<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005</id><updated>2011-10-12T21:43:53.445+07:00</updated><category term='My Life'/><category term='Anting-Anting Kanguru Part 1'/><category term='Seminar'/><category term='Short Story'/><category term='Poem'/><category term='My Dream'/><category term='Sejarah Sastra'/><category term='Renungan'/><category term='Holiday'/><title type='text'>Gillian Mochtar</title><subtitle type='html'>Hidup dalam Tulisan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>20</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-9198763380982616693</id><published>2011-01-08T23:38:00.003+07:00</published><updated>2011-01-09T13:15:18.233+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Life'/><title type='text'>SI.ALAN--------------TIBA_TIBA AKU INGIN CERITA TTG IDUP GUA =="</title><content type='html'>Liburan..ini sudah liburan…&lt;br /&gt;Aku pikir begitu..tapi tetap saja  aku &amp;nbsp;harus menjadi guru yang baik untuk anak-anak tuna wicara di rumah  kedinasan sosial selama dua pekan mulai hari senin besok.&lt;br /&gt;Selama  aku masih bernafas, aku akan membantu orang yang ingin berbahasa  Indonesia dengan lancar. Tujuan &amp;nbsp;kuliahku di jurusan sastra ternyata  semakin menunjukkan titik terang. Untuk membantu anak-anak yang tak  seberuntung aku.&lt;br /&gt;Kadang aku berfikir, aku punya mulut yang kalau  dibuka menghasilkan suara, yang kalau ingin bacot apa saja bisa.  Sedangkan mereka? Tidak!&lt;br /&gt;Bagaimana perasaan anak-anak itu? Aku tidak tahu. Sedih, mungkin ada.&lt;br /&gt;Aku  batalkan rencana liburanku tahun ini untuk mencoba bekerja sebagai  pelayan di rumah makan, resepsionis, atau apa saja yang membuat aku bisa  mengganti ponselku yang buntut, aku butuh I-phone..haha..XD yang  ter-Gress.&lt;br /&gt;Oh, kakakku mau menikah. Ternyata kabar itu benar, aku pikir hanya berlaku di karanganku saja.&lt;br /&gt;Duduk-duduk sama Ibu,&lt;br /&gt;“Hoh, waktu itu aku hanya mengarang cerita saja bun! Nikah sama siapa?”&lt;br /&gt;“Sama laki-laki lah?”&lt;br /&gt;“Iya..maksudnya namanya?”&lt;br /&gt;“Yang jelas kamu belum kenal. Eh, ingat ya, bunda bakal bahagia dan merestui kalau kamu nanti dapat pacar dan suami keturunan!”&lt;br /&gt;“Yeehh..kok gitu seh!”&lt;br /&gt;“Ingat!”&lt;br /&gt;Aku  pikir nasibku sama dengan Tania Budiono, haiii..temanku yang paling  baik!!! Mami” kenapa berfikir seperti ini ya? Bagaimana kabar kamu di  sana? Aku belum dapet koko baru nih!!! HAhahaha…*tawa menyesaL&lt;br /&gt;"kamu...mimpiin siapa lagi? tumben nggak cerita?!"&lt;br /&gt;"Aku  mimpi dikejar-kejar teman-teman*nggak kenal..masuk kelas  internasional..ketemu guru yang cantik..aku tersungkur karena nggak kuat  lari lagi...salah satu temanku yang mengejarku ikut tersungkur...aku  tarik kaos kaki panjangnya..aku pikir dia laki-laki, tapi kenapa pakai  rok? lalu si guru cantik yang mengajar di depan berjalan ke arah  kami..aku pikir akan dimarahi karena mengganggu kelas..tapi justru  menanda tangani kaos kaki temanku itu..aneh bukan main!"&lt;br /&gt;"Haaa..kamu jadi dukun saja, anakku!"&lt;br /&gt;"Bunda!" aku menggerutu. DUKUN?&lt;br /&gt;Wess…gitu lah!&lt;br /&gt;Setelah terbang dan mendarat di rumah kakek…&lt;br /&gt;Aku  itu kadang sebel kalau kakek duduk di sampingku, karena kakekku itu  pendiam tapi suka tebak-tebakan. Lagi enak-enaknya baca majalah,  leha-leha, makan keripik sambil nonton tivi..ehh..dikasih soal? Mana  lagi tiap soal kalau nggak segera dijawab pasti ujungnya “Masa sih kamu  nggak bisa?” idih, maksa banget deh.&lt;br /&gt;Tiap soal yang dilontarkan  padaku, pasti aku nggak bisa jawab. Diam salah, ngomong begitu pula  hasilnya, SALAH! Akhirnya kakek pula lah yang menjawab pertanyaannya  sendiri. Kasihan banget deh si kakek!! XD&lt;br /&gt;“Kamu itu anak yang  cerdas. Tapi kamu itu tipe manusia yang mentang-mentang sudah bisa, trus  menyepelekan! Jadi bagaimana mau dapat nilai memuaskan?” aku merengut.  Itu perbincangan nusuk banget di hati,”Jadi harus hati-hati! Serius lah  sedikit, jangan seperti itu!”&lt;br /&gt;“Oh, kakek!”&lt;br /&gt;“Kamu itu, kapan nilaimu diumumkan?”&lt;br /&gt;“Bentar lagi kek,”&lt;br /&gt;“Kakek ingin printoutnya!”&lt;br /&gt;O.o”&amp;nbsp; ==” SIAL!&lt;br /&gt;à  kesialan pun menginjak-ijakku mulai dari tahun baru berkibar. Entah,  kesalahan apa yang aku perbuat hingga nasibku bisa menjadi kacau seperti  ini.&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aku nginjek TAHI KUCING di samping kamar mandi kos.&lt;br /&gt;Kos-ku  memang terbuka, areaku pun lumayan luas dibanding kamar-kamar lainnya.  Kamar mandi luar dengan area kosong di samping yang aku manfaatkan untuk  garasi, tempat jemur, dan aku biarkan kucing yang mau ke dimensi lain.  Tapi, si kucing! Yang namanya hewan..tetap saja hewan! Nggak tahu yang  namanya balas budi (*Budi..nama pak koS..XD) masak mbOker di tempat  kediamanku. Waktu aku dengar si kucing mengeong di samping tempat  sampah, aku langsung masuk kamar mandi, ambil gayung, lari keluar dan  “Byurr..” kucing pun langsung lari terbirit-birit.&lt;br /&gt;Itu baru babak  pertama—setelah aku sadar—mataku yang tadi ternyata belum lihat bau yang  menyengat ini. TAHI KUCING itu masih ada temannya, pahadal aku sudah  membuangnya tadi, yang pertama sih menempel di keset kaki jadi aku bisa  melempar langsung tuh TAHI. Tapi, kali ini beda. Kali ini tahi itu  melungker di dekat rak sepatu yang aku taruh di depan kamar mandi. Aku  mengambil tissue sebanyak-banyaknya, kutaruh tissue di atas lalu kuambil  dengan tangan. Aku buang ke sampah “Pyuhh…pluk” dan entah kenapa hal  ini bisa terjadi..tahi itu menempel di salah satu jariku..ihhh…Njritt!!!  padahal sudah hati-hati. Aku langsung ke kamar mandi, cuci sampi  bersih, berulang kali seperti saat aku mencuci kakiku yang nginjek tadi,  tidak peduli lagi bagaimana rasanya panas kena diterjen baju, aku  gosokin saja. Masuk ke kamar dan menggosok tanganku dengan cairan anti  septik.&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Besoknya aku berangkat ke kampus dengan sepeda  polygon kesayanganku. karena aku suka bersepeda dan bisa mikir-mikir di  perjalanan maka aku lebih suka memakai sepeda dari pada jalan kaki.  Hehe..alasan kedua sepertinya tidak nyambung. Yehe..yehe..aku hampir  mati ketabrak sepeda motor.&lt;br /&gt;Aku bersepeda seperti biasa. Aku  santai. Aku tidak melamun saat bersepeda. Aku selalu hati-hati. Tapi  tetap saja motor itu menyerempetku dari arah belakang saat aku mau  berbelok ke kanan. Dua orang perempuan berjilbab yang tidak tanggung  jawab, mereka pergi begitu saja. Untung aku masih hidup, kalau aku mati  gimana? Gila! Mentang-mentang aku naik sepeda ontel!!! Mau cari mati  kalian? Ah, ya sudah lah. Yang penting aku tidak apa-apa dan bukan mobil  atau truk yang aku hadapi. Itu hanya motor, Ar!!! YA! Haha..motor,  kalau kena langsung ya paling yang mati yang nyetir motornya. Bukan aku  lah! Hehe…soriii..! orang yang nabrak mungkin lebih pantas daripada aku.  XP&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Majalah yang aku beli seharga 35rb, isinya  mengecewakan! Aku tahu pasti tim redaksi sudah buntu dengan ide-ide  cermelangnya. Aku buang-buang uang lagi.&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Aku beli jam dan  ternyata kebesaran. Bodohnya belum tahu cara pemakaiannya! Bodoh  sekali! Semua petunjuk pemakaian menggunakan huruf kanji.&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;  Air di kos mati. Hidupku pun jadi mahal selama satu hari. Mandi pakai  aqua, pipis pakai aqua, boker pun pakai aqua. Besoknya juga begitu dan  akhirnya aku nggak betah di kos lama-lama. Aku telepon ke rumah dan  segera minta untuk dijemput.&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Terakhir, aku harap aku  tidak berurusan lagi dengan orang-orang yang tidak aku kenal yang suka  mengajak “chat” di FB hanya untuk menanyakan..kamu asal mana? Sekolah  atau kuliah? -à aku sudah menulis dataku di profil. Heh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  akhiri sekian. Semoga 2011 bukan hari sial. Aku harap kesialan  berlangsung 1 minggu saja, tapi kenyataan yang beredar ini sudah  menginjak akhir pekan dan aku menjumpai kesialan lagi. Ya, aku tunggu  hari senin. Aku pun berjanji pada Tuhan, bahwa aku nggak akan berucap  “TAHI” lagi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-9198763380982616693?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/9198763380982616693/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2011/01/sialan-tibatiba-aku-ingin-cerita-ttg.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/9198763380982616693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/9198763380982616693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2011/01/sialan-tibatiba-aku-ingin-cerita-ttg.html' title='SI.ALAN--------------TIBA_TIBA AKU INGIN CERITA TTG IDUP GUA ==&quot;'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-8919920178511381632</id><published>2010-12-19T09:01:00.003+07:00</published><updated>2011-01-22T16:29:47.774+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Holiday'/><title type='text'>Cek--mencaiR</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Akhir tahun Kepala mau pecah~ tidakk---tidak akan pecah!!!! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nilaiku pas-pasan di sastra (hanya sejarah sastra sih..haha...dapet Vit.C)&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;---------------------------------&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setelah mendapat kabar omset baru dari Ah..aku mencak-mencak alahay gireng mengkureng..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Ar..your picture is very good…amazing!! Mr. &amp;nbsp;Wang invite you&amp;nbsp; at the seminar engineering!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Hoa? Are you sure..Wen?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Yeah……let’s Go in Bandung!!!!!!!!!!!!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Yea..yea…ITB..I’m Coming!!!!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Woaahahaha…AlaY paY….Omset here…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“hahah…indonesian player!!!” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“BoM…Hahaha…player?? Jerk! Jerk! HAHHAHA..”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Your mount---oahh…mazingg!!!!!!! Haha…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semua berjalan begitu cepat. Apa pu&amp;nbsp; yang indah memang selalu cepat perginya. Penerimaan cek pertama dari Pak Wang, liburan akhir pekan di Bandung bersama keluarga Wang, dan kembali ke Solo dengan dua teman baru bernama Jason Wiharja dan Nadia Soraya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ironis saat satu kamar dengan anak perempuan Pak Wang. Dia si anak SMP bercerita panjang lebar, dari mulai bangun pagi sampai mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran kecuali pelajaran olahraga, semua diceritakan ke aku. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang kita lakukan di dalam kamar hotel nomor 214 :&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Telephon pelayan buat nganter makanan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setelah dianter si pelayan pergi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kami makan dan menyimpan persediaan makanan di bawah kasur sebagai kenang-kenangan dari kami untuk pengghuni berikutnya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setelah itu ngikik bersama&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Lalu bilang arigatO!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dan memikirkan bagaimana cara terjun dari lantai atas ke lantai dasar dengan menggunakan sepatu roda?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sekali lagi ngikik bersama&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-indent: -0.25in;"&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Lalu bilang arigatO!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pintu kamar diketuk…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kami keluar dengan mengikik. Ibu Wang geleng-geleng kepala dengan guratan bingung.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Seterusnya dan seterusnya..bermain, makan dengan teman-teman yang lain, dan menggila bersama. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pulang bersama hari ini----ToT&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Keluarga Wang kembali ke Jakarta&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Teman-teman ITB tetap di Bandung&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku, Jason, dan Nadia kembali ke Solo&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;-------------------------------------------&amp;gt;&amp;nbsp; Memang Indah!!! ^0^&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-8919920178511381632?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/8919920178511381632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/cek-mencair.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/8919920178511381632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/8919920178511381632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/cek-mencair.html' title='Cek--mencaiR'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-151310593421557909</id><published>2010-12-13T06:34:00.001+07:00</published><updated>2010-12-13T06:34:34.824+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah Sastra'/><title type='text'>Kisi-kisi UKD leveL 3 &amp; 4</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Hyperlink"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Apa yang dimaksud dengan sejarah sastra dan apakah ada hubungannya dengan sejarah umum. Terangkan dan uraikan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sastra adalah sesuatu yang konkret. Sesuatu yang konkret dapat dilacak sejarahnya. Sejarah sastra berarti sejarah suatu sastra. Dalam hal ini menyangkut sejarah sastra secara spesifik seperti sejarah sastra Indonesia, sastra Inggris, sastra jawa, dan sebagainya. Sejarah sastra terdiri dari rangkaian atau jajaran periode sastra suatu masyarakat. Sastra memiliki periode-periode yang diikat oleh norma-norma, standar, dan konvensi-konvensi yang berlaku pada suatu periode yang bermunculan penyebaran, dan lenyapnya dapat dirunut serta tergambar pada karya sastra yang muncul pada periode tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana menyusun sejarah sastra?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Menurut saya, penyusunan sejarah sastra seharusnya tumpang tindih sekaligus melingkar karena setiap karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan cara memperiodisasikan setiap angkatan. Karya sastra tidak berdiri sendiri melainkan saling terkait antara satu dengan yang lain. Melingkar di sini maksudnya, bahwa karya sastra tidak pernah terputus. Karya sastra tidak berdasarkan periodik tertentu, tetapi sastra itu akan selalu muncul tanpa batas waktu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana kondisi kesastraan era 1950-1965?!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Munculnya suatu rombongan penulis baru yang belum muncul selama hidupnya di angkatan 1945. Cenderung menamakan nama penerbitan yang mengumpulkan nama-nama mereka dalam menyiarkan karya-karyanya. Rombongan penulis baru menunjukkan cirri-ciri yang hampir sama dalam karya-karya mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana peran lekra, lesbumi, dan organisasi” kebudayaan pada masa 1960-an&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Lekra (PKI)&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; mengeluarkan karya sastra yang berpaham barat materialis, sosialis-komunis, Kristen Katholik sesuai dengan nilai-nilai. Menentang keras imperialism dan memberdayakan kebudayaan dari dan untuk rakyat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Lesbumi (NU)&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; mengeluarkan karya sastra yang berpaham Islam, Timur, dan tradisi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Organisasi lain (netral) &lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Manikebu yang dikeluarkan oleh PNI, mengeluarkan karya sastra berpaham liberal dan kapitalis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana implikasi politis di era tahun 1960-an dalam dunia kesusastraan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sastra bercampur aliran politik. PKI bekerja sama dengan surat kabar dan seniman kelas bawah yang menyangkut peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Orba.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Terangkan riwayat singkat lahirnya manifesto kebudayaan dan untuk apa manifesto kebudayaan itu dikeluarkan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Serangkaian terror dalam kebudayaan yang dilakukan oleh kelompok lekra sejak tahun 1959, memberikan tekanan terhadap kaum seniman dan sastrawan di keluarganya. Kebebasan menciptakan dan kreatifitas sastra terganggu. Kehidupan penciptaan seolah-olah di dekte oleh lekra agar setia pada PKI.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Manifesto kebudayaan dikeluarkan untuk memberikan kebebasan kepada para sastrawan dalam menciptakan karya sastra.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;7.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tema-tema seperti apakah yang dalam angkatan era 1960-an!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tema perlawanan dalam memperjuangkan dan mempertahankan martabat serta kemerdekaan pribadi manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;8.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Berikan contoh beberapa pengarang angkatan 1969-an dan bagaimana posisinya dalam kesusastraan Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pramoedya Ananta TOer _sastrawan realism sosialis&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Nh. Dhini_sastrawan feminis&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sitor Situmorang_&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mochtar Lubis_seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia. Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Ia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Ia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya. Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify;"&gt;Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom (organisasi CIA), dan anggota World Futures Studies Federation.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ramadhan K.H_&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Subagio Sastrowardoyo_&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;A. A. Navis_&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;W.S. Rendra_&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;9.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana ciri-ciri formal dari angkatan 1960-an!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mempunyai pandangan kesenian dan titik tolak penciptaan yang berbeda pada angkatan sastra sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;10.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Novel-novel Iwan Simatupang dianggap sebagai seatu kelainan dalam dunia sastra Indonesia. Bagaimana posisi dan karakteristik karya iwan simatupang beserta posisinya!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Posisi_sebagai penulis garda depan Indonesia. Di mana novel Iwan Simatupang terdapat hal-hal yang khas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Karakteristik_novel-novelnya amat padat dan intens bagai karya puisi sehingga amat menantang kreatifitas dari pembaca. Selain itu karyanya juga menarik, tedapat kelainan(melampaui zamannya). Bahasanya lincah dan segar. Karya-karyanya sarat dengan gagasan eksistensialime imajinasi luar biasa. Tokoh-tokoh tidak bernama dan bergerak dalam dunia surealis dan absurd.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;11.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sekembalinya Rendra dari Amerika, terdapat perubahan terhadap karya-karya dramanya. Jelaskan dan terangkan posisi Rendra pada tahun 70-80an!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Warna lokal menjadi bungkus utama pergelarannya, karya-karyanya menjadi lebih prestisius (berharga) dan milik masyarakat luas. Drama dalam teaternya dan puisinya ditilik oleh para politikus yang menyatakan bahwa karya-karyanya menimbulkan pemikiran baru.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;12.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana posisi Putu Wijaya, Danarto, Kunta wijaya, Nh. Dhini, Romo Mangun Wijaya, Umar Khayam, A. A. Navis, Supadi Djoko Damono, dan Taufik Ismail dalam dunia sastra Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Putu Wijaya(penulis cerpen, essai, artikel lepas, kritik drama, scenario flim &amp;amp; sinetron, seorang dramawan, pemimpin teater Mandiri sejak 1971, penerima puluhan penghargaan atas karya-karyanya), Danarto(seorang sastrawan, pelukis, budayawan, dan penyair), Kunto Wijaya (seorang penulis buku tentang sejarah, budaya, filsafat, dan sastra—penulis cerita pendek dan esaai), Nh. Dhini (sastrawan beraliran feminis, peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari pemerintah Thailand), Romo Mangun Wijaya (sastrawan yang meraih penghargaan sastra se-Asia tenggara Ramon Magsaysay pada tahun 1996 dari novelnya burung-burung mayar, peraih buku non fiksi terbaik dari bukunya sastra dan religionalitas pada tahun 1982), Umar Kayam (Guru Besar Sastra Universitas Gajah Mada [1978-1997], direktur jendral radio, televise, film departemen penerangan [1966-1969], serta menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta [1969-1972]), A.A Navis (sastrawan-penulis antologi), Sapardi Djoko Darmono (Sastrawan-populer karena musikalisasi puisinya), Taufik Ismail (Penyair dan penulis antologi puisi)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;13.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana posisi karya-karya yang dianggap pop pada era 1980-an!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ditandai dengan roman percintaan, menonjolkan rasa romantisme-idealisme, lahirnya sejumlah novel popular, dan cenderung ke barat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Posisinya- sangat dinikmati pembaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;14.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Terangkan dan jelaskan secara singkat latar sosiologis kemunculan karya-karya pengarang perempuan beserta tema-temanya!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Novel di Indonesia ditandai dengan munculnya banyak pengarang perempuan dalam 5 tahun terakhir, 3 pemenang utama sayembara menulis novel 2003 yang diselenggarakan DKJ adalah perempuan. Dalam hal inovasi sematik novel para pemenang memperlihatkan adanya keberanian untuk mengangkat tema-tema yang boleh dikatakan baru atau paling tidak tema itu belum digarap oleh para novelis sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;15.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Era 1980-1990 muncul gejala tradisi lokal dalam dunia kesusastraan. Apakah yang dimaksud dengan tradisi lokal tersebut. Uraikan dan jelaskan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Dilihat dari kecenderungan karya semangat zaman yang menjadi landasan dan wawasan estetika yaitu semacam kerinduan untuk menggali nilai-nilai tradisi dan budaya leluhur. Corak pendekatan dan sikap terhadap tradisi itu dapat dibagi menjadi dua kelompok kecenderungan:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mengambil unsur-unsur tradisional untuk keperluan inovasi dalam pengucapan, melihat bahwa dalam tradisi terdapat unsur-unsur dan aspek-aspek yang relevan bagi pandangan hidup manusia mutahir, khususnya irasionalisme mendapat perhatian kaum eksistensialis dan menganut aliran sastra. Sastra absurd kecenderungan menyikapi tradisi dengan begitu kreatif untuk keperluan inovasi yang dapat di lihat dalam karya-karyanya. Ex: Ronggeng Dukuh Paruk-Ahmad Tohari. *Gunawan Muhammad, W.S Rendra, Putu Wijaya. Mereka tidak berprestasi dalam karya kedaerahan, akan tetapi sadar bahwa dalam karya mereka mengambil tradisi daerah (lokal)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mengklaim, menumbuhkan perhatian hanya terdapat satu budaya daerah saja seperti jawa, minangkabau, sunda, dll. Para penulis berkarya dengan maksud member corak khas kedaerahan terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Kecenderungan ini dapat dilihat dari karya N.H Dhini, Umar Kayam. Kebanyakan mereka melihat tradisi sebagai produk sejarah yang bentuk-bentuknya sukar diubah dan merupakan ciri khas budaya masyarakat tertentu yang mungkin tidak dimiliki suku bangsa lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;16.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Era tahun 1992-an muncul adanya perdebatan sastra pedalaman. Terangkan dan jelaskan konteks sosial politis dari fenomena tersebut!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;17.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana peran dan posisi majalah horizon dan panji pustaka dalam dunia kesusastraan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sebagai lembaga kesusastraan dan kritikus&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Horizon menggunakan kanonisasi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Horizon perpanjangan dari pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pengaruh paling banyak study filologi sebab menyelidiki materi teks.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;18.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagimana posisi H.B.Jassin sebagai kritikus sastra dalam dunia kesusastraan Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Beliau sebagai paus sastra dengan menggunakan system kanonisasi. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;19.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana peran award/penghargaan kesusastraan dalam era 1980-1990an di dalam kesusastraan. Jelaskan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;20.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Masa era 1970-1990 ada kecenderungan dalam bidang politik sastra yang dilakukan oleh para kritikus sastra, baik dalam bidang akademik dan non akademik. Bagaimana peran dan standar estetika dari para kritikus tersebut!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;21.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Uraikan secara khusus posisi Pramoedya Ananta Toer dalam dunia kesusastraan Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sastrawan yang dikatagorikan sebagai sastrawan yang mampu membangkitkan polemik. Polemik dunia sastra yang paling terkenal di Indonesia pada saat itu&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;adalah “Seni untuk seni” apa “seni untuk rakyat”. Pram melihat bahwa kesenian harus tidak lepas dari kondisi rakyat, kesenian musti dijadikan alat perjuangan rakyat, maka dari itu sastra sebagai bagian dari dunia seni harus memegang erat-erat kesetiaan pada rakyat. Dari pemikiran ini Pram lebih dikenal sebagai “Realisme Sosial”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sastrawan golongan kiri&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;22.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana hubungan kekuasaan ORBA dan dunia kesusastraan (ambil satu kasus)!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pemerintah Orde Baru yang menudingnya sebagai komunis, Pram sendiri mengaku bahwa ia tak pernah memihak ideologi apapun. Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan. Pramisme, demikian katanya jika ditanya tentang ideologi yang dianutnya. Walau demikian, dalam berbagai kesempatan, ia sering mengatakan bahwa salah seorang tokoh yang paling ia kagumi adalah Bung Karno. Meski begitu, Bung Karno sendiri tidak begitu menyukai Pram. Bermula ketika Pram menghadap Bung Karno untuk membicarakan mengenai hidup para seniman, Pram mengatakan bahwa akan baik jika diadakan konferensi pengarang Asia Afrika. Usul itu disambut oleh Presiden dan ia pun lantas menunjuk Pram sebagai ketua panitianya. Pram menolak dan mengatakan kalau saat ini ia masih terlalu sibuk. Penolakan ini membuat Bung Karno marah. Sejak itu Bung Karno pun tak pernah menyukainya, ia menganggap Pram sebagai sosok yang angkuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;23.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Di era tahun 1998-an muncul karya Ayu Utami (Saman) bagaimana posisi dan politik kesusastraan yang digunakan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;24.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana keberadaan sastra wangi (sastra kelamin) dalam dunia kesusastraan era 2000-an! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sastrawangi sebagai genre, bisa dibilang jenis sastra yang membeberkan diskursus seksualitas perempuan secara ”vulgar” dalam bingkai budaya patriarki.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;25.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana peran dan posisi komunitas-komunitas sastra (FLP, Utan Kayu, Boemi Putra, dan berbagai komunitas yang lain!)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;26.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Gejala sosial apakah dari kemunculan-kemunculan komunitas-komunitas sastra tersebut!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;27.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Terdapat gejala munculnya sastra Islami. Apakah yang dimaksud dengan sastra Islami dan secara sosiologis, politis, cultural. Terangkan posisi dan keberadaanya!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;28.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana posisi sastra Koran pada tahun 2000-an. Jelaskan dan uraikan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sosialisasi karya-karya kreatif lewat media cetak yang sudah mentradisi. Pada dekade ’50-an, tradisi itu muncul melalui berbagai majalah. Malah, (almarhum) &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/h/hb-jassin/index.shtml" target="_blank"&gt;HB Jassin&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0102/04/seni/biod32.htm" target="_blank"&gt;Pamusuk Eneste&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;, atau (almarhum) &lt;/span&gt;&lt;a href="http://rds.yahoo.com/_ylt=A0oGklX5ivVGTvwANClXNyoA;_ylu=X3oDMTE4NHMyNzU5BHNlYwNzcgRwb3MDMwRjb2xvA3NrMQR2dGlkA00wMDJfNzYEbANXUzE-/SIG=124ods70t/EXP=1190583417/**http%3a/www.duniasastra.com/historyangkatan66.htm" target="_blank"&gt;Satyagraha Hoerip&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; –sebagai editor penerbitan buku—karya-karya para sastrawan yang tersebar di berbagai media cetak pun terbit menjadi sebuah buku. tradisi itu berlanjut pada tahun 2000 hingga sekarang, harus dimaknai sebagai upaya pengarang untuk tetap memiliki publik (massa) yang telah “bersetubuh” dengan media cetak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;29.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Fenomena cerita remaja dan anak-anak (membanjiri) dunia pasar perbukuan. Terangkan gejala tersebut!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;30.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Gejala adaptasi (novel/flim:Ikranisasi) muncul dalam sastra Indonesia. Uraikan dan terangkan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;31.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana tema-tema dunia kesusastraan Indonesia di era 2000-an!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sciene Fiction pada novel supernova, eksperimentasi Mangunwijaya betema luka dan derita, filsafat juga banyak—tema yang bercerita tentang libido ynag menyimpang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;32.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Apakah yang dimaksud dengan sejarah terjemahan dan terjemahan itu sendiri. Uraikan dan jelaskan! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Terjemahan&lt;/b&gt; adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Interpretasi" title="Interpretasi"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;interpretasi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Makna_%28linguistik%29&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Makna (linguistik) (halaman belum tersedia)"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;makna&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; suatu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Teks&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Teks (halaman belum tersedia)"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;teks&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dalam suatu &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa" title="Bahasa"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;bahasa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; ("&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teks_sumber" title="Teks sumber"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;teks sumber&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;") dan penghasilan teks yang merupakan padanan dalam bahasa lain ("teks sasaran" atau "terjemahan") yang mengkomunikasikan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pesan" title="Pesan"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;pesan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; serupa. Terjemahan harus mempertimbangkan beberapa batasan, termasuk &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konteks" title="Konteks"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;konteks&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, aturan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tata_bahasa" title="Tata bahasa"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;tata bahasa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Konvensi" title="Konvensi"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;konvensi&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; penulisan, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Idiom" title="Idiom"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none;"&gt;idiom&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;, serta hal lain antar kedua bahasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;33.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Terjemahan dalam sejarahnya menunjukan gejala yang unik. Terangkan secara ringkas implikasi politis dan cultural dari terjemahan barat, tionghoa, arab!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;34.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana posisi cyber sastra dan dunia internet terhadap kondisi kesusastraan Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Era Internet memasuki komunitas sastra Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasikan berupa buku, namuan termaktub di dunia maya/internet baik yang dikelola resmi oleh pemerintah organisasi non profit maupun situs pribadi. Banyak situs sastra Indonesia di dunia maya, salah satunya dunia sastra.com&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;35.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Semangat zaman seperti apakah yang melatari kesusastraan Indonesia era 2000-an dan 1980-an!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Semangat yang melatari dunia sastra era 2000-an dan 1980-an adalah semangat bereksperimentasi dalam membuat karya novel-novel mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;36.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Tema-tema kritik sosial juga muncul dalam sepanjang dunia kesusastraan Indonesia era 1970-1998. Ambil satu kasus dan berikan contohnya dalam manifesti karya sastranya!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;37.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mengapa ketika Pramoedya Ananta Toer menerima penghargaan Ramon Magsaysay terjadi kontroversi. Terangkan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;38.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Mengapa Pramoedya Ananta Toer gagal menerima penghargaan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Karena dia dianggap sebagai komunis padahal ia tidak menganut ideologi apapun. &lt;span class="fullpost"&gt;Ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;39.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana posisi A Teeuw dalam sejarah sastra Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;40.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Era 2002-an banyak muncul karya-karya yang ditulis oleh diaspora (migrant lintas Negara) Indonesia. Seperti TKI di Hongkong dan Fira Basuki. Terangkan munculnya fenomena tersebut!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;41.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bagaimana munculnya sastra majalah generasi 1965!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;42.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Era tahun 2000-an (2002) muncul jurnal cerpen Indonasia. Bagaimana sejarah kemunculannya!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;43.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Uraikan secara ringkas posisi nama-nama berikut dalam kesusastraan Indonesia: (Nova Riyanti Yusuf, Abidal El Khaliegy, Habbiburahman El Sirazy, Oka Rukmini, Taufik Ikram Jamil, Eka Kurniawan, Anggi Widodo, Helvy Tiana Rosa, &amp;amp; Suseno Gumirah Adi Darma!)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;44.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Apakah yang dimaksudkan dengan sastra kota. Uraikan dan jelaskan posisinya di dalam dunia kesusastraan Indonesia!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;*Revisi&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-151310593421557909?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/151310593421557909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/kisi-kisi-ukd-level-3-4.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/151310593421557909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/151310593421557909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/kisi-kisi-ukd-level-3-4.html' title='Kisi-kisi UKD leveL 3 &amp; 4'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-5045034799356856241</id><published>2010-12-06T12:29:00.002+07:00</published><updated>2010-12-07T10:35:25.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Dream'/><title type='text'>Hari ini bukan ulang tahunku</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Hari di mana rumahku ramai…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Seorang anak tetangga menyanyikan lagu ulang tahun untukku. Kulihat tumpukan kado di meja besar. Sangat banyak dengan kertas kado yang sama, biru. Warna kertas indah itu hampir berwarna biru. Tidak ada warna lain. Kenapa warna biru? Aku kan tidak terlalu suka dengan warna itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Berhenti!” gertakku kesal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Selamat ulang tahun..” dia tidak menghiraukanku. Dia terus saja menyanyikan lagu itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Aku tidak ulang tahun, kamu mengerti tidak?” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Selamat ulang tahun aku ucapkan…” dia masih melanjutkan lagu itu. Kulihat kembali tumpukan kado di atas bangku. Hatiku miris. Hari ini bukan hari ulang tahunku. Lalu hari ini ulang tahun siapa? Aku pun tidak tahu. Tapi kenapa mereka mengucapkan hari ini adalah hari ulang tahunku?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;-----------aku tersadar itu hanya isi mimpiku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ibu mengajakku ke suatu tempat yang indah. Ibu memilihkan anting yang indah untukku. Lalu memakaikannya di lubang telingaku. Aku tersenyum.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Kamu suka, sayang?” tanyanya. Aku mengangguk.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Selamat ulang tahun ya!” ucap ibu sembari memelukku. Aku pun tertegun dalam diam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ulang tahunku?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;------------aku tersadar itu hanya isi mimpiku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Kamu kan hari ini ulang tahun!” ucap seorang teman usai kuliah. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Bukan!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Ayo makan-makan!” ajaknya antusias.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Hari ini kan bukan hari ulang tahunku!” dia merengut. Aku tidak mengerti kenapa bisa berurutan seperti ini. aku pun ingat tentang mimpiku sebelum aku bertemu dengan temanku usai kuliah. Mimpiku semalam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kami pun berjalan dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Entah apa yang dia pikirkan, tapi yang jelas aku sedang memikirkan, apa maksud dari semua ini?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mimpiku adalah bagian dari hidupku. Aku berpikir ini adalah berkat Tuhan yang diberikan padaku.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-5045034799356856241?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/5045034799356856241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/hari-ini-bukan-ulang-tahunku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/5045034799356856241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/5045034799356856241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/hari-ini-bukan-ulang-tahunku.html' title='Hari ini bukan ulang tahunku'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-5917163948570941964</id><published>2010-12-05T20:45:00.002+07:00</published><updated>2010-12-07T10:36:02.535+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Life'/><title type='text'>Aku Tidak Mau Kehilangan Desember</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tulisan untuk hari ini..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kata Tuhan yang selalu membisiki hatiku, “Teruslah menulis untuk kehidupanmu yang berharga!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku mengingat kalimat itu, karena kalimat indah itu sudah tidak bisa aku lupakan. Akhir-akhir ini aku memang jarang menulis. Ada sesuatu hal, hal yang sudah kusinggung di tulisanku sebelum ini. Seakan kalimat itu hilang di dalam ingatanku. Aku pun mulai sadar, aku harus memulainya kembali. Entah tulisan ini ada yang membaca atau tidak, aku tetap akan menulis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Desember..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semua orang mengetahui, bahwa bulan desember adalah bulan terakhir dari kalender internasional. Mungkin ada beberapa orang tidak menganggap bulan ini begitu spesial seperti aku. Aku sangat menanti-nantikan bulan ini. Entah kenapa ada sesuatu yang mengantarkanku kepada perasaan yang hilang. Aku tidak tahu perasaan apa itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku merasa &amp;nbsp;tidak mau kehilangan bulan ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku ingin menangis malam ini. Rasanya memang begitu setiap aku menginjak bulan desember. Menangis..ToT&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kalau memang Tuhan telah memberikan kehidupan padaku sebelum ini, mungkin saja kehidupanku yang dulu sangat indah. Sehingga di kehidupanku yang sekarang ini masih mampu merasakannya. Bagaimana tidak, haruskah aku mengatakan pada Tuhan dengan suara lantang tentang perasaanku yang hinggap dan lenyap? Tidak perlu. Karena Tuhan pastilah mengerti tanpa aku meninggikan suaraku yang tidak merdu ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ada sesuatu yang tidak mampu aku ingat di bulan desember. Desember yang tidak akan pernah aku temui di desember kehidupanku yang sekarang. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku hanya bisa berharap, perasaanku terobati oleh sesuatu yang disebut berkat Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Desemberku, aku tidak ingin kehilanganmu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-5917163948570941964?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/5917163948570941964/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/aku-tidak-mau-kehilangan-desember.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/5917163948570941964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/5917163948570941964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/aku-tidak-mau-kehilangan-desember.html' title='Aku Tidak Mau Kehilangan Desember'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-6012587758594866559</id><published>2010-12-04T16:29:00.000+07:00</published><updated>2010-12-04T16:29:31.309+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kembali Kepada Tulisan</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;    &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;    &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;    &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;    &lt;w:CachedColBalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="--&gt;    &lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setelah memasuki dunia sastra, aku melihat ada sesuatu yang menohok otakku terlalu dalam. Aku merasa begitu miskin akan kata-kata. Aku merasa diriku tidak berarti apa-apa menyangkut sastra. Aku tidak mengerti kenapa Tuhan menempatku di sini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Seketika aku berjalan, mencoba memberi warna baru pada tulisanku. Aku justru terdiam dengan pulpen mengetuk-ngetuk bangku. Hatiku mulai gusar. Aku merasa gelisah luar biasa. Tidak ada satu pun kata yang mampu aku tulis di kertas bergaris yang selalu aku bawa ke mana pun aku pergi. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku hanya melihat kover buku di depanku yang berwana merah benderang. Aku termangu-mangu. Apa yang aku tunggu? Tulisan? Atau ide? Kata salah satu dosenku, bahwa ide itu tidak untuk ditunggu, tetapi jemputlah! Dan hantarkan ke tulisan indahmu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku harus mengakui pula, semenjak aku masuk ke dunia kampus. Aku tidak sempat menyentuh barang sedetik pun buku favoritku yang selama ini selalu aku baca. Buku-buku referensi pun aku baca sekilas, namun adakalanya aku memang harus membacanya sampai tuntas dengan perasaan terpaksa. Tugas setumpuk dalam minggu yang sama. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jadwal akhir pekan aku gunakan untuk refresing dengan teman-temanku. Aku mempunyai hobi baru, jalan-jalan, bersepeda, makan bersama, nge-game dan apa pun yang mampu membuat otakku jernih kembali. Aku butuh sesuatu yang mampu mengembalikan sesuasana hatiku yang mulai penuh tekanan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku begitu menikmati hobi baruku. Karena dengan apa yang aku lakukan aku mampu menuntaskan kepenatan di dalam otakku. Tetapi ada yang aku lupakan, aku melupakan sesuatu yang begitu penting. Aku tidak lagi membaca buku-buku yang aku beli beberapa bulan lalu, aku juga menghentikan berlangganan majalah, aku hampir tidak pernah lagi menyentuh pulpen warna dan kertas gambar yang sengaja pula aku beli untuk mengisi kekosongan waktu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Hari ini aku ingat, aku ingat akan kata-kata seseorang di ujung langit. Bukankah hidupku ini hanya sementara. Seperti setetes air yang membasahi kertas, yang hanya butuh beberapa jam kertas itu akan kembali mengering. Tidak berbekas dan tidak mempunyai arti apa-apa. Bila terus-menerus aku seperti air itu, alahkah percuma aku hidup di dunia ini. Hanya membasahi dunia barang sedetik tanpa meninggalkan apa-apa untuk kebaikkan di dalamnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kubuka kembali buku-buku yang tertumpuk di almari, begitu senang buku itu kupegang setelah sekian lama menungguku dengan tangis. Buku itu mengira aku sudah melupakannya. Begitu kalau Tuhan juga menganugerahkan benda mati itu sebuah perasaan seperti layaknya manusia. Kembali pula aku torehkan pulpen warnaku ke dalam kertas putih polos dengan melekukan garis merah yang indah di atasnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Hidupku akan berwana, bila aku melakukan semuanya dengan pengaturan waktu yang tertata sempurna. Kujadikan sedemikian rapi hingga nanti aku mampu menambah pengalamanku melalui apa yang ada di depanku. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tuhan pun akan tersenyum di sana, kamu yang ada di situ, dan aku yang ada di sini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tersenyum :) &lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-6012587758594866559?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/6012587758594866559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/kembali-kepada-tulisan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/6012587758594866559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/6012587758594866559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/kembali-kepada-tulisan.html' title='Kembali Kepada Tulisan'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-5813752720564581889</id><published>2010-12-04T01:01:00.003+07:00</published><updated>2010-12-04T18:23:58.856+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Aku Mengerti</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Apakah memang harus seperti ini atau bagaimana? “ aku bertanya pada seorang gadis tuna rungu yang jelas tidak mungkin mendengarku. Dia menatapku. Lama.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Masih dalam keadaan seperti orang yang sedang kebingungan. Ditatapnya wajahku dengan membelai rambutku perlahan. Kemudian memegang tanganku. Dia berusaha menautkan kedua tanganku. Dia juga mempraktikan sendiri supaya aku mengikutinya.&amp;nbsp; Dengan lantang dia mengucapkan syukur .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Puji syukur&amp;nbsp; yang tiada hentinya kami sampaikan kepadamu, ya Ratu yang mulia, untuk segala kesejahteraan yang kami terima setiap hari dari tanganmu yang selalu menolong. Semoga kami boleh selalu berada dalam perlindunganmu yang penuh kuasa, dan untuk semakin mempererat kesatuan kita, kami sampaikan salam kepadamu dengan doa…” dia membuat tanda salib. Tentu aku tidak mengikutinya. Namun, dia tahu kalau aku tidak mengikutinya. Dia menatapku luruh, saat itu pun aku mengikutinya lagi seperti apa yang dilakukannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia menarikku ke sebuah tempat. Tempat dimana dia mengumpulkan koran-koran bekas yang berserakan di samping ruko. Seperti itulah pemandangan saat aku bersamanya. Terkesan menjijikan bila harus memunguti koran-koran itu. Kotor dan penuh debu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kenapa harus seperti ini?” tanyaku. Lagi-lagi dia hanya memandangku. Sama halnya dengan tadi, dia menunjukku supaya melakukan seperti apa yang dia lakukan. Memungut koran. Beberapa botol aqua bekas pula. Aku menelan ludah dan menggeleng ke arahnya. Dia justru menghampiriku dengan tangannya yang kotor. Menggandengku, memegang lengan kiriku,dan tangannya menempel persis di atas jam tangan mahalku. Ini gila!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia tidak tahu atau memang tidak mengerti aku? Atau sebaliknya? Aku yang tidak tahu dan tidak mengerti dia? Kami jelas berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kupungut lembar koran. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;aku pun mengerti, ini sebuah kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-5813752720564581889?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/5813752720564581889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/aku-mengerti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/5813752720564581889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/5813752720564581889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/aku-mengerti.html' title='Aku Mengerti'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-7672555640515916552</id><published>2010-12-03T23:45:00.002+07:00</published><updated>2010-12-16T14:06:27.414+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Life'/><title type='text'>Last Time With TiMothius</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Hari ini kuliah kosong..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Aku nggak tahu siapa yang salah—kupingku yang tuli atau ketua kelas yang tidak menyebarkan &amp;nbsp;informasi secara merata---&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Aku akan menceritakan yang JELEK itu kapan-kapan…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Hari ini aku senang jadi nggak mau ingat apa itu masalah yang sebenarnya bagiku bukanlah masalah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;----&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sampai di kos, kaget luar biasa..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Timothius datang membawa sekarung makanan plus senyum, aku nggak nyangka bisa bertemu dengannya lagi. Setelah beberapa minggu yang lalu kami memperdebatkan sesuatu yang tidak lazim. Kami bertengkar luar biasa. Karena dia hampir menamparku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Aku membuka pintu kamarku, kusuruh dia masuk dan beristirahat terlebih dahulu. Aku sedikit agak canggung, seolah aku baru mengenalnya pertama kali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dia banyak mengobrol, seolah tidak ada masalah apa pun sebelumnya. Kata-kataku keterlaluan saat itu. Aku yang salah, tapi dia juga. Jadi lebih baik dilupakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Dia mengajakku jalan keluar. Kita akhirnya mutusin ke Grand Mall. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Di dalam perjalanan aku Cuma diem. Rasanya pingin nangis waktu liat dia nyetir mobil dengan ngoceh di sampingku. Aku jadi ingat waktu pertama kita ketemu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;Tiga tahun yang lalu, aku kenal dia dari sahabatku bernama Vivian. Awal yang menyenangkan sekaligus dalam hati menganggapnya gila. Gila dalam arti dia berani mengakui bahwa dia,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Aku ini _____________..haha..” ucapnya sambil tertawa. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Aku jarang bertemu dengannya selama satu tahun setelah pertemuan itu. Tapi, untuk tahun kedua dia menemuiku di rumah kakakku. Aku tahu mereka berteman. Meski begitu seorang Timothy nggak akan terpengaruh kembali kepada ajaran, kakakku justru kelihatan seperti orang bodoh dengan menjelaskan sesuatu menyangkut agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Soal bertengkar dengannya itu sudah sering terjadi pada kami, karena dia sering menggangguku. Semua jadi keingat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tiga tahun lebih kami berteman…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ya seperti sahabat yang kehausan kalau tidak bertemu barang sedetik..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kami sampai di Grand Mall-Makan-Main Time Zone sampai lempoH..&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Aku pun mulai melupakan bahwa dia hampir menamparku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-7672555640515916552?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/7672555640515916552/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/last-time-with-timothius.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/7672555640515916552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/7672555640515916552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/12/last-time-with-timothius.html' title='Last Time With TiMothius'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-2746136868332976637</id><published>2010-11-19T02:11:00.001+07:00</published><updated>2010-11-19T02:16:09.654+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Lagi-lagi DEBAT “WOI TUHAN”</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kata kunci: sampah.percaya.agama.Tuhan&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu perbincangan ini, hari selasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Masih masuk kuliah padahal besok hari raya haji &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Angin) *”Apa pengaruhnya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tidak ada pengaruhnya juga antara masuk kuliah dengan hari raya. Hanya saja rasanya ingin libur seperti temen-temen yang berhasil nge-lobi dosen. Lihat tuh FKIP – liburan satu minggu! Kembali lagi dengan nilai C di tangan, mau kamu?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Oke-oke—ke topik masalah yang bagiku bukan masalah. Berkumpul dengan teman-teman sebelum dosen masuk. Awalnya kita membahas tugas yang akan dikumpulkan. Tapi lama-lama terdengar perseteruan. Gara-gara sampah makanan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Aku)-“Kok di buang di situ?” –liat A buang di bawah semak-semak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman A)-“Biarin! Apa gunanya tukang kebun digaji? Enakan dong mereka kalau aku buang ke tong sampah, mareka hanya makan gaji buta!” des..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman B)-“Iya. Tenang aja aku juga mau buang sampahku di situ..haha…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman C dan D)-diem. Aku juga diem. Membatin dengan senyum miris.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“ITU TUH WARGA NEGARA INDONESIA!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya aku mau bilang begitu secara langsung dan bilang ”Kesadaran itu mulai dari diri sendiri.” Tapi aku diem karena kalau dilanjutin bisa panjang. Aku tidak suka debat kusir. Yah, menandakan kalau aku bodoh sekali. Orang seperti mereka itu sudah stadium akhirnya orang Indonesia asli bila menyangkut prasoal sampah. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Perbincangan merembet lagi, ini gara-gara teman C bicara soal sampah. Masih soal sampah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman C) “kamu harusnya membuang sampah di tong sampah! Dosa!” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman A) “Dosa?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman B) “Di mata manusia itu baik tapi belum tentu di mata Tuhan baik apalagi dosa? Yang nilai kan Tuhan bukan manusia. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Aku) ”Iya bagus pemikiranmu. Tapi sayangnya salah menerapkan!“&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman A) “Aku tuh percaya sama Allah!” langsung aku samber.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Aku) “Berarti tidak percaya denganku? Dengan teman-teman yang lain.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman A) “Allah.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman C) “Yo, tidak begitu saja. Kamu juga harus percaya sama teman.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman A) “Aku percaya sama Allah!” Ngotot.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;(Aku) “Oke..aku pegang kata-katamu!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Teman A) “Pegang saja!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(Aku) “Oke..ingat itu!” kulihat wajahnya kalang kabut. Haha…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku tidak tahu apa yang sebenarnya di benak A. Dia itu terlalu menjunjung emosinya. Baru saja soal sampah yang praktis saja, emosi sudah memuncak apalagi kalau menanggapi soal kepercayaan. Haha..memalukan kalau ada yang dengar. Sekarang begini, ikuti cara berfikirku:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dia percaya dengan Allah. Dengan gamblang dia koarkan kepadaku dan teman-teman yang lain. Saking percayanya kepada Tuhannya, dia lupa posisinya ada di mana. Aku tahu dia baik dalam keyakinannya dengan cara mengatakan hal itu. Dia berusaha meyakinkan teman-teman kalau dia sangat percaya &amp;nbsp;pada Allah. Hingga secara tidak dia sadari, mengatakan bahwa dia itu tidak percaya dengan kami.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tidak percaya dengan kami=tidak percaya pada Allah=ucapanya barusan hanyalah omong kosong. Manusia yang mengaku dirinya percaya pada eksistensi yang paling tinggi di depan lawan bicara, hal itu justru menandakan bahwa dia mempunyai nilai nol besar menyangkut agamanya. Khususnya dalam kasus seperti di atas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bayangkan, aku di sini adalah manusia. Manusia yang diciptakan Tuhan untuk menjadi makhluk individu sekaligus sosial. Sendiri dalam penerapan kepercayaan tapi tidak mampu sendiri bila dihadapkan di suatu tempat yang disebut dunia. Untuk apa Tuhan mempertemukan aku dengan kamu? Itu yang harus dijawab.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Esoknya. Aku duduk di depan A. Aku bertanya-tanya dalam hati, kasihan sekali! Seharusnya dia tidak perlu mengatakan rasa percayanya yang terlalu berlebihan tersebut. Buktinya sekarang dia berkumpul dengan kami. Berbicara dengan kami. Apa yang dia lupakan saat ini?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tuhan. Dia melupakan kepercayaannya kepada Tuhan. Bila dia masih memegang katanya “Aku hanya percaya pada Allah.” Lalu kenapa berbincang dengan kami?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Membuang sampah sembarangan itu membuat kotor. Kotor itu tidak sedap dipandang mata. Lalu, bagaimana anda mampu percaya pada Tuhan? Kalau hal sekecil saja anda sepelekan seperti itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Haha…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kesimpulan-ini bukti bahwa Indonesia memang gudang sampah. Tidak ada kesadaran diri, untuk apa pemerintah menyediakan tong sampah?! Saya kira memang percuma tempat sampah itu berada di Indonesia. Lebih baik di jual saja ke luar negeri! Ya, kalau bisa laku itu jempol besar haha…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Satu lagi –“Tidak perlu mengatakan secara ngotot kalau percaya pada Tuhan, kalau moral masih di bawah standar. Haha…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sini aku hanya ingin mengeluarkan isi otakku karena aku tidak mampu menyimpannya. Jadi lebih baik aku tulis, entah siapa yang membaca. Aku hanya berharap pembaca tidak salah mengartikan pola pikirku yang sedemikian rumit ini. &lt;b&gt;Rumit bagimu belum tentu rumit bagiku! &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-2746136868332976637?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/2746136868332976637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/11/lagi-lagi-debat-woi-tuhan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/2746136868332976637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/2746136868332976637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/11/lagi-lagi-debat-woi-tuhan.html' title='Lagi-lagi DEBAT “WOI TUHAN”'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-8733069304251157937</id><published>2010-11-15T18:18:00.006+07:00</published><updated>2010-11-17T09:23:51.332+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Life'/><title type='text'>UJIAN LISAN DADAKAN --- MATERIAL SEJARAH SASTRA</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pembimbing Pak Dwi Susanto (maniak Tionghoa)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Betapa senengnya sampai pingin gampar temen yang ada di sampingku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ujian pertama Sejarah Sastra lulus, dengan topik perbincangan yang hangat untuk telinga pembimbing. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi itu ternyata level pertama-masih ada level kedua. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Nanti makalah yang tidak dikembalikan, harap ke kantor! Saya akan minta pertanggung jawaban kalian!” (waktu denger rasanya pingin muntah) &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Gile lu!” bisikku sembari memandang temenku yang mengeluh. Nih, umpatan cocok untuk temenku atao pak dosen? Tau deh, silakan anda pilih sendiri!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku sih tenang-tenang saja, “aku kan pinter jadi ngapain takut segala, hanya orang bodohlah yang takut!” diem. Aku diem. Mikir. “Aku pinter ya?” Teman-teman yang makalahnya dikembalikan dan nggak dikembalikan sama saja kisruhnya. Binggunglah! “Kepiye iki?” “Aku rung siap!” “Aduh!” bla..bla..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku diam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku ngobrol.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Babat aja pak Dwi!” kataku pada mereka. Tapi kata-kataku nggak ngaruh, mereka pada sibuk “Bagaimana?” dan “Nggak nyangka nih?” dan “Aduh boo..beneran nggak nih?”&amp;nbsp; dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Gimana caranya babat?” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Tarik kesimpulan, dan ngomong aja apa yang ingin kamu omongkan!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;??? (binggung)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;---&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Masuk bersama satu teman.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di dalem kantor masih ada beberapa pak Dosen. Pak Kaswan terutama—sebelum pak Dwi nguji nih—ditanya tuh Pak Dwi---&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Kapan nih Wo Ai Ni ya?” Pak Dwi hanya membalas dengan gelaknya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang menarik buat saya di sini tuh bukan Pak Dwinya atau Pak Kaswannya atau Pak Botak..entah saya belum mengenalnya atau Pak Taufik yang baru datang. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya tertarik pada kata “Kapan nih Wo Ai Ninya?” (said via Pak Kaswan)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Wo=Saya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ai=Cinta&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ni=Kamu&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Trus klu diartikan dengan digabungkan dengan kalimatnya jadi “Kapan nih Aku Cinta Kamu-nya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Haha…(dalam hati ngakak-ngakak-nggak puas-niat nanti pas keluar ruangan tereak-tereak).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Duh..Babe Sodara Kaswan..Linguistik lhoh ya! ----.-----(Wo ai ni…lalala…lalala..lulu…).&lt;br /&gt;duduk-"Kemaren kamu datang ya? Saya perhatikan!" --(Aduh! waktu seminar di MIPA tuh-banyak teman2 yang mencoba mendekati dosen biar dihafali-tapi saya sangat kecewa dengan muka saya-belum apa2 saya sudah dihafali dosen! @.@---aaaaa...aku belum siap populer---HAHAHA--gaya-MR. BLACK-Tunggu Pembalasanku!-koyo'e nggak nyambung)&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Ini nih kesukaan saya!” ujar pak dosen setelah menenteng-nenteng makalah saya. Ujian..ujian..aku malah cengengesan. &amp;nbsp;Trus ditaruh di belakang..(aduh je..temenku duluan deh!).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Teman di uji. Aku diem. Tapi sedetik kemudian malah jawab pertanyaannya. Haha…aku tahu lhoh je! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tiba giliranku-&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku cengengesan. Ini bukti aku bukan sosok seperti pak Dwi atau pun seperti teman saya yang barusan di uji. Kalau yang nanya serius dengan ekspresi tegang, dan aku membalas menjawab dengan begitu pula hhmm..akibat bisa fatal-mulutku malah kagak bisa ngomong nanti.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Apa dinamika?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Apa Nasionalisme?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Kenapa kamu ambil Karya kwee, padahal bukan sastrawan, dia adalah wartawan?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Apa alesannya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Maksudnya gambar ini uh apa?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Buahahahaha…MAMPUS GUE!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;*imajinasi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Apaan tuh Pak? Singkong atau Keju? Jawa apa Belanda?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Cina gitu lho!” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lanjut—&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jawabanku 2 diantaranya aman, meski agak muter-muter. 2 berikutnya juga aman sekali-alias aku puter-puter juga. Poko’nya aku puter-puter. Nih, otak meyakinkan tapi jawaban yang keluar nggak mau ngeluarin kata yang meyakinkan! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Aku benci mulutku!!!” bodoh! Bodoh! (mulutku pengkhianat-pingin aku gampar-tapi nanti isa sakit-T.T)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;-jawabanku&amp;nbsp; setelah aku revisi-*jawaban dibawah dalam sastra tionghoa&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dinamika* adalah pergerakan sastra melayu tionghoa yang dapat menyesuaikan secara memadai terhadap keadaan. Atau adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Contohnya seperti yang aku tulis-antara karya Pak Kwee dan karya Pak Alisyahbana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nasionalisme adalah semangat juang menegakkan bangsa Indonesia. Cinta Indonesia!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Karena di dalam karya Kwee mengandung budaya, politik dan ideology pada masa terbentuknya sejarah sastra tertutama sastra favorit bapak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Alesannya..(saya ingat konsep sastra-obyektif mind-pemikiran yang diobyektifkan-budaya, politik, ideology)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Itu gambar sebagai bukti, kalau karya-karya Kwee itu mempunyai sifat NASIONALIS! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Heh, bapak..nulis aja saya uda mau muntah eee…masih ditanya2!!! Mendadak lagi!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;ToT…nilai A memang hanya untuk penguji!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nasibku bagaimana? &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Yang jelas aku udah paham. Berpengalaman. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Mbak nanti kalo ujian skripsi jangan cengegesan ya!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Oke deh, mbah Marijan!” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tiba-tiba aku ingat mbah Marijan. Aku telah mengecewakannya. “Ohhh..simbah!!!! where are you?? Heaven or hell????”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kesimpulan---&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya pertanyaannya sederhana (karena kalimatnya aku sederhanakan)..hanya saja aku-nya atau pengujinya yang mbulet. .entahleh!..pertanyaannya mbulet jawabnya juga harus mbulet.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Ya,,sudah panggil temannya!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Y” (Keluar dengan mendoakan) “Semoga Tuhan memberkati Bapak hingga meloloskan saya dengan temperament tinggi-nilai untuk saya penuh kontraversi-antara A dan B) kalo nilaiku C-berarti keterlaluan anda! (saya kerjakan susah payah-sendiri pula-masih lagi harus menjawab pertanyaan dari teman2 yang blum paham-ini sudah titik penyiksaan)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya kerjakan dengan bantuan Mbah Google.buku. dan otak saya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kedua-aku kerjakan mengulang 2 kali-&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebenarnya aku ambil Oey tambah sia..tapi isinya jadi Kwee Thiam Tjing karena aku hanya punya buku Tionghoa di Batavia dan huru hara 1740-an-itu nggak cukup kalo mau bahas Oey tambah sia..buatnya 2 hari pula. Sabtu dan minggu. Karena aku adalah orang sibuk(haha..sibuk?!)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dan terima kasih kepada Bapak Yang Paling Keren yang sudah berpusing-pusing ria berdiskusi dengan saya..Bpk Stephen Suleeman jeng…jeng…! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dan prediksi pertanyaan yang keluar ternyata noL besar—ini yang ada di otakku sebelum di uji-buat pertanyaan sendiri dan dijawab sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Kenapa pilih Kwee?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Karena Pak Kwee tampan, Pak!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Hmmm..” (tampang nggak terima karena tersaingi)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Kamu suka melayu tiongkok?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Tidak. Saya suka Confuse.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Kenapa tidak suka?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Karena saya ingin menerapkan secara langsung apa itu yang dinamakan obyektif mind!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Caranya?” (mulai tertarik)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Belajar Analek. Terapkan langsung kepada umat!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“???” (binggung)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(jawabanya cari tau sendiri-kenapa Analek?) *apa hubungannya dengan obyektif mind!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;(saya berhasiL! Berhasil membuat binggung)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sesi ke-dua&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Tapi ini kamu ambil melayu Tiongkok! Kenapa?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Karena Bapak&amp;nbsp; maniak Tiongkok, jadi saya tulis itu!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“hmm..(mikir)..Oke! alasanmu sakral!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“hehe..” (melotot)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sesi ke-3 &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pemasalahan yang aku bahas di makalahku kan KENAPA MELAYU TIONGKOK –dianggap rendah-perbandingan antara tulisan Kwee dan Alisyahbana..dan di situ aku jawab-karena kanonisasi-Belanda terancam bila melayu Tiongkok tidak disingkirkan- melayu tiongkok &amp;nbsp;sebagai bukti dalam pembentukan bangsa. Pokok’nya sing nglawan Belanda nggak entuk masuk.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;POKOKNYA INTI SAYA MEMBUAT MAKALAH ITU-MENENTANG KANONISASI-HIDUP NASIONALISME.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Udah. Titik. Jangan Tanya-tanya lagi!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-8733069304251157937?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/8733069304251157937/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/11/ujian-dadakan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/8733069304251157937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/8733069304251157937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/11/ujian-dadakan.html' title='UJIAN LISAN DADAKAN --- MATERIAL SEJARAH SASTRA'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-8506883940452972102</id><published>2010-11-13T22:38:00.004+07:00</published><updated>2010-11-15T16:41:13.302+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seminar'/><title type='text'>Wake the Word the Miracle Science of Fiction</title><content type='html'>&lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Seminar Nasional di Fakultas MIPA&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;dengan tema Science of Fiction&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Hari ini adalah hari sabtu, “SABTU..SABTU…apa sebenarnya arti SABTU?? Tau nggak? Tau nggak?” aku sih sebenarnya belum terlalu paham dengan hari sabtu. Kalo ada yang tahu tolong ye..kirim pesan ke emailku atau gimana caranya kalian bisa ngasih tahu aku!!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berjalan kaki dengan seorang teman dari MIPA, bernama Julia Lie&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebelumnya kami makan soto ke warung yang nggak jauh dari kontrakan, aku yang bayarin dy. Sebenarnya aku ini suka traktir, tapi dia ki selalu sungkan”Sifat jawa asli! Ya, saya suka2! Wawawa…”..jadinya transaksi berubah jadi “NGREDIT” alias dia ngutang ke aku bisa juga dibilang aku mempiutangkan soto-ke dia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kami makan, tapi bapak penjualnya nggak makan. Ya, begitulah bedanya penjual dan pembeli. Makan dan nggak makan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di tengah2 menikmati makanan, aku tersedak. Untuk kedua kalinya mau mati karena tersedak. Beberapa bulan lalu gara2 permen karet, dan sekarang gara2 soto yang sengaja aku kasih sambal. Mampus! Tenggorokan serasa kebakar api, gosong dah! Bwahhh...mataku juga ikut2an pedas!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jadi, nggak akan makan permen karet dan soto bersambal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;---&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kami berjalan kembali, menuju ruang seminar di lantai 4 gedung MIPA. Lantai 4! Ya! Lempoh dech! Gembrobyozzz…!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;---langsung aja deh!---ke seminar---acara krusial---acara kru sial—KRU SIAL—KU SIAL--(begini penjelasanya!)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pembicara –Pak ‘e UPTP2B-Bapak Sutanto, Pak Dwi Susanto-dosenku di sastra, Pak Haji Pidie Baiq-dosen dari ITB, dan mbak Afifah sang penulis di LP.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku suka ikut seminar. Entah kenapa?! Padahal kalau seminar juga makanannya belum tentu enak, belum tentu banyak dan selalu ayam (Kenapa harus ayam?). Karena kelaparan, maka terpaksa aku makan, dan resiko aku harus menanggung mag di sore harinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Disambut dengan kelucuan yang garing oleh pak Sutanto—ya jelas lah garing, wong ngisi seminar kok Cuma 15 menit? Hoe..bapak! “pekerjaan lebih penting daripada seminar” “uang lebih penting daripada ilmu pengetahuan” “bapak lebih penting daripada saya” “saking pentingnya saya hanya ingat gigi bapak yang seperti biji ketimun”  “kesipulannya saya suka gigi bapak” ahoiii…upz! ^^ :DDDDDD &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Trus-nyanyi nggak jelas gitu deh mas2 yang ngisi selingan. Apaan seh? :P&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bapak dosen memasuki kursi seminar…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Diikuti Bapak Haji…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Disusul mas pembawa acara yang item (dia yang bilang sendiri)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Masuk ke dalam penyampaian penuh teori dari pak Dwi, TEORI! Bagiku begitu. Teori beliau tentunya, sastra muncul dari sebuah pemikiran. Melihat dari sebuah proses bagaimana seorang penulis itu mengerjakan tulisannya. Tetap bersikukuh pada apa yang jadi menurut beliau..la..la..la…”Aku selalu merasa mendengar buku berbicara”(ngerti kan maksudku?)Bapak terlalu hebat dan satu lagi Serious! &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pak Haji Pidie Baiq…zyeng..Zyeng…-------benar2 penyampaian yang nggak membosankan. Aku senang pada bagian ini. Inilah yang aku tunggu-tunggu. Refress OTAK!!! NGAKAK TERUS!!!! Dan Philosophie nggak ketinggalan! Ini lho! Ini yang membuatku menjadi seperti orang yang nggak pernah diberi makan Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Aku diturunkan Tuhan…jeng..jengg..masuk ke perut ibu, nggak tau deh yang masukin siapa?” kata pak Haji Pidie Baiq sembari memperagakan dengan tangan. Capech dech Pak! Haha… aku ngakak! teman2 juga..aa---gila!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;begini---kalau aku gila berarti km juga! tapi kalau kamu gila, belum tentu aku juga gila. so, aku-adalah aku sedangkan kamu-ya kamu-kamu itu yang sekarang baca tulisanku! ;P&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;aku gila, kamu gila. kamu gila, aku tidak gila. hihi...&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;kembali ke pak Haji Pidie Baiq..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;"Aku kalau menulis itu...apa yang ingin aku tulis aku akan tulis..aku menulis begini..aku menulis begitu...toh siapa mereka? bukan sodaraku!" (aku lupa kata-kata bagian ini tapi intinya seperti ini) tapi, ingat! harus sesuai dengan tata moral!" (poko'e gini yoh---!!!! maklum aku bukan alat perekam).&lt;br /&gt;truz ada lagi nih,---&amp;gt;&lt;span style="color: lime;"&gt; "Tulislah dulu! jadi penulis dulu jangan sekaligus jadi editor!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;----&amp;gt;Nyanyi2 nggak karuan--judulnya yang aku ingat===----1...? (lupa-tentang muridnya yg pergi), Anjingku Kucing, Hai Batman (hai..batman..hai batman...kenapa celanamu..aaa..aaa..;O), BayangKan!...seru dan keren..sttt..(nanti aku akan minta lirik+vidionya..tunggu post-ku yg ku-khususkan ttng pak Pidie) berdoalah pembaca!!! biar vidio+liriknya segera nongol di blog ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;pokoknya dan pokoknya sesi pertama berlangsung seruh sekaleh!!!!! mantap gan, rugi deh kalian yang pada nggak ikut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;---&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;sesi kedua-pembicara bu Afifah-LP&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;aku nggak paham--waktu ini aku lagi seru-serunya bikin desain gambar dengan mbak Eni kenalan baruku. wah,,,,entahlah...yang aku tanggap dari pembicara ketiga adalah berkata kunci Science-Fiction-Supernova-Zigot- (Ah..Kaku sekali)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Akhirnya semua serasa membosankan. Semua pembicara terlihat kaku apalagi mas item yang lucu itu. Bahkan nih Pak Haji Pidie Baiq yang berjingkrak-jingkrak semangatnya, jadi sangat membosankan! kaku, saya pikir mungkin Beliau menyesuaikan keadaan atau memang sudah capek. ya, antara dua itu deh! pilih sendiri sesuka hati anda!!!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Meski pak Haji Pidhie Baiq berusaha mengembalikan suasana seperti sedia kala. tapi rasanya aneh deh! ;P&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;-----&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;oeke sekian dulu! ini acara di sabtu pagi! jng lupa kasih tahu jawabanya apa itu "Sabtu?" kenapa "Sabtu?" Bagaimana bisa "Sabtu?"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;maafkan--itu harus dijawab ya! aku tunggu lhoh! XD&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;pesan terakhir dari pak Haji Pidie Baiq---&lt;b&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;"Waktu mungkin membuat kita lupa, tapi tulisan lah yang membuat kita ingat!"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;ingat itu pesan terakhir Pak Pidhie Baiq di Seminar ini---bum..bum..Misi mau kenalan langsung, tapi kami (aku, Julia, dan mbak Eni gagal karena Pak Pidie meninggalkan kami) ToT&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kru-Sial-Ku-Sial-Kagak dapet dunprizenya---@@@@ X(&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-8506883940452972102?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/8506883940452972102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/8506883940452972102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/8506883940452972102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html' title='Wake the Word the Miracle Science of Fiction'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-3391263014066806549</id><published>2010-01-10T15:31:00.000+07:00</published><updated>2010-11-14T09:27:21.807+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Life'/><title type='text'>Diary 4 Januari 2010</title><content type='html'>Untuk 4 Januari 2010,...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini aku masih diantar ayah berangkat sekolah. Seperti tahun lalu dan seperti yang sebelumnya terjadi aku tetap berpenampilan sekadarnya, alias biasa saja! Rabut sebahuku sengaja aku gulung lalu aku jepit secara melingkar.&lt;br /&gt;Aku masuk kelas, lalu mengikuti upacara rutin hari senin. Sohib sekaligus teman sebangkuku nggak masuk. Katanya sih, belom puas nikmatin liburan di Jakarta. Well, tak apa lah! Ini bukan masalah besar ^^…&lt;br /&gt;Pelajaran pertama bejalan lancar, tapi ada temen yang masih remeng-remeng jadi kena teguran lagi. Begini celetuk guruku padanya,&lt;br /&gt;“Mas, sono ke kantin dulu, ngunyah cabe dulu biar nggak ngantuk!” otomatis seisi kelas langsung ngakak-ngakak nggak jelas.&lt;br /&gt;Pelajaran kedua berlangsung 2 jam pula, nyatat bahasa Jepang bab denah perkotaan. Selanjutnya Ekonomi diterangin bab wirausaha. Lucunya di pelajaran yang berlangsung 60 menit ini nyrebet-nyrebet ke plem-plem jamannya wiro sableng. Nggak nyambung ama pelajaranya tapi anak-anak justru ngakak-ngakak. “212” atau “121” ya? Wkwk…to lah lupa? Haha…&lt;br /&gt;Lanjut pelajaran terakhir bahasa inggris. Tugas hari ini ngapalin dialog bahasa inggris dan  saat itu juga harus diambil nilainya otomatis harus maju.&lt;br /&gt;Well,&lt;br /&gt;2009 lalu, aku emang agak-agak nggak PD kalau disuruh maju di depan kelas. Apalagi harus cakap. Bukane rasa minder tapi karena faktor susah ngungkapin sesuatu secara langsung di depan umum. Tapi pada akhirnya di tahun 2010 ini berjalan lancar. Meski kata “Time” yang aku ucapin pada bagian akhir kalimat agak lirih terdengar. Jadi Mr. Heri langsung ralat. Terdapat kesalahpahaman tapi sempat kudengar kata “Good” meluncur dari mulut Mr. Heri. Entah ditujukan pada siapa yang jelas yang di depan tadi hanya ada aku dan patnerku saja. Gugupkah aku? Jujur saja, “Iya” konyol bukan? BGT! Haha….&lt;br /&gt;Pulang aku naik bus. Lalu naik angkot. Waktu angkot udah berjalan, aku suruh pak angkot berhentiin angkotnya di depan agen langgananku. Transaksi udah berlangsung beberapa hari yang lalu lewat HP. Jadi sekarang tinggal tuker tempat. 15 ribu buat mbak Eka, Majalah kaWanku edisi 63 berhasil jatuh di tanganku. Aku pamit segera soalnya kasian pak angkotnya nunggu lama. Salam pisah. Masuk angkot, angkot melaju lumayan kenceng. Lalu berhenti di perempatan. Bunda udah nunggu buat jemput aku. Trus kita pulang deh!&lt;br /&gt;Sampe rumah, aku makan, buka majalah yang barusan aku beli. Semua sudah aku serahin ama Tuhan. Fillingku mengatakan tidak dan ternyata aku tidak menang lomba. Tapi nggak apa, aku berfikir mungkin ini belum rezekiku. Yah, kecewa sih ada tapi mungkin masih ada kesempatan yang lain  lah!!!!! Haha….&lt;br /&gt;Hmm…aku jadi inget waktu buat cerpen itu, memoriku melemparku ke masa-masa itu. Maklum ini diary pertamaku, jujur nggak pernah nulis catatan harian sebelumnya. Hehe…&lt;br /&gt;Kala itu aku beli majalah kaWanku edisi 57 kalau nggak salah. Iya, baner kok, soalnya aku cek lagi nih! Haha…&lt;br /&gt;Nah, aku lihat ada formulir lomba cerpen kaWanku 2009. ikut? Enggak? Ikut? Enggak? Akhirnya aku putuskan ikut setelah merasakan kekalahan pada tahun 2008. Perasaan aku kalah terus ya? Haha…gpp! Yang jelas aku Happy lah udah diberi Tuhan kesempatan buat nulis. Iya nggak diary? Sorry, aku baru bisa isi kamu sekarang! Hehe…^^&lt;br /&gt;Masalahnya saat itu,&lt;br /&gt;Udah kelas 3, nggak lama lagi ujian.&lt;br /&gt;Lama nggak nyentuh pulpen ama kertas buat merimajinasi ria. Jadwal padet ampe malem, pulang udah capek, buat PR, selanjutnya ketiduran. Bangun pagi-pagi buat belajar setelah sholat tahajud. Tuh, kan kapan aku harus nulis?&lt;br /&gt;Waktu itu, masih inget banget aku,&lt;br /&gt;Minggu habis ikut try out di tempat Lesku , aku mampir sebentar ke warnet yang nggak jauh dari situ. Buka facebook, ngobrol ma temen-temen lewat chat sambil ngulek-ngulek tulisan basi. Dibilang basi juga nggak soalnya aku tulis tuh cerpen pas liburan akhir semerter dua lalu.&lt;br /&gt;Sebentar…&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;Eee…maaf Diary! Tadi tibe-tibe aje perutku mulas,&lt;br /&gt;Habis buang hajat, kata mas Radit “alias BOKER” hehe…&lt;br /&gt;Ah, jangan di bahas lagi! Kata mami “Pamali kalo ditulis sembarangan,”&lt;br /&gt;Kan mami yang bilang, bukan Tuhan. Jadi nggak apa! Hehe…[ngeyel ya gue?]&lt;br /&gt;Lanjut..&lt;br /&gt;Sampe mana tadi? Oh, ya, akhir semester 2. Buatnya kan akhir semester 2 tapi baru aku post’in sekitar bulan oktober/november kalo nggak salah. Lupa-lupa ingak! Tapi banyak lupanya!...&lt;br /&gt;Aku simpen tuh cerpenku di flast. Di rumah aku baca-baca lagi, lagi dan lagi. Aku edit, akhir’e beres. Aku berfikir kalo pake cerpenku yang ini nggak masalah bukan?  Aku baca formulirnya masih ada waktu 2 pekan.&lt;br /&gt;1 pekan selanjutnya,&lt;br /&gt;Hari iku sabtu. Pulang sekulah, kepalaku denyut-denyut nggak karuan. Takut terjadi infeksi stres berkelanjutan maka aku putuskan buat mengelipuskan raga di tempat tidur. Pas bangun udah jam 6 sore. Baaaahhhh….ternyata di luar hujan, pantes aja tidurku serasa di sorga, lelap abis! Herannya waktu itu bunda nggak bangunin aku. Kasian katanya!&lt;br /&gt;Aku mandi, ganti baju, makan trus buka komputer. Baca persyaratan lomba lagi.  Oh, dua cerpen? Imajinasiku mulai berkibar-kibar. Buat satu lagi! Aku mulai ngetik-ngetik. Pokonya yang ada di kepalaku keluar sudah. Saking semangatnya, akhirnya cerpenku yang ini jadi dalam tempo 30 menit dengan 8 lembar kertas folio. Aku kaget! Tumben! Haha…[aku garuk-garuk kepala]&lt;br /&gt;Soal nama tokoh udah aku pikirin jauh sebelum aku buat ini. Sengaja browsing di kolom ramalan nama, yah untuk mendukung setidaknya. Soalnya aku nggak mau menulis asal-asalan aja!&lt;br /&gt;3 hari sebelum tanggal 10 desember 2009. Gila, kok mepet banget ya? Nggak nyadar kesibukanku menjelang ujian nasional membuatku melupakan untuk mengirim naskah ke redaksi. Pulang sekolah, aku sempetin baca sekali lagi. Mengingat waktu yang nggak memungkinkan lewat jalur pos Indonesia akhirnya lewat e-mail pun jadi.&lt;br /&gt;Yahhh, kembali ke dunia nyata. Itu kan kenanganku dan kenyataannya aku nggak bisa nyebet juara 1 lagi seperti tahun sebelumnya. Wohohooooo…aku malah ngakak-ngakak sendiri. Aku langsung sms sobatku, Wiwik yang udah dukung aku awal mpe akir. Dan untuk temen-temen yang lain makasih banget udah dukung aku sepenuh’e. Yang minta kalung salib baru dan makan2 kaya’e sementara ditunda dulu.&lt;br /&gt;Aku sms dia,&lt;br /&gt;“Kabar duka….aQ kalah, sis!&lt;br /&gt;Hehe..tp gpp. Mngkn ini blom rjkiQ trz ps bca saingan’e gila abz 2512..ckck..&lt;br /&gt;M!f y! lom bs beliin DUREN! Hehe…”&lt;br /&gt;2 menit kira2…&lt;br /&gt;“y gpp! Tp u hrs ttp b’usha!&lt;br /&gt;U pzt bs jd pnlis bsr!”&lt;br /&gt;“Hehe…thax! Km ud dkung aQ mpe akir aQ ud sneng biud! Mg ae tlisanku yg laen dlirik&lt;br /&gt;ma pnerbt! Wkwkhehe…”&lt;br /&gt;“Amin2! Mg2 ksmpean, hehe..&lt;br /&gt;Q sbel kii, ma paijo ku!”&lt;br /&gt;“What? Paijo? Spa ikk? Wkwkwk..”&lt;br /&gt;Pada akhir’e kita malah sms’an ngalur ngidul…haha…&lt;br /&gt;4 desember 2010. ahhh…segala karunia Tuhan adalah segala hal yang kita dapatkan dan harus disyukuri. Termasuk keberhasilan maupun ketidak berhasilan. Bukankah begitu kaWanku? Eh, diaryku sayang, kamu setuju bukan?&lt;br /&gt;“Iya”&lt;br /&gt;Haha…&lt;br /&gt;Ketauan deh yang jawab aku sendiri. Wkwkwk….&lt;br /&gt;Hemmmm…^_^ ckck…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-3391263014066806549?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/3391263014066806549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/01/diary-4-januari-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/3391263014066806549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/3391263014066806549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/01/diary-4-januari-2010.html' title='Diary 4 Januari 2010'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-7259851511260972675</id><published>2010-01-10T15:28:00.000+07:00</published><updated>2010-01-10T15:31:04.064+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Perasaan, bukanlah suatu pemikiran!</title><content type='html'>Untuk merasa ingin menjadi orang hebat…&lt;br /&gt;Sesuatu yang handal namun kenapa terlihat tak nampak professional,&lt;br /&gt;Aku menulis sesuatu yang aku anggap bisa menuntaskan perasaan dan fikiranku,&lt;br /&gt;Bukan suatu penghalang menuju kehidupan,&lt;br /&gt;Mungkin bisa dibilang untuk mengabadikan suatu penekanan hidup.&lt;br /&gt;Sebenernya kalau dulu ada sebuah pilihan untuk hidup atau mati sebelum benar-benar menjadi onggokan dunia. 1 kali dalam kapasitas tinggi aku bakal milih mati. Karena Tuhan tak memungkinkan aku untuk memilih akhirnya kehidupanku pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya aku harus mengakui,&lt;br /&gt;Aku nggak pintar seperti orang-orang hebat itu,&lt;br /&gt;Prestasi sekolah biasa-biasa aja, dan aku bukanlah orang special di mata orang yang melihatku. Biasa. Itu sudah cukup. Tapi kok rasanya aku pesimis banget ya? Yahh, memang keadaan seperti itu. Sebentar, aku harus melakukan perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak pernah menyangka Tuhan beri aku suatu pandangan yang baru.&lt;br /&gt;Temanku lumayan banyak. Nggak perlu risau kalau ada yang membenciku. Karena aku masih mempunyai malaikat penjaga. Semua manusia pasti memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku orangnya perasa. Jadi dari sorot mata mereka antara suka dan tak suka aku dapat menjamahnya. Ah, entahlah! Tiba-tiba aku jadi bisa membaca sorot matanya atau raut mukanya. Mengherankan! Tapi bisa gila kalau harus dihadapkan pada sebuah kenyataan hidupku. Liku-liku aneh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba menulis sesuatu, pertama kali mencoba berimajinasi.&lt;br /&gt;Kalimat semrawut. Tanda baca awut-awut. Alhasil, aku pun hanya mrengut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu sebelum aku mengalami mimpi buruk berkepanjangan, aku merasa aku akan mati dengan segera. Hidungku sering mengeluarkan darah alias mimisan. Aku pikir aku terjangkit penyakit mematikan yang nggak bakal sembuh. Tapi, Tuhan beri suatu hal yang sulit aku terima. Mimpi buruk! Yah, aku sering mengalaminya setiap malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa selalu aku panjatkan! Malam bukan untuk sekawanan iblis yang semena-mena menggangguku, tapi aku juga butuh suatu ketenangan. Ketakutan selalu menjalariku, rasa kantuk yang teramat sangat, namun aku takut untuk memejamkan mata sedikit saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali aku pernah mengatakan,&lt;br /&gt;“Angin selalu berputar…bukankah ini siklus kehidupan yang engkau berikan, Tuhan!”&lt;br /&gt;Hanya temaram lilin yang menemaniku. Ini bukan puncak, kebahagiaanku direnggut oleh mimpi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa diriku dipenuhi ketakutan. Akhirnya aku menulis ini!  T.T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena apa kau hidup anakku?”&lt;br /&gt;“Karena Tuhan menakdirkanku tidur di pualam ini, Bapa!”&lt;br /&gt;“Bukan anakku, dapatkah kau memahami dari sudut pandang lain?”&lt;br /&gt;“Seperti rusuk, Bapa! Aku harus mencari ruas rusuk yang dapat menyematkanku di dalamnya! Lalu, keharusanku untuk lebih memahami sebuah alur dan ketepatan yang mungkin aku sulit memahaminya.”&lt;br /&gt;“Lalu,!”&lt;br /&gt;“Seperti perasaan berkabung, aku menangis tanpa air mata, Bapa!”&lt;br /&gt;“Kalau mimpi tak lagi mimpi maka seruan apa yang akan kamu panjatkan pada Tuhan Allah-mu, anakku!”&lt;br /&gt;“Coba lihatlah, Bapa!” aku mengangkat tanganku menghadap langit yang mengumandang kebiruannya, “Sungguh mulia Tuhanku, Bapa! Tanganku seakan-akan menyentuhnya. Meski ini suatu kemustahilan, namun aku jadi mengerti mengapa Tuhan takdirkan aku disini!” kulihat Bapa tersenyum tipis.&lt;br /&gt;“Anakku, sungguh mulia hatimu!” aku membalas senyumnya.&lt;br /&gt;“Tiada yang mulia selain Tuhan, Bapa!” jawabku lalu kembali menatap cowok yang terpejam dalam pembaringan terakhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini saatnya mengetahui bahwa jiwa tak lagi untuk diperdebatkan di dunia. Kuusap pelan parasnya untuk terakhir kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu!” gumamku lirih, menahan airmataku yang hampir menetes. Toh airmata itu akhirnya lebih cepat jatuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-7259851511260972675?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/7259851511260972675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/01/sebuah-perasaan-bukanlah-suatu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/7259851511260972675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/7259851511260972675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2010/01/sebuah-perasaan-bukanlah-suatu.html' title='Sebuah Perasaan, bukanlah suatu pemikiran!'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-1686117056755885301</id><published>2009-12-27T09:45:00.001+07:00</published><updated>2009-12-27T09:52:01.511+07:00</updated><title type='text'>My Cross from My Mom</title><content type='html'>Tak seorangpun tahu alir-mualir diriku, terkecuali keluarga yang telah membesarkanku. Aku terlahir dari buritan nafas-nafas yang tak pantas ditiru, karena agama apapun melarang hal itu. 2 bait keyakinan yang berbeda mencengkeram erat dalam diri orang tuaku, mengakibatkan diriku terbelenggu dalam kesuraman yang kian dalam kegelapannya. Aku tak pantas terlahir di dunia ini.&lt;br /&gt; Keluarga yang menjadi idaman setiap orang itu telah menempatkan diriku dalam kasih sayang yang cukup untuk kumiliki. Seolah aku terlahir dari buritan nafas yang sempurna. Yaahh, sebuah kesempurnaan dalam sehelai benang yang benar-benar senada.&lt;br /&gt; Derap langkahku kupercepat untuk menyongsong kelasku. Dan kupastikan kalung yang menggantung di leherku bergelayut riuh di balik kemeja seragamku. Sebuah benda hijau zamrud mirip samurai tajam bergelayut mengiringi si perak yang melingkar manis di leherku. Aku seperti putri kesultanan Usmani yang sedang terombang-ambing. Tak menentu, beginilah diriku.&lt;br /&gt; “Megisa!!” seruan itu berhasil memperlamban langkahku. Sosok cowok berparas tampan dan berkulit kuning langsat itu, kini sudah menyamai langkahku. Tak kuhiraukan ucapannya karena aku sendiri terbelenggu oleh hati yang berkecamuk. Entah kenapa?! Yang jelas perasaan ini muncul akhir-akhir minggu ini. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. 13 jam lagi kakakku akan mengucap sumpah setianya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Gaun berwarna putih selutut telah membalut tubuhku. Menjepit sebagian rambut panjangku dengan hiasan berbentuk bintang laut keperakan. Aku sengaja berdandan seperti ini untuk menghadiri pernikahan kakak perempuanku. Dan kalung salib berwarna hijau zamrud ini tetaplah menggantung di leherku.&lt;br /&gt; Kini jajaran kursi-kursi panjang gereja St. Immanuel telah terpenuhi undangan. Mereka bisa juga dibilang  sebagai saksi atas pernikahan kakakku dengan pemuda yang kini berprofesi sebagai dokter spesialis di rumah sakit milik ayah. Kupastikan dokter muda itu pasti sangat bahagia. Kaca mata minusnya menutupi mata sipitnya yang membuatnya kelihatan profesional.&lt;br /&gt; Aku berdiri di barisan pertama dengan seikat bunga Lily putih di dalam genggamanku. Bunga ini kesukaan kakak, dia pasti akan senang bila bunga ini sebagai hadiah pernikahan untuknya. Di samping kiriku, pria paruh baya berhidung bengkok berdiri mematung melihat kakakku berjalan menuju altar didampingi oleh paman. Paman adalah ayah baptis kakak. Sosok pria paruh baya berhidung bengkok ini tak lain adalah ayahku. Dialah sosok yang menuntunku ke jalannya. Haruskah ayah yang mendampingi kakak menuju altar? Itu tidak berlaku untuk keluargaku.&lt;br /&gt; Selang beberapa saat setelah seorang pendeta mengucap sabda perjanjian. Laki-laki itupun menyahutnya dengan sebuah janji setianya, setelah itu hening. Kenapa dengan kakakku? Bersediakah dia menikah? Kenapa hanya diam? Semua menunggu kakakku mengucap janji cinta itu. Menunggu, menunggu. Kulihat wajah ibu beraut cemas, sedangkan ayah tetap diam tanpa ekspresi. Pendeta itu mulai bertanya kembali pada perempuan yang tiba-tiba menjadi bisu di saat hari pernikahannya.&lt;br /&gt; “Saudari Brinanda, apakah kau bersedia menikah dengan saudara Yonathan?” tanya pendeta memastikan. Kuhitung sudah 5 kali ini pertanyaan itu dilontarkan ke perempuan yang sengaja menjadi bisu. Kuruntuki kelakuan kakakku, apa dia gugup saking bahagianya sehingga satu kalimat pun sulit dia lontarkan? Anggukkan kepala pun tak bisa mewakili karena dia hanya diam membisu. Ingin rasanya aku mendekatinya lalu menjambak rambutnya supaya dia berteriak. Setidaknya mengucapkan satu kalimat saja. Menjawab kata “Iya” apa susahnya coba?&lt;br /&gt; “Saudari Brinanda....” pendeta mencoba mengulang kembali pertanyaannya. Namun pertanyaan itu terpotong oleh suara yang sudah lekat kukenal, dan suara yang membuatku tak yakin akan pendengaranku.&lt;br /&gt; “Aku ingin menjadi seorang biarawati....” itulah! Itulah suara yang ditunggu-tunggu. Namun, kalimat itu jauh melenceng. Kau kakak, iblis mana yang telah merasukimu? Kau akan menikah dengan laki-laki yang katanya kau cintai, dan kini kau berkata…argg! Sontak bunga yang sengaja kubeli khusus untuknya terjatuh tanpa kupedulikan lagi. Ayah hanya diam, namun wajahnya jelas menyiratkan keterkejutan yang sangat mendalam. Semua undangan riuh rendah bergumam. Siapa yang tidak terkejut bila mendengar pengakuan kakakku yang begitu memporak-porandakan seluruh hati yang mendengarnya. Kulihat pula wajah laki-laki yang sebelumnya terlihat bahagia, kini berubah pucat dalam temaram kenyataan pahit.&lt;br /&gt; Ternyata perasaan yang berkecamuk yang kurasakan akhir-akhir ini, telah menandakan kenyataan pahit yang benar-benar terjadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sore ini setelah aku menjalankan sholat mahgrib bersama ayah. Aku bergegas menemui ibu yang menangis tersedu sedan di ruang tamu. Kupakai kembali kalung salib itu. Semua orang pasti berpikir kehidupanku aneh. Aku seorang muslim, namun menggantungkan salib di leherku. Aku sendiri juga berfikaran begitu. Malahan aku berfikir kehidupanku luar biasa aneh. Kalau aku sedang akan menjalankan sholat, aku akan melepaskannya. Memang tak ada larangan dari ayah. Namun, mata itu membuatku mengerti akan sesuatu.&lt;br /&gt; “Tiada Tuhan selain Allah...” kalimat yang tertuang dalam Al-Qur’an selalu meluncur dari ayah sesaat sebelum menjalankan sholat. Hanya lirih terdengar. Pria itu memang lembut namun, sorot matanya terlihat tegas, tajam berkilat-kilat. Aku melepasnya dengan hati-hati di balik mukena. Selalu dan akan begitu. Sedangkan ibuku, tak jauh beda dengan ayah. Ibu sosok yang lembut, dan tak pernah memarahiku. Posisiku seperti buah simalakama. Dimakan ayah akan mati, tak dimakan ibu yang akan mati. Ah, ayah, ibu! Aku tak mau durhaka pada kalian!&lt;br /&gt; Aku tak tahu lagi bagaimana menghadapi keluargaku ini. Aku serba salah! Serba dosa! Aku berfikir kalau diriku ini adalah anak terkutuk. Karma, mungkinkah seperti yang kurasakan ini? Aku terlahir muslim, tidak dalam pembaptisan seperti kakak. Tapi kenapa ibu mengalungkan salib ini sejak aku terlahir di dunia? Ingin sekali kuberontak pada pemilik mata sendu itu. Namun, lagi-lagi aku teringat saat aku ingin melepasnya.&lt;br /&gt; “Surga di telapak kaki ibu! Jangan sekali-kali kau melawan ibu!” dan, “Kalung ini akan menjadi pelindungmu, Juru Selamat akan selalu menyertaimu, Megisa!” begitulah kata pakunya. Aku langsung terdiam seribu bahasa, dan berjanji dalam hati tak akan mengulangi pikiran-pikiran atau kelakuan yang bisa membuat ibu kecewa. Terjadilah kalung bergantung salib ini menggantung di leherku selama aku hidup. Sebenarnya ayah mengetahui hal ini, tapi sosok pria itu sepertinya tak terlalu mempermasalahkan hal ini. Oh, aku teringat dulu ayah pernah berkata padaku,&lt;br /&gt; “Megisa, anggaplah sebuah hiasan perakmu saja, dan jangan perlihatkan pada siapapun terkecuali keluarga, terutama ibumu!” aku menatap wajah berhidung bengkok itu. Jelas menyiratkan ayah sangat mencintai ibu. Sosok itu seolah tak mau wanita yang dicintainya kecewa lantaran aku tak memakai kalung bersalib ini. Aku mencoba berpikir sekuat-kuatnya, dan memberanikan diri untuk bertanya pada ayah.&lt;br /&gt; “Ayah, kenapa ayah menikahi ibu?” aku tahu pertanyaan itu jawabannya pasti dilatar belakangi oleh cinta. Namun, ada sesuatu yang menjadi kebingunganku. “Bukankah muslim mengharamkan umatnya menikah dengan seorang non muslim?” ah, Tuhan! Pada kenyataannya pertanyaan itu hanya menggantung. Bibirku terasa kelu, seolah terbungkam sesuatu yang begitu berat, tak bisa digerakkan sedikitpun. &lt;br /&gt; Aku duduk disamping ibu yang masih menangis. Kulihat kakakku hanya diam. Insiden di gereja tadi sore memang memalukan sekali. Sampai sekarang masih sulit kupercaya.&lt;br /&gt; “Tenanglah!” gumam ayah yang mencoba menenangkan ibu yang berada di samping kirinya. 1 hal yang menjadi kekagumanku. Ayah dan ibu tak pernah marah satu sama lain. Tak pernah ribut. Setahuku menjadi anaknya begitu, kalaupun mereka benar-benar ribut, tak pernah nampak di mataku.&lt;br /&gt; Ibu tetap saja masih menangis. Ayah dan ibu mungkin juga bingung seperti apa yang sedang aku rasakan terhadap kakak. Ayah menatap kakak, lama. Kemudian mulutnya bergerak pelan, seperti ada sesuatu yang ingin ayah ucapkan. Namun, gerakan kakak yang tiba-tiba merunduk di lutut ayah, membuat ayah kembali terdiam.&lt;br /&gt; “Ayah, Ibu, maafkan Brinanda! Brinanda tak bermaksud mempermalukan nama baik keluarga! Hanya saja Brinanda ingin menjadi seorang biarawati!” ibu semakin tersedu mendengar pengakuan kakak.&lt;br /&gt; “Apa kamu ada masalah dengan Yonathan sehingga membuatmu seperti ini?” tanya ayah dengan nada yang diatur sedemikian tenang. &lt;br /&gt; “Tak ada masalah sedikitpun.”&lt;br /&gt; “Lantas kenapa kamu membatalkan pernikahanmu sendiri? Dan....” ayah tak sanggup melanjutkan pertanyaannya.&lt;br /&gt; “Aku ingin menyerahkan seluruh hidupku pada Tuhan!” akunya tanpa sedikitpun merasa bersalah. Apa dia tak berfikir bagaimana perasaan Ayah dan ibu? Terutama pada laki-laki yang mencintainya? Kurasa kakakku sudah gila. Segila-gilanya perempuan yang memang sudah hilang akal kewarasannya. Dia mengakui keinginannya begitu tiba-tiba. Tak habis pikir, kenapa saat sebelum upacara pernikahan yang disaksikan orang banyak dia tidak menolak laki-laki itu? Dia pikir hidup ini mainan yang bisa dia mainkan sesuka hatinya? Tak ada kamus dunia yang merelakan semua itu kakak! Kau telah mengkhianati cintamu sendiri. Kau pecundang! Dengan perasaan bergemuruh aku meninggalkan ruangan ini, karena aku sudah tak tahan dengan suasana yang sebelumnya tak pernah terselebat di benakku.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Megisa!” gumam seseorang dari arah belakang dan aku dibuat terkejut oleh seorang cowok berkulit kuning langsat setelah membalikkan badanku. Sesuatu yang tak aku inginkan akan terjadi. Rahasia yang aku simpan selama hidupku dalam waktu ini akan terbongkar semua.&lt;br /&gt; “Yu…Yusuf…” ujarku terbata. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya, dan keringatku mengucur deras.&lt;br /&gt; “Megisa!” suaranya lirih terdengar. Mungkin dia juga terkejut dengan pengelihatannya saat ini. Dia sangat dekat denganku. Tangan kanannya memegang salib hijau zamrud yang menggantung di leherku.&lt;br /&gt; “Kenapa kamu ada disini?” tanyaku. Aku yakin ini sebuah rasa ketakutan. Ketakutan akan sebuah kejujuranku padanya. Apakah dia akan tetap mempercayaiku seperti sebelumnya?&lt;br /&gt; Di depan gereja St. Immanuel, kami berdiri terdiam. Angin semilir berhasil menggoyakan rambut panjangku yang tergerai. Masih dalam keadaan diam, dia mencoba meraih pergelangan tanganku. Lalu menuntunku duduk di kursi panjang yang tak jauh dari situ.&lt;br /&gt; “Megisa, kenapa kamu tak jujur padaku?”&lt;br /&gt; “Harus kamu ketahui, kenapa aku berada di tempat ini! Kakakku akan menjadi seorang biarawati, pernikahannya gagal.”&lt;br /&gt; “Kamu seorang Nasrani? Apakah kamu berpindah kepercayaan?” aku menggeleng pelan.&lt;br /&gt; “Lantas?” matanya beralih ke salib kecil yang menggantung manis di kalung perak yang kupakai. Pertanyaannya terhujam berat di hatiku. Rasanya begitu sakit bila bibirku bergerak sedikit saja. Aku tak sanggup mengatakan yang sebenarnya pada seseorang yang sudah menaruh kepercayaan padaku.&lt;br /&gt; “Maafkan aku!” gumamku nyaris tak terdengar. Airmataku mengalir. Aku merasa sangat bersalah padanya karena aku menyembunyikan sesuatu pada orang yang jelas mencintaiku selama ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Nafasku... &lt;br /&gt;  Hatiku...&lt;br /&gt;  Dan degup jantungku...&lt;br /&gt;  Layaknya bulir-bulir padi yang meranum&lt;br /&gt;  Bila goyah tersibak angin&lt;br /&gt;  Ia akan bergemerincing layaknya lonceng yang bergulir&lt;br /&gt;  Mengikuti temali yang menjerat erat lubang hiasnya&lt;br /&gt;  Terombang-ambing,&lt;br /&gt;  Tanpa kepastian yang jelas…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kehidupaku akan selamanya seperti ini. Bila suatu saat nanti aku terbaring tak berdaya. Pertimbangan akhiratlah yang akan menjadi kebenaran. Betapa besar kekagumanku pada penguasa jagad ini, meski aku terperangkap pada sebuah terumbu kebimbangan.&lt;br /&gt; Ibu mengalungkan salib itu di leherku, ayah mengajariku tadarus Al-Qur’an setiap malam, dan kini kakakku berdiri dengan pakaian biarawati. Itu semua adalah anugerah Allah yang diberikan padaku. Aku harus bisa menerimanya dengan keikhlasan hati. Meski pahit terasa manis, meski manis terasa hambar, meski tak sempurna adanya, perbedaan itu tetaplah akan melekat erat dalam jeruji-jeruji jantung dan peluhku. Ini bukanlah mimpi yang bertahun-tahun menghiasi tidurku. Ini adalah sebuah kenyataan.&lt;br /&gt; Aku adalah seorang dari ratusan, ribuan, jutaan orang yang mengalami kenyataan seperti ini. Mungkin ada yang merasakan seperti yang sedang kurasakan selama ini. Terjerat dalam dua ikatan yang berbeda.&lt;br /&gt; Kulihat bintang dalam temaram kegelapan. Kurasakan titik kearifan dalam kesuraman. Meski samar-samar, bila aku menggapainya dengan keteguhan hati. Maka hatiku akan terang layaknya cahaya yang berkelip itu.&lt;br /&gt; “Ya Allah…Ya Tuhanku…berikanlah titik terang itu padaku! Seperti Engkau memberikan bintang pada kegelapan malam!” aku menunduk, merasakan bulir-bulir halus jatuh dari pelupuk mataku.&lt;br /&gt;Selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Cerita ini sempat aku kirimkan ke dalam sayembara, dengan judul sehelai benang 2 warna teranyam. Dan aku nggak tau nasib naskahku sampai sekarang. Ah, sudahlah, biarlah waktu yang menjawabnya! Bukankah begitu Tuhan?! Segala sesuatu aku serahkan pada-Mu! ^_^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-1686117056755885301?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/1686117056755885301/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/12/my-cross-from-my-mom.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/1686117056755885301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/1686117056755885301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/12/my-cross-from-my-mom.html' title='My Cross from My Mom'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-5415525174392320216</id><published>2009-12-27T09:38:00.000+07:00</published><updated>2010-11-14T09:28:56.469+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Short Story'/><title type='text'>Alvin or Nu</title><content type='html'>Aku selalu menangis setiap menjelang tidur. Dan esoknya mataku akan lebam-lebam sampai bola mataku hampir tak terlihat. Itu kulakukan lantaran aku dimasukkan ke sekolah yang diinginkan kedua orang tuaku. Aku tak mau! Aku tak mau! Itu yang selalu ku katakan pada mereka. Tuhan saja tahu keinginanku seperti apa. Aku mempunyai keinginan bersekolah di SMA yang sudah lama kudambakan. Tuhan juga mengabulkan doaku, agar aku diterima di sekolahan itu. Aku sangat gembira waktu pengumuman itu keluar. Karena aku diterima. Tapi harapanku pupus sudah. Kedua orang tuaku tak setuju kalau aku benar-benar bersekolah di SMA yang kudambakan itu. Pada akhirnya pun aku harus menuruti keinginan mereka. Aku bersekolah dimana orangtuaku mendaftarkanku.&lt;br /&gt;1 bulan lamanya aku belajar di SMA ini. Lebih jelas lagi adalah SMA setengah hati. Memang sih tempatnya elite, bangunan oke, fasilitas lebih dari cukup, teman-teman dan guru-guru juga ramah-ramah. Ya, tapi semua itu tak membuatku untuk bisa menerima dengan sepenuh hatiku.&lt;br /&gt;Setiap jam istirahat aku sengaja tak bergabung dengan teman-teman yang lain. Lebih baik aku duduk sambil baca di belakang sekolah. Di tempat ini tak ada seorang pun berani kecuali aku. Memang sih suasananya agak nyeremin. Tapi apa peduliku? Toh aku tak mengganggu dan diganggu.&lt;br /&gt;Meski ada teman yang melarangku, dan ada juga kakak kelas yang cerita kalau di pohon itu ada hantunya.&lt;br /&gt;“Dulu tuh ada cowok yang mati di situ!” itu salah satu versi cerita yang sempat heboh seusai kegiatan MOS. Uhhh....aku benci seperti ini. Biarkan aku bebas dengan segala keinginanku! Ah, mungkin ini salah satu efek, aku tak mau bersekolah disini.&lt;br /&gt;Ok! Hari ini setelah bel istirahat berbunyi, aku langsung menuju ke belakang sekolah. Aku duduk di undakan yang memang sudah menjadi bagian bangunan ini. kulihat dengan seksama pohon itu. Tak ada apa-apa. Malahan terlihat sangat indah dengan tekstur akar-akarnya yang besar dan bergantungan. Angin semilir menggugurkan daun kering pohon itu. Semak-semak yang ada di sekitar saling bergemerisik. Angin sudah tak berhembus seperti tadi. Tapi semak-semak di ujung sana masih bergoyang. Dengan langkah pelan, aku mendekati semak-semak itu. Aku sangat penasaran! Jantungku berdegup dengan kencangnya. Apaan ya? Hehe…senyumku ala iblis. 1...2...3... hitungku dalam hati bebarengan dengan membuka semak-semak itu. Ahaa…aku celingak-celinguk seperti orang bodoh. Tak ada siapa-siapa disini kecuali aku. Aku menghembuskan nafasku lega. Huahh!!..aku berdiri penuh kemenangan, aku tak takut. Mana ada hantu di siang bolong? Aku bergegas kembali ke tempat sebelumnya. Namun, belum aku membalikan badanku. Semak-semak itu kembali bergoyang-goyang inul. Kali ini dengan penuh keberanian, aku membuka semak-semak itu kembali. Siapa yang mengerjaiku seperti ini? pikirku dalam hati. Dan sesuatu telah berhasil mengejutkanku, jantungku nyaris copot.&lt;br /&gt;“AAAA…” teriakku sambil menutup mataku dengan kedua telapak tanganku. Oh, Tuhan! Lindungi aku! Lindungi aku! Doaku dalam hati.&lt;br /&gt;“Sttt…” suara? Suara apa itu? Kenapa aku ketakutan? Hwaa...aku benar-benar ketakutan setengah mampus.&lt;br /&gt;“SSttt... jangan takut! Buka matamu, aku tak akan mencelakakanmu!” aku mendengar suara itu. Menyuruhku membuka mataku. Dia manusia? Yess! Dengan samar kulihat wajah itu tersenyum ke arahku. Tersenyum dengan sepasang lesung dipipinya.&lt;br /&gt;“Kamu siapa?” tanyaku padanya. Dia sepertiku. Manusia? Mungkin. Tapi kulitnya lebih pucat dariku.&lt;br /&gt;“Namaku Nura…” dia menyebut namanya. Posisinya jongkok dengan kemeja dan celana panjang abu-abu. Apa dia hantu seperti di tv-tv? Ah, mana mungkin? Mana mungkin dia hantu?! Dia kan memakai seragam sama sepertiku. Bedanya aku memakai rok sedangkan dia memakai celana panjang.&lt;br /&gt;“Kamu siswa disini?” tanyaku lagi. Dia mengangguk.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;Pertemuanku dengan cowok berkulit pucat siang tadi membuatku semakin penasaran. Siapa dia? Dia? Namanya Nura. Ya iyalah, dia kan yang bilang sendiri kalau namanya Nura. Ohh...bukan itu! Bukan itu masalahnya! Tapi kenapa dia ada disitu? Dibalik semak-semak. Penting nggak sih, anak SMA main umpet-umpetan. Huh..gara-gara bel masuk berbunyi, aku tak jadi nanya ke dia. Ngapain disitu? Wah, kenapa aku jadi bersemangat begini?!&lt;br /&gt;“Mikaa...” suara mama memanggilku dari bawah.&lt;br /&gt;“Iya, Ma!!” sahutku cepat.&lt;br /&gt;“Ada yang mencarimu..”&lt;br /&gt;“Siapa, ma?”&lt;br /&gt;“Heh, liat ndri!!” suaranya beda. Lebih cempreng dari sebelumnya. Aku yakin banget itu bukan suara mama. Aku mulai menuruni anak tangga. Stereengg…mataku melotot tajam. Melihat sosok berjaket hitam dengan celana belelnya dan potongan rambutnya yang baru membuat wajah tirusnya semakin keren.&lt;br /&gt;“Malem…Mika!” suaranya merdu…seperti suara burung hantu yang sering nangkring di pohon palem belakang rumahku.&lt;br /&gt;“Malem…” balasku tak kalah merdunya. Hatiku meloncat-loncat laksana kanguru dikejar maling. Oh, salah maksudnya dikejar pemburu. Hehe…versi Mika sih, jadi laen katanya. Setelah mama dan kakakku meninggalkan aku dan Alvin di ruang tamu. Bik Murti menyajikan 2 gelas minuman untuk kami.&lt;br /&gt;“Ada apa?” tanyaku pada Alvin. Dia malah tersenyum kearahku. Otomatis aku kelihatan bodoh. Aku seperti tenggelam di tengah samudera, sulit banget nyari oksigennya...hah...hah...hah...&lt;br /&gt;“Mika, kamu lupa ya sayang! Hari ini kan malem minggu!” oh, malem minggu? Iya juga, kenapa aku bisa sepikun ini. gara-gara aku terlalu antusias mungkin dengan cowok berkulit pucat itu. Hehe..Alvin itu cowokku. Sebenarnya dia itu udah bikin aku kecewa banget. Kecewa lantaran dia ngedukung ortuku. Ya, masalah sekolah itu. Dan yang paling mengecewakan, dia tidak satu sekolahan denganku.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;“Kok flimnya bukan horor sih, Vin?” tanyaku saat setelah Alvin mengambil tiket.&lt;br /&gt;“Jadwalnya kan dirubah, sayang! Kok kamu jadi ngefans banget sama flim-flim horor? Perasaan kamu dulu takut setengah mati setiap kali denger.”&lt;br /&gt;“Itu kan dulu Alvinku, sayang! Mika tuh udah gede, berani donk.” Sangkalku.&lt;br /&gt;“Kalau hantunya Alvin, kamu takut nggak?”&lt;br /&gt;“Kamu jangan ngaco deh! Haha…” mendengar candanya barusan, tawaku langsung meledak. Alvin malah ikut-ikutan tertawa. Kalau hantunya seperti Alvin semua sih, aku juga mau. Maksudnya? Tau ah.&lt;br /&gt;“Sayang, masih 30 menit lagi nih. Kita makan dulu ya, kamu juga belum makan kan?” aku mengangguk dan mengikutinya keluar dari loby stadion, untuk mencari makan. Oohh, Alvinku!! Kamu memang ngerti aku kalau sedang laper! Duh, kok kayak cerita itik dan Sang peternak??!!!&lt;br /&gt;30 menit udah berlalu, aku dan Alvin segera menuju ke bioskop. Kami menuju ke stadion 1, yang berada di pojok sendiri. Setelah benar-benar masuk, kami segera mencari tempat duduk sesuai dengan no. Yang tertera di tiket. Kami duduk berdampingan. Mungkin kami beruntung karena duduk di bagian tengah. Lampu tiba-tiba padam dan sedetik kemudian layar bioskop menyala terang. Yap, menandakan bahwa flim akan segera dimulai.&lt;br /&gt;Mungkin sudah 15 menit aku menonton flim yang ditayangkan di layar itu. Aku merangkul lengan Alvin.&lt;br /&gt;“Kamu kedinginan?” tanyanya. Aku mengangguk.&lt;br /&gt;“Iya…” jawabku agak sedikit terdengar parau. Aku memang tak tahan dingin. Dia langsung tersenyum mendengarnya, lalu memakaikan jaketnya ke badanku. Aku tak tahu kenapa hawa dingin ini seperti menyelimutiku dalam-dalam. Padahal, kulihat dengan sepintas yang menonton disini tidak kedinginan sepertiku. Alvin? Jelas-jelas dia seperti yang lain, seperti tak merasakan hawa dingin ini. Bulu kuduku serasa berdiri semua. Aku mencoba melirik kursi yang berada di sebelah kiriku. Perasaan sedari tadi kan kursi itu memang nggak ada penghuninya. Tapi sekarang...&lt;br /&gt;“Alvin!!!...” jeritku ketakutan.&lt;br /&gt;“Sttt...” disekelilingku melihatku dengan tatapan tak suka.&lt;br /&gt;“Sayang, kamu kenapa?” tanyanya setengah berbisik.&lt;br /&gt;“Hantu…hantu…” aku bergidik ngeri dan memejamkan mataku lekat-lekat.&lt;br /&gt;“Hantu? Hantu apaan? Dimana?” tanyanya beruntun.&lt;br /&gt;“Di sebelah kiriku.”&lt;br /&gt;“Mana? Nggak ada apa-apa. Makanya jangan terlalu banyak nonton flim horor, begini kan jadinya.” Ekspresinya datar, tak sekalipun ketakutan seperti diriku.&lt;br /&gt;“Aku benar melihatnya…”&lt;br /&gt;“Mika, itu mungkin hanya halusinasimu saja. Sekarang kamu lihat tuh flim!” katanya sembari melingkarkan lengan kirinya ke bahuku. “Sudahlah Mika, jangan takut seperti itu! Kan ada aku disini.” Aku menatapnya. Tersenyum. Di samping kiriku memang tidak ada siapa-siapa. Mungkin Alvin benar, itu hanya halusinasiku. Tapi, aku tadi benar-benar melihat. Melihat sosok yang sebelumnya pernah masuk ke dalam memoriku.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;Sekitar pukul 09.00 malam, aku sudah berada di dalam rumah. Alvin selalu tepat akan janjinya pada mamaku. Dia akan mengantarkanku pulang sebelum jam 10.00 malam. Itulah salah satu janjinya.&lt;br /&gt;Aku mulai menaiki anak tangga, menuju kamarku. Aku mencoba membuka pintu kamarku dan menutupnya pelan.&lt;br /&gt;“Kenapa sampai rumah jadi panas begini?” gumamku sambil mengusap keringat di pelipisku. Aku meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu.&lt;br /&gt;“Hrmm...”&lt;br /&gt;“Siapa itu?” aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Lantas siapa yang mengeram tadi?&lt;br /&gt;“Kak Nita ya?” tebakku. “Jangan bercanda, ini kan sudah malam. Kenapa kakak belum tidur?” tanyaku tanpa melihat kak Nita. Lampu sudah menyala. Aku meletakkan ponselku di atas meja. Tak ada sahutan dari kak Nita.&lt;br /&gt;“Kak Nita?!” aku menoleh ke arah tempat tidurku. Tidak ada sosoknya. “Kakak jangan bercanda!” aku melangkah mendekati tempat tidurku. Aku tahu kakak pasti ada di balik selimut hijau milikku. Aku mencoba menarik selimut itu dan seketika itu aku menjerit histeris.&lt;br /&gt;“Hwaaaaa...”&lt;br /&gt;“Stttt...”&lt;br /&gt;“Si...siapa kamu?” tanyaku agak sedikit terbelit. Dia mendekatiku.&lt;br /&gt;“Tidak ingat sama sekali?” tanyanya balik. Aku mencoba berfikir ulang. Memutar-mutar otakku sampai bisa mengingat sosok ini. Saat aku berhasil menangkap bayangan pucat yang melintas di otakku. Dia tersenyum ke arahku. Jantungku berdebar bukan main lagi. Ini benar-benar membuatku terkejut-kejut. Hahh!!...&lt;br /&gt;“Nu?” tanyaku sembari bangkit dari keterkejutanku.&lt;br /&gt;“Nura!” katanya menegaskan namanya.&lt;br /&gt;“Ya, maksudku juga begitu. Bagaimana mungkin kamu bisa masuk ke kamarku? Perasaan aku tak pernah memberi alamat rumahku padamu.”&lt;br /&gt;“Tidak perlu karena aku sudah tahu.”&lt;br /&gt;“Dari mana kamu tahu?”&lt;br /&gt;“Apa kamu tidak sadar, aku selalu mengikutimu?!” spontan aku melotot ke arahnya, setelah mendengar pertanyaan baliknya.&lt;br /&gt;“Yang ada di bioskop tadi?”&lt;br /&gt;“Itu aku.” Dia menjawabnya sambil tersenyum misterius. Aku langsung melempar boneka yang ada di sampingku ke arahnya. Aku melongo tak percaya. Boneka itu tak sedikitpun mengenai tubuhnya. Padahal aku sangat yakin lemparanku mengenai sasaran.&lt;br /&gt;“Meca!!! Yuhuuuu!!!....” aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Nggak mungkin!!&lt;br /&gt;“Kamu. Hantu!!!” seruku pelan. Saat itu pula aku pinsan. Semuanya jadi gelap gulita.&lt;br /&gt;“Sudah kubilang jangan takut padaku! Harusnya kamu sadar akan diriku sejak awal! Meca...Meca....” cowok tampan bekulit pucat itu tersenyum melihatku yang terkapar di tempat tidur.&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;Hari Kamis malam Jum’at,&lt;br /&gt;Tanggal 27 Juni 2008...&lt;br /&gt;Saat burung hantu yang sering mangkal di belakang rumahku dengan suksesnya menyaringkan suara merdunya. Di dalam kamar bercat serba putih dengan ukiran di atapnya, aku menatap lekat-lekat cowok bermuka pucat itu.&lt;br /&gt;“Kamu sudah tidak takut lagi padaku?” Aku menggeleng mantap mendengar pertanyaannya barusan.&lt;br /&gt;“Apa tugas hantu itu seperti kamu? Mengikutiku kemana aku pergi dan tinggal di rumahku.” Tanyaku padanya.&lt;br /&gt;“Tidak juga, Meca.” Jawabnya datar tanpa secuil ekspresi.&lt;br /&gt;“Namaku Mika, bukan Meca!” tegasku padanya.&lt;br /&gt;“Tapi aku lebih suka memanggilmu Meca.”&lt;br /&gt;“Aku nggak mau. Enak saja ngerubah-rubah nama orang seenak jidat. Emang siapa kamu?” kataku setengah ngotot. Dia malah melotot ke arahku.&lt;br /&gt;“Kamu!!”&lt;br /&gt;“Apa? Kamu siapa? Ngapain ngikutin aku? Pergi sana! Kamu tuh ganggu aku. Pergi sana! Dan jangan memunculkan sosokmu lagi dihadapanku. Kita tuh beda alam, sana cari teman yang setara denganmu!” songolku tanpa memandang sosoknya. Diam. Dimana dia? Aku celingukan mencari sosoknya. Yang benar saja dia pergi? Yess! Tapi...&lt;br /&gt;“Nu!!!” Aku mencoba memanggilnya. “Nu, kamu marah ya? Tadi kan aku cuma bercanda. Nu...Yuhuuu....Kamu dimana?!”&lt;br /&gt;“Mika, kakak bawain pizza nih!!”&lt;br /&gt;“Brakk!” kakak langsung masuk kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aku langsung gelagaban. Kak Nita menyeringai lebar.&lt;br /&gt;“Pizza dari budhe Nani. Dimakan ya!” kakak menyerahkan 1 kotak pizza. Hmm...&lt;br /&gt;Setelah menerima kotak pizza dari kak Nita, tiba-tiba di belakang kakak terlihat sosok muka pucat itu kembali.&lt;br /&gt;“Ngapain kamu disitu? Cepat pergi! Kakak bisa melihatmu.” Bisikku padanya. Kakak heran melihatku saat setelah membalikkan badan ke arahku.&lt;br /&gt;“Kamu bicara sama siapa?”&lt;br /&gt;“Enggak.”&lt;br /&gt;“Perasaan kakak dengar kamu bicara. Kamu nyembunyiin cowok ya?!” tebaknya yang tak meleset. Ya, benar. Aku memang nyembuyiin cowok. Gimana ini??&lt;br /&gt;“Nu, cepat pergi!” bisikku lagi. Kali ini sosoknya berada di samping kakak. Nu malah tertawa ngakak. Dasar hantu tengil.&lt;br /&gt;“Mika!” gertak kak Nita.&lt;br /&gt;“I..iya.”&lt;br /&gt;“Kamu bicara sama siapa?” kak Nita celingukan.&lt;br /&gt;“Akting kak! Besok ada pertunjukan drama di kelas. Latihan! Latihan!” kataku mencoba menyakinkannya.&lt;br /&gt;“Ohh..bener kamu nggak nyembunyiin cowok?” aku menggeleng. Ternyata kakak tak bisa melihat Nu. “Ya, sudah. Setelah makan langsung tidur. Kakak nggak mau ngebangunin kamu besok, kalau kamu masih molor.” Tegurnya lalu melangkah menuju pintu. Aku mengelus dada dan benafas lega. Huahh!!&lt;br /&gt;“Dan...” aku terkejut bukan main. Tiba-tiba kakak membalikkan badannya kembali ke arahku. “Kalau sampai ketahuan ngumpetin cowok. Kakak aduin ke papa, mama. Supaya kamu nggak boleh pacaran seumur hidup.” Katanya sambil melotot ke arahku. Weessss…apa maksudnya? Ohoo…aku tahu! Dia itu sebenarnya iri sama aku. Kerena apa? Karena aku lebih cantik darinya. Haha…hueks!..&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;“Sayang, hampir 2 tahun kita jadian, tapi kok kakak kamu tuh sepertinya nggak pernah suka sama aku.”&lt;br /&gt;“Aku juga ngerasa gitu. Dah, nggak usah dipikirin, kakak emang gitu. Nggak pernah suka ngelihat aku seneng.” Sungutku. Alvin mengacak rambutku. “Tapi kamu nggak apa kan? Maafin kakakku ya!” aku menatap seringai wajah tampannya. Dia mengangguk pelan dan tersenyum. Aku terkejut. Alvin? Aku mencoba mengucek mataku beberapa kali.&lt;br /&gt;“Nu?” bukan Alvin. Nu? Sebenarnya siapa yang bicara denganku tadi? Alvin? Dimana dia? Cowok berwajah pucat itu kini tersenyum lekat di hadapanku. Tak pernah kusadari 2 lesung pipinya seperti milik Alvin. Otakku berputar-putar, melihatnya terus tersenyum ke arahku.&lt;br /&gt;“Alvin!!!” teriakku. Kegelapanpun merajaiku.&lt;br /&gt;   #*#&lt;br /&gt;Pernah dimuat di Majalah Sekolah tahun ajaran 2008/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-5415525174392320216?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/5415525174392320216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/12/alvin-or-nu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/5415525174392320216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/5415525174392320216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/12/alvin-or-nu.html' title='Alvin or Nu'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-4005788201650657222</id><published>2009-12-26T11:49:00.000+07:00</published><updated>2009-12-26T11:55:05.380+07:00</updated><title type='text'>Next Story_Love in Heaven_Part 3_Perulangan</title><content type='html'>Ulang tahunku ke 17, Papa da Mama menginginkan perayaan hari jadiku ini. Aku bahagia mendengarnya. Seperti saat ini, seorang wanita paruh baya dengan parasnya yang cantik mencoba merapikan gaunku. Tercium dari hidungku aromanya yang sejuk menawan. &lt;br /&gt; “Bunda, tiada kata dapat kuucap karena sungguh bahagianya diriku memakai gaun seindah ini.” Ujarku. Lalu wanita itu membalikkan tubuhku perlahan, sehingga kami saling berhadapan.&lt;br /&gt; “Membuat kecantikanmu semakin terang, anakku!” wanita itu mengulum senyum dari bibir tipisnya. Namun, mata itu tak dapat membohongi siapa pun yang melihatnya. Termasuk diriku. Lebam-lebam kemerahan akibat tangis yang terlalu dalam sangat jelas terlihat. Kini aku memeluknya. &lt;br /&gt; “Akankah, Nicos bertandang di kebahagiaanku, bunda? Merasakan apa yang aku rasakan?!” &lt;br /&gt; “Entahlah, anakku!”&lt;br /&gt; “Bunda, tak ingin aku mendengar tangismu lagi!”&lt;br /&gt; “Bunda tak sanggup…”&lt;br /&gt; “Bunda…”&lt;br /&gt; Dalam dekapannya yang hangat, aku merasakan hatinya merauk rapuh. Merindu dalam sepotong asa yang tak kunjung terobat. Selama masa dimana langit menetapkan kebiruannya yang semakin suram. Awan-awan hitam itu menyilimutinya, menyelubunginya, dan menggumpalkan kapas-kapas muramnya di dalam terang kebiruannya. Mendamba seorang anak yang selalu mengisi harinya hadir kembali. Dulu memang pernah ia rasakan tapi untuk saat ini, untuk saat akan datang, keraguan demi keraguan menyelimuti segala kepastiannya. Akankah bunda merasakan kebersamaan itu kembali, Tuhan?! Kumohon, jangan pisahkan mereka! Kupejamkan mataku sejenak. Benar-benar aku merasakan ketidak pastian.&lt;br /&gt; ::::-.-:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::&lt;br /&gt; Seonggok cerita masa lalu,&lt;br /&gt; Seorang biarawati rela melepaskan kerudungnya demi kebahagiaan orang tuanya yang merindu seorang malaikat kecil. Kalau saja Viona, adik bungsu satu-satunya itu tak meninggal di rumah peradapan bersama suaminya, atau andai Viona dan suminya sudah mempunyai malaikat kecil, dan kalau saja ayahnya tak berteman baik dengan ayah laki-laki yang ia temui di gereja beberapa tahun yang lalu. Mungkin saat ini, detik ini, ia masih mengenakan kerudung pengabdiannya dan masih tenggelam dengan kesucian di segala terumbu Tuhan. Rasa keibuan mungkin ada, namun tidak dapat disematkan dalam darah dagingnya. Tapi itu adalah pengandaian belaka. Saat ini benar adanya takdir Khaterin, ia menangis saat ia merasakan bahwa ini adalah cinta.&lt;br /&gt; 12.24.1990&lt;br /&gt; Bertepatan dengan malam Natal. Pernikahan, kebahagiaan, dan segala pencerahan.&lt;br /&gt; Apakah itu ia rasakan? Iya, tapi juga tidak.&lt;br /&gt; Setelah ia melahirkan seorang malaikat kecil. Laki-laki yang menikahinya itu meninggalkannya. Memutuskan membuat pengakuan dosa dan kembali mengabdi pada Tuhan. Ia menangis. Merasakan getir-getir kepiluan yang sungguh tak siapa pun menginginkannya. Dalam dekapnya malaikat kecil itu tertidur pulas. Malaikat kecil itu belum tahu arti dari kekuatan tangisnya. Perempuan itu mengcupnya. Berjanji bahwa ia akan merawat malaikat kecil yang dititipkan Tuhan untuknya. Ia merasakan juga bahwa ini adalah kasih seorang ibu untuk anaknya. Rasa cinta yang merajuk pada suaminya itu memang tak terbalas. Namun ia yakin bahwa malaikat kecilnya lah yang akan membalasnya.&lt;br /&gt; Tak sengaja air matanya menetes di pipi buntal seputih salju yang kemerah-merahan yang berada di dalam dekapannya. Perlahan mata bundar yang jernih itu mengerjap-ngerjap. Perempuan itu pun tersenyum dan mengecupnya kembali. &lt;br /&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&lt;br /&gt; Pesta ulang tahunku meriah sekali. Semua terlihat bahagia. Papa, mama, kak Karen, kak Yesaya, teman-teman dan semua keluarga berkumpul jadi satu di ruangan yang sengaja di dekorasi seindah ini. Tapi, serasa ada yang kurang. Nicos? Agnes? Dimana kalian berdua? Akankah kalian datang ke acaraku? Aku celingukan, sudah 1 jam acaraku dimulai. Tapi tetap saja tak kudapati sosok salah satu dari mereka. Aku menunduk. Lesu. &lt;br /&gt; “Tak baik memasang wajah seperti itu di hari kebahagiaanmu!”&lt;br /&gt; “Aku baik-baik saja. Aku bahagia. Kakak lanjutkan saja acara makan-makannya!” suruhku sehalus mungkin, tanpa sedikit pun memandangnya. Aku membalikkan badan, menatap temaram bulan di balik jendela. “Ah, kakak, kau juga mengecewakanku, seperti halnya Bapa pada Nicos!” Batinku bergelut resah.&lt;br /&gt; “Kalau aku sudah ada disini, apa kau juga masih memasang murammu itu?” suara itu? Aku langsung membalikkan badan. Dia tersenyum tepat di samping kak Yesa.&lt;br /&gt; “Ni…Nicos…” gagapku. Aku tak percaya. Wajah itu, senyum itu, lesung pipit itu…tidak!&lt;br /&gt; “Yona. Ya, ini aku, Nicos.” Tegasnya. Sosok itu mulai mendekatiku. Kami dekat, berhadapan. Tak kudapati jubah hitamnya yang terakhir kulihat melekat di tubuhnya. 1 minggu lalu, tak seperti saat ini. Lihat, dia memakai blazer hitam dengan kemeja putih pemberianku.&lt;br /&gt; “Nicos…” mataku mulai berkaca-kaca. &lt;br /&gt; “Ya..” dia semakin dekat, memelukku.&lt;br /&gt; “Aku bermimpi???..”&lt;br /&gt; “Tidak! Ini nyata, Yona!” aku semakin terisak. Haruku tumpah ruah. &lt;br /&gt; “Nicos…” kusebut namanya lagi. Mamastikan sosok yang memelukku kini adalah Nicos, memastikan pula bahwa aku tidak sedang mengalami mimpi jangka panjang. Aku membalas pelukannya. Erat.&lt;br /&gt; “Yona, hentikan tangismu! Tak baik teman-teman melihatmu  kacau seperti ini!” &lt;br /&gt; “Aku bahagia…”&lt;br /&gt; “Aku tahu perasaanmu, Yona! Tapi kumohon, bisakah kau melepaskan pelukanmu! Cukup lama kau memelukku. Lihatlah, teman-temen melihat ke arah kita!” katanya lembut.&lt;br /&gt; “Tidak, Nicos! Aku tidak peduli!” kataku sambil terisak.&lt;br /&gt;“Tak pantas kau menangis di hari kebahagiaan, Yona!”&lt;br /&gt;“Cukup, Nicos! Sudah kubilang, aku bahagia!”&lt;br /&gt;“Aku mengerti, Yona! Tapi…”&lt;br /&gt;“Semua tak mengarti!!!!” teriakku. Semua mata memandangku. Aku melepaskan pelukan, Nicos. Selangkah sedikit mundur.&lt;br /&gt; “Yona…” dia mencoba mendekatiku kembali. Kutatap matanya tajam. Lalu ke arah kak Yesa, mama, papa, dan semua teman-teman yang bingung akan sikapku ini.&lt;br /&gt; “Yona, kau kenapa?” tanyanya. Tanya kak Yesa, Mama, Papa, semua bergumam seperti itu. Tiba-tiba ada seorang gadis mendekatiku. Aku langsung ambruk di dalam pelukkannya.&lt;br /&gt; “Yona, kau kenapa?” tanyanya yang tak jauh berbeda. Mengelus rambutku perlahan. Tapi tanpa aku sadari, aku melepaskan pelukannya secara kasar. Hingga dia hampir tersungkur. Ada yang mencoba membantunya, namun samar-samar di mataku. Orang-orang itu berputar-putar di kepalaku. Berputar. Berputar. Sampai aku tak bisa menahannya. Kepalaku mulai mengelenyit tajam. Sakit, sesak, dan pandanganku mulai kabur sempurna.&lt;br /&gt;&gt;..&lt;br /&gt; “Sayang,” aku terperanjat. Aku langsung menoleh ke arah sumber suara. Laki-laki itu tersenyum manis ke arahku. Aku masih memakai gaun yang sama. Kulihat teman-teman menikmati pestaku.&lt;br /&gt; “Ada apa, kakak mencariku?” tanyaku. Aku mendekatinya. Tanganku gemetar. Dia langsung menggandengku.&lt;br /&gt; “Wajahmu pucat dan terlihat gugup! Kamu sakit, sayang?” belum dia menjawab pertanyaanku, justru dia balik bertanya padaku. &lt;br /&gt; “Aku tidak apa. Kakak tak perlu mencemaskanku!” kataku mencoba meyakinkannya. Aku tersenyum, dia pun segera membalasku.&lt;br /&gt; “Aku mencarimu dari tadi, acaranya segera dimulai, sayang! Pertahankan senyumu itu!” ujarnya sembari menuntunku.&lt;br /&gt; “Kakak..bukankah tadi..”&lt;br /&gt; “Sttt…cepatlah sedikit, bicaranya nanti saja! Teman-teman sudah menunggumu.” Aku menatap tiap penjuru. Mereka menatapku. Tersenyum, tertawa, bersorak. Dan di barisan paling kiri itu kudapati sosok Agnes dan Nicos berdampingan. Tersenyum, bahagia. Lalu aku langsung membalas senyuman mereka.&lt;br /&gt; “Selamat ulang tahun…selamat ulang tahun….”&lt;br /&gt; “Potong kuenya…potong kuenya…ayo, Yona, untuk siapa first cakenya?!!!” suara mereka, nyanyian mereka, mendengung-dengung di telingaku berulang-ulang..&lt;br /&gt; “Yona…Happy Birth day…Yona…tiup lilinnya…katakan permohonanmu, Yona…Yona…”&lt;br /&gt; “Tidaaaaaaaakkkkkk!!!!!!!” jeritku hingga menusuk telingaku sendiri.&lt;br /&gt;&gt;…&lt;br /&gt; “Yona,” aku tersentak. Nicos menyentuh tanganku. Aku menatapnya yang berada di samping kananku.&lt;br /&gt; “Yona, wajahmu terlihat pucat sekali!” aku menoleh ke sebelah kiriku. Agnes menyentuh keningku.&lt;br /&gt; “Sayang, kamu tak apa kan?” seru kak Karen dan kak Yesa dari arah belakang secara bebarengan.&lt;br /&gt; “Papa dan mama disini, sayang…” Papa dan mama menangis, menghampiriku dari arah depan.&lt;br /&gt; “Kalian kenapa?” tanyaku bingung. Namun, suaraku serasa di telan bumi. Tak sedikitpun suara itu keluar.&lt;br /&gt; Mereka menangis. Menangis. Memohon dan terus memohon. Wajah mereka semua dilumuri kekuatiran. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka semua? Tangisan mereka, raut wajah mereka. Suram. &lt;br /&gt; Wajah-wajah itu kian menjauh. Namun, suara tangisan mereka mendengung-dengung hebat di telingaku. Aku menatap ke langit. Hitam. Gelap. Dadaku berdebar. Tanganku bergetar. &lt;br /&gt; “Tuhaaaaannn….” Teriakku sekeras-kerasnya. Alhasil bukannya suaraku yang keluar, namun tubuhku justru terasa nyeri, sakit, dan mataku berat untuk kubuka sedikit saja.&lt;br /&gt;---===----&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-4005788201650657222?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/4005788201650657222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/12/next-storylove-in-heavenpart.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/4005788201650657222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/4005788201650657222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/12/next-storylove-in-heavenpart.html' title='Next Story_Love in Heaven_Part 3_Perulangan'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-8745193841492399990</id><published>2009-12-24T15:52:00.000+07:00</published><updated>2009-12-24T16:24:07.431+07:00</updated><title type='text'>Love in Heaven_Part 1 &amp; 2_^^</title><content type='html'>`Masih adakah cinta sejati itu?&lt;br /&gt; Tuhan…&lt;br /&gt; Jikalau itu masih ada,&lt;br /&gt; Dapatkah semua keturunan Adam dan Eve mendapatkannya?&lt;br /&gt; Dimanakah?…&lt;br /&gt; Seperti apakah?…&lt;br /&gt; Merasakan segala hal, bahwa Eve adalah patahan tulang rusuk Adam… &lt;br /&gt; Mungkinkanlah segala keinginan mereka, anak-anak pengiring dunia, menebar kasih &lt;br /&gt; syurga…&lt;br /&gt; Tuhan…&lt;br /&gt; Segala puji bagiMu…&lt;br /&gt; Keutuhan ada padaMu…&lt;br /&gt;Amen..`&lt;br /&gt; -.-.-.-.-&lt;br /&gt;    “Jadi karena Tuhan?!”&lt;br /&gt;“Kepastiannya mungkin begitu karena Tuhanlah yang memberikan cinta padaku.”&lt;br /&gt;“Ayahmu tak menghendakinya!” pangkasku.&lt;br /&gt;“Tapi aku ingin bersamamu! Tuhan telah memberikan cinta dan itu berlaku untukmu!” aku tersenyum mendengarnya.&lt;br /&gt;“Mengingat kita tak mungkin bersatu,” aku memakaikan rosario di lehernya, “Maka Tuhanlah yang akan selalu setia menemanimu!”&lt;br /&gt;“Tidak, Agnes!”&lt;br /&gt;“Ingat, Nicos, aku seorang Moslem! Haram bagimu menyentuhku apalagi memelukku!” ujarku. Lalu dia langsung melepaskan pelukkannya.&lt;br /&gt;“Maaf!”&lt;br /&gt;“Yah, jangan kau melupakan itu!”&lt;br /&gt;“Baiklah, sekali lagi maaf! Tapi, Agnes, aku…aku…”&lt;br /&gt;“Sttt….ayahmu menginginkanmu suci atas segala di depan Tuhanmu!”&lt;br /&gt;“Tapi dia sendiri melanggarnya, kenapa harus mengorbankan diriku?!” katanya pada diri sendiri.&lt;br /&gt;“Sudahlah, Nicos! Aku tak mau memperdebatkan hal ini. Pikirkan dengan masak. Aku bukanlah segalanya. Aku hanyalah gadis kecil yang dulu pernah kau temui di gereja. Menautkan candle light di atas nampan bintang kecil di bawahnya. Kau membantuku saat itu. Kita berdoa bersama. Memohon pengampunan atas segala dosa. Kau tanya padaku tentang sebuah kehidupan, aku pun menjawab bahwa hidupku hanya untuk Tuhan. Kau mengangguk, namun sebenarnya kau tak paham akan maksudku. Tapi keadaan kini sudah berubah. Allah tak mengharuskanku untuk hidup karenaNya saja. Justru Allah telah berfirman bahwa berkeluarga adalah kewajiban. Meski dulu aku beranggapan bahwa kesucian adalah suatu tuntutan kehidupan untuk bersamaNya.”&lt;br /&gt; “Agnes,…”&lt;br /&gt; “Aku tak mau merusak hubunganmu dengan ayahmu!”&lt;br /&gt; “Ibuku sedih mendengar hal ini!”&lt;br /&gt; “Karena Ibumu merasakan kepedihanmu, Nicos.”&lt;br /&gt; “Jadi kau akan meninggalkanku, Agnes?” tanyanya lirih. Menatapku penuh harapan. Aku tersenyum, meggeleng pelan.&lt;br /&gt; “Aku akan selalu di hatimu, Nicos! Dan sebalikknya. Seperti Tuhan, bila kau sanggup menjaga itu!”&lt;br /&gt; Keheningan mulai menyesap di setiap helai angin yang berhembus diantara kami berdua. Wajahnya yang tampan itu menatapku luruh. Kepedihan sangat jelas tersirat di sana. Aku sangat menyayangimu, Nicos. Melebihi apapun. Dalam setiap jengal nafasku yang mungkin tak dapat kurasakan secara sadar dan penuh kepastian yang dalam. Aku mengerti bahwa Tuhan telah menggariskan takdir ini di kitab Lauh Mahfuzh sebelum kita dihembuskan dalam gumpalan darah yang semakin menyeruak menjadi janin dan lipatan-lipatan lembut di dalam rahim ibu. &lt;br /&gt;Tangan itu serasa ingin menghapuskan air mataku yang menetes pelan menjabani kedua belah pipiku. Tapi dia sadar, dia mengurungkan niat baiknya itu. Diberikannya sapu tangannya untukku. Lalu aku menghapus airmataku dengan kedua tanganku sendiri.&lt;br /&gt; Agnes. Agnes yang kini bukanlah Agnes yang dulu.  Kini aku adalah seorang gadis yang senantiasa menjaga auratku. Mungkin ini adalah sebuah penyempurnaan akan keyakinanku yang dulu. Bukan hanya untuk suatu golongan. Bukan untuk kaum  tertentu. Tapi ini untuk seluruh umat manusia. Dan ini tak berlaku untuk hasil pemikiran manusia.&lt;br /&gt;To be continued…&lt;br /&gt; -.-.-.-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next Story_Love in Heaven_Part 2&lt;br /&gt;Kemarin aku bela-belain ke gereja buat dengerin keluh kesah Nicos. Aku lihat jam di pergelangan tanganku. 16.45. Dengan hati sedikit berdebar, aku melangkah masuk ke dalam gereja. Mataku mengamati ke setiap penjuru gereja, tak kudapati sosoknya. Hanya terlihat orang yang yang silih berganti berdoa dan beberapa biarawati. Maka kuputuskan untuk duduk di kursi deret yang berada tak jauh dariku. Aku tersentak, Bapa Albert duduk di depanku.&lt;br /&gt;“Rimbun desah langit membiru, kau berkata dia pun merajuk pilu.” Aku menoleh ke arah Bapa. Sebuah perumpamaan akan hilangnya kasih.&lt;br /&gt;“Bapa…angin tak akan kuat berhembus, bila badai menyelubungi pundaknya.” Balasku segera. Bapa tersentak dan langsung menatapku.&lt;br /&gt;“Bible of Barnabas, kau memahaminya.” Ujarnya penuh penekanan. Aku tersenyum kecut.&lt;br /&gt;“Aku tak pernah membacanya, sedikitpun aku tak pernah melihatnya, dan aku tak pernah menemukannya. Bagaimana Bapa bisa mengatakan bahwa aku telah memahaminya?”&lt;br /&gt;“Jiwamu ada dan mengetahuinya. Kau tak percaya adanya TRINITAS tapi kau menyayangi Yesus seperti kau menyayangi Allah dan Muhammad. Bukankah begitu, Yona!”&lt;br /&gt;“Isa anak Maryam. Dan kau mencoba membaca fikiranku, Bapa! Tapi aku tak akan membiarkan itu terjadi lagi.” Aku mengalihkan fikiranku dengan cepat.&lt;br /&gt;“Yona, apa maumu sebenarnya?”&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin angin menghembuskan rautnya padaku!” terdengar di telingaku, Bapa mendesah.&lt;br /&gt;“Persahabatan…” gumamnya.&lt;br /&gt;“Aku rela mati untuknya.” Bapa menoleh ke arahku dengan sorotnya yang tajam.&lt;br /&gt;“Yona, kau!!!” gersah Bapa terdengar geram. &lt;br /&gt;“Bapa tak berhak memisahkan tali kasih mereka. Kesucian Nicos tak lain adalah hasrat Bapa. Apakah angin menyesap di dalam pebuluh nadi juga dikatagorikan sebagai pergumulan dosa?”&lt;br /&gt;“Yona, kau….” Geram Bapa. Namun dia tau bagaimana cara mengendalikan kemarahannya saat ini. Dan aku tak perlu kuatir karena dia tidak akan sampai menamparku apalagi membunuhku disini.&lt;br /&gt;“Maaf, Bapa! Kakakku juga menginginkan kesucian di atas segala di hadapan Tuhan. Rujukan yang istimewa, hatiku sakit mendengarnya, Bapa! Namun, aku harus menerima segala apa kenyataan yang ada ini. Aku sangat menyayanginya, Bapa! Sangat! Sedang Nicos, Bunda Katherine, sama halnya dengan hatiku. Mereka harus menerima kenyataan atas kehendak Bapa!” aku menunduk. Tak kusadari tangisku terlampau menyeruak dalam. Kudengar Bapa menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;“Ini untukmu!” setelah beberapa detik Bapa hanya diam. Bapa menyerahkan amplop putih itu padaku. Dan ia mulai beranjak dari duduknya.&lt;br /&gt;“Bapa tak menginginkanku bertemu dengannya?” &lt;br /&gt;“Bukan begitu, Yona! Bapa percaya kau sahabat terbaiknya.”&lt;br /&gt;“Lantas..”&lt;br /&gt;“Dia menitipkannya untukmu!” ujar Bapa kemudian berlalu dari hadapanku.&lt;br /&gt;:::-.-:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::&lt;br /&gt;Aku beranjak keluar gereja. Langkahku terhenyak oleh angin yang berhembus sayup-sayup bersorak membelah rambutku. Aku duduk di kursi diantara pohon cemara itu. Perlahan kubuka amplop ini. Kupejamkan mataku sejenak. Hatiku getir merasakannya.&lt;br /&gt;“Sahabatku dalam terang dan gelapku, &lt;br /&gt;Yona, pengertian akan sebuah perubahan menjejaki hatiku terlalu dalam. Sesak dan sakit mengembung bersamaan dengan liang pualam cahayaku. Hinggaku tak dapat membedakan antara kejadian ini. Juga semua rutinitas baruku. Kini lebih lama aku merasakan kebersamaan dengan Bapaku di tempat peribadatanku, dan segala alam bawah sadarku dalam lingkup jiwa malam dan siangku.&lt;br /&gt;Yona, bunda selalu menangis di depanku. Sungguh-sungguh di depan Bapaku. Perempuan yang telah mengandungku di rahim sucinya itu rela bersujud dalam dekapku, mengecup setiap sudut parasku. Itu tak lain diharapkannya supaya Bapa mengembalikanku daripadanya. Menemani kehidupan hangat bersamanya.&lt;br /&gt;Yona, aku tak dapat berbuat apapun. Aku bingung, gundah, resah merauk jadi kesatuan nafasku. Membelah hingar bingar kesunyian alam kasihku.&lt;br /&gt;Bapaku…&lt;br /&gt;Bundaku…&lt;br /&gt;Agnes…palung terdalam jiwaku. Ketiga cinta, ketiga keinginan yang sungguh sulit untuk menyatu.&lt;br /&gt;Yona, itukah perbedaan??&lt;br /&gt;Bagaimana aku membedakannya? Aku tak sanggup lagi memisah belahkan ketiga persamaan dalam ketiga perbedaan. Sungguh aku kesulitan menggunakan asah fikiran dan perasaanku. Apa gunanya aku ini, Yona? Kalau terlahir hanya untuk diperdebatkan.&lt;br /&gt;Yona, sudah lama sekali….&lt;br /&gt;Terakhir aku bertemu denganmu satu bulan lalu, sahabatku! Kini aku sangat merindukanmu. Namun, aku tak dapat menemuimu. Membenamkan kalutku dalam terangmu itulah satu-satunya yang membuatku tenang akan sayup relungku.&lt;br /&gt;Yona, aku berjanji padamu atas nama Allah. Segala kejujuranku ada padamu. Aku merasakannya, bahwa kasihku sulit bersatu dengannya. Dan berjanjilah, Yona! Kau yang akan menjadi saksi atas ’shahadat dan kasihku.&lt;br /&gt;       Nicos”  &lt;br /&gt; Aku menengadah. Terlihat di balik jendela panjang di atas sana. Nicos mengamatiku dengan jubah hitam panjangnya. Aku menunduk, menahan airmataku yang teriring gerimis. Tak sanggup aku menengadahkan wajahku di atas sana kembali.&lt;br /&gt; “Cukup. Cukup, Tuhan!” teriakku dalam hati. Lalu aku pun berlari menjauh dari tempat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-8745193841492399990?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/8745193841492399990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/12/love-in-heavenpart-1-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/8745193841492399990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/8745193841492399990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/12/love-in-heavenpart-1-2.html' title='Love in Heaven_Part 1 &amp; 2_^^'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-6486640042439657084</id><published>2009-09-26T19:13:00.000+07:00</published><updated>2009-09-26T19:57:11.755+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Poem'/><title type='text'>Perpisahan terbatas tak nampak</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku berjalan,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun aku tak bisa menapakkan kakiku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku bernyanyi,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun aku tak bisa membuka bibirku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku menangis,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Namun airmata itu sama sekali tak menetes&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku sendiri tak mengerti,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Apakah sosok sebenarnya aku ini?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku sendiri tak tahu,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akankah aku mampu melupakannya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ini membingungkan bukan?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk diriku sendiri…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku terus berjalan,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mencari sebuah jawaban akan cinta yang hilang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Aku juga binggung, kenapa aku harus mencarinya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau aku jelas-jelas tahu itu sudah hilang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hilang, seperti saat aku kini berjalan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tak ada tapak kaki yang ditinggalkan di pasir pantai yang kujejaki&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ah, cintaku telah ia bawa terbang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku tak bisa menoleh ke arah cinta selain yang telah ia bawa terbang&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Entah mengapa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat ini tak ada fikiran untuk menjadi milik yang menyayangiku&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku hanya ingin waktu yang menemani ceritaku &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bukankah hanya waktu saat ini yang aku rasakan?!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yaahh, ungkapan hati untuk tangisanku yang tak pantas kuperlihatkan padamu,&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;I Love You Forever!&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;I Miss Daniel!! Semoga     kau Damai di Taman Surga Tuhanmu!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-6486640042439657084?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/6486640042439657084/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/09/perpisahan-terbatas-tak-nampak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/6486640042439657084'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/6486640042439657084'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/09/perpisahan-terbatas-tak-nampak.html' title='Perpisahan terbatas tak nampak'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-9054554304399932469</id><published>2009-09-26T15:28:00.000+07:00</published><updated>2009-09-26T20:13:55.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Holiday'/><title type='text'>Holiday Before Friends....^_^</title><content type='html'>&lt;ol style="margin-top: 0in;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Antonius Bernand (Pao Bernand)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nathalia Purnama (Lia)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Christian Bintang (Bintang)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Me!!! (Ara)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Desta Pratama (Den Kincris)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Khen Chan Paohry (Cha2)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anthony Fransiskus (Thon2)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Valencia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;      Carroline N. (Vivin, Ipin, Pi2n)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Alvindy Firansyah (Pindy, Pah-o)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sellya Catergraizz (Selly)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Darius Pha (Pha2)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Okkan Justinus (Okkan)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Liburan kali ini temen2 pada hangout ke humzz ku, biasa ngadain rembuk kewinang-winang &lt;st1:place st="on"&gt;Holiday&lt;/st1:place&gt; plus2 he…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Oya, rencananya mao ke Karimun, karena g’ diizinin ortu akhirnya mutusin nyesep ke …ke…Paris alias Parangtritis….haha…peduli amat yang penting pantai. Pantai, pantai, dan pantai!!!!! Bodo!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Rrr…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Mau berangkat pada berantem dulu. 1 mobil sama Pindy. Tapi Bintang nyerett au, azzz…gilakk!!! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Heh, Ara sama gua??”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Enak enja, lu same gua &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;, Ra!” wow…sip! Jadi bahan pertarungan ayam goleng nie…haha..(g’ nyambung!)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Iya!!” koar ku menengahi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Iya siapa?????”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Aku ama Pindy ja deh!” keputusannku uda bullet. Ame Pindy kayak’e lebih aman dan tentram. Aku senyum-senyum ke arah Bintang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“CLBK nie yeee!!!” teriak Pao. Aku nelen ludah lahar, gilak panas!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Bukan urusan luw!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Halahh…ngaku la!!!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Ra…!” melas ala Bintang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Hehegg… tuing ja, Bin! Jangan ganggu pangeran yang mau melebahkan madu!” canda Okkan dan Vivin bebarengan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Njreettt kalian smoa!!!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Wakwakwakkkkkkwkwkwk….”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Semua jadi gila. Bukan maksudku buat CLBK, Cuma rindu aja ama Pindy. I &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Luv&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;Pa&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;!!! Miss U!!! rasanya emang nggak enak hati ama Bintang. Setelah dipikir-pikir, enak nggak enak pokonya jadi enak.. (haaa…???!!!)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;----&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Nyampe di Pante…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Sejuk…sejuk…udaranya nggak panas karena uda sore. Baru aja selangkah menyentuh ombak. Pao Bernand kejungkal, prettt malah ciuman ma Vivin ( Oh GoD!!! Berdosaa!!!! Jangan Tirukan adegan ini!!! Aku berdoa dalam hati, semoga mereka menikah nantinya!! Soalnya aku tak mau Paoku jadi Uskup! Amen!^_^&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Hoooiiii, Pao!!! Aku aduin mamah, kauuuuu!!!” teriakku mencoba menghentikan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Apahhhh…Arraaa!!!!! Kau mauuu!!!! Kesinilahhh!!!!!” sahutnya tak kalah keras.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Seketika itu pula sandal jepit di kakiku meluncur tepat  di  mulutnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“SlaTaaaaPPP” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Vivin yang ada di sampingnya sampe &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;terbengong-bengong.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Ara, tega nian kau ma Kokomu sendiri!!!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Aku nyengirrr..Merdeka!!!! wkwkwk….&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;“Wkwkwkwkwkkkkkk….” Semua tertawa gila.