Minggu, 27 Desember 2009

Alvin or Nu

Aku selalu menangis setiap menjelang tidur. Dan esoknya mataku akan lebam-lebam sampai bola mataku hampir tak terlihat. Itu kulakukan lantaran aku dimasukkan ke sekolah yang diinginkan kedua orang tuaku. Aku tak mau! Aku tak mau! Itu yang selalu ku katakan pada mereka. Tuhan saja tahu keinginanku seperti apa. Aku mempunyai keinginan bersekolah di SMA yang sudah lama kudambakan. Tuhan juga mengabulkan doaku, agar aku diterima di sekolahan itu. Aku sangat gembira waktu pengumuman itu keluar. Karena aku diterima. Tapi harapanku pupus sudah. Kedua orang tuaku tak setuju kalau aku benar-benar bersekolah di SMA yang kudambakan itu. Pada akhirnya pun aku harus menuruti keinginan mereka. Aku bersekolah dimana orangtuaku mendaftarkanku.
1 bulan lamanya aku belajar di SMA ini. Lebih jelas lagi adalah SMA setengah hati. Memang sih tempatnya elite, bangunan oke, fasilitas lebih dari cukup, teman-teman dan guru-guru juga ramah-ramah. Ya, tapi semua itu tak membuatku untuk bisa menerima dengan sepenuh hatiku.
Setiap jam istirahat aku sengaja tak bergabung dengan teman-teman yang lain. Lebih baik aku duduk sambil baca di belakang sekolah. Di tempat ini tak ada seorang pun berani kecuali aku. Memang sih suasananya agak nyeremin. Tapi apa peduliku? Toh aku tak mengganggu dan diganggu.
Meski ada teman yang melarangku, dan ada juga kakak kelas yang cerita kalau di pohon itu ada hantunya.
“Dulu tuh ada cowok yang mati di situ!” itu salah satu versi cerita yang sempat heboh seusai kegiatan MOS. Uhhh....aku benci seperti ini. Biarkan aku bebas dengan segala keinginanku! Ah, mungkin ini salah satu efek, aku tak mau bersekolah disini.
Ok! Hari ini setelah bel istirahat berbunyi, aku langsung menuju ke belakang sekolah. Aku duduk di undakan yang memang sudah menjadi bagian bangunan ini. kulihat dengan seksama pohon itu. Tak ada apa-apa. Malahan terlihat sangat indah dengan tekstur akar-akarnya yang besar dan bergantungan. Angin semilir menggugurkan daun kering pohon itu. Semak-semak yang ada di sekitar saling bergemerisik. Angin sudah tak berhembus seperti tadi. Tapi semak-semak di ujung sana masih bergoyang. Dengan langkah pelan, aku mendekati semak-semak itu. Aku sangat penasaran! Jantungku berdegup dengan kencangnya. Apaan ya? Hehe…senyumku ala iblis. 1...2...3... hitungku dalam hati bebarengan dengan membuka semak-semak itu. Ahaa…aku celingak-celinguk seperti orang bodoh. Tak ada siapa-siapa disini kecuali aku. Aku menghembuskan nafasku lega. Huahh!!..aku berdiri penuh kemenangan, aku tak takut. Mana ada hantu di siang bolong? Aku bergegas kembali ke tempat sebelumnya. Namun, belum aku membalikan badanku. Semak-semak itu kembali bergoyang-goyang inul. Kali ini dengan penuh keberanian, aku membuka semak-semak itu kembali. Siapa yang mengerjaiku seperti ini? pikirku dalam hati. Dan sesuatu telah berhasil mengejutkanku, jantungku nyaris copot.
“AAAA…” teriakku sambil menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Oh, Tuhan! Lindungi aku! Lindungi aku! Doaku dalam hati.
“Sttt…” suara? Suara apa itu? Kenapa aku ketakutan? Hwaa...aku benar-benar ketakutan setengah mampus.
“SSttt... jangan takut! Buka matamu, aku tak akan mencelakakanmu!” aku mendengar suara itu. Menyuruhku membuka mataku. Dia manusia? Yess! Dengan samar kulihat wajah itu tersenyum ke arahku. Tersenyum dengan sepasang lesung dipipinya.
“Kamu siapa?” tanyaku padanya. Dia sepertiku. Manusia? Mungkin. Tapi kulitnya lebih pucat dariku.
“Namaku Nura…” dia menyebut namanya. Posisinya jongkok dengan kemeja dan celana panjang abu-abu. Apa dia hantu seperti di tv-tv? Ah, mana mungkin? Mana mungkin dia hantu?! Dia kan memakai seragam sama sepertiku. Bedanya aku memakai rok sedangkan dia memakai celana panjang.
“Kamu siswa disini?” tanyaku lagi. Dia mengangguk.
#
Pertemuanku dengan cowok berkulit pucat siang tadi membuatku semakin penasaran. Siapa dia? Dia? Namanya Nura. Ya iyalah, dia kan yang bilang sendiri kalau namanya Nura. Ohh...bukan itu! Bukan itu masalahnya! Tapi kenapa dia ada disitu? Dibalik semak-semak. Penting nggak sih, anak SMA main umpet-umpetan. Huh..gara-gara bel masuk berbunyi, aku tak jadi nanya ke dia. Ngapain disitu? Wah, kenapa aku jadi bersemangat begini?!
“Mikaa...” suara mama memanggilku dari bawah.
“Iya, Ma!!” sahutku cepat.
“Ada yang mencarimu..”
“Siapa, ma?”
“Heh, liat ndri!!” suaranya beda. Lebih cempreng dari sebelumnya. Aku yakin banget itu bukan suara mama. Aku mulai menuruni anak tangga. Stereengg…mataku melotot tajam. Melihat sosok berjaket hitam dengan celana belelnya dan potongan rambutnya yang baru membuat wajah tirusnya semakin keren.
“Malem…Mika!” suaranya merdu…seperti suara burung hantu yang sering nangkring di pohon palem belakang rumahku.
“Malem…” balasku tak kalah merdunya. Hatiku meloncat-loncat laksana kanguru dikejar maling. Oh, salah maksudnya dikejar pemburu. Hehe…versi Mika sih, jadi laen katanya. Setelah mama dan kakakku meninggalkan aku dan Alvin di ruang tamu. Bik Murti menyajikan 2 gelas minuman untuk kami.
“Ada apa?” tanyaku pada Alvin. Dia malah tersenyum kearahku. Otomatis aku kelihatan bodoh. Aku seperti tenggelam di tengah samudera, sulit banget nyari oksigennya...hah...hah...hah...
“Mika, kamu lupa ya sayang! Hari ini kan malem minggu!” oh, malem minggu? Iya juga, kenapa aku bisa sepikun ini. gara-gara aku terlalu antusias mungkin dengan cowok berkulit pucat itu. Hehe..Alvin itu cowokku. Sebenarnya dia itu udah bikin aku kecewa banget. Kecewa lantaran dia ngedukung ortuku. Ya, masalah sekolah itu. Dan yang paling mengecewakan, dia tidak satu sekolahan denganku.
#
“Kok flimnya bukan horor sih, Vin?” tanyaku saat setelah Alvin mengambil tiket.
“Jadwalnya kan dirubah, sayang! Kok kamu jadi ngefans banget sama flim-flim horor? Perasaan kamu dulu takut setengah mati setiap kali denger.”
“Itu kan dulu Alvinku, sayang! Mika tuh udah gede, berani donk.” Sangkalku.
“Kalau hantunya Alvin, kamu takut nggak?”
“Kamu jangan ngaco deh! Haha…” mendengar candanya barusan, tawaku langsung meledak. Alvin malah ikut-ikutan tertawa. Kalau hantunya seperti Alvin semua sih, aku juga mau. Maksudnya? Tau ah.
“Sayang, masih 30 menit lagi nih. Kita makan dulu ya, kamu juga belum makan kan?” aku mengangguk dan mengikutinya keluar dari loby stadion, untuk mencari makan. Oohh, Alvinku!! Kamu memang ngerti aku kalau sedang laper! Duh, kok kayak cerita itik dan Sang peternak??!!!
30 menit udah berlalu, aku dan Alvin segera menuju ke bioskop. Kami menuju ke stadion 1, yang berada di pojok sendiri. Setelah benar-benar masuk, kami segera mencari tempat duduk sesuai dengan no. Yang tertera di tiket. Kami duduk berdampingan. Mungkin kami beruntung karena duduk di bagian tengah. Lampu tiba-tiba padam dan sedetik kemudian layar bioskop menyala terang. Yap, menandakan bahwa flim akan segera dimulai.
Mungkin sudah 15 menit aku menonton flim yang ditayangkan di layar itu. Aku merangkul lengan Alvin.
“Kamu kedinginan?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Iya…” jawabku agak sedikit terdengar parau. Aku memang tak tahan dingin. Dia langsung tersenyum mendengarnya, lalu memakaikan jaketnya ke badanku. Aku tak tahu kenapa hawa dingin ini seperti menyelimutiku dalam-dalam. Padahal, kulihat dengan sepintas yang menonton disini tidak kedinginan sepertiku. Alvin? Jelas-jelas dia seperti yang lain, seperti tak merasakan hawa dingin ini. Bulu kuduku serasa berdiri semua. Aku mencoba melirik kursi yang berada di sebelah kiriku. Perasaan sedari tadi kan kursi itu memang nggak ada penghuninya. Tapi sekarang...
“Alvin!!!...” jeritku ketakutan.
“Sttt...” disekelilingku melihatku dengan tatapan tak suka.
“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya setengah berbisik.
“Hantu…hantu…” aku bergidik ngeri dan memejamkan mataku lekat-lekat.
“Hantu? Hantu apaan? Dimana?” tanyanya beruntun.
“Di sebelah kiriku.”
“Mana? Nggak ada apa-apa. Makanya jangan terlalu banyak nonton flim horor, begini kan jadinya.” Ekspresinya datar, tak sekalipun ketakutan seperti diriku.
“Aku benar melihatnya…”
“Mika, itu mungkin hanya halusinasimu saja. Sekarang kamu lihat tuh flim!” katanya sembari melingkarkan lengan kirinya ke bahuku. “Sudahlah Mika, jangan takut seperti itu! Kan ada aku disini.” Aku menatapnya. Tersenyum. Di samping kiriku memang tidak ada siapa-siapa. Mungkin Alvin benar, itu hanya halusinasiku. Tapi, aku tadi benar-benar melihat. Melihat sosok yang sebelumnya pernah masuk ke dalam memoriku.
#
Sekitar pukul 09.00 malam, aku sudah berada di dalam rumah. Alvin selalu tepat akan janjinya pada mamaku. Dia akan mengantarkanku pulang sebelum jam 10.00 malam. Itulah salah satu janjinya.
Aku mulai menaiki anak tangga, menuju kamarku. Aku mencoba membuka pintu kamarku dan menutupnya pelan.
“Kenapa sampai rumah jadi panas begini?” gumamku sambil mengusap keringat di pelipisku. Aku meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu.
“Hrmm...”
“Siapa itu?” aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Lantas siapa yang mengeram tadi?
“Kak Nita ya?” tebakku. “Jangan bercanda, ini kan sudah malam. Kenapa kakak belum tidur?” tanyaku tanpa melihat kak Nita. Lampu sudah menyala. Aku meletakkan ponselku di atas meja. Tak ada sahutan dari kak Nita.
“Kak Nita?!” aku menoleh ke arah tempat tidurku. Tidak ada sosoknya. “Kakak jangan bercanda!” aku melangkah mendekati tempat tidurku. Aku tahu kakak pasti ada di balik selimut hijau milikku. Aku mencoba menarik selimut itu dan seketika itu aku menjerit histeris.
“Hwaaaaa...”
“Stttt...”
“Si...siapa kamu?” tanyaku agak sedikit terbelit. Dia mendekatiku.
“Tidak ingat sama sekali?” tanyanya balik. Aku mencoba berfikir ulang. Memutar-mutar otakku sampai bisa mengingat sosok ini. Saat aku berhasil menangkap bayangan pucat yang melintas di otakku. Dia tersenyum ke arahku. Jantungku berdebar bukan main lagi. Ini benar-benar membuatku terkejut-kejut. Hahh!!...
“Nu?” tanyaku sembari bangkit dari keterkejutanku.
“Nura!” katanya menegaskan namanya.
“Ya, maksudku juga begitu. Bagaimana mungkin kamu bisa masuk ke kamarku? Perasaan aku tak pernah memberi alamat rumahku padamu.”
“Tidak perlu karena aku sudah tahu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Apa kamu tidak sadar, aku selalu mengikutimu?!” spontan aku melotot ke arahnya, setelah mendengar pertanyaan baliknya.
“Yang ada di bioskop tadi?”
“Itu aku.” Dia menjawabnya sambil tersenyum misterius. Aku langsung melempar boneka yang ada di sampingku ke arahnya. Aku melongo tak percaya. Boneka itu tak sedikitpun mengenai tubuhnya. Padahal aku sangat yakin lemparanku mengenai sasaran.
“Meca!!! Yuhuuuu!!!....” aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Nggak mungkin!!
“Kamu. Hantu!!!” seruku pelan. Saat itu pula aku pinsan. Semuanya jadi gelap gulita.
“Sudah kubilang jangan takut padaku! Harusnya kamu sadar akan diriku sejak awal! Meca...Meca....” cowok tampan bekulit pucat itu tersenyum melihatku yang terkapar di tempat tidur.
#
Hari Kamis malam Jum’at,
Tanggal 27 Juni 2008...
Saat burung hantu yang sering mangkal di belakang rumahku dengan suksesnya menyaringkan suara merdunya. Di dalam kamar bercat serba putih dengan ukiran di atapnya, aku menatap lekat-lekat cowok bermuka pucat itu.
“Kamu sudah tidak takut lagi padaku?” Aku menggeleng mantap mendengar pertanyaannya barusan.
“Apa tugas hantu itu seperti kamu? Mengikutiku kemana aku pergi dan tinggal di rumahku.” Tanyaku padanya.
“Tidak juga, Meca.” Jawabnya datar tanpa secuil ekspresi.
“Namaku Mika, bukan Meca!” tegasku padanya.
“Tapi aku lebih suka memanggilmu Meca.”
“Aku nggak mau. Enak saja ngerubah-rubah nama orang seenak jidat. Emang siapa kamu?” kataku setengah ngotot. Dia malah melotot ke arahku.
“Kamu!!”
“Apa? Kamu siapa? Ngapain ngikutin aku? Pergi sana! Kamu tuh ganggu aku. Pergi sana! Dan jangan memunculkan sosokmu lagi dihadapanku. Kita tuh beda alam, sana cari teman yang setara denganmu!” songolku tanpa memandang sosoknya. Diam. Dimana dia? Aku celingukan mencari sosoknya. Yang benar saja dia pergi? Yess! Tapi...
“Nu!!!” Aku mencoba memanggilnya. “Nu, kamu marah ya? Tadi kan aku cuma bercanda. Nu...Yuhuuu....Kamu dimana?!”
“Mika, kakak bawain pizza nih!!”
“Brakk!” kakak langsung masuk kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku langsung gelagaban. Kak Nita menyeringai lebar.
“Pizza dari budhe Nani. Dimakan ya!” kakak menyerahkan 1 kotak pizza. Hmm...
Setelah menerima kotak pizza dari kak Nita, tiba-tiba di belakang kakak terlihat sosok muka pucat itu kembali.
“Ngapain kamu disitu? Cepat pergi! Kakak bisa melihatmu.” Bisikku padanya. Kakak heran melihatku saat setelah membalikkan badan ke arahku.
“Kamu bicara sama siapa?”
“Enggak.”
“Perasaan kakak dengar kamu bicara. Kamu nyembunyiin cowok ya?!” tebaknya yang tak meleset. Ya, benar. Aku memang nyembuyiin cowok. Gimana ini??
“Nu, cepat pergi!” bisikku lagi. Kali ini sosoknya berada di samping kakak. Nu malah tertawa ngakak. Dasar hantu tengil.
“Mika!” gertak kak Nita.
“I..iya.”
“Kamu bicara sama siapa?” kak Nita celingukan.
“Akting kak! Besok ada pertunjukan drama di kelas. Latihan! Latihan!” kataku mencoba menyakinkannya.
“Ohh..bener kamu nggak nyembunyiin cowok?” aku menggeleng. Ternyata kakak tak bisa melihat Nu. “Ya, sudah. Setelah makan langsung tidur. Kakak nggak mau ngebangunin kamu besok, kalau kamu masih molor.” Tegurnya lalu melangkah menuju pintu. Aku mengelus dada dan benafas lega. Huahh!!
“Dan...” aku terkejut bukan main. Tiba-tiba kakak membalikkan badannya kembali ke arahku. “Kalau sampai ketahuan ngumpetin cowok. Kakak aduin ke papa, mama. Supaya kamu nggak boleh pacaran seumur hidup.” Katanya sambil melotot ke arahku. Weessss…apa maksudnya? Ohoo…aku tahu! Dia itu sebenarnya iri sama aku. Kerena apa? Karena aku lebih cantik darinya. Haha…hueks!..
#
“Sayang, hampir 2 tahun kita jadian, tapi kok kakak kamu tuh sepertinya nggak pernah suka sama aku.”
“Aku juga ngerasa gitu. Dah, nggak usah dipikirin, kakak emang gitu. Nggak pernah suka ngelihat aku seneng.” Sungutku. Alvin mengacak rambutku. “Tapi kamu nggak apa kan? Maafin kakakku ya!” aku menatap seringai wajah tampannya. Dia mengangguk pelan dan tersenyum. Aku terkejut. Alvin? Aku mencoba mengucek mataku beberapa kali.
“Nu?” bukan Alvin. Nu? Sebenarnya siapa yang bicara denganku tadi? Alvin? Dimana dia? Cowok berwajah pucat itu kini tersenyum lekat di hadapanku. Tak pernah kusadari 2 lesung pipinya seperti milik Alvin. Otakku berputar-putar, melihatnya terus tersenyum ke arahku.
“Alvin!!!” teriakku. Kegelapanpun merajaiku.
#*#
Pernah dimuat di Majalah Sekolah tahun ajaran 2008/2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar