Setelah memasuki dunia sastra, aku melihat ada sesuatu yang menohok otakku terlalu dalam. Aku merasa begitu miskin akan kata-kata. Aku merasa diriku tidak berarti apa-apa menyangkut sastra. Aku tidak mengerti kenapa Tuhan menempatku di sini.
Seketika aku berjalan, mencoba memberi warna baru pada tulisanku. Aku justru terdiam dengan pulpen mengetuk-ngetuk bangku. Hatiku mulai gusar. Aku merasa gelisah luar biasa. Tidak ada satu pun kata yang mampu aku tulis di kertas bergaris yang selalu aku bawa ke mana pun aku pergi.
Aku hanya melihat kover buku di depanku yang berwana merah benderang. Aku termangu-mangu. Apa yang aku tunggu? Tulisan? Atau ide? Kata salah satu dosenku, bahwa ide itu tidak untuk ditunggu, tetapi jemputlah! Dan hantarkan ke tulisan indahmu.
Aku harus mengakui pula, semenjak aku masuk ke dunia kampus. Aku tidak sempat menyentuh barang sedetik pun buku favoritku yang selama ini selalu aku baca. Buku-buku referensi pun aku baca sekilas, namun adakalanya aku memang harus membacanya sampai tuntas dengan perasaan terpaksa. Tugas setumpuk dalam minggu yang sama.
Jadwal akhir pekan aku gunakan untuk refresing dengan teman-temanku. Aku mempunyai hobi baru, jalan-jalan, bersepeda, makan bersama, nge-game dan apa pun yang mampu membuat otakku jernih kembali. Aku butuh sesuatu yang mampu mengembalikan sesuasana hatiku yang mulai penuh tekanan.
Aku begitu menikmati hobi baruku. Karena dengan apa yang aku lakukan aku mampu menuntaskan kepenatan di dalam otakku. Tetapi ada yang aku lupakan, aku melupakan sesuatu yang begitu penting. Aku tidak lagi membaca buku-buku yang aku beli beberapa bulan lalu, aku juga menghentikan berlangganan majalah, aku hampir tidak pernah lagi menyentuh pulpen warna dan kertas gambar yang sengaja pula aku beli untuk mengisi kekosongan waktu.
Hari ini aku ingat, aku ingat akan kata-kata seseorang di ujung langit. Bukankah hidupku ini hanya sementara. Seperti setetes air yang membasahi kertas, yang hanya butuh beberapa jam kertas itu akan kembali mengering. Tidak berbekas dan tidak mempunyai arti apa-apa. Bila terus-menerus aku seperti air itu, alahkah percuma aku hidup di dunia ini. Hanya membasahi dunia barang sedetik tanpa meninggalkan apa-apa untuk kebaikkan di dalamnya.
Kubuka kembali buku-buku yang tertumpuk di almari, begitu senang buku itu kupegang setelah sekian lama menungguku dengan tangis. Buku itu mengira aku sudah melupakannya. Begitu kalau Tuhan juga menganugerahkan benda mati itu sebuah perasaan seperti layaknya manusia. Kembali pula aku torehkan pulpen warnaku ke dalam kertas putih polos dengan melekukan garis merah yang indah di atasnya.
Hidupku akan berwana, bila aku melakukan semuanya dengan pengaturan waktu yang tertata sempurna. Kujadikan sedemikian rapi hingga nanti aku mampu menambah pengalamanku melalui apa yang ada di depanku.
Tuhan pun akan tersenyum di sana, kamu yang ada di situ, dan aku yang ada di sini.
Tersenyum :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar