Minggu, 10 Januari 2010

Diary 4 Januari 2010

Untuk 4 Januari 2010,...

Pagi ini aku masih diantar ayah berangkat sekolah. Seperti tahun lalu dan seperti yang sebelumnya terjadi aku tetap berpenampilan sekadarnya, alias biasa saja! Rabut sebahuku sengaja aku gulung lalu aku jepit secara melingkar.
Aku masuk kelas, lalu mengikuti upacara rutin hari senin. Sohib sekaligus teman sebangkuku nggak masuk. Katanya sih, belom puas nikmatin liburan di Jakarta. Well, tak apa lah! Ini bukan masalah besar ^^…
Pelajaran pertama bejalan lancar, tapi ada temen yang masih remeng-remeng jadi kena teguran lagi. Begini celetuk guruku padanya,
“Mas, sono ke kantin dulu, ngunyah cabe dulu biar nggak ngantuk!” otomatis seisi kelas langsung ngakak-ngakak nggak jelas.
Pelajaran kedua berlangsung 2 jam pula, nyatat bahasa Jepang bab denah perkotaan. Selanjutnya Ekonomi diterangin bab wirausaha. Lucunya di pelajaran yang berlangsung 60 menit ini nyrebet-nyrebet ke plem-plem jamannya wiro sableng. Nggak nyambung ama pelajaranya tapi anak-anak justru ngakak-ngakak. “212” atau “121” ya? Wkwk…to lah lupa? Haha…
Lanjut pelajaran terakhir bahasa inggris. Tugas hari ini ngapalin dialog bahasa inggris dan saat itu juga harus diambil nilainya otomatis harus maju.
Well,
2009 lalu, aku emang agak-agak nggak PD kalau disuruh maju di depan kelas. Apalagi harus cakap. Bukane rasa minder tapi karena faktor susah ngungkapin sesuatu secara langsung di depan umum. Tapi pada akhirnya di tahun 2010 ini berjalan lancar. Meski kata “Time” yang aku ucapin pada bagian akhir kalimat agak lirih terdengar. Jadi Mr. Heri langsung ralat. Terdapat kesalahpahaman tapi sempat kudengar kata “Good” meluncur dari mulut Mr. Heri. Entah ditujukan pada siapa yang jelas yang di depan tadi hanya ada aku dan patnerku saja. Gugupkah aku? Jujur saja, “Iya” konyol bukan? BGT! Haha….
Pulang aku naik bus. Lalu naik angkot. Waktu angkot udah berjalan, aku suruh pak angkot berhentiin angkotnya di depan agen langgananku. Transaksi udah berlangsung beberapa hari yang lalu lewat HP. Jadi sekarang tinggal tuker tempat. 15 ribu buat mbak Eka, Majalah kaWanku edisi 63 berhasil jatuh di tanganku. Aku pamit segera soalnya kasian pak angkotnya nunggu lama. Salam pisah. Masuk angkot, angkot melaju lumayan kenceng. Lalu berhenti di perempatan. Bunda udah nunggu buat jemput aku. Trus kita pulang deh!
Sampe rumah, aku makan, buka majalah yang barusan aku beli. Semua sudah aku serahin ama Tuhan. Fillingku mengatakan tidak dan ternyata aku tidak menang lomba. Tapi nggak apa, aku berfikir mungkin ini belum rezekiku. Yah, kecewa sih ada tapi mungkin masih ada kesempatan yang lain lah!!!!! Haha….
Hmm…aku jadi inget waktu buat cerpen itu, memoriku melemparku ke masa-masa itu. Maklum ini diary pertamaku, jujur nggak pernah nulis catatan harian sebelumnya. Hehe…
Kala itu aku beli majalah kaWanku edisi 57 kalau nggak salah. Iya, baner kok, soalnya aku cek lagi nih! Haha…
Nah, aku lihat ada formulir lomba cerpen kaWanku 2009. ikut? Enggak? Ikut? Enggak? Akhirnya aku putuskan ikut setelah merasakan kekalahan pada tahun 2008. Perasaan aku kalah terus ya? Haha…gpp! Yang jelas aku Happy lah udah diberi Tuhan kesempatan buat nulis. Iya nggak diary? Sorry, aku baru bisa isi kamu sekarang! Hehe…^^
Masalahnya saat itu,
Udah kelas 3, nggak lama lagi ujian.
Lama nggak nyentuh pulpen ama kertas buat merimajinasi ria. Jadwal padet ampe malem, pulang udah capek, buat PR, selanjutnya ketiduran. Bangun pagi-pagi buat belajar setelah sholat tahajud. Tuh, kan kapan aku harus nulis?
Waktu itu, masih inget banget aku,
Minggu habis ikut try out di tempat Lesku , aku mampir sebentar ke warnet yang nggak jauh dari situ. Buka facebook, ngobrol ma temen-temen lewat chat sambil ngulek-ngulek tulisan basi. Dibilang basi juga nggak soalnya aku tulis tuh cerpen pas liburan akhir semerter dua lalu.
Sebentar…



Eee…maaf Diary! Tadi tibe-tibe aje perutku mulas,
Habis buang hajat, kata mas Radit “alias BOKER” hehe…
Ah, jangan di bahas lagi! Kata mami “Pamali kalo ditulis sembarangan,”
Kan mami yang bilang, bukan Tuhan. Jadi nggak apa! Hehe…[ngeyel ya gue?]
Lanjut..
Sampe mana tadi? Oh, ya, akhir semester 2. Buatnya kan akhir semester 2 tapi baru aku post’in sekitar bulan oktober/november kalo nggak salah. Lupa-lupa ingak! Tapi banyak lupanya!...
Aku simpen tuh cerpenku di flast. Di rumah aku baca-baca lagi, lagi dan lagi. Aku edit, akhir’e beres. Aku berfikir kalo pake cerpenku yang ini nggak masalah bukan? Aku baca formulirnya masih ada waktu 2 pekan.
1 pekan selanjutnya,
Hari iku sabtu. Pulang sekulah, kepalaku denyut-denyut nggak karuan. Takut terjadi infeksi stres berkelanjutan maka aku putuskan buat mengelipuskan raga di tempat tidur. Pas bangun udah jam 6 sore. Baaaahhhh….ternyata di luar hujan, pantes aja tidurku serasa di sorga, lelap abis! Herannya waktu itu bunda nggak bangunin aku. Kasian katanya!
Aku mandi, ganti baju, makan trus buka komputer. Baca persyaratan lomba lagi. Oh, dua cerpen? Imajinasiku mulai berkibar-kibar. Buat satu lagi! Aku mulai ngetik-ngetik. Pokonya yang ada di kepalaku keluar sudah. Saking semangatnya, akhirnya cerpenku yang ini jadi dalam tempo 30 menit dengan 8 lembar kertas folio. Aku kaget! Tumben! Haha…[aku garuk-garuk kepala]
Soal nama tokoh udah aku pikirin jauh sebelum aku buat ini. Sengaja browsing di kolom ramalan nama, yah untuk mendukung setidaknya. Soalnya aku nggak mau menulis asal-asalan aja!
3 hari sebelum tanggal 10 desember 2009. Gila, kok mepet banget ya? Nggak nyadar kesibukanku menjelang ujian nasional membuatku melupakan untuk mengirim naskah ke redaksi. Pulang sekolah, aku sempetin baca sekali lagi. Mengingat waktu yang nggak memungkinkan lewat jalur pos Indonesia akhirnya lewat e-mail pun jadi.
Yahhh, kembali ke dunia nyata. Itu kan kenanganku dan kenyataannya aku nggak bisa nyebet juara 1 lagi seperti tahun sebelumnya. Wohohooooo…aku malah ngakak-ngakak sendiri. Aku langsung sms sobatku, Wiwik yang udah dukung aku awal mpe akir. Dan untuk temen-temen yang lain makasih banget udah dukung aku sepenuh’e. Yang minta kalung salib baru dan makan2 kaya’e sementara ditunda dulu.
Aku sms dia,
“Kabar duka….aQ kalah, sis!
Hehe..tp gpp. Mngkn ini blom rjkiQ trz ps bca saingan’e gila abz 2512..ckck..
M!f y! lom bs beliin DUREN! Hehe…”
2 menit kira2…
“y gpp! Tp u hrs ttp b’usha!
U pzt bs jd pnlis bsr!”
“Hehe…thax! Km ud dkung aQ mpe akir aQ ud sneng biud! Mg ae tlisanku yg laen dlirik
ma pnerbt! Wkwkhehe…”
“Amin2! Mg2 ksmpean, hehe..
Q sbel kii, ma paijo ku!”
“What? Paijo? Spa ikk? Wkwkwk..”
Pada akhir’e kita malah sms’an ngalur ngidul…haha…
4 desember 2010. ahhh…segala karunia Tuhan adalah segala hal yang kita dapatkan dan harus disyukuri. Termasuk keberhasilan maupun ketidak berhasilan. Bukankah begitu kaWanku? Eh, diaryku sayang, kamu setuju bukan?
“Iya”
Haha…
Ketauan deh yang jawab aku sendiri. Wkwkwk….
Hemmmm…^_^ ckck…

Sebuah Perasaan, bukanlah suatu pemikiran!

Untuk merasa ingin menjadi orang hebat…
Sesuatu yang handal namun kenapa terlihat tak nampak professional,
Aku menulis sesuatu yang aku anggap bisa menuntaskan perasaan dan fikiranku,
Bukan suatu penghalang menuju kehidupan,
Mungkin bisa dibilang untuk mengabadikan suatu penekanan hidup.
Sebenernya kalau dulu ada sebuah pilihan untuk hidup atau mati sebelum benar-benar menjadi onggokan dunia. 1 kali dalam kapasitas tinggi aku bakal milih mati. Karena Tuhan tak memungkinkan aku untuk memilih akhirnya kehidupanku pun dimulai.

Awalnya aku harus mengakui,
Aku nggak pintar seperti orang-orang hebat itu,
Prestasi sekolah biasa-biasa aja, dan aku bukanlah orang special di mata orang yang melihatku. Biasa. Itu sudah cukup. Tapi kok rasanya aku pesimis banget ya? Yahh, memang keadaan seperti itu. Sebentar, aku harus melakukan perubahan.

Nggak pernah menyangka Tuhan beri aku suatu pandangan yang baru.
Temanku lumayan banyak. Nggak perlu risau kalau ada yang membenciku. Karena aku masih mempunyai malaikat penjaga. Semua manusia pasti memilikinya.

Aku orangnya perasa. Jadi dari sorot mata mereka antara suka dan tak suka aku dapat menjamahnya. Ah, entahlah! Tiba-tiba aku jadi bisa membaca sorot matanya atau raut mukanya. Mengherankan! Tapi bisa gila kalau harus dihadapkan pada sebuah kenyataan hidupku. Liku-liku aneh.

Aku mencoba menulis sesuatu, pertama kali mencoba berimajinasi.
Kalimat semrawut. Tanda baca awut-awut. Alhasil, aku pun hanya mrengut.

Dulu sebelum aku mengalami mimpi buruk berkepanjangan, aku merasa aku akan mati dengan segera. Hidungku sering mengeluarkan darah alias mimisan. Aku pikir aku terjangkit penyakit mematikan yang nggak bakal sembuh. Tapi, Tuhan beri suatu hal yang sulit aku terima. Mimpi buruk! Yah, aku sering mengalaminya setiap malam.

Doa selalu aku panjatkan! Malam bukan untuk sekawanan iblis yang semena-mena menggangguku, tapi aku juga butuh suatu ketenangan. Ketakutan selalu menjalariku, rasa kantuk yang teramat sangat, namun aku takut untuk memejamkan mata sedikit saja.

Suatu kali aku pernah mengatakan,
“Angin selalu berputar…bukankah ini siklus kehidupan yang engkau berikan, Tuhan!”
Hanya temaram lilin yang menemaniku. Ini bukan puncak, kebahagiaanku direnggut oleh mimpi buruk.

Merasa diriku dipenuhi ketakutan. Akhirnya aku menulis ini! T.T

“Karena apa kau hidup anakku?”
“Karena Tuhan menakdirkanku tidur di pualam ini, Bapa!”
“Bukan anakku, dapatkah kau memahami dari sudut pandang lain?”
“Seperti rusuk, Bapa! Aku harus mencari ruas rusuk yang dapat menyematkanku di dalamnya! Lalu, keharusanku untuk lebih memahami sebuah alur dan ketepatan yang mungkin aku sulit memahaminya.”
“Lalu,!”
“Seperti perasaan berkabung, aku menangis tanpa air mata, Bapa!”
“Kalau mimpi tak lagi mimpi maka seruan apa yang akan kamu panjatkan pada Tuhan Allah-mu, anakku!”
“Coba lihatlah, Bapa!” aku mengangkat tanganku menghadap langit yang mengumandang kebiruannya, “Sungguh mulia Tuhanku, Bapa! Tanganku seakan-akan menyentuhnya. Meski ini suatu kemustahilan, namun aku jadi mengerti mengapa Tuhan takdirkan aku disini!” kulihat Bapa tersenyum tipis.
“Anakku, sungguh mulia hatimu!” aku membalas senyumnya.
“Tiada yang mulia selain Tuhan, Bapa!” jawabku lalu kembali menatap cowok yang terpejam dalam pembaringan terakhirnya.


Kini saatnya mengetahui bahwa jiwa tak lagi untuk diperdebatkan di dunia. Kuusap pelan parasnya untuk terakhir kali.

“Aku mencintaimu!” gumamku lirih, menahan airmataku yang hampir menetes. Toh airmata itu akhirnya lebih cepat jatuh.