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Mmm…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Petama-tama aku mao ceritain Pao-au dulu…he is a Very-very Nice. Nggak tahu kenapa Tuhan berikan dia pada keluarga kami!!! Waoo…aku akuin dia itu tampan, otaknya encer, suka banget dongengin aku tentang all about keplayboyannya, yaa…begitu orangnya marah!!! Jangan Tanya riwayatmu sekarang…wkwkwk..kejam is very Good!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Lia itu sahabatku. Dia baik, ktemuan pertama kali waktu di Jimbaran, &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Sobatan Sampe sekarang, nah, dia asli Solo. Ternyata rumahnya deket ma aku. Duhh, serasa culun, kenapa nggak kenal2 dari dahulu kala???? Nggak nyesel, justru bangga! Ya…ya…kok jadi nggak nyabung?! Mmm…dia pacarnya Den kincris.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Den kincris, baru kenal…tapi langsung akrab…soalnya dia yang paling rame diantara kami. Rada error gtu dueh!!! Wkwk…baik sekali!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Bintang, dia itu anak laki-laki kesayangan Bunda. Entahlah, serasa dia lebih cocok jadi anak bunda daripada aku. Tapi nggak apa! Dia uda au anggap sebagai kakakku sendiri setelah Pao. Rr..suka banget bawa cemilan ke rumah…pkonya ada dia dijamin perut kenyang!!!! Go Star!!!!!!!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Me??? Rrr…ya…begini aja! Nggak ada yang special dariku, so beginilah!!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Cha2, dia bunda Mandarin kami!!! Alih bahasa, …?...., tukang translate (yo..same ae!) rrr…pokonya ada dia!!! Semua orang cina ditaklukin! (heeaa..?)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Thon2…dia paling konyoL, Rame byuh, 99%, apalagi ya? Rrr…dia cowoknya Selly…Bule2…bule kedondong!!!! Ket-Singapore of Jermany..hahag…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Vivin, dia sohibku yang sumprettt bae banget diantara yang paling baik. Pernah berantem gara2 Pao. Tapi Cuma bentar truz baekan lagi. She is a very good friends and hilarious girl!!! ^_^&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Pindy, I luv U, Pa!!! Miss U!! rr…smart boy, very-very nice!!!, Cinness boy hmm..pstt…Mualaf!!! Ohh…SweeT!!! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Selly…Bule girl..wkwk…cantik banget dia…mpe g sanggup depkripsiin!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Darius, baby face…imud2 cabe rawit…wkwk…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;&lt;span style=""&gt;à&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Okkan, rrr…smart boy, Aku suka permainan pianonya setelah Pindy…Ohhh…SweeT!!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Ah, udah ah…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Di pantai kami gila-gilaan bareng!!! Seru-seruan!!!! Ah, pokonya buat ngilangin bejolan di jidaTTT!!!! &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Maen ombak, kejar-kejaran, makan semangka, jaran-jaranan, ping-pongan, nyari ubur-ubur (mang ada?), pipis, e-Ok..halah ngacoh!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;Yang jelas liburan kali ini SeRuuuuu sekali!!!!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;I Love U, Friends!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!................I Love U so MucH!!!!!!!!!!!!!^_^…&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-9054554304399932469?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/9054554304399932469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/09/holiday-before-friends.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/9054554304399932469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/9054554304399932469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/09/holiday-before-friends.html' title='Holiday Before Friends....^_^'/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8809612307922280005.post-4402140672708947622</id><published>2009-09-25T13:04:00.000+07:00</published><updated>2009-09-25T13:14:18.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anting-Anting Kanguru Part 1'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 150%; font-family: Ravie;"&gt;Prolog&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Mimpi itu telah nyata…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Benar-benar telah menyerup kehidupanku…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Malam…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Hingga terang menyergap mataku…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia datang…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia telah datang…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Dia benar-benar datang…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Di sini… &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Di hadapanku…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kutatap wajah tirus berhidung bengkok yang berdiri mematung di hadapanku. Senyumnya bergelayut lembut di bibir tipisnya. Sedang angin sore semakin merayapi kudukku. Aku hanya termangu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Gisya…” pelukannya yang begitu tiba-tiba membuat hatiku semakin getir. Entah gejolak apa yang aku rasakan? Tak pasti. Air mataku kembali mengalir. Namun, segera kuhapus. Lantaran aku tak mau laki-laki yang memelukku ini melihatku menangis. Aku tak mengenalnya. Sebelumnya pun aku belum pernah melihatnya. Dan baru kali ini aku membiarkan seorang laki-laki menyentuhku, apalagi memelukku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Dengan perlahan dia melepaskan pelukannya. Terlihat dengan jelas binar matanya menandakan akan kerinduan. Dan seakan mata itu menyiratkan bahwa dia mengenalku sejak lama.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Berhidung bengkok, berporstur tinggi, berwajah tampan, berkulit putih bersih, dan tak sengaja kutangkap warna kornea matanya. Hitam legam.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Tak salah lagi. Pasti dia yang dimaksud bunda sebelum pergi untuk menghadiri resepsi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Sayang, ada tamu spesial yang akan datang hari ini. Jangan lupa, suruh dia masuk dan antarkan ke kamar yang sudah bunda siapkan. Ingat jaga sikap dan tebarkan senyummu! Bunda tak ingin kamu terlihat murung di hadapannya.” Tamu spesial? Batinku bertanya-tanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Siapa tamu itu bunda?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kakak…” bunda menatapku dalam. Diam sejenak.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kakak sepupumu, sayang!” lanjut bunda. Hmm..kupikir kak Maura akan kembali ke rumah. Ternyata?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kakak sepupu yang mana bunda?” tanyaku lagi dengan penuh penasaran.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kamu akan melihatnya nanti, sayang! Jaga rumah baik-baik dan ingat pesan bunda, tebarkan senyummu padanya!” ujar bunda sebelum memasuki mobil.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Tapi bunda…” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Dia spesial untukmu!” ujar bunda sekali lagi sebelum mobil yang ditumpanginya benar-benar lenyap dari pandanganku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“Dia spesial untukmu!”&lt;/i&gt; kata-kata bunda itu berhasil mengusik hatiku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Spesial untukku?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kutatap kembali mata legam itu. Diakah tamu spesial untukku? Apa yang spesial darinya? Kenapa harus dia? Bunda aneh sekali. Kakak sepupu yang belum pernah kukenal dan kutemui ini dianggapnya tamu spesial untukku. Seperti pesan bunda, kupasangkan senyumku padanya. Meski hatiku getir merasakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: center; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/HARDI/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="13" width="13" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right; line-height: 150%;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size: 28pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Curlz MT&amp;quot;;"&gt;1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kelas Sastra, 26 Desember 2008…&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Rintik hujan di luar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; masih dengan asiknya menari. Tak tahu kalau aku sedang dilanda kedinginan luar biasa. Masih tak cukup, angin dengan suksesnya mengibas-ngibas rambutku yang tak aku sadari semakin lembut dan wangi. Pikiranku melayang-layang di awan. Membayangkan seorang kakak laki-laki menjemputku hari ini. Memayungiku untuk menembus hujan bersama. Makan, jalan-jalan, membantuku membuat pekerjaan rumah, dan kalau bisa menggendongku. Oya, dia melindungiku dari preman-preman yang mencoba menggangguku. Hihi…pasti sangat lucu sekali! Aku mengikik geli. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Gis, giliranmu!” ujar &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Carmel&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, teman sebangkuku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Hah! Apa? Oh,..” gagapku. Ternyata sudah separah ini aku berhalusinasi. Bukan, aku hanya membayangkan saja. Kutatap wajah Bu Annisa di depan kelas yang menungguku dengan sabar untuk mendeklamasikan puisi yang akan kubawakan. Aku merasa sangat bersalah pada guru sastraku ini karena hari ini aku tak berkonsentrasi penuh pada mata pelajarannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Selalu Kata &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Selalu kata yang sampai padamu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Mengangkat buah mimpimu&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Yang ranum&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Ke dalam sajak. Telah kuniatkan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Menjinakkan kata-kata dalam jambangan&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Namun semua tumpah, semua warna&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Lari ke taman pohon dan bunga&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Buah karya Laode Pesu Aftarudin, 1980”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Tepuk tangan memenuhi seisi kelas. Kulihat wajah Ibu Annisa tersenyum simpul. Tak menyangka muridnya yang satu ini akan membawakan puisi milik Laode Pesu dengan penuh energik. Akh…akh…aku terlalu berlebihan menilai diriku sendiri. Aku kembali ke tempat dudukku, namun baru selangkah aku beranjak, mataku tak sengaja menangkap sesuatu di samping kursiku. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Carmel&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; mencibirku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: center; text-indent: -0.25in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/HARDI/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="13" width="13" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Pulang sekolah hari ini cukup membuat kudukku meremang. Meski hujan sudah berhenti, namun angin masih saja meremas-remas kulitku. Kuseberangi jalan dengan keadaan diam. Tanpa candaan. Sebelumnya aku selalu pulang bersama sahabatku. Tapi tidak untuk kali ini, dan entah sampai kapan. Awalnya yang menyebabkan kita tidak bisa pulang bersama karena kesibukan masing-masing. Perlahan-lahan aku mulai sadar kalau dia ternyata mulai menjauhiku. Mungkin aku mempunyai kesalahan padanya hingga membuatnya menjauh dariku. Atau ini hanya perasaanku saja. Entalah.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Setelah aku berhasil menyeberang, segera saja aku menaiki bus yang sengaja berhenti untuk ditumpangi anak-anak yang hendak pulang. Dan hanya butuh waktu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; menit bus ini berjalan dan menurunkanku di terminal. Tak bisa dibilang terminal resmi, tapi bus-bus sering berhenti di sisi ini. Tepatnya di seberang pasar. Setelah itu aku akan berjalan. Menyeberang lagi. Hingga menemukan angkot berwarna kuning. Tak terlalu sulit untuk menemukan angkot berwarna kuning benomor 1, karena disini berjimbun angkot yang kumaksud. Dengan agak malas aku masuk ke dalam angkot. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;Hanya terlihat dua siswa yang sebaya denganku dan seorang ibu setengah baya yang memegang erat tas pinggangnya. Anak perempuan yang berada di depanku hanya diam dan menunduk. Sedangkan anak perempuan yang satunya duduk di pojok. Bercengkerama dengan ponselnya, entah dia bicara dengan siapa. Yang jelas dia tertawa-tawa dan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;bersumpah-serapah sendiri di depan ponselnya itu. Aku jengah dengan suasana ini. Dan kupastikan aku akan menunggu lama di dalam angkot yang terbilang pengap ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kuberalih pandang. Mencoba menyatukan imajinasi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;“Seandainya kakak laki-laki itu ada, mungkin aku tidak akan berada disini. Aku pasti sudah berada di rumah, atau bermain-main dengannya. Tak perlu risau menunggu berjam-jam di dalam angkot pengap seperti sekarang ini. Ah, aku mengandai-andai terlalu tinggi. Mana mingkin aku mempunyai kakak laki-laki? Mana mungkin bunda akan melahirkan anak yang lebih tua dariku? Yahh...mengingat aku sudah sebesar ini. Lagi pula aku mempunyai kakak. Apa yang kurang dari sosok Kak Maura? Kebaikannya tak dapat kupungkiri. Aku bersyukur telah memilikinya. Namun, tetap saja bayangan seorang kakak laki-laki yang tangguh sangatlah kuidamkan.”&lt;/i&gt; Aku menunduk lesu. Hujan kembali turun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: center; text-indent: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/HARDI/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="13" width="13" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Bunda menyelimutiku. Malam ini aku menggigil kedinginan. Sangat. Tadi setelah turun dari angkot, aku nekat menembus air hujan untuk sampai ke rumah. Tak jauh memang, namun harus menikmati guyuran hujan selama kurang lebih 15 menit. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kulihat mata teduh milik bunda. Aku sungguh beruntung memilikinya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Jangan di ulang kembali! Bukankah kamu bisa menelfon ke rumah untuk meminta dijemput?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Bukankah bunda tadi mengantarkan kakak mengurusi berkas-berkas untuk keberangkatannya?” tanyaku memastikan, “Dan tak mungkin sekali aku meminta kakak menjemputku.” Bunda tersenyum lembut.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Sayang, Bunda &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; sudah bilang ayahmu berada di rumah.” Ah, bunda! Aku lupa bilang kalau ayah tadi menelfonku lewat telefon sekolah. Kalau ayah tak bisa menjemputku. “Ayahmu tak menjemputmu?” duga bunda pasti. Aku mengangguk dan menjelaskan pada bunda sebab ayah tak bisa menjemputku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Maafkan bunda sayang, kamu jadi kedinginan seperti ini!” tatap bunda penuh penyesalan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Tak ada yang salah bunda.” Senyuman lembut itu muncul kembali. Hatiku nyaman merasakannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kalau begitu istirahatlah sayang! Dan kalau ada apa-apa bilang bunda, selamat malam, mimpi yang indah!” kata bunda sembari mencium keningku. Kulihat tubuh wanita paruh baya itu berjalan dan lenyap di balik pintu kamarku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kesibukkan itu memang tak dapat diduga kedatangannya. Ayah, belum sempat aku mengobrol dengannya. Ayah sudah pergi lagi. Pasien-pasien di rumah sakit itu telah menyita pertemuanku dengan ayah betahun-tahun lamanya. Ayah datang dan pegi tak dapat diduga. Apalagi akhir-akhir ini aku semakin jarang melihat laki-laki paruh baya bermata sipit itu. Meski demikian aku tak lepas dari kasih sayang ayah. Aku yakin akhir pekan ayah akan menyempatkan waktu untuk bersamaku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 0in; text-align: center; text-indent: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/HARDI/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.gif" alt="*" height="13" width="13" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kakak…huhu….” Gadis kecil berkucir dua itu mencoba meronta di dalam gendongan seorang laki-laki.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Lepaskan aku…aku mo ikut kakak…” rengek gadis itu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kita akan pergi sayang!” ujar laki-laki yang menggendongnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Aku tidak mau..kakak…aku mau ikut kakak…” rengeknya semakin menjadi dan terus meronta ingin turun. Namun, laki-laki itu tak akan membiarkannya. Tak lama setelah itu seorang perempuan mengikuti mereka dari arah belakang. Masuk ke dalam mobil. Lalu berjalan melewati jalan yang di sisi-sisinya dipenuhi pohon-pohon yang meranggas. Tak peduli ada bocah laki-laki kecil yang meneriakinya. Menginginkan mobil itu berhenti dan tak membawa gadis kecil itu. Bocah itu berlari mengejar mobil yang sudah melaju jauh. Dia terus berlari dan berlari. Hingga ia tertunduk pasrah. Mobil yang di tumpangi gadis kecil itu lenyap.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Hiks…Hiks…” Isaknya. Sebuah benda kecil tergeletak manis di dalam genggamanya. Tiba-tiba ada kilatan dari benda itu. Tak jelas bentuknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Hiks…Hiks…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Gisya…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Hiks…Hiks…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Gisya bangunlah!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Hiks…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Gisya…ini kakak! Bangunlah!” kubuka mataku perlahan. Kulihat kak Maura melihatku cemas.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Minumlah!” disodorkannya segelas air putih padaku. Aku mulai meneguknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Mimpi buruk itu muncul kembali. Kata kakak aku menangis dalam keadaan tidur. Yah…itu memang benar. Kurasakan air mata itu nyata tumpah ruah di sekitar pipiku. Kalau seandainya kakak tak membangunkanku, mungkin aku tak akan bangun. Dan masih menangis terisak-isak di alam bawah sadar. Sudah kesekian kalinya aku mimpi buruk seperti ini. Akibatnya aku takut tidur lagi. Tak jauh berbeda dengan mimpi-mimpi sebelumnya. Mimpi yang hanya dipenuhi bayangan hitam dan kepiluan. Tak nampak jelas namun seperti kenyataan. Apa maksud mimpi ini? Apa yang salah dengan diriku hingga mengalami mimpi buruk seperti ini? Kenapa selalu datang di dalam tidurku? Kenapa aku selalu dibuat menangis? Kenapa? Meski aku tak mengingat masa-masa itu tapi belum tentu ini adalah masa laluku. Bukan berarti ini adalah ingatan yang hilang itu. Bukan!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kakak akan pergi sekarang?” tanyaku yang agak lebih tenang. Tak dapat dipungkiri bau sedap &lt;i style=""&gt;Yves Saint Laurent Baby Doll&lt;/i&gt; telah menyebar di ruangan ini. Sepagi ini kakak sudah bersiap-siap?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Iya, sayang. Kakak akan berangkat pagi ini. Jadwal keberangkatan dipercepat.” Jelasnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Kenapa?” tanyaku terdengar kecewa. Kakak menatapku dalam. Lalu beranjak duduk di sampingku lagi.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Itu sudah diprosedurkan sayang! Kamu tak perlu sedih seperti itu!” aku menunduk. Menyembunyikan buih-buih air mata yang akan turun. Kakak memegang kedua belah pipiku. Menghapus tetesan-tetesan yang telah berhasil keluar dari kedua bola mataku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Jangan menangis seperti ini! Kakak tak suka melihatmu cengeng seperti anak kecil! Kakak tak akan pergi lama!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Tiga tahun itu lama kakak!” bau sedap &lt;i style=""&gt;Yves Saint Laurent Baby Doll &lt;/i&gt;semakin menusuk hidungku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Tidak sayang!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Siapa lagi yang akan menemani Gisya, siapa lagi yang akan membantu Gisya menyelesaikan pekerjaan rumah? Siapa yang akan mengajak Gisya jalan-jalan bersama lagi…”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Sttt…masih ada ayah dan bunda!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Aku ingin kakak…” perkataanku memang terdengar egois. Tapi apa daya, aku tak mau kehilangan kak Maura sedetikpun.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Seorang kakak akan datang!” aku tertegun di dalam pelukannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Yah…tiga tahun lagi!” timpalku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;“Tidak sayang. Dia akan segera datang!!” aku tidak mengerti ucapan kakak barusan. Dia? Siapa yang kakak maksud? Aku memilih untuk diam. Aku tak mau tahu tentang orang yang dimaksud kakak. Di benakku hanya tertuju pada kakakku yang akan pergi keluar negeri. Menikmati kehidupan pendidikan yang jauh dari sini. Dan aku akan kesepian tanpanya. Yah…kesepian. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  To be Continend....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8809612307922280005-4402140672708947622?l=airapurnama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://airapurnama.blogspot.com/feeds/4402140672708947622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/09/prolog-mimpi-itu-telah-nyata-benar.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/4402140672708947622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8809612307922280005/posts/default/4402140672708947622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://airapurnama.blogspot.com/2009/09/prolog-mimpi-itu-telah-nyata-benar.html' title=''/><author><name>Gillian Mochtar</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18254962057697150372</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_Ei9h-KcTqDg/SrxtUhCb-2I/AAAAAAAAABU/0NSGo7p75I0/S220/ara6.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
