Kata kunci: sampah.percaya.agama.Tuhan
Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu perbincangan ini, hari selasa.
Masih masuk kuliah padahal besok hari raya haji
(Angin) *”Apa pengaruhnya?”
Tidak ada pengaruhnya juga antara masuk kuliah dengan hari raya. Hanya saja rasanya ingin libur seperti temen-temen yang berhasil nge-lobi dosen. Lihat tuh FKIP – liburan satu minggu! Kembali lagi dengan nilai C di tangan, mau kamu?
Oke-oke—ke topik masalah yang bagiku bukan masalah. Berkumpul dengan teman-teman sebelum dosen masuk. Awalnya kita membahas tugas yang akan dikumpulkan. Tapi lama-lama terdengar perseteruan. Gara-gara sampah makanan.
(Aku)-“Kok di buang di situ?” –liat A buang di bawah semak-semak.
(Teman A)-“Biarin! Apa gunanya tukang kebun digaji? Enakan dong mereka kalau aku buang ke tong sampah, mareka hanya makan gaji buta!” des..
(Teman B)-“Iya. Tenang aja aku juga mau buang sampahku di situ..haha…”
(Teman C dan D)-diem. Aku juga diem. Membatin dengan senyum miris.
“ITU TUH WARGA NEGARA INDONESIA!”
Sebenarnya aku mau bilang begitu secara langsung dan bilang ”Kesadaran itu mulai dari diri sendiri.” Tapi aku diem karena kalau dilanjutin bisa panjang. Aku tidak suka debat kusir. Yah, menandakan kalau aku bodoh sekali. Orang seperti mereka itu sudah stadium akhirnya orang Indonesia asli bila menyangkut prasoal sampah.
Perbincangan merembet lagi, ini gara-gara teman C bicara soal sampah. Masih soal sampah.
(Teman C) “kamu harusnya membuang sampah di tong sampah! Dosa!”
(Teman A) “Dosa?”
(Teman B) “Di mata manusia itu baik tapi belum tentu di mata Tuhan baik apalagi dosa? Yang nilai kan Tuhan bukan manusia.
(Aku) ”Iya bagus pemikiranmu. Tapi sayangnya salah menerapkan!“
(Teman A) “Aku tuh percaya sama Allah!” langsung aku samber.
(Aku) “Berarti tidak percaya denganku? Dengan teman-teman yang lain.”
(Teman A) “Allah.”
(Teman C) “Yo, tidak begitu saja. Kamu juga harus percaya sama teman.”
(Teman A) “Aku percaya sama Allah!” Ngotot.
(Aku) “Oke..aku pegang kata-katamu!”
(Teman A) “Pegang saja!”
(Aku) “Oke..ingat itu!” kulihat wajahnya kalang kabut. Haha…
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya di benak A. Dia itu terlalu menjunjung emosinya. Baru saja soal sampah yang praktis saja, emosi sudah memuncak apalagi kalau menanggapi soal kepercayaan. Haha..memalukan kalau ada yang dengar. Sekarang begini, ikuti cara berfikirku:
Dia percaya dengan Allah. Dengan gamblang dia koarkan kepadaku dan teman-teman yang lain. Saking percayanya kepada Tuhannya, dia lupa posisinya ada di mana. Aku tahu dia baik dalam keyakinannya dengan cara mengatakan hal itu. Dia berusaha meyakinkan teman-teman kalau dia sangat percaya pada Allah. Hingga secara tidak dia sadari, mengatakan bahwa dia itu tidak percaya dengan kami.
Tidak percaya dengan kami=tidak percaya pada Allah=ucapanya barusan hanyalah omong kosong. Manusia yang mengaku dirinya percaya pada eksistensi yang paling tinggi di depan lawan bicara, hal itu justru menandakan bahwa dia mempunyai nilai nol besar menyangkut agamanya. Khususnya dalam kasus seperti di atas.
Bayangkan, aku di sini adalah manusia. Manusia yang diciptakan Tuhan untuk menjadi makhluk individu sekaligus sosial. Sendiri dalam penerapan kepercayaan tapi tidak mampu sendiri bila dihadapkan di suatu tempat yang disebut dunia. Untuk apa Tuhan mempertemukan aku dengan kamu? Itu yang harus dijawab.
Esoknya. Aku duduk di depan A. Aku bertanya-tanya dalam hati, kasihan sekali! Seharusnya dia tidak perlu mengatakan rasa percayanya yang terlalu berlebihan tersebut. Buktinya sekarang dia berkumpul dengan kami. Berbicara dengan kami. Apa yang dia lupakan saat ini?
Tuhan. Dia melupakan kepercayaannya kepada Tuhan. Bila dia masih memegang katanya “Aku hanya percaya pada Allah.” Lalu kenapa berbincang dengan kami?
Membuang sampah sembarangan itu membuat kotor. Kotor itu tidak sedap dipandang mata. Lalu, bagaimana anda mampu percaya pada Tuhan? Kalau hal sekecil saja anda sepelekan seperti itu.
Haha…
Kesimpulan-ini bukti bahwa Indonesia memang gudang sampah. Tidak ada kesadaran diri, untuk apa pemerintah menyediakan tong sampah?! Saya kira memang percuma tempat sampah itu berada di Indonesia. Lebih baik di jual saja ke luar negeri! Ya, kalau bisa laku itu jempol besar haha…
Satu lagi –“Tidak perlu mengatakan secara ngotot kalau percaya pada Tuhan, kalau moral masih di bawah standar. Haha…
Di sini aku hanya ingin mengeluarkan isi otakku karena aku tidak mampu menyimpannya. Jadi lebih baik aku tulis, entah siapa yang membaca. Aku hanya berharap pembaca tidak salah mengartikan pola pikirku yang sedemikian rumit ini. Rumit bagimu belum tentu rumit bagiku!