun wajahnya jelas menyiratkan keterkejutan yang sangat mendalam. Semua undangan riuh rendah bergumam. Siapa yang tidak terkejut bila mendengar pengakuan kakakku yang begitu memporak-porandakan seluruh hati yang mendengarnya. Kulihat pula wajah laki-laki yang sebelumnya terlihat bahagia, kini berubah pucat dalam temaram kenyataan pahit.
Ternyata perasaan yang berkecamuk yang kurasakan akhir-akhir ini, telah menandakan kenyataan pahit yang benar-benar terjadi.
Sore ini setelah aku menjalankan sholat mahgrib bersama ayah. Aku bergegas menemui ibu yang menangis tersedu sedan di ruang tamu. Kupakai kembali kalung salib itu. Semua orang pasti berpikir kehidupanku aneh. Aku seorang muslim, namun menggantungkan salib di leherku. Aku sendiri juga berfikaran begitu. Malahan aku berfikir kehidupanku luar biasa aneh. Kalau aku sedang akan menjalankan sholat, aku akan melepaskannya. Memang tak ada larangan dari ayah. Namun, mata itu membuatku mengerti akan sesuatu.
“Tiada Tuhan selain Allah...” kalimat yang tertuang dalam Al-Qur’an selalu meluncur dari ayah sesaat sebelum menjalankan sholat. Hanya lirih terdengar. Pria itu memang lembut namun, sorot matanya terlihat tegas, tajam berkilat-kilat. Aku melepasnya dengan hati-hati di balik mukena. Selalu dan akan begitu. Sedangkan ibuku, tak jauh beda dengan ayah. Ibu sosok yang lembut, dan tak pernah memarahiku. Posisiku seperti buah simalakama. Dimakan ayah akan mati, tak dimakan ibu yang akan mati. Ah, ayah, ibu! Aku tak mau durhaka pada kalian!
Aku tak tahu lagi bagaimana menghadapi keluargaku ini. Aku serba salah! Serba dosa! Aku berfikir kalau diriku ini adalah anak terkutuk. Karma, mungkinkah seperti yang kurasakan ini? Aku terlahir muslim, tidak dalam pembaptisan seperti kakak. Tapi kenapa ibu mengalungkan salib ini sejak aku terlahir di dunia? Ingin sekali kuberontak pada pemilik mata sendu itu. Namun, lagi-lagi aku teringat saat aku ingin melepasnya.
“Surga di telapak kaki ibu! Jangan sekali-kali kau melawan ibu!” dan, “Kalung ini akan menjadi pelindungmu, Juru Selamat akan selalu menyertaimu, Megisa!” begitulah kata pakunya. Aku langsung terdiam seribu bahasa, dan berjanji dalam hati tak akan mengulangi pikiran-pikiran atau kelakuan yang bisa membuat ibu kecewa. Terjadilah kalung bergantung salib ini menggantung di leherku selama aku hidup. Sebenarnya ayah mengetahui hal ini, tapi sosok pria itu sepertinya tak terlalu mempermasalahkan hal ini. Oh, aku teringat dulu ayah pernah berkata padaku,
“Megisa, anggaplah sebuah hiasan perakmu saja, dan jangan perlihatkan pada siapapun terkecuali keluarga, terutama ibumu!” aku menatap wajah berhidung bengkok itu. Jelas menyiratkan ayah sangat mencintai ibu. Sosok itu seolah tak mau wanita yang dicintainya kecewa lantaran aku tak memakai kalung bersalib ini. Aku mencoba berpikir sekuat-kuatnya, dan memberanikan diri untuk bertanya pada ayah.
“Ayah, kenapa ayah menikahi ibu?” aku tahu pertanyaan itu jawabannya pasti dilatar belakangi oleh cinta. Namun, ada sesuatu yang menjadi kebingunganku. “Bukankah muslim mengharamkan umatnya menikah dengan seorang non muslim?” ah, Tuhan! Pada kenyataannya pertanyaan itu hanya menggantung. Bibirku terasa kelu, seolah terbungkam sesuatu yang begitu berat, tak bisa digerakkan sedikitpun.
Aku duduk disamping ibu yang masih menangis. Kulihat kakakku hanya diam. Insiden di gereja tadi sore memang memalukan sekali. Sampai sekarang masih sulit kupercaya.
“Tenanglah!” gumam ayah yang mencoba menenangkan ibu yang berada di samping kirinya. 1 hal yang menjadi kekagumanku. Ayah dan ibu tak pernah marah satu sama lain. Tak pernah ribut. Setahuku menjadi anaknya begitu, kalaupun mereka benar-benar ribut, tak pernah nampak di mataku.
Ibu tetap saja masih menangis. Ayah dan ibu mungkin juga bingung seperti apa yang sedang aku rasakan terhadap kakak. Ayah menatap kakak, lama. Kemudian mulutnya bergerak pelan, seperti ada sesuatu yang ingin ayah ucapkan. Namun, gerakan kakak yang tiba-tiba merunduk di lutut ayah, membuat ayah kembali terdiam.
“Ayah, Ibu, maafkan Brinanda! Brinanda tak bermaksud mempermalukan nama baik keluarga! Hanya saja Brinanda ingin menjadi seorang biarawati!” ibu semakin tersedu mendengar pengakuan kakak.
“Apa kamu ada masalah dengan Yonathan sehingga membuatmu seperti ini?” tanya ayah dengan nada yang diatur sedemikian tenang.
“Tak ada masalah sedikitpun.”
“Lantas kenapa kamu membatalkan pernikahanmu sendiri? Dan....” ayah tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.
“Aku ingin menyerahkan seluruh hidupku pada Tuhan!” akunya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Apa dia tak berfikir bagaimana perasaan Ayah dan ibu? Terutama pada laki-laki yang mencintainya? Kurasa kakakku sudah gila. Segila-gilanya perempuan yang memang sudah hilang akal kewarasannya. Dia mengakui keinginannya begitu tiba-tiba. Tak habis pikir, kenapa saat sebelum upacara pernikahan yang disaksikan orang banyak dia tidak menolak laki-laki itu? Dia pikir hidup ini mainan yang bisa dia mainkan sesuka hatinya? Tak ada kamus dunia yang merelakan semua itu kakak! Kau telah mengkhianati cintamu sendiri. Kau pecundang! Dengan perasaan bergemuruh aku meninggalkan ruangan ini, karena aku sudah tak tahan dengan suasana yang sebelumnya tak pernah terselebat di benakku.
“Megisa!” gumam seseorang dari arah belakang dan aku dibuat terkejut oleh seorang cowok berkulit kuning langsat setelah membalikkan badanku. Sesuatu yang tak aku inginkan akan terjadi. Rahasia yang aku simpan selama hidupku dalam waktu ini akan terbongkar semua.
“Yu…Yusuf…” ujarku terbata. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, dan keringatku mengucur deras.
“Megisa!” suaranya lirih terdengar. Mungkin dia juga terkejut dengan pengelihatannya saat ini. Dia sangat dekat denganku. Tangan kanannya memegang salib hijau zamrud yang menggantung di leherku.
“Kenapa kamu ada disini?” tanyaku. Aku yakin ini sebuah rasa ketakutan. Ketakutan akan sebuah kejujuranku padanya. Apakah dia akan tetap mempercayaiku seperti sebelumnya?
Di depan gereja St. Immanuel, kami berdiri terdiam. Angin semilir berhasil menggoyakan rambut panjangku yang tergerai. Masih dalam keadaan diam, dia mencoba meraih pergelangan tanganku. Lalu menuntunku duduk di kursi panjang yang tak jauh dari situ.
“Megisa, kenapa kamu tak jujur padaku?”
“Harus kamu ketahui, kenapa aku berada di tempat ini! Kakakku akan menjadi seorang biarawati, pernikahannya gagal.”
“Kamu seorang Nasrani? Apakah kamu berpindah kepercayaan?” aku menggeleng pelan.
“Lantas?” matanya beralih ke salib kecil yang menggantung manis di kalung perak yang kupakai. Pertanyaannya terhujam berat di hatiku. Rasanya begitu sakit bila bibirku bergerak sedikit saja. Aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya pada seseorang yang sudah menaruh kepercayaan padaku.
“Maafkan aku!” gumamku nyaris tak terdengar. Airmataku mengalir. Aku merasa sangat bersalah padanya karena aku menyembunyikan sesuatu pada orang yang jelas mencintaiku selama ini.
“Nafasku...
Hatiku...
Dan degup jantungku...
Layaknya bulir-bulir padi yang meranum
Bila goyah tersibak angin
Ia akan bergemerincing layaknya lonceng yang bergulir
Mengikuti temali yang menjerat erat lubang hiasnya
Terombang-ambing,
Tanpa kepastian yang jelas…”
Kehidupaku akan selamanya seperti ini. Bila suatu saat nanti aku terbaring tak berdaya. Pertimbangan akhiratlah yang akan menjadi kebenaran. Betapa besar kekagumanku pada penguasa jagad ini, meski aku terperangkap pada sebuah terumbu kebimbangan.
Ibu mengalungkan salib itu di leherku, ayah mengajariku tadarus Al-Qur’an setiap malam, dan kini kakakku berdiri dengan pakaian biarawati. Itu semua adalah anugerah Allah yang diberikan padaku. Aku harus bisa menerimanya dengan keikhlasan hati. Meski pahit terasa manis, meski manis terasa hambar, meski tak sempurna adanya, perbedaan itu tetaplah akan melekat erat dalam jeruji-jeruji jantung dan peluhku. Ini bukanlah mimpi yang bertahun-tahun menghiasi tidurku. Ini adalah sebuah kenyataan.
Aku adalah seorang dari ratusan, ribuan, jutaan orang yang mengalami kenyataan seperti ini. Mungkin ada yang merasakan seperti yang sedang kurasakan selama ini. Terjerat dalam dua ikatan yang berbeda.
Kulihat bintang dalam temaram kegelapan. Kurasakan titik kearifan dalam kesuraman. Meski samar-samar, bila aku menggapainya dengan keteguhan hati. Maka hatiku akan terang layaknya cahaya yang berkelip itu.
“Ya Allah…Ya Tuhanku…berikanlah titik terang itu padaku! Seperti Engkau memberikan bintang pada kegelapan malam!” aku menunduk, merasakan bulir-bulir halus jatuh dari pelupuk mataku.
Selesai
Cerita ini sempat aku kirimkan ke dalam sayembara, dengan judul sehelai benang 2 warna teranyam. Dan aku nggak tau nasib naskahku sampai sekarang. Ah, sudahlah, biarlah waktu yang menjawabnya! Bukankah begitu Tuhan?! Segala sesuatu aku serahkan pada-Mu! ^_^
Minggu, 27 Desember 2009
Alvin or Nu
Aku selalu menangis setiap menjelang tidur. Dan esoknya mataku akan lebam-lebam sampai bola mataku hampir tak terlihat. Itu kulakukan lantaran aku dimasukkan ke sekolah yang diinginkan kedua orang tuaku. Aku tak mau! Aku tak mau! Itu yang selalu ku katakan pada mereka. Tuhan saja tahu keinginanku seperti apa. Aku mempunyai keinginan bersekolah di SMA yang sudah lama kudambakan. Tuhan juga mengabulkan doaku, agar aku diterima di sekolahan itu. Aku sangat gembira waktu pengumuman itu keluar. Karena aku diterima. Tapi harapanku pupus sudah. Kedua orang tuaku tak setuju kalau aku benar-benar bersekolah di SMA yang kudambakan itu. Pada akhirnya pun aku harus menuruti keinginan mereka. Aku bersekolah dimana orangtuaku mendaftarkanku.
1 bulan lamanya aku belajar di SMA ini. Lebih jelas lagi adalah SMA setengah hati. Memang sih tempatnya elite, bangunan oke, fasilitas lebih dari cukup, teman-teman dan guru-guru juga ramah-ramah. Ya, tapi semua itu tak membuatku untuk bisa menerima dengan sepenuh hatiku.
Setiap jam istirahat aku sengaja tak bergabung dengan teman-teman yang lain. Lebih baik aku duduk sambil baca di belakang sekolah. Di tempat ini tak ada seorang pun berani kecuali aku. Memang sih suasananya agak nyeremin. Tapi apa peduliku? Toh aku tak mengganggu dan diganggu.
Meski ada teman yang melarangku, dan ada juga kakak kelas yang cerita kalau di pohon itu ada hantunya.
“Dulu tuh ada cowok yang mati di situ!” itu salah satu versi cerita yang sempat heboh seusai kegiatan MOS. Uhhh....aku benci seperti ini. Biarkan aku bebas dengan segala keinginanku! Ah, mungkin ini salah satu efek, aku tak mau bersekolah disini.
Ok! Hari ini setelah bel istirahat berbunyi, aku langsung menuju ke belakang sekolah. Aku duduk di undakan yang memang sudah menjadi bagian bangunan ini. kulihat dengan seksama pohon itu. Tak ada apa-apa. Malahan terlihat sangat indah dengan tekstur akar-akarnya yang besar dan bergantungan. Angin semilir menggugurkan daun kering pohon itu. Semak-semak yang ada di sekitar saling bergemerisik. Angin sudah tak berhembus seperti tadi. Tapi semak-semak di ujung sana masih bergoyang. Dengan langkah pelan, aku mendekati semak-semak itu. Aku sangat penasaran! Jantungku berdegup dengan kencangnya. Apaan ya? Hehe…senyumku ala iblis. 1...2...3... hitungku dalam hati bebarengan dengan membuka semak-semak itu. Ahaa…aku celingak-celinguk seperti orang bodoh. Tak ada siapa-siapa disini kecuali aku. Aku menghembuskan nafasku lega. Huahh!!..aku berdiri penuh kemenangan, aku tak takut. Mana ada hantu di siang bolong? Aku bergegas kembali ke tempat sebelumnya. Namun, belum aku membalikan badanku. Semak-semak itu kembali bergoyang-goyang inul. Kali ini dengan penuh keberanian, aku membuka semak-semak itu kembali. Siapa yang mengerjaiku seperti ini? pikirku dalam hati. Dan sesuatu telah berhasil mengejutkanku, jantungku nyaris copot.
“AAAA…” teriakku sambil menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Oh, Tuhan! Lindungi aku! Lindungi aku! Doaku dalam hati.
“Sttt…” suara? Suara apa itu? Kenapa aku ketakutan? Hwaa...aku benar-benar ketakutan setengah mampus.
“SSttt... jangan takut! Buka matamu, aku tak akan mencelakakanmu!” aku mendengar suara itu. Menyuruhku membuka mataku. Dia manusia? Yess! Dengan samar kulihat wajah itu tersenyum ke arahku. Tersenyum dengan sepasang lesung dipipinya.
“Kamu siapa?” tanyaku padanya. Dia sepertiku. Manusia? Mungkin. Tapi kulitnya lebih pucat dariku.
“Namaku Nura…” dia menyebut namanya. Posisinya jongkok dengan kemeja dan celana panjang abu-abu. Apa dia hantu seperti di tv-tv? Ah, mana mungkin? Mana mungkin dia hantu?! Dia kan memakai seragam sama sepertiku. Bedanya aku memakai rok sedangkan dia memakai celana panjang.
“Kamu siswa disini?” tanyaku lagi. Dia mengangguk.
#
Pertemuanku dengan cowok berkulit pucat siang tadi membuatku semakin penasaran. Siapa dia? Dia? Namanya Nura. Ya iyalah, dia kan yang bilang sendiri kalau namanya Nura. Ohh...bukan itu! Bukan itu masalahnya! Tapi kenapa dia ada disitu? Dibalik semak-semak. Penting nggak sih, anak SMA main umpet-umpetan. Huh..gara-gara bel masuk berbunyi, aku tak jadi nanya ke dia. Ngapain disitu? Wah, kenapa aku jadi bersemangat begini?!
“Mikaa...” suara mama memanggilku dari bawah.
“Iya, Ma!!” sahutku cepat.
“Ada yang mencarimu..”
“Siapa, ma?”
“Heh, liat ndri!!” suaranya beda. Lebih cempreng dari sebelumnya. Aku yakin banget itu bukan suara mama. Aku mulai menuruni anak tangga. Stereengg…mataku melotot tajam. Melihat sosok berjaket hitam dengan celana belelnya dan potongan rambutnya yang baru membuat wajah tirusnya semakin keren.
“Malem…Mika!” suaranya merdu…seperti suara burung hantu yang sering nangkring di pohon palem belakang rumahku.
“Malem…” balasku tak kalah merdunya. Hatiku meloncat-loncat laksana kanguru dikejar maling. Oh, salah maksudnya dikejar pemburu. Hehe…versi Mika sih, jadi laen katanya. Setelah mama dan kakakku meninggalkan aku dan Alvin di ruang tamu. Bik Murti menyajikan 2 gelas minuman untuk kami.
“Ada apa?” tanyaku pada Alvin. Dia malah tersenyum kearahku. Otomatis aku kelihatan bodoh. Aku seperti tenggelam di tengah samudera, sulit banget nyari oksigennya...hah...hah...hah...
“Mika, kamu lupa ya sayang! Hari ini kan malem minggu!” oh, malem minggu? Iya juga, kenapa aku bisa sepikun ini. gara-gara aku terlalu antusias mungkin dengan cowok berkulit pucat itu. Hehe..Alvin itu cowokku. Sebenarnya dia itu udah bikin aku kecewa banget. Kecewa lantaran dia ngedukung ortuku. Ya, masalah sekolah itu. Dan yang paling mengecewakan, dia tidak satu sekolahan denganku.
#
“Kok flimnya bukan horor sih, Vin?” tanyaku saat setelah Alvin mengambil tiket.
“Jadwalnya kan dirubah, sayang! Kok kamu jadi ngefans banget sama flim-flim horor? Perasaan kamu dulu takut setengah mati setiap kali denger.”
“Itu kan dulu Alvinku, sayang! Mika tuh udah gede, berani donk.” Sangkalku.
“Kalau hantunya Alvin, kamu takut nggak?”
“Kamu jangan ngaco deh! Haha…” mendengar candanya barusan, tawaku langsung meledak. Alvin malah ikut-ikutan tertawa. Kalau hantunya seperti Alvin semua sih, aku juga mau. Maksudnya? Tau ah.
“Sayang, masih 30 menit lagi nih. Kita makan dulu ya, kamu juga belum makan kan?” aku mengangguk dan mengikutinya keluar dari loby stadion, untuk mencari makan. Oohh, Alvinku!! Kamu memang ngerti aku kalau sedang laper! Duh, kok kayak cerita itik dan Sang peternak??!!!
30 menit udah berlalu, aku dan Alvin segera menuju ke bioskop. Kami menuju ke stadion 1, yang berada di pojok sendiri. Setelah benar-benar masuk, kami segera mencari tempat duduk sesuai dengan no. Yang tertera di tiket. Kami duduk berdampingan. Mungkin kami beruntung karena duduk di bagian tengah. Lampu tiba-tiba padam dan sedetik kemudian layar bioskop menyala terang. Yap, menandakan bahwa flim akan segera dimulai.
Mungkin sudah 15 menit aku menonton flim yang ditayangkan di layar itu. Aku merangkul lengan Alvin.
“Kamu kedinginan?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Iya…” jawabku agak sedikit terdengar parau. Aku memang tak tahan dingin. Dia langsung tersenyum mendengarnya, lalu memakaikan jaketnya ke badanku. Aku tak tahu kenapa hawa dingin ini seperti menyelimutiku dalam-dalam. Padahal, kulihat dengan sepintas yang menonton disini tidak kedinginan sepertiku. Alvin? Jelas-jelas dia seperti yang lain, seperti tak merasakan hawa dingin ini. Bulu kuduku serasa berdiri semua. Aku mencoba melirik kursi yang berada di sebelah kiriku. Perasaan sedari tadi kan kursi itu memang nggak ada penghuninya. Tapi sekarang...
“Alvin!!!...” jeritku ketakutan.
“Sttt...” disekelilingku melihatku dengan tatapan tak suka.
“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya setengah berbisik.
“Hantu…hantu…” aku bergidik ngeri dan memejamkan mataku lekat-lekat.
“Hantu? Hantu apaan? Dimana?” tanyanya beruntun.
“Di sebelah kiriku.”
“Mana? Nggak ada apa-apa. Makanya jangan terlalu banyak nonton flim horor, begini kan jadinya.” Ekspresinya datar, tak sekalipun ketakutan seperti diriku.
“Aku benar melihatnya…”
“Mika, itu mungkin hanya halusinasimu saja. Sekarang kamu lihat tuh flim!” katanya sembari melingkarkan lengan kirinya ke bahuku. “Sudahlah Mika, jangan takut seperti itu! Kan ada aku disini.” Aku menatapnya. Tersenyum. Di samping kiriku memang tidak ada siapa-siapa. Mungkin Alvin benar, itu hanya halusinasiku. Tapi, aku tadi benar-benar melihat. Melihat sosok yang sebelumnya pernah masuk ke dalam memoriku.
#
Sekitar pukul 09.00 malam, aku sudah berada di dalam rumah. Alvin selalu tepat akan janjinya pada mamaku. Dia akan mengantarkanku pulang sebelum jam 10.00 malam. Itulah salah satu janjinya.
Aku mulai menaiki anak tangga, menuju kamarku. Aku mencoba membuka pintu kamarku dan menutupnya pelan.
“Kenapa sampai rumah jadi panas begini?” gumamku sambil mengusap keringat di pelipisku. Aku meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu.
“Hrmm...”
“Siapa itu?” aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Lantas siapa yang mengeram tadi?
“Kak Nita ya?” tebakku. “Jangan bercanda, ini kan sudah malam. Kenapa kakak belum tidur?” tanyaku tanpa melihat kak Nita. Lampu sudah menyala. Aku meletakkan ponselku di atas meja. Tak ada sahutan dari kak Nita.
“Kak Nita?!” aku menoleh ke arah tempat tidurku. Tidak ada sosoknya. “Kakak jangan bercanda!” aku melangkah mendekati tempat tidurku. Aku tahu kakak pasti ada di balik selimut hijau milikku. Aku mencoba menarik selimut itu dan seketika itu aku menjerit histeris.
“Hwaaaaa...”
“Stttt...”
“Si...siapa kamu?” tanyaku agak sedikit terbelit. Dia mendekatiku.
“Tidak ingat sama sekali?” tanyanya balik. Aku mencoba berfikir ulang. Memutar-mutar otakku sampai bisa mengingat sosok ini. Saat aku berhasil menangkap bayangan pucat yang melintas di otakku. Dia tersenyum ke arahku. Jantungku berdebar bukan main lagi. Ini benar-benar membuatku terkejut-kejut. Hahh!!...
“Nu?” tanyaku sembari bangkit dari keterkejutanku.
“Nura!” katanya menegaskan namanya.
“Ya, maksudku juga begitu. Bagaimana mungkin kamu bisa masuk ke kamarku? Perasaan aku tak pernah memberi alamat rumahku padamu.”
“Tidak perlu karena aku sudah tahu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Apa kamu tidak sadar, aku selalu mengikutimu?!” spontan aku melotot ke arahnya, setelah mendengar pertanyaan baliknya.
“Yang ada di bioskop tadi?”
“Itu aku.” Dia menjawabnya sambil tersenyum misterius. Aku langsung melempar boneka yang ada di sampingku ke arahnya. Aku melongo tak percaya. Boneka itu tak sedikitpun mengenai tubuhnya. Padahal aku sangat yakin lemparanku mengenai sasaran.
“Meca!!! Yuhuuuu!!!....” aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Nggak mungkin!!
“Kamu. Hantu!!!” seruku pelan. Saat itu pula aku pinsan. Semuanya jadi gelap gulita.
“Sudah kubilang jangan takut padaku! Harusnya kamu sadar akan diriku sejak awal! Meca...Meca....” cowok tampan bekulit pucat itu tersenyum melihatku yang terkapar di tempat tidur.
#
Hari Kamis malam Jum’at,
Tanggal 27 Juni 2008...
Saat burung hantu yang sering mangkal di belakang rumahku dengan suksesnya menyaringkan suara merdunya. Di dalam kamar bercat serba putih dengan ukiran di atapnya, aku menatap lekat-lekat cowok bermuka pucat itu.
“Kamu sudah tidak takut lagi padaku?” Aku menggeleng mantap mendengar pertanyaannya barusan.
“Apa tugas hantu itu seperti kamu? Mengikutiku kemana aku pergi dan tinggal di rumahku.” Tanyaku padanya.
“Tidak juga, Meca.” Jawabnya datar tanpa secuil ekspresi.
“Namaku Mika, bukan Meca!” tegasku padanya.
“Tapi aku lebih suka memanggilmu Meca.”
“Aku nggak mau. Enak saja ngerubah-rubah nama orang seenak jidat. Emang siapa kamu?” kataku setengah ngotot. Dia malah melotot ke arahku.
“Kamu!!”
“Apa? Kamu siapa? Ngapain ngikutin aku? Pergi sana! Kamu tuh ganggu aku. Pergi sana! Dan jangan memunculkan sosokmu lagi dihadapanku. Kita tuh beda alam, sana cari teman yang setara denganmu!” songolku tanpa memandang sosoknya. Diam. Dimana dia? Aku celingukan mencari sosoknya. Yang benar saja dia pergi? Yess! Tapi...
“Nu!!!” Aku mencoba memanggilnya. “Nu, kamu marah ya? Tadi kan aku cuma bercanda. Nu...Yuhuuu....Kamu dimana?!”
“Mika, kakak bawain pizza nih!!”
“Brakk!” kakak langsung masuk kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku langsung gelagaban. Kak Nita menyeringai lebar.
“Pizza dari budhe Nani. Dimakan ya!” kakak menyerahkan 1 kotak pizza. Hmm...
Setelah menerima kotak pizza dari kak Nita, tiba-tiba di belakang kakak terlihat sosok muka pucat itu kembali.
“Ngapain kamu disitu? Cepat pergi! Kakak bisa melihatmu.” Bisikku padanya. Kakak heran melihatku saat setelah membalikkan badan ke arahku.
“Kamu bicara sama siapa?”
“Enggak.”
“Perasaan kakak dengar kamu bicara. Kamu nyembunyiin cowok ya?!” tebaknya yang tak meleset. Ya, benar. Aku memang nyembuyiin cowok. Gimana ini??
“Nu, cepat pergi!” bisikku lagi. Kali ini sosoknya berada di samping kakak. Nu malah tertawa ngakak. Dasar hantu tengil.
“Mika!” gertak kak Nita.
“I..iya.”
“Kamu bicara sama siapa?” kak Nita celingukan.
“Akting kak! Besok ada pertunjukan drama di kelas. Latihan! Latihan!” kataku mencoba menyakinkannya.
“Ohh..bener kamu nggak nyembunyiin cowok?” aku menggeleng. Ternyata kakak tak bisa melihat Nu. “Ya, sudah. Setelah makan langsung tidur. Kakak nggak mau ngebangunin kamu besok, kalau kamu masih molor.” Tegurnya lalu melangkah menuju pintu. Aku mengelus dada dan benafas lega. Huahh!!
“Dan...” aku terkejut bukan main. Tiba-tiba kakak membalikkan badannya kembali ke arahku. “Kalau sampai ketahuan ngumpetin cowok. Kakak aduin ke papa, mama. Supaya kamu nggak boleh pacaran seumur hidup.” Katanya sambil melotot ke arahku. Weessss…apa maksudnya? Ohoo…aku tahu! Dia itu sebenarnya iri sama aku. Kerena apa? Karena aku lebih cantik darinya. Haha…hueks!..
#
“Sayang, hampir 2 tahun kita jadian, tapi kok kakak kamu tuh sepertinya nggak pernah suka sama aku.”
“Aku juga ngerasa gitu. Dah, nggak usah dipikirin, kakak emang gitu. Nggak pernah suka ngelihat aku seneng.” Sungutku. Alvin mengacak rambutku. “Tapi kamu nggak apa kan? Maafin kakakku ya!” aku menatap seringai wajah tampannya. Dia mengangguk pelan dan tersenyum. Aku terkejut. Alvin? Aku mencoba mengucek mataku beberapa kali.
“Nu?” bukan Alvin. Nu? Sebenarnya siapa yang bicara denganku tadi? Alvin? Dimana dia? Cowok berwajah pucat itu kini tersenyum lekat di hadapanku. Tak pernah kusadari 2 lesung pipinya seperti milik Alvin. Otakku berputar-putar, melihatnya terus tersenyum ke arahku.
“Alvin!!!” teriakku. Kegelapanpun merajaiku.
#*#
Pernah dimuat di Majalah Sekolah tahun ajaran 2008/2009
1 bulan lamanya aku belajar di SMA ini. Lebih jelas lagi adalah SMA setengah hati. Memang sih tempatnya elite, bangunan oke, fasilitas lebih dari cukup, teman-teman dan guru-guru juga ramah-ramah. Ya, tapi semua itu tak membuatku untuk bisa menerima dengan sepenuh hatiku.
Setiap jam istirahat aku sengaja tak bergabung dengan teman-teman yang lain. Lebih baik aku duduk sambil baca di belakang sekolah. Di tempat ini tak ada seorang pun berani kecuali aku. Memang sih suasananya agak nyeremin. Tapi apa peduliku? Toh aku tak mengganggu dan diganggu.
Meski ada teman yang melarangku, dan ada juga kakak kelas yang cerita kalau di pohon itu ada hantunya.
“Dulu tuh ada cowok yang mati di situ!” itu salah satu versi cerita yang sempat heboh seusai kegiatan MOS. Uhhh....aku benci seperti ini. Biarkan aku bebas dengan segala keinginanku! Ah, mungkin ini salah satu efek, aku tak mau bersekolah disini.
Ok! Hari ini setelah bel istirahat berbunyi, aku langsung menuju ke belakang sekolah. Aku duduk di undakan yang memang sudah menjadi bagian bangunan ini. kulihat dengan seksama pohon itu. Tak ada apa-apa. Malahan terlihat sangat indah dengan tekstur akar-akarnya yang besar dan bergantungan. Angin semilir menggugurkan daun kering pohon itu. Semak-semak yang ada di sekitar saling bergemerisik. Angin sudah tak berhembus seperti tadi. Tapi semak-semak di ujung sana masih bergoyang. Dengan langkah pelan, aku mendekati semak-semak itu. Aku sangat penasaran! Jantungku berdegup dengan kencangnya. Apaan ya? Hehe…senyumku ala iblis. 1...2...3... hitungku dalam hati bebarengan dengan membuka semak-semak itu. Ahaa…aku celingak-celinguk seperti orang bodoh. Tak ada siapa-siapa disini kecuali aku. Aku menghembuskan nafasku lega. Huahh!!..aku berdiri penuh kemenangan, aku tak takut. Mana ada hantu di siang bolong? Aku bergegas kembali ke tempat sebelumnya. Namun, belum aku membalikan badanku. Semak-semak itu kembali bergoyang-goyang inul. Kali ini dengan penuh keberanian, aku membuka semak-semak itu kembali. Siapa yang mengerjaiku seperti ini? pikirku dalam hati. Dan sesuatu telah berhasil mengejutkanku, jantungku nyaris copot.
“AAAA…” teriakku sambil menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Oh, Tuhan! Lindungi aku! Lindungi aku! Doaku dalam hati.
“Sttt…” suara? Suara apa itu? Kenapa aku ketakutan? Hwaa...aku benar-benar ketakutan setengah mampus.
“SSttt... jangan takut! Buka matamu, aku tak akan mencelakakanmu!” aku mendengar suara itu. Menyuruhku membuka mataku. Dia manusia? Yess! Dengan samar kulihat wajah itu tersenyum ke arahku. Tersenyum dengan sepasang lesung dipipinya.
“Kamu siapa?” tanyaku padanya. Dia sepertiku. Manusia? Mungkin. Tapi kulitnya lebih pucat dariku.
“Namaku Nura…” dia menyebut namanya. Posisinya jongkok dengan kemeja dan celana panjang abu-abu. Apa dia hantu seperti di tv-tv? Ah, mana mungkin? Mana mungkin dia hantu?! Dia kan memakai seragam sama sepertiku. Bedanya aku memakai rok sedangkan dia memakai celana panjang.
“Kamu siswa disini?” tanyaku lagi. Dia mengangguk.
#
Pertemuanku dengan cowok berkulit pucat siang tadi membuatku semakin penasaran. Siapa dia? Dia? Namanya Nura. Ya iyalah, dia kan yang bilang sendiri kalau namanya Nura. Ohh...bukan itu! Bukan itu masalahnya! Tapi kenapa dia ada disitu? Dibalik semak-semak. Penting nggak sih, anak SMA main umpet-umpetan. Huh..gara-gara bel masuk berbunyi, aku tak jadi nanya ke dia. Ngapain disitu? Wah, kenapa aku jadi bersemangat begini?!
“Mikaa...” suara mama memanggilku dari bawah.
“Iya, Ma!!” sahutku cepat.
“Ada yang mencarimu..”
“Siapa, ma?”
“Heh, liat ndri!!” suaranya beda. Lebih cempreng dari sebelumnya. Aku yakin banget itu bukan suara mama. Aku mulai menuruni anak tangga. Stereengg…mataku melotot tajam. Melihat sosok berjaket hitam dengan celana belelnya dan potongan rambutnya yang baru membuat wajah tirusnya semakin keren.
“Malem…Mika!” suaranya merdu…seperti suara burung hantu yang sering nangkring di pohon palem belakang rumahku.
“Malem…” balasku tak kalah merdunya. Hatiku meloncat-loncat laksana kanguru dikejar maling. Oh, salah maksudnya dikejar pemburu. Hehe…versi Mika sih, jadi laen katanya. Setelah mama dan kakakku meninggalkan aku dan Alvin di ruang tamu. Bik Murti menyajikan 2 gelas minuman untuk kami.
“Ada apa?” tanyaku pada Alvin. Dia malah tersenyum kearahku. Otomatis aku kelihatan bodoh. Aku seperti tenggelam di tengah samudera, sulit banget nyari oksigennya...hah...hah...hah...
“Mika, kamu lupa ya sayang! Hari ini kan malem minggu!” oh, malem minggu? Iya juga, kenapa aku bisa sepikun ini. gara-gara aku terlalu antusias mungkin dengan cowok berkulit pucat itu. Hehe..Alvin itu cowokku. Sebenarnya dia itu udah bikin aku kecewa banget. Kecewa lantaran dia ngedukung ortuku. Ya, masalah sekolah itu. Dan yang paling mengecewakan, dia tidak satu sekolahan denganku.
#
“Kok flimnya bukan horor sih, Vin?” tanyaku saat setelah Alvin mengambil tiket.
“Jadwalnya kan dirubah, sayang! Kok kamu jadi ngefans banget sama flim-flim horor? Perasaan kamu dulu takut setengah mati setiap kali denger.”
“Itu kan dulu Alvinku, sayang! Mika tuh udah gede, berani donk.” Sangkalku.
“Kalau hantunya Alvin, kamu takut nggak?”
“Kamu jangan ngaco deh! Haha…” mendengar candanya barusan, tawaku langsung meledak. Alvin malah ikut-ikutan tertawa. Kalau hantunya seperti Alvin semua sih, aku juga mau. Maksudnya? Tau ah.
“Sayang, masih 30 menit lagi nih. Kita makan dulu ya, kamu juga belum makan kan?” aku mengangguk dan mengikutinya keluar dari loby stadion, untuk mencari makan. Oohh, Alvinku!! Kamu memang ngerti aku kalau sedang laper! Duh, kok kayak cerita itik dan Sang peternak??!!!
30 menit udah berlalu, aku dan Alvin segera menuju ke bioskop. Kami menuju ke stadion 1, yang berada di pojok sendiri. Setelah benar-benar masuk, kami segera mencari tempat duduk sesuai dengan no. Yang tertera di tiket. Kami duduk berdampingan. Mungkin kami beruntung karena duduk di bagian tengah. Lampu tiba-tiba padam dan sedetik kemudian layar bioskop menyala terang. Yap, menandakan bahwa flim akan segera dimulai.
Mungkin sudah 15 menit aku menonton flim yang ditayangkan di layar itu. Aku merangkul lengan Alvin.
“Kamu kedinginan?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Iya…” jawabku agak sedikit terdengar parau. Aku memang tak tahan dingin. Dia langsung tersenyum mendengarnya, lalu memakaikan jaketnya ke badanku. Aku tak tahu kenapa hawa dingin ini seperti menyelimutiku dalam-dalam. Padahal, kulihat dengan sepintas yang menonton disini tidak kedinginan sepertiku. Alvin? Jelas-jelas dia seperti yang lain, seperti tak merasakan hawa dingin ini. Bulu kuduku serasa berdiri semua. Aku mencoba melirik kursi yang berada di sebelah kiriku. Perasaan sedari tadi kan kursi itu memang nggak ada penghuninya. Tapi sekarang...
“Alvin!!!...” jeritku ketakutan.
“Sttt...” disekelilingku melihatku dengan tatapan tak suka.
“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya setengah berbisik.
“Hantu…hantu…” aku bergidik ngeri dan memejamkan mataku lekat-lekat.
“Hantu? Hantu apaan? Dimana?” tanyanya beruntun.
“Di sebelah kiriku.”
“Mana? Nggak ada apa-apa. Makanya jangan terlalu banyak nonton flim horor, begini kan jadinya.” Ekspresinya datar, tak sekalipun ketakutan seperti diriku.
“Aku benar melihatnya…”
“Mika, itu mungkin hanya halusinasimu saja. Sekarang kamu lihat tuh flim!” katanya sembari melingkarkan lengan kirinya ke bahuku. “Sudahlah Mika, jangan takut seperti itu! Kan ada aku disini.” Aku menatapnya. Tersenyum. Di samping kiriku memang tidak ada siapa-siapa. Mungkin Alvin benar, itu hanya halusinasiku. Tapi, aku tadi benar-benar melihat. Melihat sosok yang sebelumnya pernah masuk ke dalam memoriku.
#
Sekitar pukul 09.00 malam, aku sudah berada di dalam rumah. Alvin selalu tepat akan janjinya pada mamaku. Dia akan mengantarkanku pulang sebelum jam 10.00 malam. Itulah salah satu janjinya.
Aku mulai menaiki anak tangga, menuju kamarku. Aku mencoba membuka pintu kamarku dan menutupnya pelan.
“Kenapa sampai rumah jadi panas begini?” gumamku sambil mengusap keringat di pelipisku. Aku meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu.
“Hrmm...”
“Siapa itu?” aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Lantas siapa yang mengeram tadi?
“Kak Nita ya?” tebakku. “Jangan bercanda, ini kan sudah malam. Kenapa kakak belum tidur?” tanyaku tanpa melihat kak Nita. Lampu sudah menyala. Aku meletakkan ponselku di atas meja. Tak ada sahutan dari kak Nita.
“Kak Nita?!” aku menoleh ke arah tempat tidurku. Tidak ada sosoknya. “Kakak jangan bercanda!” aku melangkah mendekati tempat tidurku. Aku tahu kakak pasti ada di balik selimut hijau milikku. Aku mencoba menarik selimut itu dan seketika itu aku menjerit histeris.
“Hwaaaaa...”
“Stttt...”
“Si...siapa kamu?” tanyaku agak sedikit terbelit. Dia mendekatiku.
“Tidak ingat sama sekali?” tanyanya balik. Aku mencoba berfikir ulang. Memutar-mutar otakku sampai bisa mengingat sosok ini. Saat aku berhasil menangkap bayangan pucat yang melintas di otakku. Dia tersenyum ke arahku. Jantungku berdebar bukan main lagi. Ini benar-benar membuatku terkejut-kejut. Hahh!!...
“Nu?” tanyaku sembari bangkit dari keterkejutanku.
“Nura!” katanya menegaskan namanya.
“Ya, maksudku juga begitu. Bagaimana mungkin kamu bisa masuk ke kamarku? Perasaan aku tak pernah memberi alamat rumahku padamu.”
“Tidak perlu karena aku sudah tahu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Apa kamu tidak sadar, aku selalu mengikutimu?!” spontan aku melotot ke arahnya, setelah mendengar pertanyaan baliknya.
“Yang ada di bioskop tadi?”
“Itu aku.” Dia menjawabnya sambil tersenyum misterius. Aku langsung melempar boneka yang ada di sampingku ke arahnya. Aku melongo tak percaya. Boneka itu tak sedikitpun mengenai tubuhnya. Padahal aku sangat yakin lemparanku mengenai sasaran.
“Meca!!! Yuhuuuu!!!....” aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Nggak mungkin!!
“Kamu. Hantu!!!” seruku pelan. Saat itu pula aku pinsan. Semuanya jadi gelap gulita.
“Sudah kubilang jangan takut padaku! Harusnya kamu sadar akan diriku sejak awal! Meca...Meca....” cowok tampan bekulit pucat itu tersenyum melihatku yang terkapar di tempat tidur.
#
Hari Kamis malam Jum’at,
Tanggal 27 Juni 2008...
Saat burung hantu yang sering mangkal di belakang rumahku dengan suksesnya menyaringkan suara merdunya. Di dalam kamar bercat serba putih dengan ukiran di atapnya, aku menatap lekat-lekat cowok bermuka pucat itu.
“Kamu sudah tidak takut lagi padaku?” Aku menggeleng mantap mendengar pertanyaannya barusan.
“Apa tugas hantu itu seperti kamu? Mengikutiku kemana aku pergi dan tinggal di rumahku.” Tanyaku padanya.
“Tidak juga, Meca.” Jawabnya datar tanpa secuil ekspresi.
“Namaku Mika, bukan Meca!” tegasku padanya.
“Tapi aku lebih suka memanggilmu Meca.”
“Aku nggak mau. Enak saja ngerubah-rubah nama orang seenak jidat. Emang siapa kamu?” kataku setengah ngotot. Dia malah melotot ke arahku.
“Kamu!!”
“Apa? Kamu siapa? Ngapain ngikutin aku? Pergi sana! Kamu tuh ganggu aku. Pergi sana! Dan jangan memunculkan sosokmu lagi dihadapanku. Kita tuh beda alam, sana cari teman yang setara denganmu!” songolku tanpa memandang sosoknya. Diam. Dimana dia? Aku celingukan mencari sosoknya. Yang benar saja dia pergi? Yess! Tapi...
“Nu!!!” Aku mencoba memanggilnya. “Nu, kamu marah ya? Tadi kan aku cuma bercanda. Nu...Yuhuuu....Kamu dimana?!”
“Mika, kakak bawain pizza nih!!”
“Brakk!” kakak langsung masuk kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku langsung gelagaban. Kak Nita menyeringai lebar.
“Pizza dari budhe Nani. Dimakan ya!” kakak menyerahkan 1 kotak pizza. Hmm...
Setelah menerima kotak pizza dari kak Nita, tiba-tiba di belakang kakak terlihat sosok muka pucat itu kembali.
“Ngapain kamu disitu? Cepat pergi! Kakak bisa melihatmu.” Bisikku padanya. Kakak heran melihatku saat setelah membalikkan badan ke arahku.
“Kamu bicara sama siapa?”
“Enggak.”
“Perasaan kakak dengar kamu bicara. Kamu nyembunyiin cowok ya?!” tebaknya yang tak meleset. Ya, benar. Aku memang nyembuyiin cowok. Gimana ini??
“Nu, cepat pergi!” bisikku lagi. Kali ini sosoknya berada di samping kakak. Nu malah tertawa ngakak. Dasar hantu tengil.
“Mika!” gertak kak Nita.
“I..iya.”
“Kamu bicara sama siapa?” kak Nita celingukan.
“Akting kak! Besok ada pertunjukan drama di kelas. Latihan! Latihan!” kataku mencoba menyakinkannya.
“Ohh..bener kamu nggak nyembunyiin cowok?” aku menggeleng. Ternyata kakak tak bisa melihat Nu. “Ya, sudah. Setelah makan langsung tidur. Kakak nggak mau ngebangunin kamu besok, kalau kamu masih molor.” Tegurnya lalu melangkah menuju pintu. Aku mengelus dada dan benafas lega. Huahh!!
“Dan...” aku terkejut bukan main. Tiba-tiba kakak membalikkan badannya kembali ke arahku. “Kalau sampai ketahuan ngumpetin cowok. Kakak aduin ke papa, mama. Supaya kamu nggak boleh pacaran seumur hidup.” Katanya sambil melotot ke arahku. Weessss…apa maksudnya? Ohoo…aku tahu! Dia itu sebenarnya iri sama aku. Kerena apa? Karena aku lebih cantik darinya. Haha…hueks!..
#
“Sayang, hampir 2 tahun kita jadian, tapi kok kakak kamu tuh sepertinya nggak pernah suka sama aku.”
“Aku juga ngerasa gitu. Dah, nggak usah dipikirin, kakak emang gitu. Nggak pernah suka ngelihat aku seneng.” Sungutku. Alvin mengacak rambutku. “Tapi kamu nggak apa kan? Maafin kakakku ya!” aku menatap seringai wajah tampannya. Dia mengangguk pelan dan tersenyum. Aku terkejut. Alvin? Aku mencoba mengucek mataku beberapa kali.
“Nu?” bukan Alvin. Nu? Sebenarnya siapa yang bicara denganku tadi? Alvin? Dimana dia? Cowok berwajah pucat itu kini tersenyum lekat di hadapanku. Tak pernah kusadari 2 lesung pipinya seperti milik Alvin. Otakku berputar-putar, melihatnya terus tersenyum ke arahku.
“Alvin!!!” teriakku. Kegelapanpun merajaiku.
#*#
Pernah dimuat di Majalah Sekolah tahun ajaran 2008/2009
Sabtu, 26 Desember 2009
Next Story_Love in Heaven_Part 3_Perulangan
Ulang tahunku ke 17, Papa da Mama menginginkan perayaan hari jadiku ini. Aku bahagia mendengarnya. Seperti saat ini, seorang wanita paruh baya dengan parasnya yang cantik mencoba merapikan gaunku. Tercium dari hidungku aromanya yang sejuk menawan.
“Bunda, tiada kata dapat kuucap karena sungguh bahagianya diriku memakai gaun seindah ini.” Ujarku. Lalu wanita itu membalikkan tubuhku perlahan, sehingga kami saling berhadapan.
“Membuat kecantikanmu semakin terang, anakku!” wanita itu mengulum senyum dari bibir tipisnya. Namun, mata itu tak dapat membohongi siapa pun yang melihatnya. Termasuk diriku. Lebam-lebam kemerahan akibat tangis yang terlalu dalam sangat jelas terlihat. Kini aku memeluknya.
“Akankah, Nicos bertandang di kebahagiaanku, bunda? Merasakan apa yang aku rasakan?!”
“Entahlah, anakku!”
“Bunda, tak ingin aku mendengar tangismu lagi!”
“Bunda tak sanggup…”
“Bunda…”
Dalam dekapannya yang hangat, aku merasakan hatinya merauk rapuh. Merindu dalam sepotong asa yang tak kunjung terobat. Selama masa dimana langit menetapkan kebiruannya yang semakin suram. Awan-awan hitam itu menyilimutinya, menyelubunginya, dan menggumpalkan kapas-kapas muramnya di dalam terang kebiruannya. Mendamba seorang anak yang selalu mengisi harinya hadir kembali. Dulu memang pernah ia rasakan tapi untuk saat ini, untuk saat akan datang, keraguan demi keraguan menyelimuti segala kepastiannya. Akankah bunda merasakan kebersamaan itu kembali, Tuhan?! Kumohon, jangan pisahkan mereka! Kupejamkan mataku sejenak. Benar-benar aku merasakan ketidak pastian.
::::-.-:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Seonggok cerita masa lalu,
Seorang biarawati rela melepaskan kerudungnya demi kebahagiaan orang tuanya yang merindu seorang malaikat kecil. Kalau saja Viona, adik bungsu satu-satunya itu tak meninggal di rumah peradapan bersama suaminya, atau andai Viona dan suminya sudah mempunyai malaikat kecil, dan kalau saja ayahnya tak berteman baik dengan ayah laki-laki yang ia temui di gereja beberapa tahun yang lalu. Mungkin saat ini, detik ini, ia masih mengenakan kerudung pengabdiannya dan masih tenggelam dengan kesucian di segala terumbu Tuhan. Rasa keibuan mungkin ada, namun tidak dapat disematkan dalam darah dagingnya. Tapi itu adalah pengandaian belaka. Saat ini benar adanya takdir Khaterin, ia menangis saat ia merasakan bahwa ini adalah cinta.
12.24.1990
Bertepatan dengan malam Natal. Pernikahan, kebahagiaan, dan segala pencerahan.
Apakah itu ia rasakan? Iya, tapi juga tidak.
Setelah ia melahirkan seorang malaikat kecil. Laki-laki yang menikahinya itu meninggalkannya. Memutuskan membuat pengakuan dosa dan kembali mengabdi pada Tuhan. Ia menangis. Merasakan getir-getir kepiluan yang sungguh tak siapa pun menginginkannya. Dalam dekapnya malaikat kecil itu tertidur pulas. Malaikat kecil itu belum tahu arti dari kekuatan tangisnya. Perempuan itu mengcupnya. Berjanji bahwa ia akan merawat malaikat kecil yang dititipkan Tuhan untuknya. Ia merasakan juga bahwa ini adalah kasih seorang ibu untuk anaknya. Rasa cinta yang merajuk pada suaminya itu memang tak terbalas. Namun ia yakin bahwa malaikat kecilnya lah yang akan membalasnya.
Tak sengaja air matanya menetes di pipi buntal seputih salju yang kemerah-merahan yang berada di dalam dekapannya. Perlahan mata bundar yang jernih itu mengerjap-ngerjap. Perempuan itu pun tersenyum dan mengecupnya kembali.
>>>>>>
Pesta ulang tahunku meriah sekali. Semua terlihat bahagia. Papa, mama, kak Karen, kak Yesaya, teman-teman dan semua keluarga berkumpul jadi satu di ruangan yang sengaja di dekorasi seindah ini. Tapi, serasa ada yang kurang. Nicos? Agnes? Dimana kalian berdua? Akankah kalian datang ke acaraku? Aku celingukan, sudah 1 jam acaraku dimulai. Tapi tetap saja tak kudapati sosok salah satu dari mereka. Aku menunduk. Lesu.
“Tak baik memasang wajah seperti itu di hari kebahagiaanmu!”
“Aku baik-baik saja. Aku bahagia. Kakak lanjutkan saja acara makan-makannya!” suruhku sehalus mungkin, tanpa sedikit pun memandangnya. Aku membalikkan badan, menatap temaram bulan di balik jendela. “Ah, kakak, kau juga mengecewakanku, seperti halnya Bapa pada Nicos!” Batinku bergelut resah.
“Kalau aku sudah ada disini, apa kau juga masih memasang murammu itu?” suara itu? Aku langsung membalikkan badan. Dia tersenyum tepat di samping kak Yesa.
“Ni…Nicos…” gagapku. Aku tak percaya. Wajah itu, senyum itu, lesung pipit itu…tidak!
“Yona. Ya, ini aku, Nicos.” Tegasnya. Sosok itu mulai mendekatiku. Kami dekat, berhadapan. Tak kudapati jubah hitamnya yang terakhir kulihat melekat di tubuhnya. 1 minggu lalu, tak seperti saat ini. Lihat, dia memakai blazer hitam dengan kemeja putih pemberianku.
“Nicos…” mataku mulai berkaca-kaca.
“Ya..” dia semakin dekat, memelukku.
“Aku bermimpi???..”
“Tidak! Ini nyata, Yona!” aku semakin terisak. Haruku tumpah ruah.
“Nicos…” kusebut namanya lagi. Mamastikan sosok yang memelukku kini adalah Nicos, memastikan pula bahwa aku tidak sedang mengalami mimpi jangka panjang. Aku membalas pelukannya. Erat.
“Yona, hentikan tangismu! Tak baik teman-teman melihatmu kacau seperti ini!”
“Aku bahagia…”
“Aku tahu perasaanmu, Yona! Tapi kumohon, bisakah kau melepaskan pelukanmu! Cukup lama kau memelukku. Lihatlah, teman-temen melihat ke arah kita!” katanya lembut.
“Tidak, Nicos! Aku tidak peduli!” kataku sambil terisak.
“Tak pantas kau menangis di hari kebahagiaan, Yona!”
“Cukup, Nicos! Sudah kubilang, aku bahagia!”
“Aku mengerti, Yona! Tapi…”
“Semua tak mengarti!!!!” teriakku. Semua mata memandangku. Aku melepaskan pelukan, Nicos. Selangkah sedikit mundur.
“Yona…” dia mencoba mendekatiku kembali. Kutatap matanya tajam. Lalu ke arah kak Yesa, mama, papa, dan semua teman-teman yang bingung akan sikapku ini.
“Yona, kau kenapa?” tanyanya. Tanya kak Yesa, Mama, Papa, semua bergumam seperti itu. Tiba-tiba ada seorang gadis mendekatiku. Aku langsung ambruk di dalam pelukkannya.
“Yona, kau kenapa?” tanyanya yang tak jauh berbeda. Mengelus rambutku perlahan. Tapi tanpa aku sadari, aku melepaskan pelukannya secara kasar. Hingga dia hampir tersungkur. Ada yang mencoba membantunya, namun samar-samar di mataku. Orang-orang itu berputar-putar di kepalaku. Berputar. Berputar. Sampai aku tak bisa menahannya. Kepalaku mulai mengelenyit tajam. Sakit, sesak, dan pandanganku mulai kabur sempurna.
>..
“Sayang,” aku terperanjat. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Laki-laki itu tersenyum manis ke arahku. Aku masih memakai gaun yang sama. Kulihat teman-teman menikmati pestaku.
“Ada apa, kakak mencariku?” tanyaku. Aku mendekatinya. Tanganku gemetar. Dia langsung menggandengku.
“Wajahmu pucat dan terlihat gugup! Kamu sakit, sayang?” belum dia menjawab pertanyaanku, justru dia balik bertanya padaku.
“Aku tidak apa. Kakak tak perlu mencemaskanku!” kataku mencoba meyakinkannya. Aku tersenyum, dia pun segera membalasku.
“Aku mencarimu dari tadi, acaranya segera dimulai, sayang! Pertahankan senyumu itu!” ujarnya sembari menuntunku.
“Kakak..bukankah tadi..”
“Sttt…cepatlah sedikit, bicaranya nanti saja! Teman-teman sudah menunggumu.” Aku menatap tiap penjuru. Mereka menatapku. Tersenyum, tertawa, bersorak. Dan di barisan paling kiri itu kudapati sosok Agnes dan Nicos berdampingan. Tersenyum, bahagia. Lalu aku langsung membalas senyuman mereka.
“Selamat ulang tahun…selamat ulang tahun….”
“Potong kuenya…potong kuenya…ayo, Yona, untuk siapa first cakenya?!!!” suara mereka, nyanyian mereka, mendengung-dengung di telingaku berulang-ulang..
“Yona…Happy Birth day…Yona…tiup lilinnya…katakan permohonanmu, Yona…Yona…”
“Tidaaaaaaaakkkkkk!!!!!!!” jeritku hingga menusuk telingaku sendiri.
>…
“Yona,” aku tersentak. Nicos menyentuh tanganku. Aku menatapnya yang berada di samping kananku.
“Yona, wajahmu terlihat pucat sekali!” aku menoleh ke sebelah kiriku. Agnes menyentuh keningku.
“Sayang, kamu tak apa kan?” seru kak Karen dan kak Yesa dari arah belakang secara bebarengan.
“Papa dan mama disini, sayang…” Papa dan mama menangis, menghampiriku dari arah depan.
“Kalian kenapa?” tanyaku bingung. Namun, suaraku serasa di telan bumi. Tak sedikitpun suara itu keluar.
Mereka menangis. Menangis. Memohon dan terus memohon. Wajah mereka semua dilumuri kekuatiran. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka semua? Tangisan mereka, raut wajah mereka. Suram.
Wajah-wajah itu kian menjauh. Namun, suara tangisan mereka mendengung-dengung hebat di telingaku. Aku menatap ke langit. Hitam. Gelap. Dadaku berdebar. Tanganku bergetar.
“Tuhaaaaannn….” Teriakku sekeras-kerasnya. Alhasil bukannya suaraku yang keluar, namun tubuhku justru terasa nyeri, sakit, dan mataku berat untuk kubuka sedikit saja.
---===----
“Bunda, tiada kata dapat kuucap karena sungguh bahagianya diriku memakai gaun seindah ini.” Ujarku. Lalu wanita itu membalikkan tubuhku perlahan, sehingga kami saling berhadapan.
“Membuat kecantikanmu semakin terang, anakku!” wanita itu mengulum senyum dari bibir tipisnya. Namun, mata itu tak dapat membohongi siapa pun yang melihatnya. Termasuk diriku. Lebam-lebam kemerahan akibat tangis yang terlalu dalam sangat jelas terlihat. Kini aku memeluknya.
“Akankah, Nicos bertandang di kebahagiaanku, bunda? Merasakan apa yang aku rasakan?!”
“Entahlah, anakku!”
“Bunda, tak ingin aku mendengar tangismu lagi!”
“Bunda tak sanggup…”
“Bunda…”
Dalam dekapannya yang hangat, aku merasakan hatinya merauk rapuh. Merindu dalam sepotong asa yang tak kunjung terobat. Selama masa dimana langit menetapkan kebiruannya yang semakin suram. Awan-awan hitam itu menyilimutinya, menyelubunginya, dan menggumpalkan kapas-kapas muramnya di dalam terang kebiruannya. Mendamba seorang anak yang selalu mengisi harinya hadir kembali. Dulu memang pernah ia rasakan tapi untuk saat ini, untuk saat akan datang, keraguan demi keraguan menyelimuti segala kepastiannya. Akankah bunda merasakan kebersamaan itu kembali, Tuhan?! Kumohon, jangan pisahkan mereka! Kupejamkan mataku sejenak. Benar-benar aku merasakan ketidak pastian.
::::-.-:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Seonggok cerita masa lalu,
Seorang biarawati rela melepaskan kerudungnya demi kebahagiaan orang tuanya yang merindu seorang malaikat kecil. Kalau saja Viona, adik bungsu satu-satunya itu tak meninggal di rumah peradapan bersama suaminya, atau andai Viona dan suminya sudah mempunyai malaikat kecil, dan kalau saja ayahnya tak berteman baik dengan ayah laki-laki yang ia temui di gereja beberapa tahun yang lalu. Mungkin saat ini, detik ini, ia masih mengenakan kerudung pengabdiannya dan masih tenggelam dengan kesucian di segala terumbu Tuhan. Rasa keibuan mungkin ada, namun tidak dapat disematkan dalam darah dagingnya. Tapi itu adalah pengandaian belaka. Saat ini benar adanya takdir Khaterin, ia menangis saat ia merasakan bahwa ini adalah cinta.
12.24.1990
Bertepatan dengan malam Natal. Pernikahan, kebahagiaan, dan segala pencerahan.
Apakah itu ia rasakan? Iya, tapi juga tidak.
Setelah ia melahirkan seorang malaikat kecil. Laki-laki yang menikahinya itu meninggalkannya. Memutuskan membuat pengakuan dosa dan kembali mengabdi pada Tuhan. Ia menangis. Merasakan getir-getir kepiluan yang sungguh tak siapa pun menginginkannya. Dalam dekapnya malaikat kecil itu tertidur pulas. Malaikat kecil itu belum tahu arti dari kekuatan tangisnya. Perempuan itu mengcupnya. Berjanji bahwa ia akan merawat malaikat kecil yang dititipkan Tuhan untuknya. Ia merasakan juga bahwa ini adalah kasih seorang ibu untuk anaknya. Rasa cinta yang merajuk pada suaminya itu memang tak terbalas. Namun ia yakin bahwa malaikat kecilnya lah yang akan membalasnya.
Tak sengaja air matanya menetes di pipi buntal seputih salju yang kemerah-merahan yang berada di dalam dekapannya. Perlahan mata bundar yang jernih itu mengerjap-ngerjap. Perempuan itu pun tersenyum dan mengecupnya kembali.
>>>>>>
Pesta ulang tahunku meriah sekali. Semua terlihat bahagia. Papa, mama, kak Karen, kak Yesaya, teman-teman dan semua keluarga berkumpul jadi satu di ruangan yang sengaja di dekorasi seindah ini. Tapi, serasa ada yang kurang. Nicos? Agnes? Dimana kalian berdua? Akankah kalian datang ke acaraku? Aku celingukan, sudah 1 jam acaraku dimulai. Tapi tetap saja tak kudapati sosok salah satu dari mereka. Aku menunduk. Lesu.
“Tak baik memasang wajah seperti itu di hari kebahagiaanmu!”
“Aku baik-baik saja. Aku bahagia. Kakak lanjutkan saja acara makan-makannya!” suruhku sehalus mungkin, tanpa sedikit pun memandangnya. Aku membalikkan badan, menatap temaram bulan di balik jendela. “Ah, kakak, kau juga mengecewakanku, seperti halnya Bapa pada Nicos!” Batinku bergelut resah.
“Kalau aku sudah ada disini, apa kau juga masih memasang murammu itu?” suara itu? Aku langsung membalikkan badan. Dia tersenyum tepat di samping kak Yesa.
“Ni…Nicos…” gagapku. Aku tak percaya. Wajah itu, senyum itu, lesung pipit itu…tidak!
“Yona. Ya, ini aku, Nicos.” Tegasnya. Sosok itu mulai mendekatiku. Kami dekat, berhadapan. Tak kudapati jubah hitamnya yang terakhir kulihat melekat di tubuhnya. 1 minggu lalu, tak seperti saat ini. Lihat, dia memakai blazer hitam dengan kemeja putih pemberianku.
“Nicos…” mataku mulai berkaca-kaca.
“Ya..” dia semakin dekat, memelukku.
“Aku bermimpi???..”
“Tidak! Ini nyata, Yona!” aku semakin terisak. Haruku tumpah ruah.
“Nicos…” kusebut namanya lagi. Mamastikan sosok yang memelukku kini adalah Nicos, memastikan pula bahwa aku tidak sedang mengalami mimpi jangka panjang. Aku membalas pelukannya. Erat.
“Yona, hentikan tangismu! Tak baik teman-teman melihatmu kacau seperti ini!”
“Aku bahagia…”
“Aku tahu perasaanmu, Yona! Tapi kumohon, bisakah kau melepaskan pelukanmu! Cukup lama kau memelukku. Lihatlah, teman-temen melihat ke arah kita!” katanya lembut.
“Tidak, Nicos! Aku tidak peduli!” kataku sambil terisak.
“Tak pantas kau menangis di hari kebahagiaan, Yona!”
“Cukup, Nicos! Sudah kubilang, aku bahagia!”
“Aku mengerti, Yona! Tapi…”
“Semua tak mengarti!!!!” teriakku. Semua mata memandangku. Aku melepaskan pelukan, Nicos. Selangkah sedikit mundur.
“Yona…” dia mencoba mendekatiku kembali. Kutatap matanya tajam. Lalu ke arah kak Yesa, mama, papa, dan semua teman-teman yang bingung akan sikapku ini.
“Yona, kau kenapa?” tanyanya. Tanya kak Yesa, Mama, Papa, semua bergumam seperti itu. Tiba-tiba ada seorang gadis mendekatiku. Aku langsung ambruk di dalam pelukkannya.
“Yona, kau kenapa?” tanyanya yang tak jauh berbeda. Mengelus rambutku perlahan. Tapi tanpa aku sadari, aku melepaskan pelukannya secara kasar. Hingga dia hampir tersungkur. Ada yang mencoba membantunya, namun samar-samar di mataku. Orang-orang itu berputar-putar di kepalaku. Berputar. Berputar. Sampai aku tak bisa menahannya. Kepalaku mulai mengelenyit tajam. Sakit, sesak, dan pandanganku mulai kabur sempurna.
>..
“Sayang,” aku terperanjat. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Laki-laki itu tersenyum manis ke arahku. Aku masih memakai gaun yang sama. Kulihat teman-teman menikmati pestaku.
“Ada apa, kakak mencariku?” tanyaku. Aku mendekatinya. Tanganku gemetar. Dia langsung menggandengku.
“Wajahmu pucat dan terlihat gugup! Kamu sakit, sayang?” belum dia menjawab pertanyaanku, justru dia balik bertanya padaku.
“Aku tidak apa. Kakak tak perlu mencemaskanku!” kataku mencoba meyakinkannya. Aku tersenyum, dia pun segera membalasku.
“Aku mencarimu dari tadi, acaranya segera dimulai, sayang! Pertahankan senyumu itu!” ujarnya sembari menuntunku.
“Kakak..bukankah tadi..”
“Sttt…cepatlah sedikit, bicaranya nanti saja! Teman-teman sudah menunggumu.” Aku menatap tiap penjuru. Mereka menatapku. Tersenyum, tertawa, bersorak. Dan di barisan paling kiri itu kudapati sosok Agnes dan Nicos berdampingan. Tersenyum, bahagia. Lalu aku langsung membalas senyuman mereka.
“Selamat ulang tahun…selamat ulang tahun….”
“Potong kuenya…potong kuenya…ayo, Yona, untuk siapa first cakenya?!!!” suara mereka, nyanyian mereka, mendengung-dengung di telingaku berulang-ulang..
“Yona…Happy Birth day…Yona…tiup lilinnya…katakan permohonanmu, Yona…Yona…”
“Tidaaaaaaaakkkkkk!!!!!!!” jeritku hingga menusuk telingaku sendiri.
>…
“Yona,” aku tersentak. Nicos menyentuh tanganku. Aku menatapnya yang berada di samping kananku.
“Yona, wajahmu terlihat pucat sekali!” aku menoleh ke sebelah kiriku. Agnes menyentuh keningku.
“Sayang, kamu tak apa kan?” seru kak Karen dan kak Yesa dari arah belakang secara bebarengan.
“Papa dan mama disini, sayang…” Papa dan mama menangis, menghampiriku dari arah depan.
“Kalian kenapa?” tanyaku bingung. Namun, suaraku serasa di telan bumi. Tak sedikitpun suara itu keluar.
Mereka menangis. Menangis. Memohon dan terus memohon. Wajah mereka semua dilumuri kekuatiran. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka semua? Tangisan mereka, raut wajah mereka. Suram.
Wajah-wajah itu kian menjauh. Namun, suara tangisan mereka mendengung-dengung hebat di telingaku. Aku menatap ke langit. Hitam. Gelap. Dadaku berdebar. Tanganku bergetar.
“Tuhaaaaannn….” Teriakku sekeras-kerasnya. Alhasil bukannya suaraku yang keluar, namun tubuhku justru terasa nyeri, sakit, dan mataku berat untuk kubuka sedikit saja.
---===----
Kamis, 24 Desember 2009
Love in Heaven_Part 1 & 2_^^
`Masih adakah cinta sejati itu?
Tuhan…
Jikalau itu masih ada,
Dapatkah semua keturunan Adam dan Eve mendapatkannya?
Dimanakah?…
Seperti apakah?…
Merasakan segala hal, bahwa Eve adalah patahan tulang rusuk Adam…
Mungkinkanlah segala keinginan mereka, anak-anak pengiring dunia, menebar kasih
syurga…
Tuhan…
Segala puji bagiMu…
Keutuhan ada padaMu…
Amen..`
-.-.-.-.-
“Jadi karena Tuhan?!”
“Kepastiannya mungkin begitu karena Tuhanlah yang memberikan cinta padaku.”
“Ayahmu tak menghendakinya!” pangkasku.
“Tapi aku ingin bersamamu! Tuhan telah memberikan cinta dan itu berlaku untukmu!” aku tersenyum mendengarnya.
“Mengingat kita tak mungkin bersatu,” aku memakaikan rosario di lehernya, “Maka Tuhanlah yang akan selalu setia menemanimu!”
“Tidak, Agnes!”
“Ingat, Nicos, aku seorang Moslem! Haram bagimu menyentuhku apalagi memelukku!” ujarku. Lalu dia langsung melepaskan pelukkannya.
“Maaf!”
“Yah, jangan kau melupakan itu!”
“Baiklah, sekali lagi maaf! Tapi, Agnes, aku…aku…”
“Sttt….ayahmu menginginkanmu suci atas segala di depan Tuhanmu!”
“Tapi dia sendiri melanggarnya, kenapa harus mengorbankan diriku?!” katanya pada diri sendiri.
“Sudahlah, Nicos! Aku tak mau memperdebatkan hal ini. Pikirkan dengan masak. Aku bukanlah segalanya. Aku hanyalah gadis kecil yang dulu pernah kau temui di gereja. Menautkan candle light di atas nampan bintang kecil di bawahnya. Kau membantuku saat itu. Kita berdoa bersama. Memohon pengampunan atas segala dosa. Kau tanya padaku tentang sebuah kehidupan, aku pun menjawab bahwa hidupku hanya untuk Tuhan. Kau mengangguk, namun sebenarnya kau tak paham akan maksudku. Tapi keadaan kini sudah berubah. Allah tak mengharuskanku untuk hidup karenaNya saja. Justru Allah telah berfirman bahwa berkeluarga adalah kewajiban. Meski dulu aku beranggapan bahwa kesucian adalah suatu tuntutan kehidupan untuk bersamaNya.”
“Agnes,…”
“Aku tak mau merusak hubunganmu dengan ayahmu!”
“Ibuku sedih mendengar hal ini!”
“Karena Ibumu merasakan kepedihanmu, Nicos.”
“Jadi kau akan meninggalkanku, Agnes?” tanyanya lirih. Menatapku penuh harapan. Aku tersenyum, meggeleng pelan.
“Aku akan selalu di hatimu, Nicos! Dan sebalikknya. Seperti Tuhan, bila kau sanggup menjaga itu!”
Keheningan mulai menyesap di setiap helai angin yang berhembus diantara kami berdua. Wajahnya yang tampan itu menatapku luruh. Kepedihan sangat jelas tersirat di sana. Aku sangat menyayangimu, Nicos. Melebihi apapun. Dalam setiap jengal nafasku yang mungkin tak dapat kurasakan secara sadar dan penuh kepastian yang dalam. Aku mengerti bahwa Tuhan telah menggariskan takdir ini di kitab Lauh Mahfuzh sebelum kita dihembuskan dalam gumpalan darah yang semakin menyeruak menjadi janin dan lipatan-lipatan lembut di dalam rahim ibu.
Tangan itu serasa ingin menghapuskan air mataku yang menetes pelan menjabani kedua belah pipiku. Tapi dia sadar, dia mengurungkan niat baiknya itu. Diberikannya sapu tangannya untukku. Lalu aku menghapus airmataku dengan kedua tanganku sendiri.
Agnes. Agnes yang kini bukanlah Agnes yang dulu. Kini aku adalah seorang gadis yang senantiasa menjaga auratku. Mungkin ini adalah sebuah penyempurnaan akan keyakinanku yang dulu. Bukan hanya untuk suatu golongan. Bukan untuk kaum tertentu. Tapi ini untuk seluruh umat manusia. Dan ini tak berlaku untuk hasil pemikiran manusia.
To be continued…
-.-.-.-
Next Story_Love in Heaven_Part 2
Kemarin aku bela-belain ke gereja buat dengerin keluh kesah Nicos. Aku lihat jam di pergelangan tanganku. 16.45. Dengan hati sedikit berdebar, aku melangkah masuk ke dalam gereja. Mataku mengamati ke setiap penjuru gereja, tak kudapati sosoknya. Hanya terlihat orang yang yang silih berganti berdoa dan beberapa biarawati. Maka kuputuskan untuk duduk di kursi deret yang berada tak jauh dariku. Aku tersentak, Bapa Albert duduk di depanku.
“Rimbun desah langit membiru, kau berkata dia pun merajuk pilu.” Aku menoleh ke arah Bapa. Sebuah perumpamaan akan hilangnya kasih.
“Bapa…angin tak akan kuat berhembus, bila badai menyelubungi pundaknya.” Balasku segera. Bapa tersentak dan langsung menatapku.
“Bible of Barnabas, kau memahaminya.” Ujarnya penuh penekanan. Aku tersenyum kecut.
“Aku tak pernah membacanya, sedikitpun aku tak pernah melihatnya, dan aku tak pernah menemukannya. Bagaimana Bapa bisa mengatakan bahwa aku telah memahaminya?”
“Jiwamu ada dan mengetahuinya. Kau tak percaya adanya TRINITAS tapi kau menyayangi Yesus seperti kau menyayangi Allah dan Muhammad. Bukankah begitu, Yona!”
“Isa anak Maryam. Dan kau mencoba membaca fikiranku, Bapa! Tapi aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi.” Aku mengalihkan fikiranku dengan cepat.
“Yona, apa maumu sebenarnya?”
“Aku hanya ingin angin menghembuskan rautnya padaku!” terdengar di telingaku, Bapa mendesah.
“Persahabatan…” gumamnya.
“Aku rela mati untuknya.” Bapa menoleh ke arahku dengan sorotnya yang tajam.
“Yona, kau!!!” gersah Bapa terdengar geram.
“Bapa tak berhak memisahkan tali kasih mereka. Kesucian Nicos tak lain adalah hasrat Bapa. Apakah angin menyesap di dalam pebuluh nadi juga dikatagorikan sebagai pergumulan dosa?”
“Yona, kau….” Geram Bapa. Namun dia tau bagaimana cara mengendalikan kemarahannya saat ini. Dan aku tak perlu kuatir karena dia tidak akan sampai menamparku apalagi membunuhku disini.
“Maaf, Bapa! Kakakku juga menginginkan kesucian di atas segala di hadapan Tuhan. Rujukan yang istimewa, hatiku sakit mendengarnya, Bapa! Namun, aku harus menerima segala apa kenyataan yang ada ini. Aku sangat menyayanginya, Bapa! Sangat! Sedang Nicos, Bunda Katherine, sama halnya dengan hatiku. Mereka harus menerima kenyataan atas kehendak Bapa!” aku menunduk. Tak kusadari tangisku terlampau menyeruak dalam. Kudengar Bapa menghela nafas panjang.
“Ini untukmu!” setelah beberapa detik Bapa hanya diam. Bapa menyerahkan amplop putih itu padaku. Dan ia mulai beranjak dari duduknya.
“Bapa tak menginginkanku bertemu dengannya?”
“Bukan begitu, Yona! Bapa percaya kau sahabat terbaiknya.”
“Lantas..”
“Dia menitipkannya untukmu!” ujar Bapa kemudian berlalu dari hadapanku.
:::-.-:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Aku beranjak keluar gereja. Langkahku terhenyak oleh angin yang berhembus sayup-sayup bersorak membelah rambutku. Aku duduk di kursi diantara pohon cemara itu. Perlahan kubuka amplop ini. Kupejamkan mataku sejenak. Hatiku getir merasakannya.
“Sahabatku dalam terang dan gelapku,
Yona, pengertian akan sebuah perubahan menjejaki hatiku terlalu dalam. Sesak dan sakit mengembung bersamaan dengan liang pualam cahayaku. Hinggaku tak dapat membedakan antara kejadian ini. Juga semua rutinitas baruku. Kini lebih lama aku merasakan kebersamaan dengan Bapaku di tempat peribadatanku, dan segala alam bawah sadarku dalam lingkup jiwa malam dan siangku.
Yona, bunda selalu menangis di depanku. Sungguh-sungguh di depan Bapaku. Perempuan yang telah mengandungku di rahim sucinya itu rela bersujud dalam dekapku, mengecup setiap sudut parasku. Itu tak lain diharapkannya supaya Bapa mengembalikanku daripadanya. Menemani kehidupan hangat bersamanya.
Yona, aku tak dapat berbuat apapun. Aku bingung, gundah, resah merauk jadi kesatuan nafasku. Membelah hingar bingar kesunyian alam kasihku.
Bapaku…
Bundaku…
Agnes…palung terdalam jiwaku. Ketiga cinta, ketiga keinginan yang sungguh sulit untuk menyatu.
Yona, itukah perbedaan??
Bagaimana aku membedakannya? Aku tak sanggup lagi memisah belahkan ketiga persamaan dalam ketiga perbedaan. Sungguh aku kesulitan menggunakan asah fikiran dan perasaanku. Apa gunanya aku ini, Yona? Kalau terlahir hanya untuk diperdebatkan.
Yona, sudah lama sekali….
Terakhir aku bertemu denganmu satu bulan lalu, sahabatku! Kini aku sangat merindukanmu. Namun, aku tak dapat menemuimu. Membenamkan kalutku dalam terangmu itulah satu-satunya yang membuatku tenang akan sayup relungku.
Yona, aku berjanji padamu atas nama Allah. Segala kejujuranku ada padamu. Aku merasakannya, bahwa kasihku sulit bersatu dengannya. Dan berjanjilah, Yona! Kau yang akan menjadi saksi atas ’shahadat dan kasihku.
Nicos”
Aku menengadah. Terlihat di balik jendela panjang di atas sana. Nicos mengamatiku dengan jubah hitam panjangnya. Aku menunduk, menahan airmataku yang teriring gerimis. Tak sanggup aku menengadahkan wajahku di atas sana kembali.
“Cukup. Cukup, Tuhan!” teriakku dalam hati. Lalu aku pun berlari menjauh dari tempat itu.
Tuhan…
Jikalau itu masih ada,
Dapatkah semua keturunan Adam dan Eve mendapatkannya?
Dimanakah?…
Seperti apakah?…
Merasakan segala hal, bahwa Eve adalah patahan tulang rusuk Adam…
Mungkinkanlah segala keinginan mereka, anak-anak pengiring dunia, menebar kasih
syurga…
Tuhan…
Segala puji bagiMu…
Keutuhan ada padaMu…
Amen..`
-.-.-.-.-
“Jadi karena Tuhan?!”
“Kepastiannya mungkin begitu karena Tuhanlah yang memberikan cinta padaku.”
“Ayahmu tak menghendakinya!” pangkasku.
“Tapi aku ingin bersamamu! Tuhan telah memberikan cinta dan itu berlaku untukmu!” aku tersenyum mendengarnya.
“Mengingat kita tak mungkin bersatu,” aku memakaikan rosario di lehernya, “Maka Tuhanlah yang akan selalu setia menemanimu!”
“Tidak, Agnes!”
“Ingat, Nicos, aku seorang Moslem! Haram bagimu menyentuhku apalagi memelukku!” ujarku. Lalu dia langsung melepaskan pelukkannya.
“Maaf!”
“Yah, jangan kau melupakan itu!”
“Baiklah, sekali lagi maaf! Tapi, Agnes, aku…aku…”
“Sttt….ayahmu menginginkanmu suci atas segala di depan Tuhanmu!”
“Tapi dia sendiri melanggarnya, kenapa harus mengorbankan diriku?!” katanya pada diri sendiri.
“Sudahlah, Nicos! Aku tak mau memperdebatkan hal ini. Pikirkan dengan masak. Aku bukanlah segalanya. Aku hanyalah gadis kecil yang dulu pernah kau temui di gereja. Menautkan candle light di atas nampan bintang kecil di bawahnya. Kau membantuku saat itu. Kita berdoa bersama. Memohon pengampunan atas segala dosa. Kau tanya padaku tentang sebuah kehidupan, aku pun menjawab bahwa hidupku hanya untuk Tuhan. Kau mengangguk, namun sebenarnya kau tak paham akan maksudku. Tapi keadaan kini sudah berubah. Allah tak mengharuskanku untuk hidup karenaNya saja. Justru Allah telah berfirman bahwa berkeluarga adalah kewajiban. Meski dulu aku beranggapan bahwa kesucian adalah suatu tuntutan kehidupan untuk bersamaNya.”
“Agnes,…”
“Aku tak mau merusak hubunganmu dengan ayahmu!”
“Ibuku sedih mendengar hal ini!”
“Karena Ibumu merasakan kepedihanmu, Nicos.”
“Jadi kau akan meninggalkanku, Agnes?” tanyanya lirih. Menatapku penuh harapan. Aku tersenyum, meggeleng pelan.
“Aku akan selalu di hatimu, Nicos! Dan sebalikknya. Seperti Tuhan, bila kau sanggup menjaga itu!”
Keheningan mulai menyesap di setiap helai angin yang berhembus diantara kami berdua. Wajahnya yang tampan itu menatapku luruh. Kepedihan sangat jelas tersirat di sana. Aku sangat menyayangimu, Nicos. Melebihi apapun. Dalam setiap jengal nafasku yang mungkin tak dapat kurasakan secara sadar dan penuh kepastian yang dalam. Aku mengerti bahwa Tuhan telah menggariskan takdir ini di kitab Lauh Mahfuzh sebelum kita dihembuskan dalam gumpalan darah yang semakin menyeruak menjadi janin dan lipatan-lipatan lembut di dalam rahim ibu.
Tangan itu serasa ingin menghapuskan air mataku yang menetes pelan menjabani kedua belah pipiku. Tapi dia sadar, dia mengurungkan niat baiknya itu. Diberikannya sapu tangannya untukku. Lalu aku menghapus airmataku dengan kedua tanganku sendiri.
Agnes. Agnes yang kini bukanlah Agnes yang dulu. Kini aku adalah seorang gadis yang senantiasa menjaga auratku. Mungkin ini adalah sebuah penyempurnaan akan keyakinanku yang dulu. Bukan hanya untuk suatu golongan. Bukan untuk kaum tertentu. Tapi ini untuk seluruh umat manusia. Dan ini tak berlaku untuk hasil pemikiran manusia.
To be continued…
-.-.-.-
Next Story_Love in Heaven_Part 2
Kemarin aku bela-belain ke gereja buat dengerin keluh kesah Nicos. Aku lihat jam di pergelangan tanganku. 16.45. Dengan hati sedikit berdebar, aku melangkah masuk ke dalam gereja. Mataku mengamati ke setiap penjuru gereja, tak kudapati sosoknya. Hanya terlihat orang yang yang silih berganti berdoa dan beberapa biarawati. Maka kuputuskan untuk duduk di kursi deret yang berada tak jauh dariku. Aku tersentak, Bapa Albert duduk di depanku.
“Rimbun desah langit membiru, kau berkata dia pun merajuk pilu.” Aku menoleh ke arah Bapa. Sebuah perumpamaan akan hilangnya kasih.
“Bapa…angin tak akan kuat berhembus, bila badai menyelubungi pundaknya.” Balasku segera. Bapa tersentak dan langsung menatapku.
“Bible of Barnabas, kau memahaminya.” Ujarnya penuh penekanan. Aku tersenyum kecut.
“Aku tak pernah membacanya, sedikitpun aku tak pernah melihatnya, dan aku tak pernah menemukannya. Bagaimana Bapa bisa mengatakan bahwa aku telah memahaminya?”
“Jiwamu ada dan mengetahuinya. Kau tak percaya adanya TRINITAS tapi kau menyayangi Yesus seperti kau menyayangi Allah dan Muhammad. Bukankah begitu, Yona!”
“Isa anak Maryam. Dan kau mencoba membaca fikiranku, Bapa! Tapi aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi.” Aku mengalihkan fikiranku dengan cepat.
“Yona, apa maumu sebenarnya?”
“Aku hanya ingin angin menghembuskan rautnya padaku!” terdengar di telingaku, Bapa mendesah.
“Persahabatan…” gumamnya.
“Aku rela mati untuknya.” Bapa menoleh ke arahku dengan sorotnya yang tajam.
“Yona, kau!!!” gersah Bapa terdengar geram.
“Bapa tak berhak memisahkan tali kasih mereka. Kesucian Nicos tak lain adalah hasrat Bapa. Apakah angin menyesap di dalam pebuluh nadi juga dikatagorikan sebagai pergumulan dosa?”
“Yona, kau….” Geram Bapa. Namun dia tau bagaimana cara mengendalikan kemarahannya saat ini. Dan aku tak perlu kuatir karena dia tidak akan sampai menamparku apalagi membunuhku disini.
“Maaf, Bapa! Kakakku juga menginginkan kesucian di atas segala di hadapan Tuhan. Rujukan yang istimewa, hatiku sakit mendengarnya, Bapa! Namun, aku harus menerima segala apa kenyataan yang ada ini. Aku sangat menyayanginya, Bapa! Sangat! Sedang Nicos, Bunda Katherine, sama halnya dengan hatiku. Mereka harus menerima kenyataan atas kehendak Bapa!” aku menunduk. Tak kusadari tangisku terlampau menyeruak dalam. Kudengar Bapa menghela nafas panjang.
“Ini untukmu!” setelah beberapa detik Bapa hanya diam. Bapa menyerahkan amplop putih itu padaku. Dan ia mulai beranjak dari duduknya.
“Bapa tak menginginkanku bertemu dengannya?”
“Bukan begitu, Yona! Bapa percaya kau sahabat terbaiknya.”
“Lantas..”
“Dia menitipkannya untukmu!” ujar Bapa kemudian berlalu dari hadapanku.
:::-.-:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Aku beranjak keluar gereja. Langkahku terhenyak oleh angin yang berhembus sayup-sayup bersorak membelah rambutku. Aku duduk di kursi diantara pohon cemara itu. Perlahan kubuka amplop ini. Kupejamkan mataku sejenak. Hatiku getir merasakannya.
“Sahabatku dalam terang dan gelapku,
Yona, pengertian akan sebuah perubahan menjejaki hatiku terlalu dalam. Sesak dan sakit mengembung bersamaan dengan liang pualam cahayaku. Hinggaku tak dapat membedakan antara kejadian ini. Juga semua rutinitas baruku. Kini lebih lama aku merasakan kebersamaan dengan Bapaku di tempat peribadatanku, dan segala alam bawah sadarku dalam lingkup jiwa malam dan siangku.
Yona, bunda selalu menangis di depanku. Sungguh-sungguh di depan Bapaku. Perempuan yang telah mengandungku di rahim sucinya itu rela bersujud dalam dekapku, mengecup setiap sudut parasku. Itu tak lain diharapkannya supaya Bapa mengembalikanku daripadanya. Menemani kehidupan hangat bersamanya.
Yona, aku tak dapat berbuat apapun. Aku bingung, gundah, resah merauk jadi kesatuan nafasku. Membelah hingar bingar kesunyian alam kasihku.
Bapaku…
Bundaku…
Agnes…palung terdalam jiwaku. Ketiga cinta, ketiga keinginan yang sungguh sulit untuk menyatu.
Yona, itukah perbedaan??
Bagaimana aku membedakannya? Aku tak sanggup lagi memisah belahkan ketiga persamaan dalam ketiga perbedaan. Sungguh aku kesulitan menggunakan asah fikiran dan perasaanku. Apa gunanya aku ini, Yona? Kalau terlahir hanya untuk diperdebatkan.
Yona, sudah lama sekali….
Terakhir aku bertemu denganmu satu bulan lalu, sahabatku! Kini aku sangat merindukanmu. Namun, aku tak dapat menemuimu. Membenamkan kalutku dalam terangmu itulah satu-satunya yang membuatku tenang akan sayup relungku.
Yona, aku berjanji padamu atas nama Allah. Segala kejujuranku ada padamu. Aku merasakannya, bahwa kasihku sulit bersatu dengannya. Dan berjanjilah, Yona! Kau yang akan menjadi saksi atas ’shahadat dan kasihku.
Nicos”
Aku menengadah. Terlihat di balik jendela panjang di atas sana. Nicos mengamatiku dengan jubah hitam panjangnya. Aku menunduk, menahan airmataku yang teriring gerimis. Tak sanggup aku menengadahkan wajahku di atas sana kembali.
“Cukup. Cukup, Tuhan!” teriakku dalam hati. Lalu aku pun berlari menjauh dari tempat itu.
Langganan:
Postingan (Atom)