Jumat, 19 November 2010

Lagi-lagi DEBAT “WOI TUHAN”


Kata kunci: sampah.percaya.agama.Tuhan
Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu perbincangan ini, hari selasa.
Masih masuk kuliah padahal besok hari raya haji
(Angin) *”Apa pengaruhnya?”
Tidak ada pengaruhnya juga antara masuk kuliah dengan hari raya. Hanya saja rasanya ingin libur seperti temen-temen yang berhasil nge-lobi dosen. Lihat tuh FKIP – liburan satu minggu! Kembali lagi dengan nilai C di tangan, mau kamu?
Oke-oke—ke topik masalah yang bagiku bukan masalah. Berkumpul dengan teman-teman sebelum dosen masuk. Awalnya kita membahas tugas yang akan dikumpulkan. Tapi lama-lama terdengar perseteruan. Gara-gara sampah makanan.
(Aku)-“Kok di buang di situ?” –liat A buang di bawah semak-semak.
(Teman A)-“Biarin! Apa gunanya tukang kebun digaji? Enakan dong mereka kalau aku buang ke tong sampah, mareka hanya makan gaji buta!” des..
(Teman B)-“Iya. Tenang aja aku juga mau buang sampahku di situ..haha…”
(Teman C dan D)-diem. Aku juga diem. Membatin dengan senyum miris.
“ITU TUH WARGA NEGARA INDONESIA!”
Sebenarnya aku mau bilang begitu secara langsung dan bilang ”Kesadaran itu mulai dari diri sendiri.” Tapi aku diem karena kalau dilanjutin bisa panjang. Aku tidak suka debat kusir. Yah, menandakan kalau aku bodoh sekali. Orang seperti mereka itu sudah stadium akhirnya orang Indonesia asli bila menyangkut prasoal sampah.
Perbincangan merembet lagi, ini gara-gara teman C bicara soal sampah. Masih soal sampah.
(Teman C) “kamu harusnya membuang sampah di tong sampah! Dosa!”
(Teman A) “Dosa?”
(Teman B) “Di mata manusia itu baik tapi belum tentu di mata Tuhan baik apalagi dosa? Yang nilai kan Tuhan bukan manusia.
(Aku) ”Iya bagus pemikiranmu. Tapi sayangnya salah menerapkan!“
(Teman A) “Aku tuh percaya sama Allah!” langsung aku samber.
(Aku) “Berarti tidak percaya denganku? Dengan teman-teman yang lain.”
(Teman A) “Allah.”
(Teman C) “Yo, tidak begitu saja. Kamu juga harus percaya sama teman.”
(Teman A) “Aku percaya sama Allah!” Ngotot.
 (Aku) “Oke..aku pegang kata-katamu!”
(Teman A) “Pegang saja!”
(Aku) “Oke..ingat itu!” kulihat wajahnya kalang kabut. Haha…
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya di benak A. Dia itu terlalu menjunjung emosinya. Baru saja soal sampah yang praktis saja, emosi sudah memuncak apalagi kalau menanggapi soal kepercayaan. Haha..memalukan kalau ada yang dengar. Sekarang begini, ikuti cara berfikirku:
Dia percaya dengan Allah. Dengan gamblang dia koarkan kepadaku dan teman-teman yang lain. Saking percayanya kepada Tuhannya, dia lupa posisinya ada di mana. Aku tahu dia baik dalam keyakinannya dengan cara mengatakan hal itu. Dia berusaha meyakinkan teman-teman kalau dia sangat percaya  pada Allah. Hingga secara tidak dia sadari, mengatakan bahwa dia itu tidak percaya dengan kami.
Tidak percaya dengan kami=tidak percaya pada Allah=ucapanya barusan hanyalah omong kosong. Manusia yang mengaku dirinya percaya pada eksistensi yang paling tinggi di depan lawan bicara, hal itu justru menandakan bahwa dia mempunyai nilai nol besar menyangkut agamanya. Khususnya dalam kasus seperti di atas.
Bayangkan, aku di sini adalah manusia. Manusia yang diciptakan Tuhan untuk menjadi makhluk individu sekaligus sosial. Sendiri dalam penerapan kepercayaan tapi tidak mampu sendiri bila dihadapkan di suatu tempat yang disebut dunia. Untuk apa Tuhan mempertemukan aku dengan kamu? Itu yang harus dijawab.
Esoknya. Aku duduk di depan A. Aku bertanya-tanya dalam hati, kasihan sekali! Seharusnya dia tidak perlu mengatakan rasa percayanya yang terlalu berlebihan tersebut. Buktinya sekarang dia berkumpul dengan kami. Berbicara dengan kami. Apa yang dia lupakan saat ini?
Tuhan. Dia melupakan kepercayaannya kepada Tuhan. Bila dia masih memegang katanya “Aku hanya percaya pada Allah.” Lalu kenapa berbincang dengan kami?
Membuang sampah sembarangan itu membuat kotor. Kotor itu tidak sedap dipandang mata. Lalu, bagaimana anda mampu percaya pada Tuhan? Kalau hal sekecil saja anda sepelekan seperti itu.
Haha…
Kesimpulan-ini bukti bahwa Indonesia memang gudang sampah. Tidak ada kesadaran diri, untuk apa pemerintah menyediakan tong sampah?! Saya kira memang percuma tempat sampah itu berada di Indonesia. Lebih baik di jual saja ke luar negeri! Ya, kalau bisa laku itu jempol besar haha…
Satu lagi –“Tidak perlu mengatakan secara ngotot kalau percaya pada Tuhan, kalau moral masih di bawah standar. Haha…
Di sini aku hanya ingin mengeluarkan isi otakku karena aku tidak mampu menyimpannya. Jadi lebih baik aku tulis, entah siapa yang membaca. Aku hanya berharap pembaca tidak salah mengartikan pola pikirku yang sedemikian rumit ini. Rumit bagimu belum tentu rumit bagiku!


Senin, 15 November 2010

UJIAN LISAN DADAKAN --- MATERIAL SEJARAH SASTRA


Pembimbing Pak Dwi Susanto (maniak Tionghoa)
Betapa senengnya sampai pingin gampar temen yang ada di sampingku.
Ujian pertama Sejarah Sastra lulus, dengan topik perbincangan yang hangat untuk telinga pembimbing.
Tapi itu ternyata level pertama-masih ada level kedua.
“Nanti makalah yang tidak dikembalikan, harap ke kantor! Saya akan minta pertanggung jawaban kalian!” (waktu denger rasanya pingin muntah)
“Gile lu!” bisikku sembari memandang temenku yang mengeluh. Nih, umpatan cocok untuk temenku atao pak dosen? Tau deh, silakan anda pilih sendiri!
Aku sih tenang-tenang saja, “aku kan pinter jadi ngapain takut segala, hanya orang bodohlah yang takut!” diem. Aku diem. Mikir. “Aku pinter ya?” Teman-teman yang makalahnya dikembalikan dan nggak dikembalikan sama saja kisruhnya. Binggunglah! “Kepiye iki?” “Aku rung siap!” “Aduh!” bla..bla..
Aku diam.
Aku ngobrol.
“Babat aja pak Dwi!” kataku pada mereka. Tapi kata-kataku nggak ngaruh, mereka pada sibuk “Bagaimana?” dan “Nggak nyangka nih?” dan “Aduh boo..beneran nggak nih?”  dan lain-lain.
“Gimana caranya babat?”
“Tarik kesimpulan, dan ngomong aja apa yang ingin kamu omongkan!”
??? (binggung)
---
Masuk bersama satu teman.
Di dalem kantor masih ada beberapa pak Dosen. Pak Kaswan terutama—sebelum pak Dwi nguji nih—ditanya tuh Pak Dwi---
“Kapan nih Wo Ai Ni ya?” Pak Dwi hanya membalas dengan gelaknya.
Yang menarik buat saya di sini tuh bukan Pak Dwinya atau Pak Kaswannya atau Pak Botak..entah saya belum mengenalnya atau Pak Taufik yang baru datang.
Saya tertarik pada kata “Kapan nih Wo Ai Ninya?” (said via Pak Kaswan)
Wo=Saya
Ai=Cinta
Ni=Kamu
Trus klu diartikan dengan digabungkan dengan kalimatnya jadi “Kapan nih Aku Cinta Kamu-nya?”
Haha…(dalam hati ngakak-ngakak-nggak puas-niat nanti pas keluar ruangan tereak-tereak).
Duh..Babe Sodara Kaswan..Linguistik lhoh ya! ----.-----(Wo ai ni…lalala…lalala..lulu…).
duduk-"Kemaren kamu datang ya? Saya perhatikan!" --(Aduh! waktu seminar di MIPA tuh-banyak teman2 yang mencoba mendekati dosen biar dihafali-tapi saya sangat kecewa dengan muka saya-belum apa2 saya sudah dihafali dosen! @.@---aaaaa...aku belum siap populer---HAHAHA--gaya-MR. BLACK-Tunggu Pembalasanku!-koyo'e nggak nyambung) 
“Ini nih kesukaan saya!” ujar pak dosen setelah menenteng-nenteng makalah saya. Ujian..ujian..aku malah cengengesan.  Trus ditaruh di belakang..(aduh je..temenku duluan deh!).
Teman di uji. Aku diem. Tapi sedetik kemudian malah jawab pertanyaannya. Haha…aku tahu lhoh je!
Tiba giliranku-
Aku cengengesan. Ini bukti aku bukan sosok seperti pak Dwi atau pun seperti teman saya yang barusan di uji. Kalau yang nanya serius dengan ekspresi tegang, dan aku membalas menjawab dengan begitu pula hhmm..akibat bisa fatal-mulutku malah kagak bisa ngomong nanti.
“Apa dinamika?”
“Apa Nasionalisme?”
“Kenapa kamu ambil Karya kwee, padahal bukan sastrawan, dia adalah wartawan?”
“Apa alesannya?”
“Maksudnya gambar ini uh apa?”
Buahahahaha…MAMPUS GUE!
*imajinasi
“Apaan tuh Pak? Singkong atau Keju? Jawa apa Belanda?”
“Cina gitu lho!”
Lanjut—
Jawabanku 2 diantaranya aman, meski agak muter-muter. 2 berikutnya juga aman sekali-alias aku puter-puter juga. Poko’nya aku puter-puter. Nih, otak meyakinkan tapi jawaban yang keluar nggak mau ngeluarin kata yang meyakinkan!
“Aku benci mulutku!!!” bodoh! Bodoh! (mulutku pengkhianat-pingin aku gampar-tapi nanti isa sakit-T.T)
-jawabanku  setelah aku revisi-*jawaban dibawah dalam sastra tionghoa
Dinamika* adalah pergerakan sastra melayu tionghoa yang dapat menyesuaikan secara memadai terhadap keadaan. Atau adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Contohnya seperti yang aku tulis-antara karya Pak Kwee dan karya Pak Alisyahbana.
Nasionalisme adalah semangat juang menegakkan bangsa Indonesia. Cinta Indonesia!!!
Karena di dalam karya Kwee mengandung budaya, politik dan ideology pada masa terbentuknya sejarah sastra tertutama sastra favorit bapak.
Alesannya..(saya ingat konsep sastra-obyektif mind-pemikiran yang diobyektifkan-budaya, politik, ideology)
Itu gambar sebagai bukti, kalau karya-karya Kwee itu mempunyai sifat NASIONALIS!
Heh, bapak..nulis aja saya uda mau muntah eee…masih ditanya2!!! Mendadak lagi!
ToT…nilai A memang hanya untuk penguji!
Nasibku bagaimana?
Yang jelas aku udah paham. Berpengalaman.
“Mbak nanti kalo ujian skripsi jangan cengegesan ya!”
“Oke deh, mbah Marijan!”
Tiba-tiba aku ingat mbah Marijan. Aku telah mengecewakannya. “Ohhh..simbah!!!! where are you?? Heaven or hell????”
Kesimpulan---
Sebenarnya pertanyaannya sederhana (karena kalimatnya aku sederhanakan)..hanya saja aku-nya atau pengujinya yang mbulet. .entahleh!..pertanyaannya mbulet jawabnya juga harus mbulet.
“Ya,,sudah panggil temannya!”
“Y” (Keluar dengan mendoakan) “Semoga Tuhan memberkati Bapak hingga meloloskan saya dengan temperament tinggi-nilai untuk saya penuh kontraversi-antara A dan B) kalo nilaiku C-berarti keterlaluan anda! (saya kerjakan susah payah-sendiri pula-masih lagi harus menjawab pertanyaan dari teman2 yang blum paham-ini sudah titik penyiksaan)
Saya kerjakan dengan bantuan Mbah Google.buku. dan otak saya sendiri.
Kedua-aku kerjakan mengulang 2 kali-
Sebenarnya aku ambil Oey tambah sia..tapi isinya jadi Kwee Thiam Tjing karena aku hanya punya buku Tionghoa di Batavia dan huru hara 1740-an-itu nggak cukup kalo mau bahas Oey tambah sia..buatnya 2 hari pula. Sabtu dan minggu. Karena aku adalah orang sibuk(haha..sibuk?!)
Dan terima kasih kepada Bapak Yang Paling Keren yang sudah berpusing-pusing ria berdiskusi dengan saya..Bpk Stephen Suleeman jeng…jeng…!
Dan prediksi pertanyaan yang keluar ternyata noL besar—ini yang ada di otakku sebelum di uji-buat pertanyaan sendiri dan dijawab sendiri.
“Kenapa pilih Kwee?”
“Karena Pak Kwee tampan, Pak!”
“Hmmm..” (tampang nggak terima karena tersaingi)
“Kamu suka melayu tiongkok?”
“Tidak. Saya suka Confuse.”
“Kenapa tidak suka?”
“Karena saya ingin menerapkan secara langsung apa itu yang dinamakan obyektif mind!”
“Caranya?” (mulai tertarik)
“Belajar Analek. Terapkan langsung kepada umat!”
“???” (binggung)
(jawabanya cari tau sendiri-kenapa Analek?) *apa hubungannya dengan obyektif mind!
(saya berhasiL! Berhasil membuat binggung)
Sesi ke-dua
“Tapi ini kamu ambil melayu Tiongkok! Kenapa?”
“Karena Bapak  maniak Tiongkok, jadi saya tulis itu!”
“hmm..(mikir)..Oke! alasanmu sakral!”
“hehe..” (melotot)
Sesi ke-3
Pemasalahan yang aku bahas di makalahku kan KENAPA MELAYU TIONGKOK –dianggap rendah-perbandingan antara tulisan Kwee dan Alisyahbana..dan di situ aku jawab-karena kanonisasi-Belanda terancam bila melayu Tiongkok tidak disingkirkan- melayu tiongkok  sebagai bukti dalam pembentukan bangsa. Pokok’nya sing nglawan Belanda nggak entuk masuk.
POKOKNYA INTI SAYA MEMBUAT MAKALAH ITU-MENENTANG KANONISASI-HIDUP NASIONALISME.
Udah. Titik. Jangan Tanya-tanya lagi!







Sabtu, 13 November 2010

Wake the Word the Miracle Science of Fiction


Seminar Nasional di Fakultas MIPA
dengan tema Science of Fiction
Hari ini adalah hari sabtu, “SABTU..SABTU…apa sebenarnya arti SABTU?? Tau nggak? Tau nggak?” aku sih sebenarnya belum terlalu paham dengan hari sabtu. Kalo ada yang tahu tolong ye..kirim pesan ke emailku atau gimana caranya kalian bisa ngasih tahu aku!!!!
Berjalan kaki dengan seorang teman dari MIPA, bernama Julia Lie
Sebelumnya kami makan soto ke warung yang nggak jauh dari kontrakan, aku yang bayarin dy. Sebenarnya aku ini suka traktir, tapi dia ki selalu sungkan”Sifat jawa asli! Ya, saya suka2! Wawawa…”..jadinya transaksi berubah jadi “NGREDIT” alias dia ngutang ke aku bisa juga dibilang aku mempiutangkan soto-ke dia.
Kami makan, tapi bapak penjualnya nggak makan. Ya, begitulah bedanya penjual dan pembeli. Makan dan nggak makan.
Di tengah2 menikmati makanan, aku tersedak. Untuk kedua kalinya mau mati karena tersedak. Beberapa bulan lalu gara2 permen karet, dan sekarang gara2 soto yang sengaja aku kasih sambal. Mampus! Tenggorokan serasa kebakar api, gosong dah! Bwahhh...mataku juga ikut2an pedas!
Jadi, nggak akan makan permen karet dan soto bersambal.
---
Kami berjalan kembali, menuju ruang seminar di lantai 4 gedung MIPA. Lantai 4! Ya! Lempoh dech! Gembrobyozzz…!
---langsung aja deh!---ke seminar---acara krusial---acara kru sial—KRU SIAL—KU SIAL--(begini penjelasanya!)
Pembicara –Pak ‘e UPTP2B-Bapak Sutanto, Pak Dwi Susanto-dosenku di sastra, Pak Haji Pidie Baiq-dosen dari ITB, dan mbak Afifah sang penulis di LP.
Aku suka ikut seminar. Entah kenapa?! Padahal kalau seminar juga makanannya belum tentu enak, belum tentu banyak dan selalu ayam (Kenapa harus ayam?). Karena kelaparan, maka terpaksa aku makan, dan resiko aku harus menanggung mag di sore harinya.
Disambut dengan kelucuan yang garing oleh pak Sutanto—ya jelas lah garing, wong ngisi seminar kok Cuma 15 menit? Hoe..bapak! “pekerjaan lebih penting daripada seminar” “uang lebih penting daripada ilmu pengetahuan” “bapak lebih penting daripada saya” “saking pentingnya saya hanya ingat gigi bapak yang seperti biji ketimun” “kesipulannya saya suka gigi bapak” ahoiii…upz! ^^ :DDDDDD
Trus-nyanyi nggak jelas gitu deh mas2 yang ngisi selingan. Apaan seh? :P
Bapak dosen memasuki kursi seminar…
Diikuti Bapak Haji…
Disusul mas pembawa acara yang item (dia yang bilang sendiri)
Masuk ke dalam penyampaian penuh teori dari pak Dwi, TEORI! Bagiku begitu. Teori beliau tentunya, sastra muncul dari sebuah pemikiran. Melihat dari sebuah proses bagaimana seorang penulis itu mengerjakan tulisannya. Tetap bersikukuh pada apa yang jadi menurut beliau..la..la..la…”Aku selalu merasa mendengar buku berbicara”(ngerti kan maksudku?)Bapak terlalu hebat dan satu lagi Serious!
Pak Haji Pidie Baiq…zyeng..Zyeng…-------benar2 penyampaian yang nggak membosankan. Aku senang pada bagian ini. Inilah yang aku tunggu-tunggu. Refress OTAK!!! NGAKAK TERUS!!!! Dan Philosophie nggak ketinggalan! Ini lho! Ini yang membuatku menjadi seperti orang yang nggak pernah diberi makan Tuhan.
“Aku diturunkan Tuhan…jeng..jengg..masuk ke perut ibu, nggak tau deh yang masukin siapa?” kata pak Haji Pidie Baiq sembari memperagakan dengan tangan. Capech dech Pak! Haha… aku ngakak! teman2 juga..aa---gila!
begini---kalau aku gila berarti km juga! tapi kalau kamu gila, belum tentu aku juga gila. so, aku-adalah aku sedangkan kamu-ya kamu-kamu itu yang sekarang baca tulisanku! ;P
aku gila, kamu gila. kamu gila, aku tidak gila. hihi...
kembali ke pak Haji Pidie Baiq..
"Aku kalau menulis itu...apa yang ingin aku tulis aku akan tulis..aku menulis begini..aku menulis begitu...toh siapa mereka? bukan sodaraku!" (aku lupa kata-kata bagian ini tapi intinya seperti ini) tapi, ingat! harus sesuai dengan tata moral!" (poko'e gini yoh---!!!! maklum aku bukan alat perekam).
truz ada lagi nih,---> "Tulislah dulu! jadi penulis dulu jangan sekaligus jadi editor!"
---->Nyanyi2 nggak karuan--judulnya yang aku ingat===----1...? (lupa-tentang muridnya yg pergi), Anjingku Kucing, Hai Batman (hai..batman..hai batman...kenapa celanamu..aaa..aaa..;O), BayangKan!...seru dan keren..sttt..(nanti aku akan minta lirik+vidionya..tunggu post-ku yg ku-khususkan ttng pak Pidie) berdoalah pembaca!!! biar vidio+liriknya segera nongol di blog ini.
pokoknya dan pokoknya sesi pertama berlangsung seruh sekaleh!!!!! mantap gan, rugi deh kalian yang pada nggak ikut.
---
sesi kedua-pembicara bu Afifah-LP
aku nggak paham--waktu ini aku lagi seru-serunya bikin desain gambar dengan mbak Eni kenalan baruku. wah,,,,entahlah...yang aku tanggap dari pembicara ketiga adalah berkata kunci Science-Fiction-Supernova-Zigot- (Ah..Kaku sekali)
Akhirnya semua serasa membosankan. Semua pembicara terlihat kaku apalagi mas item yang lucu itu. Bahkan nih Pak Haji Pidie Baiq yang berjingkrak-jingkrak semangatnya, jadi sangat membosankan! kaku, saya pikir mungkin Beliau menyesuaikan keadaan atau memang sudah capek. ya, antara dua itu deh! pilih sendiri sesuka hati anda!!!
Meski pak Haji Pidhie Baiq berusaha mengembalikan suasana seperti sedia kala. tapi rasanya aneh deh! ;P
-----
oeke sekian dulu! ini acara di sabtu pagi! jng lupa kasih tahu jawabanya apa itu "Sabtu?" kenapa "Sabtu?" Bagaimana bisa "Sabtu?"
maafkan--itu harus dijawab ya! aku tunggu lhoh! XD
pesan terakhir dari pak Haji Pidie Baiq---"Waktu mungkin membuat kita lupa, tapi tulisan lah yang membuat kita ingat!"
ingat itu pesan terakhir Pak Pidhie Baiq di Seminar ini---bum..bum..Misi mau kenalan langsung, tapi kami (aku, Julia, dan mbak Eni gagal karena Pak Pidie meninggalkan kami) ToT
Kru-Sial-Ku-Sial-Kagak dapet dunprizenya---@@@@ X(