`Masih adakah cinta sejati itu?
Tuhan…
Jikalau itu masih ada,
Dapatkah semua keturunan Adam dan Eve mendapatkannya?
Dimanakah?…
Seperti apakah?…
Merasakan segala hal, bahwa Eve adalah patahan tulang rusuk Adam…
Mungkinkanlah segala keinginan mereka, anak-anak pengiring dunia, menebar kasih
syurga…
Tuhan…
Segala puji bagiMu…
Keutuhan ada padaMu…
Amen..`
-.-.-.-.-
“Jadi karena Tuhan?!”
“Kepastiannya mungkin begitu karena Tuhanlah yang memberikan cinta padaku.”
“Ayahmu tak menghendakinya!” pangkasku.
“Tapi aku ingin bersamamu! Tuhan telah memberikan cinta dan itu berlaku untukmu!” aku tersenyum mendengarnya.
“Mengingat kita tak mungkin bersatu,” aku memakaikan rosario di lehernya, “Maka Tuhanlah yang akan selalu setia menemanimu!”
“Tidak, Agnes!”
“Ingat, Nicos, aku seorang Moslem! Haram bagimu menyentuhku apalagi memelukku!” ujarku. Lalu dia langsung melepaskan pelukkannya.
“Maaf!”
“Yah, jangan kau melupakan itu!”
“Baiklah, sekali lagi maaf! Tapi, Agnes, aku…aku…”
“Sttt….ayahmu menginginkanmu suci atas segala di depan Tuhanmu!”
“Tapi dia sendiri melanggarnya, kenapa harus mengorbankan diriku?!” katanya pada diri sendiri.
“Sudahlah, Nicos! Aku tak mau memperdebatkan hal ini. Pikirkan dengan masak. Aku bukanlah segalanya. Aku hanyalah gadis kecil yang dulu pernah kau temui di gereja. Menautkan candle light di atas nampan bintang kecil di bawahnya. Kau membantuku saat itu. Kita berdoa bersama. Memohon pengampunan atas segala dosa. Kau tanya padaku tentang sebuah kehidupan, aku pun menjawab bahwa hidupku hanya untuk Tuhan. Kau mengangguk, namun sebenarnya kau tak paham akan maksudku. Tapi keadaan kini sudah berubah. Allah tak mengharuskanku untuk hidup karenaNya saja. Justru Allah telah berfirman bahwa berkeluarga adalah kewajiban. Meski dulu aku beranggapan bahwa kesucian adalah suatu tuntutan kehidupan untuk bersamaNya.”
“Agnes,…”
“Aku tak mau merusak hubunganmu dengan ayahmu!”
“Ibuku sedih mendengar hal ini!”
“Karena Ibumu merasakan kepedihanmu, Nicos.”
“Jadi kau akan meninggalkanku, Agnes?” tanyanya lirih. Menatapku penuh harapan. Aku tersenyum, meggeleng pelan.
“Aku akan selalu di hatimu, Nicos! Dan sebalikknya. Seperti Tuhan, bila kau sanggup menjaga itu!”
Keheningan mulai menyesap di setiap helai angin yang berhembus diantara kami berdua. Wajahnya yang tampan itu menatapku luruh. Kepedihan sangat jelas tersirat di sana. Aku sangat menyayangimu, Nicos. Melebihi apapun. Dalam setiap jengal nafasku yang mungkin tak dapat kurasakan secara sadar dan penuh kepastian yang dalam. Aku mengerti bahwa Tuhan telah menggariskan takdir ini di kitab Lauh Mahfuzh sebelum kita dihembuskan dalam gumpalan darah yang semakin menyeruak menjadi janin dan lipatan-lipatan lembut di dalam rahim ibu.
Tangan itu serasa ingin menghapuskan air mataku yang menetes pelan menjabani kedua belah pipiku. Tapi dia sadar, dia mengurungkan niat baiknya itu. Diberikannya sapu tangannya untukku. Lalu aku menghapus airmataku dengan kedua tanganku sendiri.
Agnes. Agnes yang kini bukanlah Agnes yang dulu. Kini aku adalah seorang gadis yang senantiasa menjaga auratku. Mungkin ini adalah sebuah penyempurnaan akan keyakinanku yang dulu. Bukan hanya untuk suatu golongan. Bukan untuk kaum tertentu. Tapi ini untuk seluruh umat manusia. Dan ini tak berlaku untuk hasil pemikiran manusia.
To be continued…
-.-.-.-
Next Story_Love in Heaven_Part 2
Kemarin aku bela-belain ke gereja buat dengerin keluh kesah Nicos. Aku lihat jam di pergelangan tanganku. 16.45. Dengan hati sedikit berdebar, aku melangkah masuk ke dalam gereja. Mataku mengamati ke setiap penjuru gereja, tak kudapati sosoknya. Hanya terlihat orang yang yang silih berganti berdoa dan beberapa biarawati. Maka kuputuskan untuk duduk di kursi deret yang berada tak jauh dariku. Aku tersentak, Bapa Albert duduk di depanku.
“Rimbun desah langit membiru, kau berkata dia pun merajuk pilu.” Aku menoleh ke arah Bapa. Sebuah perumpamaan akan hilangnya kasih.
“Bapa…angin tak akan kuat berhembus, bila badai menyelubungi pundaknya.” Balasku segera. Bapa tersentak dan langsung menatapku.
