Sabtu, 26 Desember 2009

Next Story_Love in Heaven_Part 3_Perulangan

Ulang tahunku ke 17, Papa da Mama menginginkan perayaan hari jadiku ini. Aku bahagia mendengarnya. Seperti saat ini, seorang wanita paruh baya dengan parasnya yang cantik mencoba merapikan gaunku. Tercium dari hidungku aromanya yang sejuk menawan.
“Bunda, tiada kata dapat kuucap karena sungguh bahagianya diriku memakai gaun seindah ini.” Ujarku. Lalu wanita itu membalikkan tubuhku perlahan, sehingga kami saling berhadapan.
“Membuat kecantikanmu semakin terang, anakku!” wanita itu mengulum senyum dari bibir tipisnya. Namun, mata itu tak dapat membohongi siapa pun yang melihatnya. Termasuk diriku. Lebam-lebam kemerahan akibat tangis yang terlalu dalam sangat jelas terlihat. Kini aku memeluknya.
“Akankah, Nicos bertandang di kebahagiaanku, bunda? Merasakan apa yang aku rasakan?!”
“Entahlah, anakku!”
“Bunda, tak ingin aku mendengar tangismu lagi!”
“Bunda tak sanggup…”
“Bunda…”
Dalam dekapannya yang hangat, aku merasakan hatinya merauk rapuh. Merindu dalam sepotong asa yang tak kunjung terobat. Selama masa dimana langit menetapkan kebiruannya yang semakin suram. Awan-awan hitam itu menyilimutinya, menyelubunginya, dan menggumpalkan kapas-kapas muramnya di dalam terang kebiruannya. Mendamba seorang anak yang selalu mengisi harinya hadir kembali. Dulu memang pernah ia rasakan tapi untuk saat ini, untuk saat akan datang, keraguan demi keraguan menyelimuti segala kepastiannya. Akankah bunda merasakan kebersamaan itu kembali, Tuhan?! Kumohon, jangan pisahkan mereka! Kupejamkan mataku sejenak. Benar-benar aku merasakan ketidak pastian.
::::-.-:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Seonggok cerita masa lalu,
Seorang biarawati rela melepaskan kerudungnya demi kebahagiaan orang tuanya yang merindu seorang malaikat kecil. Kalau saja Viona, adik bungsu satu-satunya itu tak meninggal di rumah peradapan bersama suaminya, atau andai Viona dan suminya sudah mempunyai malaikat kecil, dan kalau saja ayahnya tak berteman baik dengan ayah laki-laki yang ia temui di gereja beberapa tahun yang lalu. Mungkin saat ini, detik ini, ia masih mengenakan kerudung pengabdiannya dan masih tenggelam dengan kesucian di segala terumbu Tuhan. Rasa keibuan mungkin ada, namun tidak dapat disematkan dalam darah dagingnya. Tapi itu adalah pengandaian belaka. Saat ini benar adanya takdir Khaterin, ia menangis saat ia merasakan bahwa ini adalah cinta.
12.24.1990
Bertepatan dengan malam Natal. Pernikahan, kebahagiaan, dan segala pencerahan.
Apakah itu ia rasakan? Iya, tapi juga tidak.
Setelah ia melahirkan seorang malaikat kecil. Laki-laki yang menikahinya itu meninggalkannya. Memutuskan membuat pengakuan dosa dan kembali mengabdi pada Tuhan. Ia menangis. Merasakan getir-getir kepiluan yang sungguh tak siapa pun menginginkannya. Dalam dekapnya malaikat kecil itu tertidur pulas. Malaikat kecil itu belum tahu arti dari kekuatan tangisnya. Perempuan itu mengcupnya. Berjanji bahwa ia akan merawat malaikat kecil yang dititipkan Tuhan untuknya. Ia merasakan juga bahwa ini adalah kasih seorang ibu untuk anaknya. Rasa cinta yang merajuk pada suaminya itu memang tak terbalas. Namun ia yakin bahwa malaikat kecilnya lah yang akan membalasnya.
Tak sengaja air matanya menetes di pipi buntal seputih salju yang kemerah-merahan yang berada di dalam dekapannya. Perlahan mata bundar yang jernih itu mengerjap-ngerjap. Perempuan itu pun tersenyum dan mengecupnya kembali.
>>>>>>
Pesta ulang tahunku meriah sekali. Semua terlihat bahagia. Papa, mama, kak Karen, kak Yesaya, teman-teman dan semua keluarga berkumpul jadi satu di ruangan yang sengaja di dekorasi seindah ini. Tapi, serasa ada yang kurang. Nicos? Agnes? Dimana kalian berdua? Akankah kalian datang ke acaraku? Aku celingukan, sudah 1 jam acaraku dimulai. Tapi tetap saja tak kudapati sosok salah satu dari mereka. Aku menunduk. Lesu.
“Tak baik memasang wajah seperti itu di hari kebahagiaanmu!”
“Aku baik-baik saja. Aku bahagia. Kakak lanjutkan saja acara makan-makannya!” suruhku sehalus mungkin, tanpa sedikit pun memandangnya. Aku membalikkan badan, menatap temaram bulan di balik jendela. “Ah, kakak, kau juga mengecewakanku, seperti halnya Bapa pada Nicos!” Batinku bergelut resah.
“Kalau aku sudah ada disini, apa kau juga masih memasang murammu itu?” suara itu? Aku langsung membalikkan badan. Dia tersenyum tepat di samping kak Yesa.
“Ni…Nicos…” gagapku. Aku tak percaya. Wajah itu, senyum itu, lesung pipit itu…tidak!
“Yona. Ya, ini aku, Nicos.” Tegasnya. Sosok itu mulai mendekatiku. Kami dekat, berhadapan. Tak kudapati jubah hitamnya yang terakhir kulihat melekat di tubuhnya. 1 minggu lalu, tak seperti saat ini. Lihat, dia memakai blazer hitam dengan kemeja putih pemberianku.
“Nicos…” mataku mulai berkaca-kaca.
“Ya..” dia semakin dekat, memelukku.
“Aku bermimpi???..”
“Tidak! Ini nyata, Yona!” aku semakin terisak. Haruku tumpah ruah.
“Nicos…” kusebut namanya lagi. Mamastikan sosok yang memelukku kini adalah Nicos, memastikan pula bahwa aku tidak sedang mengalami mimpi jangka panjang. Aku membalas pelukannya. Erat.
“Yona, hentikan tangismu! Tak baik teman-teman melihatmu kacau seperti ini!”
“Aku bahagia…”
“Aku tahu perasaanmu, Yona! Tapi kumohon, bisakah kau melepaskan pelukanmu! Cukup lama kau memelukku. Lihatlah, teman-temen melihat ke arah kita!” katanya lembut.
“Tidak, Nicos! Aku tidak peduli!” kataku sambil terisak.
“Tak pantas kau menangis di hari kebahagiaan, Yona!”
“Cukup, Nicos! Sudah kubilang, aku bahagia!”
“Aku mengerti, Yona! Tapi…”
“Semua tak mengarti!!!!” teriakku. Semua mata memandangku. Aku melepaskan pelukan, Nicos. Selangkah sedikit mundur.
“Yona…” dia mencoba mendekatiku kembali. Kutatap matanya tajam. Lalu ke arah kak Yesa, mama, papa, dan semua teman-teman yang bingung akan sikapku ini.
“Yona, kau kenapa?” tanyanya. Tanya kak Yesa, Mama, Papa, semua bergumam seperti itu. Tiba-tiba ada seorang gadis mendekatiku. Aku langsung ambruk di dalam pelukkannya.
“Yona, kau kenapa?” tanyanya yang tak jauh berbeda. Mengelus rambutku perlahan. Tapi tanpa aku sadari, aku melepaskan pelukannya secara kasar. Hingga dia hampir tersungkur. Ada yang mencoba membantunya, namun samar-samar di mataku. Orang-orang itu berputar-putar di kepalaku. Berputar. Berputar. Sampai aku tak bisa menahannya. Kepalaku mulai mengelenyit tajam. Sakit, sesak, dan pandanganku mulai kabur sempurna.
>..
“Sayang,” aku terperanjat. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Laki-laki itu tersenyum manis ke arahku. Aku masih memakai gaun yang sama. Kulihat teman-teman menikmati pestaku.
“Ada apa, kakak mencariku?” tanyaku. Aku mendekatinya. Tanganku gemetar. Dia langsung menggandengku.
“Wajahmu pucat dan terlihat gugup! Kamu sakit, sayang?” belum dia menjawab pertanyaanku, justru dia balik bertanya padaku.
“Aku tidak apa. Kakak tak perlu mencemaskanku!” kataku mencoba meyakinkannya. Aku tersenyum, dia pun segera membalasku.
“Aku mencarimu dari tadi, acaranya segera dimulai, sayang! Pertahankan senyumu itu!” ujarnya sembari menuntunku.
“Kakak..bukankah tadi..”
“Sttt…cepatlah sedikit, bicaranya nanti saja! Teman-teman sudah menunggumu.” Aku menatap tiap penjuru. Mereka menatapku. Tersenyum, tertawa, bersorak. Dan di barisan paling kiri itu kudapati sosok Agnes dan Nicos berdampingan. Tersenyum, bahagia. Lalu aku langsung membalas senyuman mereka.
“Selamat ulang tahun…selamat ulang tahun….”
“Potong kuenya…potong kuenya…ayo, Yona, untuk siapa first cakenya?!!!” suara mereka, nyanyian mereka, mendengung-dengung di telingaku berulang-ulang..
“Yona…Happy Birth day…Yona…tiup lilinnya…katakan permohonanmu, Yona…Yona…”
“Tidaaaaaaaakkkkkk!!!!!!!” jeritku hingga menusuk telingaku sendiri.
>…
“Yona,” aku tersentak. Nicos menyentuh tanganku. Aku menatapnya yang berada di samping kananku.
“Yona, wajahmu terlihat pucat sekali!” aku menoleh ke sebelah kiriku. Agnes menyentuh keningku.
“Sayang, kamu tak apa kan?” seru kak Karen dan kak Yesa dari arah belakang secara bebarengan.
“Papa dan mama disini, sayang…” Papa dan mama menangis, menghampiriku dari arah depan.
“Kalian kenapa?” tanyaku bingung. Namun, suaraku serasa di telan bumi. Tak sedikitpun suara itu keluar.
Mereka menangis. Menangis. Memohon dan terus memohon. Wajah mereka semua dilumuri kekuatiran. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka semua? Tangisan mereka, raut wajah mereka. Suram.
Wajah-wajah itu kian menjauh. Namun, suara tangisan mereka mendengung-dengung hebat di telingaku. Aku menatap ke langit. Hitam. Gelap. Dadaku berdebar. Tanganku bergetar.
“Tuhaaaaannn….” Teriakku sekeras-kerasnya. Alhasil bukannya suaraku yang keluar, namun tubuhku justru terasa nyeri, sakit, dan mataku berat untuk kubuka sedikit saja.
---===----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar