Minggu, 27 Desember 2009

My Cross from My Mom

Tak seorangpun tahu alir-mualir diriku, terkecuali keluarga yang telah membesarkanku. Aku terlahir dari buritan nafas-nafas yang tak pantas ditiru, karena agama apapun melarang hal itu. 2 bait keyakinan yang berbeda mencengkeram erat dalam diri orang tuaku, mengakibatkan diriku terbelenggu dalam kesuraman yang kian dalam kegelapannya. Aku tak pantas terlahir di dunia ini.
Keluarga yang menjadi idaman setiap orang itu telah menempatkan diriku dalam kasih sayang yang cukup untuk kumiliki. Seolah aku terlahir dari buritan nafas yang sempurna. Yaahh, sebuah kesempurnaan dalam sehelai benang yang benar-benar senada.
Derap langkahku kupercepat untuk menyongsong kelasku. Dan kupastikan kalung yang menggantung di leherku bergelayut riuh di balik kemeja seragamku. Sebuah benda hijau zamrud mirip samurai tajam bergelayut mengiringi si perak yang melingkar manis di leherku. Aku seperti putri kesultanan Usmani yang sedang terombang-ambing. Tak menentu, beginilah diriku.
“Megisa!!” seruan itu berhasil memperlamban langkahku. Sosok cowok berparas tampan dan berkulit kuning langsat itu, kini sudah menyamai langkahku. Tak kuhiraukan ucapannya karena aku sendiri terbelenggu oleh hati yang berkecamuk. Entah kenapa?! Yang jelas perasaan ini muncul akhir-akhir minggu ini. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. 13 jam lagi kakakku akan mengucap sumpah setianya.

Gaun berwarna putih selutut telah membalut tubuhku. Menjepit sebagian rambut panjangku dengan hiasan berbentuk bintang laut keperakan. Aku sengaja berdandan seperti ini untuk menghadiri pernikahan kakak perempuanku. Dan kalung salib berwarna hijau zamrud ini tetaplah menggantung di leherku.
Kini jajaran kursi-kursi panjang gereja St. Immanuel telah terpenuhi undangan. Mereka bisa juga dibilang sebagai saksi atas pernikahan kakakku dengan pemuda yang kini berprofesi sebagai dokter spesialis di rumah sakit milik ayah. Kupastikan dokter muda itu pasti sangat bahagia. Kaca mata minusnya menutupi mata sipitnya yang membuatnya kelihatan profesional.
Aku berdiri di barisan pertama dengan seikat bunga Lily putih di dalam genggamanku. Bunga ini kesukaan kakak, dia pasti akan senang bila bunga ini sebagai hadiah pernikahan untuknya. Di samping kiriku, pria paruh baya berhidung bengkok berdiri mematung melihat kakakku berjalan menuju altar didampingi oleh paman. Paman adalah ayah baptis kakak. Sosok pria paruh baya berhidung bengkok ini tak lain adalah ayahku. Dialah sosok yang menuntunku ke jalannya. Haruskah ayah yang mendampingi kakak menuju altar? Itu tidak berlaku untuk keluargaku.
Selang beberapa saat setelah seorang pendeta mengucap sabda perjanjian. Laki-laki itupun menyahutnya dengan sebuah janji setianya, setelah itu hening. Kenapa dengan kakakku? Bersediakah dia menikah? Kenapa hanya diam? Semua menunggu kakakku mengucap janji cinta itu. Menunggu, menunggu. Kulihat wajah ibu beraut cemas, sedangkan ayah tetap diam tanpa ekspresi. Pendeta itu mulai bertanya kembali pada perempuan yang tiba-tiba menjadi bisu di saat hari pernikahannya.
“Saudari Brinanda, apakah kau bersedia menikah dengan saudara Yonathan?” tanya pendeta memastikan. Kuhitung sudah 5 kali ini pertanyaan itu dilontarkan ke perempuan yang sengaja menjadi bisu. Kuruntuki kelakuan kakakku, apa dia gugup saking bahagianya sehingga satu kalimat pun sulit dia lontarkan? Anggukkan kepala pun tak bisa mewakili karena dia hanya diam membisu. Ingin rasanya aku mendekatinya lalu menjambak rambutnya supaya dia berteriak. Setidaknya mengucapkan satu kalimat saja. Menjawab kata “Iya” apa susahnya coba?
“Saudari Brinanda....” pendeta mencoba mengulang kembali pertanyaannya. Namun pertanyaan itu terpotong oleh suara yang sudah lekat kukenal, dan suara yang membuatku tak yakin akan pendengaranku.
“Aku ingin menjadi seorang biarawati....” itulah! Itulah suara yang ditunggu-tunggu. Namun, kalimat itu jauh melenceng. Kau kakak, iblis mana yang telah merasukimu? Kau akan menikah dengan laki-laki yang katanya kau cintai, dan kini kau berkata…argg! Sontak bunga yang sengaja kubeli khusus untuknya terjatuh tanpa kupedulikan lagi. Ayah hanya diam, namun wajahnya jelas menyiratkan keterkejutan yang sangat mendalam. Semua undangan riuh rendah bergumam. Siapa yang tidak terkejut bila mendengar pengakuan kakakku yang begitu memporak-porandakan seluruh hati yang mendengarnya. Kulihat pula wajah laki-laki yang sebelumnya terlihat bahagia, kini berubah pucat dalam temaram kenyataan pahit.
Ternyata perasaan yang berkecamuk yang kurasakan akhir-akhir ini, telah menandakan kenyataan pahit yang benar-benar terjadi.

Sore ini setelah aku menjalankan sholat mahgrib bersama ayah. Aku bergegas menemui ibu yang menangis tersedu sedan di ruang tamu. Kupakai kembali kalung salib itu. Semua orang pasti berpikir kehidupanku aneh. Aku seorang muslim, namun menggantungkan salib di leherku. Aku sendiri juga berfikaran begitu. Malahan aku berfikir kehidupanku luar biasa aneh. Kalau aku sedang akan menjalankan sholat, aku akan melepaskannya. Memang tak ada larangan dari ayah. Namun, mata itu membuatku mengerti akan sesuatu.
“Tiada Tuhan selain Allah...” kalimat yang tertuang dalam Al-Qur’an selalu meluncur dari ayah sesaat sebelum menjalankan sholat. Hanya lirih terdengar. Pria itu memang lembut namun, sorot matanya terlihat tegas, tajam berkilat-kilat. Aku melepasnya dengan hati-hati di balik mukena. Selalu dan akan begitu. Sedangkan ibuku, tak jauh beda dengan ayah. Ibu sosok yang lembut, dan tak pernah memarahiku. Posisiku seperti buah simalakama. Dimakan ayah akan mati, tak dimakan ibu yang akan mati. Ah, ayah, ibu! Aku tak mau durhaka pada kalian!
Aku tak tahu lagi bagaimana menghadapi keluargaku ini. Aku serba salah! Serba dosa! Aku berfikir kalau diriku ini adalah anak terkutuk. Karma, mungkinkah seperti yang kurasakan ini? Aku terlahir muslim, tidak dalam pembaptisan seperti kakak. Tapi kenapa ibu mengalungkan salib ini sejak aku terlahir di dunia? Ingin sekali kuberontak pada pemilik mata sendu itu. Namun, lagi-lagi aku teringat saat aku ingin melepasnya.
“Surga di telapak kaki ibu! Jangan sekali-kali kau melawan ibu!” dan, “Kalung ini akan menjadi pelindungmu, Juru Selamat akan selalu menyertaimu, Megisa!” begitulah kata pakunya. Aku langsung terdiam seribu bahasa, dan berjanji dalam hati tak akan mengulangi pikiran-pikiran atau kelakuan yang bisa membuat ibu kecewa. Terjadilah kalung bergantung salib ini menggantung di leherku selama aku hidup. Sebenarnya ayah mengetahui hal ini, tapi sosok pria itu sepertinya tak terlalu mempermasalahkan hal ini. Oh, aku teringat dulu ayah pernah berkata padaku,
“Megisa, anggaplah sebuah hiasan perakmu saja, dan jangan perlihatkan pada siapapun terkecuali keluarga, terutama ibumu!” aku menatap wajah berhidung bengkok itu. Jelas menyiratkan ayah sangat mencintai ibu. Sosok itu seolah tak mau wanita yang dicintainya kecewa lantaran aku tak memakai kalung bersalib ini. Aku mencoba berpikir sekuat-kuatnya, dan memberanikan diri untuk bertanya pada ayah.
“Ayah, kenapa ayah menikahi ibu?” aku tahu pertanyaan itu jawabannya pasti dilatar belakangi oleh cinta. Namun, ada sesuatu yang menjadi kebingunganku. “Bukankah muslim mengharamkan umatnya menikah dengan seorang non muslim?” ah, Tuhan! Pada kenyataannya pertanyaan itu hanya menggantung. Bibirku terasa kelu, seolah terbungkam sesuatu yang begitu berat, tak bisa digerakkan sedikitpun.
Aku duduk disamping ibu yang masih menangis. Kulihat kakakku hanya diam. Insiden di gereja tadi sore memang memalukan sekali. Sampai sekarang masih sulit kupercaya.
“Tenanglah!” gumam ayah yang mencoba menenangkan ibu yang berada di samping kirinya. 1 hal yang menjadi kekagumanku. Ayah dan ibu tak pernah marah satu sama lain. Tak pernah ribut. Setahuku menjadi anaknya begitu, kalaupun mereka benar-benar ribut, tak pernah nampak di mataku.
Ibu tetap saja masih menangis. Ayah dan ibu mungkin juga bingung seperti apa yang sedang aku rasakan terhadap kakak. Ayah menatap kakak, lama. Kemudian mulutnya bergerak pelan, seperti ada sesuatu yang ingin ayah ucapkan. Namun, gerakan kakak yang tiba-tiba merunduk di lutut ayah, membuat ayah kembali terdiam.
“Ayah, Ibu, maafkan Brinanda! Brinanda tak bermaksud mempermalukan nama baik keluarga! Hanya saja Brinanda ingin menjadi seorang biarawati!” ibu semakin tersedu mendengar pengakuan kakak.
“Apa kamu ada masalah dengan Yonathan sehingga membuatmu seperti ini?” tanya ayah dengan nada yang diatur sedemikian tenang.
“Tak ada masalah sedikitpun.”
“Lantas kenapa kamu membatalkan pernikahanmu sendiri? Dan....” ayah tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.
“Aku ingin menyerahkan seluruh hidupku pada Tuhan!” akunya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Apa dia tak berfikir bagaimana perasaan Ayah dan ibu? Terutama pada laki-laki yang mencintainya? Kurasa kakakku sudah gila. Segila-gilanya perempuan yang memang sudah hilang akal kewarasannya. Dia mengakui keinginannya begitu tiba-tiba. Tak habis pikir, kenapa saat sebelum upacara pernikahan yang disaksikan orang banyak dia tidak menolak laki-laki itu? Dia pikir hidup ini mainan yang bisa dia mainkan sesuka hatinya? Tak ada kamus dunia yang merelakan semua itu kakak! Kau telah mengkhianati cintamu sendiri. Kau pecundang! Dengan perasaan bergemuruh aku meninggalkan ruangan ini, karena aku sudah tak tahan dengan suasana yang sebelumnya tak pernah terselebat di benakku.

“Megisa!” gumam seseorang dari arah belakang dan aku dibuat terkejut oleh seorang cowok berkulit kuning langsat setelah membalikkan badanku. Sesuatu yang tak aku inginkan akan terjadi. Rahasia yang aku simpan selama hidupku dalam waktu ini akan terbongkar semua.
“Yu…Yusuf…” ujarku terbata. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, dan keringatku mengucur deras.
“Megisa!” suaranya lirih terdengar. Mungkin dia juga terkejut dengan pengelihatannya saat ini. Dia sangat dekat denganku. Tangan kanannya memegang salib hijau zamrud yang menggantung di leherku.
“Kenapa kamu ada disini?” tanyaku. Aku yakin ini sebuah rasa ketakutan. Ketakutan akan sebuah kejujuranku padanya. Apakah dia akan tetap mempercayaiku seperti sebelumnya?
Di depan gereja St. Immanuel, kami berdiri terdiam. Angin semilir berhasil menggoyakan rambut panjangku yang tergerai. Masih dalam keadaan diam, dia mencoba meraih pergelangan tanganku. Lalu menuntunku duduk di kursi panjang yang tak jauh dari situ.
“Megisa, kenapa kamu tak jujur padaku?”
“Harus kamu ketahui, kenapa aku berada di tempat ini! Kakakku akan menjadi seorang biarawati, pernikahannya gagal.”
“Kamu seorang Nasrani? Apakah kamu berpindah kepercayaan?” aku menggeleng pelan.
“Lantas?” matanya beralih ke salib kecil yang menggantung manis di kalung perak yang kupakai. Pertanyaannya terhujam berat di hatiku. Rasanya begitu sakit bila bibirku bergerak sedikit saja. Aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya pada seseorang yang sudah menaruh kepercayaan padaku.
“Maafkan aku!” gumamku nyaris tak terdengar. Airmataku mengalir. Aku merasa sangat bersalah padanya karena aku menyembunyikan sesuatu pada orang yang jelas mencintaiku selama ini.

“Nafasku...
Hatiku...
Dan degup jantungku...
Layaknya bulir-bulir padi yang meranum
Bila goyah tersibak angin
Ia akan bergemerincing layaknya lonceng yang bergulir
Mengikuti temali yang menjerat erat lubang hiasnya
Terombang-ambing,
Tanpa kepastian yang jelas…”

Kehidupaku akan selamanya seperti ini. Bila suatu saat nanti aku terbaring tak berdaya. Pertimbangan akhiratlah yang akan menjadi kebenaran. Betapa besar kekagumanku pada penguasa jagad ini, meski aku terperangkap pada sebuah terumbu kebimbangan.
Ibu mengalungkan salib itu di leherku, ayah mengajariku tadarus Al-Qur’an setiap malam, dan kini kakakku berdiri dengan pakaian biarawati. Itu semua adalah anugerah Allah yang diberikan padaku. Aku harus bisa menerimanya dengan keikhlasan hati. Meski pahit terasa manis, meski manis terasa hambar, meski tak sempurna adanya, perbedaan itu tetaplah akan melekat erat dalam jeruji-jeruji jantung dan peluhku. Ini bukanlah mimpi yang bertahun-tahun menghiasi tidurku. Ini adalah sebuah kenyataan.
Aku adalah seorang dari ratusan, ribuan, jutaan orang yang mengalami kenyataan seperti ini. Mungkin ada yang merasakan seperti yang sedang kurasakan selama ini. Terjerat dalam dua ikatan yang berbeda.
Kulihat bintang dalam temaram kegelapan. Kurasakan titik kearifan dalam kesuraman. Meski samar-samar, bila aku menggapainya dengan keteguhan hati. Maka hatiku akan terang layaknya cahaya yang berkelip itu.
“Ya Allah…Ya Tuhanku…berikanlah titik terang itu padaku! Seperti Engkau memberikan bintang pada kegelapan malam!” aku menunduk, merasakan bulir-bulir halus jatuh dari pelupuk mataku.
Selesai

Cerita ini sempat aku kirimkan ke dalam sayembara, dengan judul sehelai benang 2 warna teranyam. Dan aku nggak tau nasib naskahku sampai sekarang. Ah, sudahlah, biarlah waktu yang menjawabnya! Bukankah begitu Tuhan?! Segala sesuatu aku serahkan pada-Mu! ^_^

1 komentar:

  1. good,tetapi apakah ada kenyataan seperti itu?tetap berjuang megisa.......
    aku yakin....tuhan tidak pernah diam.....
    eh..ngemeng2 ada kelanjutane ola..???

    BalasHapus