Hari di mana rumahku ramai…
Seorang anak tetangga menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Kulihat tumpukan kado di meja besar. Sangat banyak dengan kertas kado yang sama, biru. Warna kertas indah itu hampir berwarna biru. Tidak ada warna lain. Kenapa warna biru? Aku kan tidak terlalu suka dengan warna itu.
“Berhenti!” gertakku kesal.
“Selamat ulang tahun..” dia tidak menghiraukanku. Dia terus saja menyanyikan lagu itu.
“Aku tidak ulang tahun, kamu mengerti tidak?”
“Selamat ulang tahun aku ucapkan…” dia masih melanjutkan lagu itu. Kulihat kembali tumpukan kado di atas bangku. Hatiku miris. Hari ini bukan hari ulang tahunku. Lalu hari ini ulang tahun siapa? Aku pun tidak tahu. Tapi kenapa mereka mengucapkan hari ini adalah hari ulang tahunku?
-----------aku tersadar itu hanya isi mimpiku.
Ibu mengajakku ke suatu tempat yang indah. Ibu memilihkan anting yang indah untukku. Lalu memakaikannya di lubang telingaku. Aku tersenyum.
“Kamu suka, sayang?” tanyanya. Aku mengangguk.
“Selamat ulang tahun ya!” ucap ibu sembari memelukku. Aku pun tertegun dalam diam.
Ulang tahunku?
------------aku tersadar itu hanya isi mimpiku.
“Kamu kan hari ini ulang tahun!” ucap seorang teman usai kuliah.
“Bukan!”
“Ayo makan-makan!” ajaknya antusias.
“Hari ini kan bukan hari ulang tahunku!” dia merengut. Aku tidak mengerti kenapa bisa berurutan seperti ini. aku pun ingat tentang mimpiku sebelum aku bertemu dengan temanku usai kuliah. Mimpiku semalam.
Kami pun berjalan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang dia pikirkan, tapi yang jelas aku sedang memikirkan, apa maksud dari semua ini?
Mimpiku adalah bagian dari hidupku. Aku berpikir ini adalah berkat Tuhan yang diberikan padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar