“Apakah memang harus seperti ini atau bagaimana? “ aku bertanya pada seorang gadis tuna rungu yang jelas tidak mungkin mendengarku. Dia menatapku. Lama.
Masih dalam keadaan seperti orang yang sedang kebingungan. Ditatapnya wajahku dengan membelai rambutku perlahan. Kemudian memegang tanganku. Dia berusaha menautkan kedua tanganku. Dia juga mempraktikan sendiri supaya aku mengikutinya. Dengan lantang dia mengucapkan syukur .
“Puji syukur yang tiada hentinya kami sampaikan kepadamu, ya Ratu yang mulia, untuk segala kesejahteraan yang kami terima setiap hari dari tanganmu yang selalu menolong. Semoga kami boleh selalu berada dalam perlindunganmu yang penuh kuasa, dan untuk semakin mempererat kesatuan kita, kami sampaikan salam kepadamu dengan doa…” dia membuat tanda salib. Tentu aku tidak mengikutinya. Namun, dia tahu kalau aku tidak mengikutinya. Dia menatapku luruh, saat itu pun aku mengikutinya lagi seperti apa yang dilakukannya.
Dia menarikku ke sebuah tempat. Tempat dimana dia mengumpulkan koran-koran bekas yang berserakan di samping ruko. Seperti itulah pemandangan saat aku bersamanya. Terkesan menjijikan bila harus memunguti koran-koran itu. Kotor dan penuh debu.
“Kenapa harus seperti ini?” tanyaku. Lagi-lagi dia hanya memandangku. Sama halnya dengan tadi, dia menunjukku supaya melakukan seperti apa yang dia lakukan. Memungut koran. Beberapa botol aqua bekas pula. Aku menelan ludah dan menggeleng ke arahnya. Dia justru menghampiriku dengan tangannya yang kotor. Menggandengku, memegang lengan kiriku,dan tangannya menempel persis di atas jam tangan mahalku. Ini gila!
Dia tidak tahu atau memang tidak mengerti aku? Atau sebaliknya? Aku yang tidak tahu dan tidak mengerti dia? Kami jelas berbeda.
Kupungut lembar koran.
aku pun mengerti, ini sebuah kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar