Senin, 15 November 2010

UJIAN LISAN DADAKAN --- MATERIAL SEJARAH SASTRA


Pembimbing Pak Dwi Susanto (maniak Tionghoa)
Betapa senengnya sampai pingin gampar temen yang ada di sampingku.
Ujian pertama Sejarah Sastra lulus, dengan topik perbincangan yang hangat untuk telinga pembimbing.
Tapi itu ternyata level pertama-masih ada level kedua.
“Nanti makalah yang tidak dikembalikan, harap ke kantor! Saya akan minta pertanggung jawaban kalian!” (waktu denger rasanya pingin muntah)
“Gile lu!” bisikku sembari memandang temenku yang mengeluh. Nih, umpatan cocok untuk temenku atao pak dosen? Tau deh, silakan anda pilih sendiri!
Aku sih tenang-tenang saja, “aku kan pinter jadi ngapain takut segala, hanya orang bodohlah yang takut!” diem. Aku diem. Mikir. “Aku pinter ya?” Teman-teman yang makalahnya dikembalikan dan nggak dikembalikan sama saja kisruhnya. Binggunglah! “Kepiye iki?” “Aku rung siap!” “Aduh!” bla..bla..
Aku diam.
Aku ngobrol.
“Babat aja pak Dwi!” kataku pada mereka. Tapi kata-kataku nggak ngaruh, mereka pada sibuk “Bagaimana?” dan “Nggak nyangka nih?” dan “Aduh boo..beneran nggak nih?”  dan lain-lain.
“Gimana caranya babat?”
“Tarik kesimpulan, dan ngomong aja apa yang ingin kamu omongkan!”
??? (binggung)
---
Masuk bersama satu teman.
Di dalem kantor masih ada beberapa pak Dosen. Pak Kaswan terutama—sebelum pak Dwi nguji nih—ditanya tuh Pak Dwi---
“Kapan nih Wo Ai Ni ya?” Pak Dwi hanya membalas dengan gelaknya.
Yang menarik buat saya di sini tuh bukan Pak Dwinya atau Pak Kaswannya atau Pak Botak..entah saya belum mengenalnya atau Pak Taufik yang baru datang.
Saya tertarik pada kata “Kapan nih Wo Ai Ninya?” (said via Pak Kaswan)
Wo=Saya
Ai=Cinta
Ni=Kamu
Trus klu diartikan dengan digabungkan dengan kalimatnya jadi “Kapan nih Aku Cinta Kamu-nya?”
Haha…(dalam hati ngakak-ngakak-nggak puas-niat nanti pas keluar ruangan tereak-tereak).
Duh..Babe Sodara Kaswan..Linguistik lhoh ya! ----.-----(Wo ai ni…lalala…lalala..lulu…).
duduk-"Kemaren kamu datang ya? Saya perhatikan!" --(Aduh! waktu seminar di MIPA tuh-banyak teman2 yang mencoba mendekati dosen biar dihafali-tapi saya sangat kecewa dengan muka saya-belum apa2 saya sudah dihafali dosen! @.@---aaaaa...aku belum siap populer---HAHAHA--gaya-MR. BLACK-Tunggu Pembalasanku!-koyo'e nggak nyambung) 
“Ini nih kesukaan saya!” ujar pak dosen setelah menenteng-nenteng makalah saya. Ujian..ujian..aku malah cengengesan.  Trus ditaruh di belakang..(aduh je..temenku duluan deh!).
Teman di uji. Aku diem. Tapi sedetik kemudian malah jawab pertanyaannya. Haha…aku tahu lhoh je!
Tiba giliranku-
Aku cengengesan. Ini bukti aku bukan sosok seperti pak Dwi atau pun seperti teman saya yang barusan di uji. Kalau yang nanya serius dengan ekspresi tegang, dan aku membalas menjawab dengan begitu pula hhmm..akibat bisa fatal-mulutku malah kagak bisa ngomong nanti.
“Apa dinamika?”
“Apa Nasionalisme?”
“Kenapa kamu ambil Karya kwee, padahal bukan sastrawan, dia adalah wartawan?”
“Apa alesannya?”
“Maksudnya gambar ini uh apa?”
Buahahahaha…MAMPUS GUE!
*imajinasi
“Apaan tuh Pak? Singkong atau Keju? Jawa apa Belanda?”
“Cina gitu lho!”
Lanjut—
Jawabanku 2 diantaranya aman, meski agak muter-muter. 2 berikutnya juga aman sekali-alias aku puter-puter juga. Poko’nya aku puter-puter. Nih, otak meyakinkan tapi jawaban yang keluar nggak mau ngeluarin kata yang meyakinkan!
“Aku benci mulutku!!!” bodoh! Bodoh! (mulutku pengkhianat-pingin aku gampar-tapi nanti isa sakit-T.T)
-jawabanku  setelah aku revisi-*jawaban dibawah dalam sastra tionghoa
Dinamika* adalah pergerakan sastra melayu tionghoa yang dapat menyesuaikan secara memadai terhadap keadaan. Atau adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Contohnya seperti yang aku tulis-antara karya Pak Kwee dan karya Pak Alisyahbana.
Nasionalisme adalah semangat juang menegakkan bangsa Indonesia. Cinta Indonesia!!!
Karena di dalam karya Kwee mengandung budaya, politik dan ideology pada masa terbentuknya sejarah sastra tertutama sastra favorit bapak.
Alesannya..(saya ingat konsep sastra-obyektif mind-pemikiran yang diobyektifkan-budaya, politik, ideology)
Itu gambar sebagai bukti, kalau karya-karya Kwee itu mempunyai sifat NASIONALIS!
Heh, bapak..nulis aja saya uda mau muntah eee…masih ditanya2!!! Mendadak lagi!
ToT…nilai A memang hanya untuk penguji!
Nasibku bagaimana?
Yang jelas aku udah paham. Berpengalaman.
“Mbak nanti kalo ujian skripsi jangan cengegesan ya!”
“Oke deh, mbah Marijan!”
Tiba-tiba aku ingat mbah Marijan. Aku telah mengecewakannya. “Ohhh..simbah!!!! where are you?? Heaven or hell????”
Kesimpulan---
Sebenarnya pertanyaannya sederhana (karena kalimatnya aku sederhanakan)..hanya saja aku-nya atau pengujinya yang mbulet. .entahleh!..pertanyaannya mbulet jawabnya juga harus mbulet.
“Ya,,sudah panggil temannya!”
“Y” (Keluar dengan mendoakan) “Semoga Tuhan memberkati Bapak hingga meloloskan saya dengan temperament tinggi-nilai untuk saya penuh kontraversi-antara A dan B) kalo nilaiku C-berarti keterlaluan anda! (saya kerjakan susah payah-sendiri pula-masih lagi harus menjawab pertanyaan dari teman2 yang blum paham-ini sudah titik penyiksaan)
Saya kerjakan dengan bantuan Mbah Google.buku. dan otak saya sendiri.
Kedua-aku kerjakan mengulang 2 kali-
Sebenarnya aku ambil Oey tambah sia..tapi isinya jadi Kwee Thiam Tjing karena aku hanya punya buku Tionghoa di Batavia dan huru hara 1740-an-itu nggak cukup kalo mau bahas Oey tambah sia..buatnya 2 hari pula. Sabtu dan minggu. Karena aku adalah orang sibuk(haha..sibuk?!)
Dan terima kasih kepada Bapak Yang Paling Keren yang sudah berpusing-pusing ria berdiskusi dengan saya..Bpk Stephen Suleeman jeng…jeng…!
Dan prediksi pertanyaan yang keluar ternyata noL besar—ini yang ada di otakku sebelum di uji-buat pertanyaan sendiri dan dijawab sendiri.
“Kenapa pilih Kwee?”
“Karena Pak Kwee tampan, Pak!”
“Hmmm..” (tampang nggak terima karena tersaingi)
“Kamu suka melayu tiongkok?”
“Tidak. Saya suka Confuse.”
“Kenapa tidak suka?”
“Karena saya ingin menerapkan secara langsung apa itu yang dinamakan obyektif mind!”
“Caranya?” (mulai tertarik)
“Belajar Analek. Terapkan langsung kepada umat!”
“???” (binggung)
(jawabanya cari tau sendiri-kenapa Analek?) *apa hubungannya dengan obyektif mind!
(saya berhasiL! Berhasil membuat binggung)
Sesi ke-dua
“Tapi ini kamu ambil melayu Tiongkok! Kenapa?”
“Karena Bapak  maniak Tiongkok, jadi saya tulis itu!”
“hmm..(mikir)..Oke! alasanmu sakral!”
“hehe..” (melotot)
Sesi ke-3
Pemasalahan yang aku bahas di makalahku kan KENAPA MELAYU TIONGKOK –dianggap rendah-perbandingan antara tulisan Kwee dan Alisyahbana..dan di situ aku jawab-karena kanonisasi-Belanda terancam bila melayu Tiongkok tidak disingkirkan- melayu tiongkok  sebagai bukti dalam pembentukan bangsa. Pokok’nya sing nglawan Belanda nggak entuk masuk.
POKOKNYA INTI SAYA MEMBUAT MAKALAH ITU-MENENTANG KANONISASI-HIDUP NASIONALISME.
Udah. Titik. Jangan Tanya-tanya lagi!







Tidak ada komentar:

Posting Komentar