“Bible of Barnabas, kau memahaminya.” Ujarnya penuh penekanan. Aku tersenyum kecut.
“Aku tak pernah membacanya, sedikitpun aku tak pernah melihatnya, dan aku tak pernah menemukannya. Bagaimana Bapa bisa mengatakan bahwa aku telah memahaminya?”
“Jiwamu ada dan mengetahuinya. Kau tak percaya adanya TRINITAS tapi kau menyayangi Yesus seperti kau menyayangi Allah dan Muhammad. Bukankah begitu, Yona!”
“Isa anak Maryam. Dan kau mencoba membaca fikiranku, Bapa! Tapi aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi.” Aku mengalihkan fikiranku dengan cepat.
“Yona, apa maumu sebenarnya?”
“Aku hanya ingin angin menghembuskan rautnya padaku!” terdengar di telingaku, Bapa mendesah.
“Persahabatan…” gumamnya.
“Aku rela mati untuknya.” Bapa menoleh ke arahku dengan sorotnya yang tajam.
“Yona, kau!!!” gersah Bapa terdengar geram.
“Bapa tak berhak memisahkan tali kasih mereka. Kesucian Nicos tak lain adalah hasrat Bapa. Apakah angin menyesap di dalam pebuluh nadi juga dikatagorikan sebagai pergumulan dosa?”
“Yona, kau….” Geram Bapa. Namun dia tau bagaimana cara mengendalikan kemarahannya saat ini. Dan aku tak perlu kuatir karena dia tidak akan sampai menamparku apalagi membunuhku disini.
“Maaf, Bapa! Kakakku juga menginginkan kesucian di atas segala di hadapan Tuhan. Rujukan yang istimewa, hatiku sakit mendengarnya, Bapa! Namun, aku harus menerima segala apa kenyataan yang ada ini. Aku sangat menyayanginya, Bapa! Sangat! Sedang Nicos, Bunda Katherine, sama halnya dengan hatiku. Mereka harus menerima kenyataan atas kehendak Bapa!” aku menunduk. Tak kusadari tangisku terlampau menyeruak dalam. Kudengar Bapa menghela nafas panjang.
“Ini untukmu!” setelah beberapa detik Bapa hanya diam. Bapa menyerahkan amplop putih itu padaku. Dan ia mulai beranjak dari duduknya.
“Bapa tak menginginkanku bertemu dengannya?”
“Bukan begitu, Yona! Bapa percaya kau sahabat terbaiknya.”
“Lantas..”
“Dia menitipkannya untukmu!” ujar Bapa kemudian berlalu dari hadapanku.
:::-.-:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Aku beranjak keluar gereja. Langkahku terhenyak oleh angin yang berhembus sayup-sayup bersorak membelah rambutku. Aku duduk di kursi diantara pohon cemara itu. Perlahan kubuka amplop ini. Kupejamkan mataku sejenak. Hatiku getir merasakannya.
“Sahabatku dalam terang dan gelapku,
Yona, pengertian akan sebuah perubahan menjejaki hatiku terlalu dalam. Sesak dan sakit mengembung bersamaan dengan liang pualam cahayaku. Hinggaku tak dapat membedakan antara kejadian ini. Juga semua rutinitas baruku. Kini lebih lama aku merasakan kebersamaan dengan Bapaku di tempat peribadatanku, dan segala alam bawah sadarku dalam lingkup jiwa malam dan siangku.
Yona, bunda selalu menangis di depanku. Sungguh-sungguh di depan Bapaku. Perempuan yang telah mengandungku di rahim sucinya itu rela bersujud dalam dekapku, mengecup setiap sudut parasku. Itu tak lain diharapkannya supaya Bapa mengembalikanku daripadanya. Menemani kehidupan hangat bersamanya.
Yona, aku tak dapat berbuat apapun. Aku bingung, gundah, resah merauk jadi kesatuan nafasku. Membelah hingar bingar kesunyian alam kasihku.
Bapaku…
Bundaku…
Agnes…palung terdalam jiwaku. Ketiga cinta, ketiga keinginan yang sungguh sulit untuk menyatu.
Yona, itukah perbedaan??
Bagaimana aku membedakannya? Aku tak sanggup lagi memisah belahkan ketiga persamaan dalam ketiga perbedaan. Sungguh aku kesulitan menggunakan asah fikiran dan perasaanku. Apa gunanya aku ini, Yona? Kalau terlahir hanya untuk diperdebatkan.
Yona, sudah lama sekali….
Terakhir aku bertemu denganmu satu bulan lalu, sahabatku! Kini aku sangat merindukanmu. Namun, aku tak dapat menemuimu. Membenamkan kalutku dalam terangmu itulah satu-satunya yang membuatku tenang akan sayup relungku.
Yona, aku berjanji padamu atas nama Allah. Segala kejujuranku ada padamu. Aku merasakannya, bahwa kasihku sulit bersatu dengannya. Dan berjanjilah, Yona! Kau yang akan menjadi saksi atas ’shahadat dan kasihku.
Nicos”
Aku menengadah. Terlihat di balik jendela panjang di atas sana. Nicos mengamatiku dengan jubah hitam panjangnya. Aku menunduk, menahan airmataku yang teriring gerimis. Tak sanggup aku menengadahkan wajahku di atas sana kembali.
“Cukup. Cukup, Tuhan!” teriakku dalam hati. Lalu aku pun berlari menjauh dari tempat itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar