Hari ini kuliah kosong..
Aku nggak tahu siapa yang salah—kupingku yang tuli atau ketua kelas yang tidak menyebarkan informasi secara merata---
Aku akan menceritakan yang JELEK itu kapan-kapan…
Hari ini aku senang jadi nggak mau ingat apa itu masalah yang sebenarnya bagiku bukanlah masalah.
----
Sampai di kos, kaget luar biasa..
Timothius datang membawa sekarung makanan plus senyum, aku nggak nyangka bisa bertemu dengannya lagi. Setelah beberapa minggu yang lalu kami memperdebatkan sesuatu yang tidak lazim. Kami bertengkar luar biasa. Karena dia hampir menamparku.
Aku membuka pintu kamarku, kusuruh dia masuk dan beristirahat terlebih dahulu. Aku sedikit agak canggung, seolah aku baru mengenalnya pertama kali.
Dia banyak mengobrol, seolah tidak ada masalah apa pun sebelumnya. Kata-kataku keterlaluan saat itu. Aku yang salah, tapi dia juga. Jadi lebih baik dilupakan.
Dia mengajakku jalan keluar. Kita akhirnya mutusin ke Grand Mall.
Di dalam perjalanan aku Cuma diem. Rasanya pingin nangis waktu liat dia nyetir mobil dengan ngoceh di sampingku. Aku jadi ingat waktu pertama kita ketemu.
Tiga tahun yang lalu, aku kenal dia dari sahabatku bernama Vivian. Awal yang menyenangkan sekaligus dalam hati menganggapnya gila. Gila dalam arti dia berani mengakui bahwa dia,
“Aku ini _____________..haha..” ucapnya sambil tertawa.
Aku jarang bertemu dengannya selama satu tahun setelah pertemuan itu. Tapi, untuk tahun kedua dia menemuiku di rumah kakakku. Aku tahu mereka berteman. Meski begitu seorang Timothy nggak akan terpengaruh kembali kepada ajaran, kakakku justru kelihatan seperti orang bodoh dengan menjelaskan sesuatu menyangkut agama.
Soal bertengkar dengannya itu sudah sering terjadi pada kami, karena dia sering menggangguku. Semua jadi keingat.
Tiga tahun lebih kami berteman…
Ya seperti sahabat yang kehausan kalau tidak bertemu barang sedetik..
Kami sampai di Grand Mall-Makan-Main Time Zone sampai lempoH..
Aku pun mulai melupakan bahwa dia hampir menamparku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar